NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 013 - Viral

Kabar buruk datang sebelum Arya sempat membawa Kirana ke Malang.

Pagi itu, Kirana sedang duduk di ruang makan. Di depannya ada bubur ayam buatan Arya, segelas air hangat, dan vitamin yang belum disentuh.

Ponselnya berbunyi.

Lalu berbunyi lagi.

Sari menelepon tiga kali.

Kirana mengangkat dengan dahi berkerut. "Sar?"

Suara Sari terdengar panik. "Kamu jangan buka Instagram dulu."

Kalimat seperti itu selalu membuat orang ingin membuka Instagram.

Kirana langsung menatap Arya.

"Kenapa?"

"Kirana, dengar aku. Jangan buka. Aku ke apartemen sekarang."

Sambungan putus.

Arya mengambil ponselnya sendiri.

Dalam tiga puluh detik, ia melihat sumber masalahnya.

Sebuah akun anonim bernama @rahasia.kampus.sml mengunggah rangkaian foto.

Kirana keluar dari Klinik Bunda Sehat.

Kirana masuk lobby Grand Surya Residence.

Kirana berjalan dengan pakaian longgar di Surya Plaza.

Foto-foto itu diambil dari jauh. Sudutnya tajam. Wajah Kirana tetap jelas.

Caption di bawahnya membuat rahang Arya mengeras.

"Putri kampus kita ternyata sudah isi? Siapa ayahnya?"

Komentar bertambah setiap kali layar diperbarui.

"Serius itu Kirana?"

"Pantesan jarang masuk kelas."

"Ayahnya siapa?"

"Kasihan banget kalau cowoknya kabur."

"Terlalu cantik buat dibuat begini."

Lalu komentar yang lebih kotor mulai muncul.

Arya mematikan layar sebelum Kirana sempat membaca lebih banyak.

Terlambat.

Wajah Kirana sudah putih.

"Itu aku?"

"Kirana..."

"Mereka foto aku?"

Tangannya gemetar. Ponsel jatuh ke meja. Sendok beradu dengan mangkuk dan membuat suara kecil yang terasa terlalu keras.

Kirana berdiri.

"Aku mau ke kamar."

"Aku temani."

"Jangan."

Suaranya pecah.

"Tolong jangan dulu."

Ia masuk ke kamar dan mengunci pintu.

Arya berdiri di depan pintu selama beberapa detik.

Dari dalam terdengar isak yang ditahan.

Ia mengetuk pelan.

"Kirana, aku di luar. Aku tidak ke mana-mana."

Tidak ada jawaban.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Sari datang dengan wajah marah. Ia tidak melepas sandal saat masuk.

"Mana dia?"

"Di kamar."

Sari mengetuk pintu. "Ran, ini aku. Buka."

Pintu tetap tertutup.

Sari menempelkan dahi ke pintu. Suaranya melunak.

"Kamu boleh nangis. Kamu boleh marah. Kamu jangan sendirian terlalu lama."

Kunci akhirnya berbunyi.

Kirana membuka pintu sedikit. Matanya bengkak. Ia langsung memeluk Sari.

Sari menatap Arya di atas bahu Kirana.

Tatapannya jelas: temukan orangnya.

Arya mengangguk.

Ia membawa laptop ke ruang kerja.

Dimas, Rizky, dan Bayu datang setengah jam kemudian. Mereka datang tanpa banyak tanya. Dimas membawa makanan. Rizky membawa laptop. Bayu membawa daftar akun yang ikut menyebar.

"Postingan sudah masuk grup fakultas, grup angkatan, sampai grup alumni," kata Bayu.

Dimas menggertakkan gigi. "Siapa pun yang buat ini, dia niat banget."

Rizky membuka tangkapan layar. "Akun dibuat dua hari lalu. Tidak ada foto profil asli. Nama pengguna generik. Komentar awal datang dari beberapa akun kosong."

"Bot?" tanya Arya.

"Sebagian. Sebagian mahasiswa asli yang ikut panas."

Arya menatap foto pertama.

Klinik.

Sudut foto dari seberang jalan.

Ia memperbesar bayangan di kaca.

Sistem panel muncul.

【Analisis visual dimulai.】

【Jarak pemotretan: 38-52 meter.】

【Lensa: telephoto high-end.】

【Kemungkinan pelaku: fotografer bayaran atau investigator swasta.】

Arya mengepalkan tangan.

Foto kedua.

Lobby apartemen.

Sudut dari area parkir tamu.

Foto ketiga.

Surya Plaza.

Diambil dari lantai atas, tepat saat Kirana menyentuh perutnya karena mual.

Itu sudah direncanakan.

Arya mengubah posisi duduk.

"Rizky, bisa lacak pola unggahan?"

"Bisa, kalau masih ada jejak publik. Untuk akses lebih dalam, kita perlu hati-hati."

"Ambil yang legal."

Rizky mengangguk.

Sistem membantu Arya membaca metadata dari versi foto yang belum sepenuhnya dikompresi. Ada pola jam. Ada pola lokasi. Ada satu detail kecil pada file yang diunggah ulang terlalu cepat oleh akun kedua.

Alamat email pemulihan.

Tidak tampil penuh.

Hanya beberapa huruf.

admin.media@hartono-group.co.id

Ruangan hening.

Dimas mengumpat pelan.

Bayu menatap Arya. "Hartono?"

Rizky mengetik cepat. "Domain aktif. Terdaftar atas nama PT Hartono Properti Nusantara. Grup keluarga Denny."

Nama itu membuat udara di ruang kerja menebal.

Arya membuka folder lama berisi laporan sistem tentang Denny. Foto Porsche Cayenne. Data kampus. Perusahaan keluarga. Catatan pengecekan aset Arya oleh orang suruhan Denny.

Semua garis mulai bertemu.

Sari keluar dari kamar. Wajahnya masih marah.

"Kirana belum mau makan. Kalau kamu mau jadi suami, kamu urus dua hal. Satu, bawa dia keluar dari rasa malu ini. Dua, hancurkan orang yang membuatnya menangis."

Arya berdiri.

"Aku akan lakukan dua-duanya."

Ia membawa bubur yang sudah diganti hangat ke depan kamar.

Kali ini ia tidak meminta Kirana membuka pintu.

Ia duduk di lantai.

"Kirana, aku sudah mulai melacak. Foto itu direncanakan. Ada jejak ke Hartono Group."

Di dalam, tangis Kirana berhenti sebentar.

Arya melanjutkan, "Kamu tidak perlu membaca komentar. Kamu tidak perlu menjawab siapa pun hari ini. Kamu hanya perlu makan tiga suap. Setelah itu kamu boleh marah kepadaku, boleh diam, boleh tidur."

Pintu terbuka sedikit.

Kirana duduk di balik pintu, rambutnya berantakan di bawah hijab yang sudah dilepas.

"Mereka semua lihat?"

Arya menahan nyeri di dada.

"Banyak yang lihat."

Air mata baru turun.

"Aku malu."

Arya menaruh mangkuk di lantai, lalu duduk lebih dekat.

"Yang harus malu orang yang membuntutimu. Yang harus takut orang yang menyebarkan fotomu. Kamu hamil anakku, dan aku berdiri di sini."

Kirana menatapnya lama.

"Kamu yakin bisa lawan mereka?"

"Aku sudah mulai."

Kirana mengambil sendok.

Satu suap.

Lalu satu lagi.

Arya tidak bergerak sampai ia menelan suap ketiga.

Malam itu, ketika Kirana akhirnya tidur ditemani Sari, Arya duduk bersama tiga sahabatnya sampai lewat tengah malam.

Mereka menyusun daftar.

Akun penyebar pertama.

Akun komentar pemantik.

Jam unggahan.

Koneksi domain.

Nama fotografer yang biasa disewa Hartono Group.

Semakin banyak data terkumpul, semakin jelas motifnya.

Denny ingin mempermalukan Kirana lebih dulu.

Setelah itu, ia akan menekan Arya.

Di sisi lain Surabaya, sebuah ruang privat di klub mahal masih ramai oleh musik rendah dan gelas kristal.

Denny Hartono duduk di sofa kulit. Ponselnya menampilkan postingan yang sudah dibagikan ribuan kali.

Seorang pria berjas berdiri di dekatnya.

"Engagement naik cepat, Den. Besok kampus pasti ramai."

Denny tersenyum tipis.

"Bagus."

"Perlu kita dorong isu ayahnya?"

"Dorong pelan. Jangan sebut namaku."

Pria itu mengangguk.

Denny menatap foto Kirana di layar. Senyumnya menghilang sebentar, berubah jadi sesuatu yang lebih gelap.

"Dia memilih anak kos itu di depan semua orang."

Ia meletakkan ponsel di meja.

"Sekarang biar semua orang melihat pilihan itu."

Pria berjas itu ragu. "Kalau Arya melawan?"

Denny tertawa pendek.

"Dia baru punya mobil dan apartemen. Aku punya nama keluarga."

Ia mengangkat gelas.

"Ini baru permulaan."

Di apartemen, layar laptop Arya menampilkan satu baris yang terus ia pandangi.

admin.media@hartono-group.co.id

Hartono Group.

Nama itu sudah cukup untuk memulai perang.

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!