NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Cetak Biru yang Berharga

Zian menenggak cairan dari botol obat kecil yang diberikan Kala tanpa ragu. Seketika, ekspresi wajahnya berubah. Rasa hangat yang murni mengalir dari tenggorokannya, langsung menyerbu ke arah meridian jiwanya yang tersumbat oleh racun. Hawa dingin korosif yang selama berbulan-bulan menyiksa dadanya kini menguap, terdorong keluar dalam bentuk kepulan asap hitam berbau busuk dari pori-pori kulitnya.

Nadi kultivasi Zian yang tadinya retak dan cacat, perlahan menyatu kembali, bahkan menjadi jauh lebih kokoh karena diperkuat oleh sisa energi naga primal yang tertinggal di dalam obat tersebut.

"Ini... ini luar biasa..." Zian menatap telapak tangannya sendiri dengan takjub. Energi Qi elemen angin di dalam tubuhnya yang sempat mati, kini kembali bergejolak, mengembalikan kekuatannya langsung ke Ranah Pengendali Jiwa Tingkat Awal. "Terima kasih, Senior! Hidup saya sekarang sepenuhnya milik Anda!"

Kala tetap tenang di kursinya, mengabaikan rasa kagum Zian. Pandangannya yang tersembunyi di balik kain kasa hitam beralih ke gulungan kulit domba kuno yang sejak tadi didekap erat oleh Zian di dadanya. Itulah cetak biru yang diincar oleh para pembunuh bayaran klan sebelumnya.

"Apa yang kau bawa hingga klanmu sendiri mengirim pasukan pembunuh untuk menghabisimu?" tanya Kala datar.

Zian dengan hormat membentangkan gulungan kulit domba tersebut di atas meja kayu kedai. Di permukaannya, terukir garis-garis formasi rumit berlapis tinta emas spiritual yang memancarkan getaran energi angin yang sangat halus.

"Ini adalah Cetak Biru Formasi Badai Sembilan Langit," bisik Zian, suaranya dipenuhi ketegangan. "Ini adalah formasi pertahanan utama yang melindungi Istana Inti Klan Badai Angin di Benua Tengah. Saudara tiriku menjebakku agar aku dituduh mencuri pusaka ini, padahal dialah yang ingin menjualnya ke Klan Api Berkobar demi mendapatkan pil dewa penembus ranah."

Zian menatap Kala dengan mata berbinar penuh tekad balas dendam. "Senior, dengan cetak biru ini, saya tahu persis di mana titik buta (blind spot) dan urat nadi energi dari pertahanan Klan Badai Angin. Jika Senior ingin menghancurkan mereka, saya bisa memandu Senior melewati Formasi Dewa mereka tanpa memicu alarm sekte!"

Kala menyentuh permukaan gulungan emas tersebut. Melalui Netra Kosmos Black Hole-nya, dia tidak melihat garis formasi biasa, melainkan simpul-simpul aliran waktu dan ruang yang sengaja dibelokkan oleh energi angin untuk menciptakan dinding penghalang.

“Kala, anak ini benar,” suara wanita yang misterius dari sarung pedang kayu Yggdrasil bergaung di kepalanya. “Formasi klan suci di Benua Tengah ditenagai oleh batu spiritual purba. Jika kita menyerang dari titik buta yang ada di cetak biru ini, kau bisa menggunakan mata kiri Black Hole-mu untuk menghisap seluruh inti energi formasi tersebut guna menaikkan ranah kultivasimu ke Ranah Setengah Dewa.”

Mendengar analisis dari sarung pedangnya, seulas senyum dingin muncul di wajah Kala. Aliansi 4 Klan Suci mengira mereka aman di balik benteng-benteng dewa mereka. Mereka tidak tahu bahwa cacing yang mereka buang kini kembali membawa kunci kehancuran mereka sendiri.

"Klan Badai Angin akan menjadi target pertama kita di Benua Tengah," ucap Kala parau, menyampirkan kembali jubah hitamnya yang panjang. "Zian, rapikan lukamu. Besok pagi, kita akan mendatangi kota terdekat untuk membeli karavan. Kita akan masuk ke wilayah klanmu bukan sebagai buronan, melainkan sebagai penjemput ajal mereka."

"Klan Badai Angin akan menjadi target pertama kita di Benua Tengah," ucap Kala parau, menyampirkan kembali jubah hitamnya yang panjang. "Zian, rapikan lukamu. Besok pagi, kita akan mendatangi kota terdekat untuk membeli karavan. Kita akan masuk ke wilayah klanmu bukan sebagai buronan, melainkan sebagai penjemput ajal mereka."

Zian membungkuk dalam-dalam hingga keningnya menyentuh meja. "Baik, Senior! Saya akan memastikan darah para pengkhianat klan menjadi alas kaki pertama bagi perjalanan Anda di Benua Tengah!"

Malam itu, di dalam kedai perbatasan yang sunyi dan dikelilingi oleh lima mayat kering para pembunuh, Kala duduk bermeditasi. Di dalam kepalanya, suara detak jam kosmis itu kembali terdengar, berdetak lebih berat dan berwibawa. Tik... Tok... Tik... Tok... Rantai takdir Benua Tengah telah mulai bergeser, dan badai pembantaian yang sesungguhnya siap menyapu klan-klan suci yang sombong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!