NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1 : HARI TERAKHIR DI ISTANA KACA

Rangga duduk di tepi kolam renang berbentuk kupu-kupu raksasa, ujung jari-jarinya yang mungil memainkan permukaan air yang berkilau kebiruan. Kolam itu terbuat dari mozaik Italia berwarna safir dan pirus, dihiasi patung-patung marmer yang menyemburkan air ke udara seperti tarian balet yang abadi. Di sekelilingnya, taman seluas dua hektar tertata rapi dengan bunga-bunga eksotis—anggrek bulan, mawar merah berduri, dan melati yang semerbak baunya setiap senja. Rumahnya, atau lebih tepat disebut istana, berdiri megah di atas bukit tertinggi di kompleks perumahan elit itu. Dindingnya dilapisi kaca berlapis emas dua puluh empat karat, sehingga ketika matahari sore menyinari, bangunan itu menyala seperti obor raksasa yang menyilaukan. Dari sini, Rangga bisa melihat seluruh kota di bawah—gedung-gedung pencakar langit, kemacetan jalan raya yang bagaikan semut, dan lampu-lampu neon yang mulai menyala satu per satu.

Namun Rangga, yang baru berusia sembilan tahun, tidak merasakan kegembiraan sedikit pun. Ia menggenggam ponsel terbaru di tangan kanannya—layarnya menunjukkan notifikasi kosong. Tidak ada pesan dari ayahnya. Tidak ada panggilan dari ibunya. Jam tangan Rolex Oyster Perpetual melingkar di pergelangan tangan kirinya, hadiah ulang tahun ketujuh yang ia terima dari seorang asisten ayahnya, bukan dari orang tuanya sendiri. Sepatu kulit buatan Italia yang ia kenakan bahkan tidak pernah ia pilih—semua pakaiannya dipesan oleh tim personal shopper. Hidupnya adalah kemewahan yang terjadwal, tetapi hatinya adalah padang pasir yang tandus.

Angin sore berhembus lembut, membawa aroma klorin kolam dan wangi rumput yang baru dipotong oleh mesin pemotong yang berdengung di kejauhan. Dua orang satpam berseragam hitam berjaga di gerbang depan, sementara tiga asisten rumah tangga sibuk membersihkan jendela-jendela kaca. Di dapur, seorang koki berlatar belakang Prancis sedang menyiapkan makanan mewah untuk makan malam. Tapi Rangga hanya duduk sendiri, seperti patung yang terlupakan di tengah taman yang terlalu luas untuk seorang anak kecil.

Ia memandangi langit yang mulai jingga. Di benaknya, ia sering membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak biasa. Ia membayangkan pulang sekolah, disambut oleh ibu yang memeluknya erat dengan aroma masakan rumahan yang sederhana—mungkin sayur sop atau ayam goreng. Ia membayangkan ayahnya yang pulang kerja tepat waktu, lalu mengajaknya bermain bola di halaman rumah mungil. Ia membayangkan dimarahi karena celananya kotor, tetapi dimarahi dengan cinta. Tapi semua itu hanya mimpi. Di rumah ini, yang ia dapatkan adalah meja makan sepanjang delapan meter, tempat ia menyantap foie gras dan steak wagyu sendirian, ditemani oleh cahaya lilin dan keheningan yang mencekam.

“Nak, Ayah dan Ibu pergi ke kantor dulu. Ada rapat penting dengan Pak Hartono dan investor asing dari Jepang.”

Suara ayahnya, Fajar Hidayat, terdengar dari teras. Rangga menoleh. Pria berkumis tebal itu mengenakan jas navy buatan Savile Row, dasi sutra merah marun, dan sepatu pantofel mengkilap. Wajahnya tampak lelah—lingkaran hitam di bawah mata, kerutan di kening yang semakin dalam—tetapi ia tetap memancarkan kewibawaan seorang konglomerat yang namanya tercantum di deretan orang terkaya di Indonesia. Fajar Hidayat adalah raja properti yang menguasai hampir separuh lahan komersial di ibu kota. Namanya selalu muncul di majalah ekonomi, fotonya menghiasi sampul bisnis bersama menteri-menteri. Tapi di depan anak tunggalnya, ia hanya bayangan yang datang dan pergi.

Rangga hanya mengangguk tanpa menoleh. Ia sudah hafal rutinitas itu—ayahnya pergi sebelum matahari terbenam, ibunya menyusul, dan mereka kembali ketika Rangga sudah tertidur. Kadang mereka membawa oleh-oleh mahal, boneka beruang dari Singapura atau mainan robot dari Jepang, tetapi semua itu tidak pernah menggantikan kehangatan pelukan sebelum tidur.

“Rangga, sayang,” ibu yang berparas cantik dengan gaun sutra hitam panjang dan perhiasan berlian berton-ton menghampiri. Wangi parfum Chanel No. 5 menyengat hidung Rangga. Ibu mengecup keningnya, cepat dan dingin—seperti cap stempel. “Besok kita liburan ke Singapura, ya? Ibu janji. Kita naik jet pribadi. Kau suka kan? Nanti Ibu belikan sepatu baru di Orchard Road.”

Rangga tersenyum tipis. Tawaran liburan itu ia dengar bulan lalu, dua bulan lalu, dan tahun lalu. Semua janji itu selalu terkubur oleh tumpukan pekerjaan dan pertemuan bisnis yang tak pernah habis. Ia sudah tidak percaya lagi. Yang ia percayai hanya suara mesin pemotong rumput yang terus berdengung tanpa lelah, seolah menggantikan suara kehidupan yang hilang di rumah ini.

“Ibu, bolehkah aku main ke rumah teman?” tanyanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh gemericik air kolam. “Teman sekolahku, Rizky, mengajakku ke rumahnya. Katanya ibunya membuat kue bolu.”

Ibu dan ayahnya saling pandang. Ada keraguan di mata mereka. “Maaf, Nak. Nanti malam kita ada jamuan makan dengan pejabat tinggi dan beberapa pengusaha besar. Kau harus ikut. Kau kan penerus kami, generasi emas Hidayat Group. Orang-orang harus mengenalimu sejak dini.”

Rangga menunduk, menatap air kolam yang terus bergelombang. Di bawah permukaan, ia melihat bayangannya sendiri—seorang anak kecil dengan mata kosong, tersesat di tengah kemewahan yang tak ia inginkan. Ia tidak ingin menjadi generasi emas. Ia hanya ingin menjadi anak kecil yang dicintai.

Pukul tujuh malam, Rangga mengenakan setelan mini berwarna krem buatan Armani, dasi kupu-kupu yang mengikat lehernya seperti tali pengikat. Di ruang makan utama yang diterangi lampu kristal dari Murano—ratusan kristal berkilauan seperti bintang jatuh—ia duduk di kursi kepala meja yang terlalu tinggi untuk kakinya yang menggantung. Di sekelilingnya, ada dua belas orang tamu. Mereka tersenyum manis, tetapi Rangga bisa melihat mata mereka—mata-mata yang menghitung, menimbang, dan menakar.

Di ujung meja, Pak Hartono duduk dengan tubuh gemuknya yang membeludak keluar dari jas. Pria itu tertawa keras, menunjukkan gigi emas, dan sering menepuk pundak ayah Rangga. “Pak Fajar, saya dengar proyek Tanjung Mas itu sudah di kantong! Selamat! Investornya dari Jepang pasti tergiur dengan angka-angka kita.”

Ayah Rangga tersenyum, tetapi matanya waspada. “Terima kasih, Pak Hartono. Tapi kita belum aman. Masih ada yang mengintai.”

“Siapa?” tanya seorang tamu berkumis.

“Keluarga Dharma,” jawab ibu Rangga, yang sedari tadi diam. Suaranya bergetar tipis. “Mereka juga mengincar lahan itu. Dan mereka punya koneksi di pemerintahan pusat.”

Rangga mendengar nama itu—Keluarga Dharma. Ia tidak mengerti siapa mereka, tetapi ia melihat semua tamu diam mendadak. Udara menjadi tegang. Salah satu tamu, pria botak yang duduk di pojok ruangan, mengenakan kacamata hitam meskipun di dalam ruangan yang terang. Pria itu tidak berbicara sepanjang malam. Ia hanya duduk, sesekali menyesap wine merah, dan tatapannya—yang tersembunyi di balik lensa gelap—terus mengarah ke ayah Rangga. Ada sesuatu di balik kacamata itu yang membuat bulu kuduk Rangga merinding. Sebuah ancaman yang tak terucap.

Pak Hartono tertawa canggung untuk memecah kebekuan. “Ah, Keluarga Dharma itu cuma pengusaha kelas dua. Mereka tidak punya modal. Hanya akal-akalan dan gertakan.”

Tapi ibu Rangga tetap gelisah. Tangannya yang memegang gelas wine bergetar, buku-buku jarinya memutih karena terlalu erat menggenggam. Ayah Rangga mencondongkan tubuh ke arah Pak Hartono, berbisik sesuatu yang tidak didengar Rangga. Namun yang jelas, sejak saat itu, semua pembicaraan berubah menjadi gosip ringan dan tawa pura-pura.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam ketika jamuan usai. Rangga diantar pengasuhnya ke kamar tidur yang luasnya setara dengan tiga rumah sederhana. Kamar itu penuh dengan mainan mahal—robot transformer yang bisa bergerak, mobil-mobil remote control, dan rak buku berisi ensiklopedia edisi terbatas. Tempat tidurnya adalah ranjang ukuran king dengan kasur ortopedi, selimut sutra, dan bantal bulu angsa. Tapi Rangga tidak bisa tidur. Ada firasat aneh yang menggelitik dadanya—seperti angin badai yang datang sebelum hujan, seperti bunyi guntur yang terasa meski langit masih cerah.

Ia duduk di tepi ranjang, memandangi bulan purnama di luar jendela kaca besar. Bulan itu bundar sempurna, begitu terang sehingga ia bisa melihat bayangan pohon-pohon di taman bergoyang. Namun di balik keindahan itu, ada kegelapan yang menghantui. Ia merasakan ada sesuatu yang salah—sebuah aroma bahaya yang tak kasat mata.

Pukul sebelas malam, ia mendengar suara mobil menyala. Beberapa mesin kendaraan berat meraung. Ia mengintip dari balik tirai—ayah dan ibunya keluar rumah, memasuki mobil hitam Mercedes-Benz, diikuti dua mobil pengawal berwarna gelap. Lampu depan menyala terang, lalu rombongan itu meluncur turun dari bukit, menghilang di antara kelokan jalan yang dipenuhi pepohonan.

Rangga menutup tirai. Dadanya berdebar keras. Ia tidak tahu mengapa, tetapi air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari. Ia berlutut di samping ranjang—sebuah posisi yang tidak pernah ia lakukan karena ia tidak pernah diajari berdoa. Namun pada malam itu, naluri seorang anak yang ketakutan membawanya pada kata-kata yang keluar dari lubuk hatinya yang terdalam.

“Tuhan… aku tidak tahu siapa Engkau. Tapi tolong jaga Ayah dan Ibu. Bawa mereka pulang dengan selamat. Aku janji, aku akan menjadi anak yang baik. Aku tidak akan meminta mainan lagi. Aku tidak akan rewel. Tolong… jaga mereka.”

Bisikannya lirih, tertelan oleh kesunyian kamar yang luas. Ia tidak tahu bahwa doa itu adalah doa terakhirnya sebagai anak yang masih memiliki orang tua. Ia tidak tahu bahwa dalam beberapa jam ke depan, dunia yang ia kenal akan runtuh, dan kehidupannya akan berubah seperti halaman buku yang disobek dan dilempar ke dalam api.

Rangga berbaring, memeluk guling, matanya tetap terbuka menatap langit-langit yang dihiasi lukisan bidadari. Di luar, angin malam menderu kencang, membawa daun-daun kering beterbangan. Dan di kejauhan, dari arah kota, terdengar suara sirine polisi yang melengking—suara yang biasa ia dengar, tetapi malam ini terasa begitu dekat dan mengancam.

Tapi Rangga memejamkan mata, berusaha meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Besok, ia akan bangun, dan ayah-ibunya akan kembali seperti biasa. Besok, ia akan kembali menjadi anak kaya yang kesepian di istana kacanya. Setidaknya, ia pikir, kesepian masih lebih baik daripada kehilangan. Ia tidak tahu bahwa kehilangan sudah mengintai di tikungan, dan ia tidak akan pernah kembali menjadi anak itu lagi.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!