Alih-alih menikmati fasilitas orang tuanya Sheeva memilih menepi dan hidup di panti asuhan sejak duduk di bangku kelas 8 menengah atas. Banyak hal membuatnya memutuskan demikian
lantas apa yang mendorong gadis sekecil itu menjauh dari dekapan hangat keluarganya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayra Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Huru-hara
Kantin SMA harapan bangsa masih penuh sesak oleh para siswa yang ingin mengisi perutnya. Meski kantin tergolong sangat luas namum tetap terlihat penuh sesak terlebih sedang ada event di sekolah ini.
Sembari bersantap ada yang sekalian asyik berbincang. Tapi, tidak dengan Sheeva. Seperi biasa dia akan memilih duduk di bangku paling ujung, menikmati makanannya seorang diri. Mau bagaimana lagi satu-satunya sahabat yang dia miliki memilih makan bersama kekasihnya. Sheeva pun maklum, toh baginya sendiri jauh lebih menenangkan.
" Sheeva ku...!" Hampir saja Sheeva tersedak minuman dinginnya.
" Berisik tau nggak sih !" Nindy terbahak.
" Ngapain kesini, mana pacar kamu ?"
" Biasa di panggil big bos " Sheeva mengerutkan keningnya.
" Di panggil kak Kay "
" Ogh..." Sheeva melanjutkan memakan mie ayam yang tinggal beberapa suap saja.
" Kamu udah makan NIn ?" Nindi mengangguk.
" Pas kamu di kantor osis tadi aku udah makan duluan sama kak Yongki "
" Oya Sheev, hari ini turnamen Volinya final lho. Nonton yuk "
" Desainku di kejar deadline Nin "
" Yah sayang padahal hari ini yang main itu sekolah kitadan SMK Tribakti lho Sheev " Sheeva menghentikan kunyahannya. Dia menoleh kearah Nindy.
" Bukankah itu sekolah asal Pamungkas ?" Ucap Sheeva dalam hati.
" Ayolah Sheev, seekali temani aku nonton " Sheeva gemas sendiri dengan rengekan Nindy.
" Lihat nanti ya Nin "
" Agh kamu mah nggak like Sheev. Padahal banyak cowok cakep lho. Siapa tau ada yang nyangkut di kamu "
" Layangan putus kali Nin nyangkut " Nindy terbahak.
" Pokoknya nggak mau tau. Kamu hari ini harus temani aku nonton ayang Yongki. Dia bisa ngambek kalau aku nggak nonton Sheev. Padahal di gor nggak ada temen itu nggak enak "
" Iya-iya aku temenin. Lagian heran aku sama kak Yongki, bisa yan dia tahan sama kamu yang brisiknya nggak ketulungan begini." Bukan marah Nindy justru tergelak.
" Brisik tapi, bikin kangen kan ?" Nindy menaik turunkan Alisnya.
" Iyain aja deh " Keduanya kembali tergelak.
Pada akhrinya Sheeva menuruti kemauan Nindy. Kalau di pikir-pikir kasian juga Nindy. Nindy juga hampir sama kayak dirinya pemilih dalam berteman. Mungkin pengalaman waktu sekolah menengah pertama membuatnya menjadi lebih pemilih sekarang.
Dulu dia selalu di manfaatkan karena uang sakunya banyak dan otaknya yang sedikti encer. Teman mendekat hanya karena butuh sokongan darinya saja. Itu membuatnya sekarang lebih berhati-hati dalam berteman.
Bagi Nindy sekarang cukup punya Sheeva sebagai temannya. Lagian buat apa banyak teman tapi tidak tulus. Jika dulu mereka mendekat karena dia terlahir dari keluarga berada maka lain halnya sekarang yang kebanyakan mendekat karena ingin dekat juga dengan inti The King.
Gor sangat ramai hari ini. Sheeva berjalan dengan tenang tanpa meperdulikan hiruk pikuk yang ada. Lain halnya dengan Nindy yang masih saja sempat membalas godaan dari para siswa dari sekolah lain. Padahal sudah tau Yongki posesif abis sama dia. Meski niatnya cuma iseng tetap saja Yongki bisa ngamuk kalau tau. Sheeva hanya bisa mengelengkan kepala.
" Queen ..!" Sheeva dan Nindy terkejut ada yang memangil namanya dengan nama itu.
" Wah benar ini Queen saudara tirinya Pamungkas kan ?" Pria itu menatap Sheeva dengan pandangan mata penuh binar.
Sementara siswa harapan bangsa yang mendengan ucapan siswa tadi menatap tak percaya kearah Sheeva. Ini yang Sheeva takukan ketika dai mendengar nama SMK Tribakti yang akan bertanding hari ini.
" Wah di cari-cari, rupanya ngumpet di sini kamu hahaha.." Sheeva tau akan ada huru-hara setelah ini jika dia tak segera beranjak.
" Mau kemana kamu ?" Sheeva tak menangapi ocehan cowok yang dia ingat bernama Gama dan salah satu Anggota geng motor yang di pimpin oleh Pamungkas.
" Takut ya, borok nyokap loe yang seorang pelakor terbongkar disini ?" Sheeva memejamkan matanya. Ini yang dia takutkan.
" Mulut mu bisa di jaga apa tidak ?" Ucap Sheeva pelan tapi penuh penekanan.
" Kalau kamu tidak tau Faktanya jangan asal bicara. Belum pernah nyicip rujak sepatu kan ?" Bukan Sheeva tapi, Nindy yang melanjutkan. Nindy pasang badan buat melindungi Sheeva.
" Wau kacungnya beraksi man. Cantik, lumayan nih buat di bonceng " Gama dan teman-temannya terbahak.
" Loe " Nindy menatap Gama penuh amarah.
" Sudah lah Nin jangan buang energimu untuk meladeni mereka. Ingat kata pepatah bukan ?"
" Biarkan anjing menggongong, kafilah beralu "
" Loe ngatain gue Anjing ?" Pria bernama Gama itu sepertinya tersulut emosinya. Hampir saja kepalan tangannya menyentuh muka Sheeva.
" Jangan macam-macam, ini kawasan The King" Pamungkas datang tepat waktu. Dia dengan sigap menangkap kepalan tangan wakilnya itu.
" Urus itu kacung-kacungmu. Bilangin jaga mulutnya kalau tidak mau merasakan rujak sepatuku " Nindy dengan sengaja mendorong bahu kiri Pamungkas.
" Loe..!" Pamungkas menatap nyalang kearah sahabat adik tirinya itu.
" Apa ?" Nindy tak kalah tajam menatap Pamungkas.
" Loe pikir gue takut gitu sama manusia modelan babi hutan kayak loe pada begini ?"
" B4cot loe..!" Gama sepertinya sudah sangat tersulut emosinya.
Merasa Nindy akan ada dalam bahaya , Sheeva pasang badan dan berakhir Sheeva lah yang di dorong denga keras oleh Gama. Nindy tak tinggal diam. Dia Reflek meraih tangan Sheeva bisa menyelamatkan sahabatnya. Sayang keduanya sama-sama tidak begitu siap dan justru keduanya hampir tersungkur.
" Kalian tak apa ?" Tangan kekar berhasil menyelamatkan mereka berdua. Sheeva dalam genggaman Kay, sementara Nindy dalam dekapan Yongki.
Sheeva masih terlihat shock. Hampir saja dia dan Nindy tersungkur menabrak kursi podium. Dan dia makin shock karena sekarang Kay mendekapnya begitu erat.
" Kalau kalian datang cuma mau membuat onar mending keluar sekarang " Suara Kay begitu menggelegar.GOR yang semula ramai menjadi senyap.
" Sekolah gue nggak menerima brandalan macam kalian dan Loe !" Kay menunjuk Pamungkas.
" JIka kamu masih mau sekolah degan nyaman disini maka, kondisikan orang-orangmu. Disini bukan arena brandalan mencari ribut dan juga bukan tempat untuk menghina orang seenaknya."
" Sekali saja gue lihat loe atau anak buah loe bikin ulah disini atau menganggu anak-anak Harapan bangsa terutama Sheeva dan Nindy. Gue pastiin Tribakti akan di blacklist dari semua turnamen antar sekolah. Ini bukan sekedar ancaman. Loe semua tau betapa gilanya gue saat apa yang menjadi milik gue terusik " Kay berbicara sangat lantang. Tatapannya tajam penuh dengan amarah tapi, tangannya begitu lembut mengusap lengan Sheeva yang masih ada dalam dekapannya.
" Ada apa ini ?" Pak Nanta datang bersama Bisma dan beberapa orang profesional security.
" Ada yang mengusik Sheeva pak, namun semua mata diam tanpa ada yang mau membela dan menjaga harga diri Sheeva sebagai siswi paling di andalkan oleh Harapan bangsa " Kay menatap tajam ke arah Bisma. Dia melihat Bisma justru menjauh saat tau Sheeva di rundung tadi.
" Tolong demi kelancaraan acara, kalian jangan membuat onar ya. Kalian datang dan di terima dengan baik oleh kami. Silahkan nikmati saja pertandingan di lapangan. Kalau kalian tidak bisa terbit, silahkan kalian tinggalkan Harapan Bangsa. Tau kan pintu gerbangnya di mana ?" Pak Nanta berbicara dengan tegas.
" Bubar..! " Seru beliau.
terlalu berat beban hidup sheeva..