Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SINYAL DI FASILITAS ISOLASI DAN RADAR YANG TERDAMPAK
Fajar di Sektor Tiga menyingsing dengan warna langit yang tak biasa—semburat merah keunguan berpadu dengan sisa-sisa kabut hujan asam yang perlahan memudar. Di dalam kamar utama Penthouse Aegis yang berukuran monster, keheningan yang intim masih menyelimuti atmosfer ruangan. Sinar matahari pagi yang tipis menerobos masuk lewat dinding kaca raksasa, menyinari ranjang king-size berselimut sutra hitam yang tampak acak-acakan, saksi bisu dari luapan gairah dan hukuman posesif yang intens sepanjang malam suntuk.
Aurora perlahan membuka sepasang mata cokelat madunya. Tubuh Aurora-nya terasa lemas dan agak remuk akibat stamina monster Kaelen yang tak ada habisnya semalam, namun ada rasa hangat yang begitu pekat di dalam dadanya. Saat dia mencoba menggeser raga rampingnya, dia langsung menyadari bahwa pergerakannya terkunci mutlak. Lengan kekar sekeras beton milik Kaelen Azrael melingkar erat di pinggangnya, menarik punggung Rae menempel sempurna pada dada bidang suaminya yang kokoh berurat.
Rae menolehkan kepalanya sedikit, menatap wajah tampan tiran yang menguasai dunia itu saat terlelap. Perban taktis yang dia pasang semalam di bahu dan pelipis Kaelen masih melekat rapi. Dalam tidurnya, guratan rahang kokoh Kaelen tampak sedikit lebih rileks, namun cengkeraman tangannya pada pinggul Rae tetap seka-ku baja. Kebucinan ekstrem pria ini benar-benar tidak mengenal waktu dan kondisi.
Rae menyunggingkan senyuman miring tiraninya yang teramat seksi. Dengan sangat perlahan dan hati-hati agar tidak memicu insting membunuh suaminya yang super peka, Rae menggeser tangan besar Kaelen. Dia melompat turun dari ranjang, meraih kemeja sutra hitam milik Kaelen yang tergeletak di lantai untuk menutupi tubuh mulusnya, lalu melangkah taktis menuju konter marmer tempat laptop taktis spesifikasi monster-nya berada.
Klik. Tak. Tak. Tak.
Jiwa hacker genius Rae tidak pernah bisa beristirahat terlalu lama. Jemari lentiknya menari cepat di atas papan ketik, berniat memeriksa kondisi jaringan mainframe global Azrael Corps setelah serangan pembersihan berskala besar di Sektor Luar beberapa jam lalu.
Namun, baru beberapa menit pemindaian berjalan, sepasang mata madu Rae mendadak memicing tajam. Monitor laptop taktisnya memancarkan pendaran cahaya merah yang berkedip konstan di sudut bawah layar.
"Ada anomali frekuensi..." gumam Rae dingin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang sarat akan keliaran intrik.
Sistem enkripsi kuantum Aletheia Protocol miliknya menangkap sebuah distorsi sinyal radio terenkripsi yang sangat halus. Sinyal itu tidak berasal dari luar, melainkan memancar dari dalam Fasilitas Interogasi Internasional Azrael Corps—penjara bawah tanah dengan tingkat keamanan maksimum tempat Regulus Vane dan Evadne saat ini disekap di bawah pengawasan ketat pasukan divisi bayangan.
Seseorang di dalam fasilitas isolasi tersebut sedang mencoba melakukan transmisi data senyap menggunakan protokol darurat militer kuno yang tidak terdeteksi oleh radar standar.
Rae langsung melakukan pelacakan mendalam (deep tracing). Otak geniusnya mengonstruksi teka-teki digital ini dalam hitungan detik. Transmisi itu dikirim secara berkala dari blok sel nomor nol—tempat persis di mana Regulus Vane ditahan dengan kaki yang hancur akibat peluru Kaelen di Bab 33.
"Singa sektor luar itu ternyata masih punya kuku tersembunyi," desis Rae pintar.
Regulus Vane tidak sedang mencoba meretas jalan keluar; pria bermata kelabu itu sedang mengaktifkan sebuah Dead Man's Switch—sebuah protokol otomatis yang akan mengirimkan seluruh data buta pertahanan siber global milik Kaelen kepada faksi-faksi sekutu bayangan Oligarchy di belahan dunia lain jika dirinya tidak mengirimkan sinyal konfirmasi keselamatan dalam waktu dua puluh empat jam. Jika transmisi ini selesai terkirim, hegemoni internasional suaminya bisa mengalami guncangan di beberapa sektor luar negeri.
Rasa cinta yang mendalam dan kepemilikan yang kini dia miliki untuk Kaelen membuat Rae tidak akan membiarkan aset suaminya disentuh oleh tikus mana pun. Dia tidak berniat menghapus transmisi itu secara kasar; jiwa bar-barnya justru ingin memanipulasi data yang terkirim agar musuh mendapatkan informasi palsu yang akan menggiring mereka masuk ke dalam perangkap kematian Kaelen yang baru.
Grep!
Sebelum Rae sempat menekan tombol Enter untuk mengeksekusi skrip manipulasinya, sebuah hawa panas maskulin bercampur kayu cendana yang teramat pekat tiba-tiba mengurung raga rampingnya dari belakang. Dua tangan besar yang kasar langsung mencengkeram pinggang Rae, mengangkat raga ramping wanita itu dari kursi marmer dan membalikkan tubuhnya dalam satu gerakan dominan yang mutlak.
Kaelen Azrael telah terbangun.
Pria paling berkuasa di dunia itu berdiri tegak tanpa mengenakan atasan, mengekspos dada bidangnya yang kokoh berurat dan perban taktis yang melilit bahunya. Sepasang mata merah mautnya berkilat oleh keliaran amarah posesif dan kecemburuan yang mendadak tersulut melihat istrinya sudah berada di depan laptop sepagi ini, alih-alih berada di dalam dekapannya.
"Kau melanggar janjimu lagi, Ratu Kecilku," desis Kaelen, suara bariton rendahnya yang berat bergetar oleh emosi posesif ekstrem yang menakutkan. Dia menekan tubuh Rae hingga punggung wanita itu bersandar pada tepian konter marmer, mempersempit jarak di antara mereka hingga napas panas mereka saling beradu. "Aku sudah katakan semalam, raga dan jiwamu adalah aset eksklusifku. Mengapa kau menyelinap keluar dari ranjangku hanya untuk menyentuh benda mati ini?"
Rae meringis kecil menahan kekuatan cengkeraman Kaelen di pinggulnya, namun dia justru menyunggingkan senyuman seksi yang menantang tepat ke arah netra merah maut suaminya. "Lepaskan dulu tangan betonmu ini, Tuan Azrael. Aku sedang menyelamatkan hegemoni globalmu yang berharga dari tikus yang sedang sekarat di penjaramu."
Kaelen memicingkan matanya tajam, tatapan tiraninya beralih sejenak ke arah layar laptop Rae yang masih memancarkan grafik peretasan frekuensi dari fasilitas interogasi. "Regulus Vane?"
"Ya," jawab Rae, jemari lentiknya bergerak mengusap dada bidang Kaelen yang hangat, mencoba menenangkan singa posesif yang sedang cemburu buta ini. "Pria bermantel abu-abu itu mencoba mengirimkan protokol Dead Man's Switch ke sekutu internasionalnya. Dia memanfaatkan titik buta frekuensi isolasi. Jika aku tidak memanipulasinya sekarang, beberapa pangkalan logistik sibermu di luar negeri bisa terdeteksi."
Mendengar penjelasan taktis istrinya, kilat amarah di mata Kaelen perlahan mereda, digantikan oleh rasa bangga yang teramat pekat dan keliaran kebucinan yang semakin menggila. Pria raksasa itu menyunggingkan senyuman predatornya yang paling kejam di sudut bibir yang pecah. Dia menyadari betapa beruntungnya dia memiliki dewi perang segenius Rae yang kini sepenuhnya berpihak padanya karena cinta.
"Biarkan data itu terkirim, Sayang," perintah Kaelen tiba-tiba, suara baritonnya merendah penuh wibawa tirani yang mutlak.
Rae mengangkat sebelah alis cokelat madunya, tampak heran dengan taktik suaminya. "Kau ingin mereka mendapatkan cetak biru mu?"
"Tidak, jika kau memasukkan koordinat palsu yang mengarah langsung ke pangkalan militer divisi pemusnah kita di Sektor Dua internasional," ujar Kaelen seksi, wajah tampannya mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telinga porselen Rae. "Biarkan sekutu-sekutu Oligarchy itu berkumpul di sana. Aku akan mengirimkan armada global untuk meledakkan mereka sekaligus dalam satu malam. Perang ini harus selesai tanpa menyisakan satu pun benih pengkhianat di muka bumi."
Rae tersenyum miring, takjub oleh kegilaan strategi tiran suaminya yang berdarah dingin. "Pikiranmu bener-bener licik, Tuan Posesif."
"Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh penguasa dunia, Rae," bisik Kaelen, sebelum jemari besarnya mencengkeram rahang murni Rae dengan kelembutan yang dominan, memaksa istrinya mendongak pasrah. "Tapi sekarang, urusan siber itu bisa menunggu sepuluh menit. Kau harus membayar hukuman karena telah berani meninggalkan ranjang ku tanpa izin pagi ini."
Tanpa memberikan ruang bagi Rae untuk protes dengan jiwa bar-barnya, Kaelen menundukkan kepalanya dengan kasar namun penuh gairah memabukkan, membungkam bibir mungil Rae dengan ciuman posesif yang teramat menuntut dan pekat di hadapan layar laptop yang masih berkedip. Rae membalas ciuman itu dengan keliaran cintanya sendiri, membiarkan tubuhnya kembali takluk di bawah dekapan absolut sang penguasa dunia, sementara jemarinya dengan taktis tetap menekan tombol Enter di belakang punggung Kaelen untuk meluncurkan koordinat jebakan maut mereka ke seluruh penjuru dunia.