Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Truk sampah berhenti di gang sempit kawasan Wonokromo, tempat di mana cahaya lampu jalan jarang sampai. Rendra melompat turun, pakaiannya penuh debu dan bau tak sedap, tapi ia tak peduli. Ia mengucapkan terima kasih singkat pada sopir yang langsung melaju pergi, lalu berjalan cepat menuju rumah persembunyian Dika—sebuah rumah petak tua di lantai dua yang sudah disiapkan dengan perlindungan ekstra.
Pintu terbuka sebelum ia mengetuk. Dika menariknya masuk, lalu mengunci pintu dan memasang ganda pengaman. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi satu lampu meja dan layar komputer yang menyala terang.
“Kau terluka?” tanya Dika sambil menatap Rendra dari ujung kepala sampai kaki.
“Hanya lecet kecil,” jawab Rendra sambil duduk di kursi, lalu mengeluarkan perangkat penyimpanan dari saku dan meletakkannya di meja. “Data ini lengkap, tapi mereka tahu kita mengambilnya. Dan ada orang dalam yang membocorkan rencana kita.”
Dika mengangguk berat, jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik. “Aku sudah memeriksa jejak sinyal alarm. Tidak ada gangguan dari luar—sistem itu dipicu dengan kode akses internal. Artinya, mereka sudah menunggu kita datang. Mungkin sejak awal gudang itu hanya umpan.”
Rendra menekan pelipisnya yang terasa berdenyut. Ia memikirkan siapa lagi yang tahu rencana ini: hanya dia, Dika, dan satu orang lagi—mantan rekan kerjanya di kepolisian, Briptu Surya, yang masih bertugas di dalam dan memberi informasi lokasi gudang itu.
“Apakah mungkin Surya…” ucapnya pelan, tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
“Belum bisa dipastikan,” potong Dika, “tapi kita tidak boleh percaya siapa pun sekarang. Mari kita buka isinya dulu.”
Perangkat terhubung ke komputer. Layar menampilkan ribuan berkas: laporan keuangan palsu, daftar nama pejabat yang menerima suap, rekaman percakapan, dan dokumen terkait kebakaran pabrik tempat adik Rendra tewas. Saat ia membuka berkas bertanggal 17 Maret lalu—hari kejadian itu—darah di tubuhnya terasa mendidih.
Ternyata kebakaran itu disengaja. Pemilik pabrik bekerja sama dengan kepala dinas perindustrian dan komandan polisi setempat untuk membakar bangunan itu guna menutup jejak limbah beracun yang dibuang sembarangan ke sungai. Mereka tahu ada belasan pekerja yang masih berada di dalam, tapi sengaja memblokir pintu darurat agar tidak ada yang bisa keluar. Dan nama yang tertera di perintah pemblokiran itu adalah Inspektur Utama Bagas—orang yang dulu menjadi atasannya Rendra, orang yang kini memimpin tim khusus untuk “menangkapnya hidup atau mati”.
“Dia yang membunuh adikku…” suara Rendra bergetar, tangannya mengepal begitu kuat hingga buku jarinya memutih. “Dan dia juga yang menjebakku lima tahun lalu.”
Tiba-tiba layar komputer berkedip merah. Pesan peringatan muncul: Sistem terlacak! Lokasi diketahui!
“Mereka melacak perangkat itu!” seru Dika sambil segera mencabut kabel, tapi sudah terlambat. Suara sirine terdengar dari kejauhan, makin lama makin mendekat. “Mereka datang kurang dari lima menit!”
Rendra segera berdiri, menyelipkan kembali perangkat itu ke saku, lalu mengambil senjata dan tas berisi perlengkapan darurat. “Kau lewat pintu belakang, aku akan memancing mereka lewat depan. Bertemu di tempat persembunyian lama di bukit Sepanjang.”
“Jangan gila! Mereka membawa pasukan penuh!” cegah Dika.
“Tidak ada waktu berdebat!” Rendra menepuk bahu temannya. “Pergi! Aku akan menyusulmu.”
Dika menatapnya sejenak, lalu mengangguk berat dan berlari menuju pintu belakang. Rendra membuka jendela depan, melompat ke atap rumah sebelah tepat saat pintu depan didobrak terbuka. Peluru berhamburan ke arah tempat ia berdiri sesaat sebelumnya.
Ia berlari di atas atap rumah-rumah petak yang berdekatan, melompati celah sempit di antara bangunan. Di bawahnya, pasukan mengejar dengan lampu sorot menyala terang, menembak ke segala arah. Satu peluru menghantam atap di dekat kakinya, membuat genting pecah menjadi serpihan tajam. Ia hampir terpeleset, tapi segera menyeimbangkan tubuhnya dan terus berlari.
Saat ia sampai di ujung deretan rumah, di depannya ada jalan raya lebar yang memisahkan dengan bangunan lain. Di belakangnya, langkah kaki pengejar sudah terdengar sangat dekat. Ia menoleh ke samping—ada tiang listrik yang menjulur ke arah seberang jalan. Tanpa pikir panjang, ia melompat meraih kabel baja yang membentang, lalu meluncur cepat ke sisi lain tepat saat tembakan beruntun menghantam dinding tempat ia berdiri tadi.
Ia mendarat di halaman belakang sebuah toko kelontong, lalu menyelinap ke dalam kerumunan orang yang pulang dari pasar malam. Berpakaian seperti warga biasa, ia berjalan tenang meski jantungnya masih berpacu kencang. Ia melihat mobil patroli berhenti di seberang jalan, pasukan turun dan memeriksa setiap orang yang lewat.
Rendra membalikkan topinya ke depan, menunduk sedikit, dan berjalan pelan menuju arah berlawanan. Saat seorang prajurit menghadangnya, ia berpura-pura terkejut, lalu menjawab pertanyaan dengan suara gemetar seolah warga biasa yang ketakutan. Prajurit itu menggeleng dan menyuruhnya pergi.
Setelah menjauh cukup jauh, Rendra berjalan menuju stasiun kereta api tua. Ia tahu jalan raya pasti sudah dijaga ketat, jadi kereta barang adalah satu-satunya cara untuk keluar dari kota tanpa terdeteksi. Di perjalanan, ia membuka pesan singkat yang baru masuk ke ponsel sekali pakainya—dari nomor tak dikenal, hanya berisi kalimat: “Hati-hati, Surya dipaksa. Mereka memegang keluarganya.”
Rendra berhenti melangkah. Jadi bukan pengkhianatan, tapi ancaman. Itu berarti satu-satunya orang yang bisa ia percaya di dalam kepolisian masih ada di sisinya—tapi dalam bahaya besar.
Ia menatap ke arah lampu-lampu kota Surabaya yang berkilauan malam itu. Musuhnya bukan sekadar sekelompok penjahat, melainkan sistem yang sudah busuk sampai ke akar-akarnya. Dan sekarang, ia tidak hanya harus menyelamatkan dirinya sendiri, tapi juga melindungi orang yang masih berani berdiri di sisi kebenaran.
Angin malam berhembus lebih dingin, membawa suara kereta yang akan berangkat. Rendra menarik napas panjang, melangkah masuk ke dalam kegelapan stasiun, siap menghadapi bahaya yang jauh lebih besar dari sebelumnya.