Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Dua hari setelah pengujian kedua, laboratorium kembali dipenuhi tumpukan data. Kali ini, semua rekaman dari enam kamera diselaraskan hingga ke hitungan mikrodetik.
Ardi hampir tidak beranjak dari depan komputer dengan mata memerah. Di meja sampingnya sudah terkumpul empat gelas kopi kosong.
"Aku rasa kita menemukannya," ucap Ardi pelan.
Profesor yang sedang membaca laporan langsung menoleh. "Apa?"
"Bukan motornya."
Profesor berdiri. "Tunjukkan."
Video diputar dalam kecepatan sangat lambat. Frame demi frame berganti, sementara motor tetap tampak diam. Namun Ardi memperbesar gambar di sekitar ban depan.
"Lihat baut ini."
Semua mata tertuju ke layar. Pada satu frame, baut itu tampak sedikit buram. Frame berikutnya, posisinya kembali tajam, lalu buram lagi.
"Kerusakan kamera?" tanya salah satu teknisi.
Ardi menggeleng. "Kamera lain juga merekam hal yang sama."
Profesor menyilangkan tangan. "Itu bukan gambar yang buram."
"Lalu?"
"Itu kehilangan fokus."
"Kehilangan fokus?"
Profesor mengangguk. "Seolah-olah... baut itu sesaat berada di posisi yang berbeda."
Zain yang sedari tadi diam ikut mendekat. "Jadi bukan seluruh motor?"
Profesor menggeleng. "Belum tentu. Bisa saja efeknya tidak muncul secara bersamaan."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan kembali sunyi. Kalau benar demikian, berarti perpindahan yang terjadi bukan seperti menekan tombol lalu seluruh kendaraan mendadak menghilang—namun terjadi sedikit demi sedikit.
...
Profesor mengambil spidol. Di papan tulis ia menggambar sketsa motor, lalu memberi titik-titik kecil di berbagai bagian.
"Bayangkan... setiap bagian kendaraan berpindah pada waktu yang berbeda."
Zain langsung mengernyit. "Bukannya itu berbahaya?"
Profesor tersenyum tipis. "Itulah yang sedang kita cari tahu. Kalau benar begitu, kita harus menyelaraskan semuanya."
Ardi menambahkan, "Kalau tidak... hasilnya bisa sangat buruk."
Tak ada yang menjelaskan lebih lanjut, namun Zain bisa membayangkan sendiri risikonya. Ia memilih untuk tidak meneruskan pikiran mengerikan itu.
Menjelang malam, Profesor meminta semua orang pulang lebih awal. "Kalian sudah bekerja terlalu keras. Besok kita lanjut."
Para teknisi pun mulai berkemas. Zain membantu mematikan lampu di beberapa meja kerja.
Saat melewati motornya, ia berhenti. Entah kenapa, ia merasa ada yang berbeda.
Ia mengusap bodi depan—masih sama. Spionnya juga sama, dan goresan kecil di sisi kiri pun masih ada.
"Perasaan saja..." gumamnya.
Ia menggeleng, lalu mendorong motor keluar dari bengkel.
...
Di luar gedung, langit mulai gelap. Zain mengenakan helm lalu menyalakan mesin. Suara mesinnya terdengar tetap halus saat ia melaju meninggalkan area kampus.
Tak sampai lima menit kemudian, ponselnya berdering dari Ardi.
"Halo?"
"Zain."
"Iya."
"Motor masih bersamamu?"
"Iya."
"Jangan berhenti di mana pun. Langsung kembali ke laboratorium."
"Lho, kenapa?"
Suara Ardi terdengar jauh lebih tegang dari biasanya. "Kami baru menemukan sesuatu."
"Apa?"
Ardi menarik napas. "Sensor di bengkel... masih mendeteksi Inti Resonansi."
Zain spontan melirik ke bawah, ke arah motornya yang sedang melaju. "Kan memang masih terpasang."
"Bukan itu maksudku," suara Ardi semakin pelan. "Sensor membaca... Inti Resonansi ada di dua tempat pada saat yang sama."
Zain merasakan tengkuknya meremang seketika. Tangannya mencengkeram setang lebih erat, dan tanpa sadar, ia memutar gas sedikit lebih dalam menuju laboratorium.
Mesin motor meraung pelan membelah jalanan malam. Zain tidak lagi memperhatikan pesanan yang masuk—beberapa kali ponselnya berbunyi, namun ia terus mengabaikannya.
Pikirannya hanya tertuju pada ucapan Ardi: *Inti Resonansi ada di dua tempat pada saat yang sama.*
Bagaimana mungkin? Kalau Inti itu berada tepat di bawah jok motornya, lalu apa yang masih terbaca oleh sensor di laboratorium?
Kurang dari lima belas menit kemudian, Zain memasuki area kampus. Gerbang laboratorium sudah terbuka, dan Ardi berdiri di depan pintu seolah telah menunggunya sejak tadi.
"Masuk cepat."
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Nanti."
...
Motor langsung dibawa ke dalam bengkel. Begitu roda depan melewati pintu, sebuah monitor mengeluarkan bunyi nyaring.
*Bip... Bip... Bip...*
"Sinyal kembali menyatu," ucap salah satu teknisi.
Ardi mengembuskan napas panjang. "Syukurlah..."
Zain semakin bingung. "Maksudnya menyatu?"
Profesor Surya menghampiri. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya tampak jauh lebih tajam dari biasanya.
"Tadi, setelah kamu keluar... sensor di sini tetap mendeteksi Inti Resonansi."
"Padahal saya sudah pergi?"
"Iya."
"Berapa lama?"
"Empat puluh tiga detik."
Zain terdiam sejenak. "Terus setelah itu?"
"Sinyalnya menghilang. Saat motormu masuk kembali, sinyalnya baru muncul lagi."
Ardi membuka grafik di layar. Ada dua garis tertera di sana—garis pertama berasal dari sensor pada motor, sementara garis kedua berasal dari sensor ruangan. Selama empat puluh tiga detik, kedua garis itu tidak berhimpit, seolah-olah ada dua sumber sinyal yang berbeda.
"Jadi..." Zain mencoba menyusun pikirannya. "Apakah ada Inti lain di laboratorium?"
Profesor menggeleng. "Tidak."
"Kalau alatnya rusak?"
"Itu kemungkinan pertama yang kami periksa," jawab Profesor. "Dan tidak ada kerusakan."
...
Ruangan kembali sunyi. Tak ada seorang pun yang berani menarik kesimpulan sebab data yang mereka miliki belum cukup.
Profesor berjalan perlahan menuju papan tulis, lalu menuliskan satu kalimat besar:
*Jangan memaksakan teori mengikuti data.*
Zain membacanya keras-keras. "Maksudnya?"
Profesor menoleh. "Kalau datanya aneh, bukan berarti kita boleh mengarang penjelasan. Kita kumpulkan dulu semuanya, baru membuat kesimpulan."
Ardi mengangguk setuju. "Itu sebabnya penelitian sering terasa lambat. Jawaban yang didapat terlalu cepat sering kali justru salah."
...
Malam semakin larut. Sebelum semua orang pulang, Profesor menyampaikan keputusan penting.
"Mulai besok... motor ini tidak boleh dipakai untuk bekerja sementara waktu."
Zain langsung menoleh. "Berapa lama?"
"Belum tahu."
"Tapi saya narik pakai apa?"
Profesor terdiam sejenak, namun Ardi lebih dulu menjawab, "Kami sudah menyiapkan motor pinjaman."
"Motor pinjaman?"
"Iya, selama pengujian proyek ini berlangsung."
Zain tersenyum lega. "Kira saya disuruh jalan kaki."
Beberapa teknisi tertawa kecil, membuat ketegangan di ruangan sedikit mencair.
Namun setelah tawa itu reda, semua mata kembali tertuju pada motor Zain. Tak ada yang mengucapkannya secara langsung, tetapi mereka memikirkan hal yang persis sama.
Jika benar ada sesuatu yang tertinggal di laboratorium selama empat puluh tiga detik, maka yang berpindah bukan sekadar energi. Dan jika dugaan itu benar, mereka baru saja menemukan anomali pertama yang tidak pernah diprediksi dalam teori mana pun.