Sepuluh tahun lalu, seorang bocah laki-laki menolong Keira dari tangan kakak angkatnya yang kejam. Wajahnya terekam di ingatan — dan di hatinya.
Sepuluh tahun kemudian, Keira bertemu lagi dengannya di zona perang. Kali ini, dia bukan bocah. Dia Brigadir Jenderal Darren Tanuwijaya, komandan pasukan elite TNI yang paling ditakuti di medan pertempuran.
Keira memberanikan diri menyatakan cinta. Ditolak.
Tapi malam itu, Darren datang ke tendanya dan berkata:
"Bukan pacaran. Tapi menikah."
Pernikahan kilat di KUA. Suami yang memasak sarapan tapi bisa membunuh dengan satu peluru. Keluarga mertua yang ternyata keturunan jenderal besar. Dan keluarga angkat yang tidak pernah berhenti mempermalukannya.
Kamu cuma anak angkat. Nikah sama tentara miskin. Kasihan.
Tapi mereka tidak tahu — tentara "miskin" itu adalah Brigjen termuda dalam sejarah TNI. Kakeknya mantan Panglima. Dan suami yang mereka hina... tidak pernah membiarkan siapa pun menyakiti istrinya.
Yang lebih tidak mereka sangka:
Keira bukan anak angkat biasa.
Dia adalah pewaris Lim Group International — konglomerat terbesar kedua di Indonesia — yang diculik musuh bisnis saat berusia enam tahun dan dianggap sudah meninggal.
Satu per satu, empat kakak kandungnya mendekati secara diam-diam. Aktor terkenal. Ilmuwan antariksa. Atlet bela diri. Pengusaha misterius. Mereka sudah mencarinya selama tujuh belas tahun.
Sementara itu, kakak angkatnya semakin nekat: alergi yang hampir membunuhnya, narkoba, dan pisau di tengah malam.
Antara tugas negara dan cinta yang tak pernah goyah, antara keluarga yang hilang dan keluarga yang dipilih — Keira harus menemukan siapa dirinya yang sebenarnya.
Dan ketika seluruh kebenaran terungkap...
Yang dulu menghina, sekarang berlutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Sepuluh Jari
Satu bundel naskah menghantam dada Keira keesokan siang.
Kertas-kertas berhamburan di lantai berita Hartono Media. Percakapan berhenti. Suara keyboard lenyap satu demi satu.
Vania berdiri di depan meja Keira dengan wajah merah.
"Kamu sengaja mempermalukanku di depan Jason!"
Keira menatap halaman rapat yang menginjak ujung sepatunya. "Saya mengirim risalah kepada semua pihak karena Bu Vania meninggalkan pertemuan. Itu prosedur kerja."
"Prosedur? Kamu membuat seolah aku menjebakmu!"
"Saya hanya menulis waktu dan kejadian. Kalau fakta membuat Bu Vania terlihat buruk, masalahnya bukan pada risalah saya."
Beberapa rekan kerja menahan napas.
Vania menoleh kepada mereka. "Apa yang kalian lihat? Kembali bekerja!"
Kepala-kepala menunduk, tetapi telinga tetap mengarah kepada dua perempuan di tengah ruangan.
Vania mengambil tablet dari meja Keira. Di layar terbuka surel HR mengenai potongan gaji dua puluh persen.
"Kamu juga mengajukan keberatan lagi?"
"Itu hak saya. Sampai sekarang HR belum menunjukkan aturan yang membolehkan gaji pokok dipotong sebagai hukuman."
"Aku manajermu. Keputusanku cukup."
"Keputusan manajer tetap harus tertulis dan sesuai peraturan perusahaan."
Senyum Vania berubah tajam. "Dua bulan lalu kamu masih tahu diri. Baru punya suami tentara sudah berani menantangku?"
Keira berdiri. "Pernikahanku tidak ada hubungannya dengan pelanggaran yang dilakukan perusahaan."
"Pelanggaran?"
Vania mendorong bahunya.
Keira mundur satu langkah dan menabrak meja. Gelas air jatuh. Sisa isinya membasahi dokumen di lantai.
Vera bangkit dari kursinya. "Bu Vania, cukup. Semua orang melihat."
Nada suaranya terdengar membela, tetapi tangannya sudah menggenggam ponsel di bawah meja.
Vania menunjuk kertas-kertas basah. "Pungut."
Keira tidak bergerak.
"Saya bilang pungut semuanya."
"Kamu yang melemparnya."
"Berlutut dan pungut dengan sepuluh jarimu." Vania mendekat, merendahkan suara tetapi memastikan satu ruangan tetap mendengar. "Anak angkat memang harus tahu diri. Jangan kira cincin murah dan suami miskin bisa mengubah asal-usulmu."
Keira melihat sekeliling.
Seorang editor senior mengepalkan tangan di samping tubuh. Staf magang di ujung meja tampak pucat. Vera berdiri dengan wajah prihatin. Tidak ada yang berani bergerak karena semua orang punya gaji, cicilan, dan keluarga yang bergantung pada pekerjaan ini.
Selama bertahun-tahun, Keira memahami ketakutan mereka. Ia juga hidup di bawah ketakutan yang sama.
Lima ratus juta.
Lima tahun.
Tiga surat pelanggaran.
Angka-angka itu selalu cukup untuk membuat punggungnya membungkuk.
Namun di dalam tasnya ada salinan kontrak, surat tugas, catatan medis, keputusan bonus, surel HR, dan risalah makan malam. Di rumah ada seorang pria yang tidak pernah meminta Keira mengecilkan diri agar layak diterima.
Vania mendorong dahinya dengan satu jari. "Tunggu apa lagi?"
Keira menangkap pergelangan tangannya.
"Jangan sentuh aku."
"Lepas!"
Vania mengangkat tangan satunya, hendak mendorong lagi.
Tamparan Keira lebih dulu mendarat di pipinya.
Plak!
Suara itu memantul di antara dinding kaca.
Vania terhuyung setengah langkah. Wajahnya miring, rambutnya menutupi satu mata.
Seluruh kantor membeku.
Keira menurunkan tangan. Telapak tangannya panas, tetapi napasnya justru menjadi lebih tenang.
Vania menyentuh pipi. Ketika menoleh kembali, matanya penuh ketidakpercayaan.
"Kamu menamparku?"
"Kamu mendorong dan mencoba memukulku di depan saksi. Aku sudah memperingatkanmu untuk berhenti."
"Aku akan memecatmu!"
"Silakan."
Satu kata itu membuat Vania terdiam.
Keira menatapnya lurus. "Kirim surat pemecatan resmi, dasar pelanggaran, perhitungan hak kerja saya, dan salinan rekaman CCTV lantai ini. Pengacara saya akan menjawab soal lima ratus juta itu."
"Kamu tidak punya pengacara."
"Aku bisa mencari."
"Papa akan menghancurkanmu."
"Kalau begitu lakukan lewat jalur hukum. Bukan dengan mendorongku di kantor."
Bisik-bisik muncul. Pelan, lalu semakin jelas. Vania menoleh tajam, tetapi kali ini tidak semua orang menunduk.
Editor senior tadi mengangkat suara. "CCTV memang harus diamankan, Bu."
Staf lain menambahkan, "Kami semua melihat Bu Vania mendorong lebih dulu."
Vania memandang mereka satu per satu. "Kalian membela dia?"
"Kami menyatakan yang kami lihat," jawab editor itu.
Pintu lift di lantai bawah terbuka pada saat yang sama.
Darren keluar dengan dua kotak makan siang di tangan. Keira meninggalkan bekalnya di rumah pagi tadi. Ia berniat mengantar, lalu menunggu sampai jam pulang.
Di lobi, dua staf berbisik panik.
"Bu Vania ditampar Mbak Keira."
"Katanya tadi Bu Vania dorong dulu. Satpam sedang dipanggil."
Langkah Darren berhenti.
"Lantai berapa?" tanyanya.
Kedua staf menoleh. Mereka mengenal wajah pria yang mengantar Keira kemarin.
"Lantai delapan, Pak."
Darren menyerahkan kotak makan kepada petugas resepsionis. "Tolong simpan untuk Keira."
Ia masuk ke lift.
Di lantai delapan, Vania masih berteriak kepada HR melalui telepon ketika pintu terbuka. Keira berdiri dekat mejanya, dikelilingi kertas basah dan rekan kerja yang tidak lagi pura-pura sibuk.
Darren melihat bekas merah di lengan Keira lebih dulu.
Wajahnya tidak berubah. Justru itu yang membuat udara mendadak berat.
Ia berjalan melewati orang-orang dan berhenti di samping istrinya.
"Kamu terluka?"
"Tidak. Dia mendorongku."
Darren memeriksa lengannya tanpa menyentuh bagian merah. "Ada yang lain?"
"Tidak."
Baru setelah itu ia menoleh kepada Vania.
"Kamu yang tadi mendorong istriku?"
Vania menurunkan ponsel. Meski sudah mengenal Darren, ia tidak pernah melihat tatapan sedingin ini diarahkan kepadanya.
"Ini urusan kantor dan keluarga kami. Keira menamparku."
"Aku bertanya apakah kamu mendorongnya."
"Dia membangkang. Aku hanya..."
"Ya atau tidak?"
Suara Darren tidak tinggi. Namun dua petugas keamanan yang baru datang berhenti di pintu, menunggu.
Editor senior mengangkat tangan. "Bu Vania mendorong Mbak Keira dua kali, Pak. Setelah itu mencoba mengangkat tangan lagi. Mbak Keira menahan, lalu menampar. CCTV merekam semuanya."
Darren menatap kamera di sudut ruangan. "Amankan rekamannya."
Vania mendengus. "Kamu tidak punya wewenang memberi perintah di perusahaan ini."
"Benar." Darren mengeluarkan ponsel. "Karena itu saya bisa menghubungi polisi dan membuat laporan penganiayaan sebagai suami korban. Keira juga bisa meminta Disnaker memeriksa potongan gaji dan praktik ketenagakerjaan di sini. Atau kamu bisa mulai dengan satu hal sederhana."
Ia melangkah setengah langkah lebih dekat.
"Minta maaf. Sekarang."
Vania menatapnya, lalu Keira. Seluruh tim berita menyaksikan. Perempuan yang kemarin mengajak Darren minum kopi kini dipaksa mengakui kesalahan di depan istri pria itu dan semua bawahannya.
"Aku tidak akan..."
Darren membuka layar panggilan. "Baik. Kita tunggu polisi."
"Jangan!"
Kata itu keluar terlalu cepat.
Hartono Media baru saja mencoba mendapatkan kontrak besar. Polisi datang karena manajer menyerang jurnalisnya sendiri akan menjadi berita yang menghancurkan citra perusahaan.
Vania mengepalkan kedua tangan. Bekas tamparan di pipinya semakin merah.
"Keira," katanya kaku. "Maaf."
Darren tidak bergerak. "Untuk apa?"
Vania menatapnya dengan marah.
"Saya minta maaf karena mendorongmu dan menyuruhmu berlutut."
Keira memandang sepuluh jari Vania yang mengepal di sisi tubuh. Perempuan itu tidak tulus. Namun permintaan maaf ini bukan tentang ketulusan. Ini tentang semua orang yang akhirnya melihat Vania tidak kebal dari konsekuensi.
"Aku mendengarnya," kata Keira. "Jangan ulangi."
Seorang staf HR tiba dengan napas terputus. Ia melihat pipi Vania, lengan Keira, lalu puluhan saksi yang masih berdiri.
"Kita bisa menyelesaikan ini secara internal," katanya cepat. "Tidak perlu memperbesar masalah."
Keira berbalik kepadanya. "Baik. Catat tiga hal."
Ia mengangkat satu jari.
"Pertama, rekaman CCTV sejak awal rapat sampai saat ini tidak boleh dihapus atau dipotong. Saya meminta salinan resmi."
Jari kedua.
"Kedua, pemotongan dua puluh persen gaji saya ditangguhkan sampai HR menunjukkan dasar tertulis dan memberi kesempatan pembelaan."
Jari ketiga.
"Ketiga, tidak boleh ada surat peringatan atau perubahan tugas sebagai balasan atas laporan hari ini tanpa pemeriksaan independen. Semua komunikasi harus tertulis."
Staf HR melirik Vania. "Bu Vania?"
"Lakukan pemeriksaan," desis Vania. "Tapi jangan kira ini selesai."
"Ucapan terakhir juga dicatat sebagai potensi pembalasan," kata Keira.
Staf HR buru-buru mengetik di tabletnya.
Darren tidak mengambil alih. Ia berdiri di samping Keira dan membiarkannya menetapkan syarat sendiri. Kehadirannya bukan untuk menggantikan suara Keira, melainkan memastikan tidak ada yang kembali membungkamnya.
Darren menoleh kepada keamanan. "Rekaman tetap disimpan. Istri saya akan memutuskan langkah berikutnya setelah menerima salinan."
Petugas keamanan mengangguk. Salah satu dari mereka segera menghubungi ruang kontrol.
Vania menunjuk pintu. "Keluar dari kantor saya. Kalian berdua."
Keira mengambil tas dan laptop. "Saya akan pulang setelah HR memberikan instruksi tertulis soal status kerja. Sampai saat itu, saya tidak menerima perintah lisan dari Bu Vania."
Vera mendekat seolah hendak membantu. "Mbak Keira, kertasnya..."
Keira melihat halaman-halaman basah di lantai.
"Biarkan. Orang yang melemparnya bisa memungut sendiri."
Ia berjalan menuju lift bersama Darren.
Saat pintu hampir tertutup, salah satu staf mulai bertepuk tangan. Satu tepukan disusul tepukan lain, lalu seluruh lantai dipenuhi suara yang membuat wajah Vania semakin pucat.
Di dalam lift, Darren menatap tangan kanan Keira.
"Sakit?"
"Sedikit."
"Tamparannya terlalu keras?"
Keira menoleh, tidak yakin apakah itu kritik.
Darren mengambil telapak tangannya dan memeriksa kemerahan di kulit. "Lain kali jangan pakai bagian tengah telapak. Jempolmu bisa cedera."
Keira tertawa untuk pertama kalinya hari itu. "Kamu malah mengajariku?"
"Aku menyuruhmu meneleponku."
"Kamu sedang cuti."
"Cuti bukan berarti berhenti menjadi suamimu."
Pintu lift terbuka. Darren tetap menggenggam tangannya saat mereka melewati lobi.
Di lantai delapan, tepuk tangan sudah berhenti. Para staf kembali ke meja, tetapi tatapan mereka kepada Vania tidak lagi sama.
Vania berdiri sendirian di antara kertas basah. Sepuluh jarinya perlahan mengepal sampai kuku menekan telapak.
Ia belum selesai dengan Keira.
kalian bakalan stroke kalo tau keluarga asli Keira 🤣🤣🤣🤣
review bintang 🌟 5 untuk pemula 😲😲😲😲👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻