Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Menjadi Orang Asing Di Rumah Sendiri
Menjadi orang asing di rumah sendiri dirasakan Azzam dengan sangat nyata sewaktu ia melangkah melewati ambang pintu ruko berlantai dua milik Hana yang beraroma harum kayu cendana. Ruangan niaga yang tertata rapi dengan jajaran gaun muslimah anggun tersebut terasa laksana sebuah dunia baru yang sama sekali tidak tersentuh oleh pengaruh tradisi pesantren. Kehadiran Azzam yang masih mengenakan jubah abu tua berselimut debu perjalanan lintas provinsi mendadak menciptakan kecanggungan yang luar biasa di antara mereka. Hana berdiri tegak di balik meja kasir, melipat kedua tangan di dada sambil memandangi sang suami dengan sorot mata yang tidak lagi menyimpan sisa kehangatan masa lalu.
"Kedatangan saya ke sini bukan untuk berdebat masalah hukum, Hana, melainkan untuk menyerahkan sisa barang milikmu yang tertinggal," ucap Azzam seraya meletakkan sebuah kotak kayu kecil di atas meja.
Hana hanya melirik sekilas ke arah kotak tersebut tanpa ada niat sedikit pun untuk menyentuh atau membukanya di hadapan Azzam. "Semua barang yang bersumber dari rumah itu sudah saya anggap selesai dan tidak memiliki nilai guna lagi bagi kehidupan saya sekarang."
"Kotak ini berisi mahar pernikahan kita yang dahulu kamu simpan di sudut lemari pakaian, saya tidak berhak menyimpannya lagi," sahut Azzam dengan nada suara yang bergetar menahan kepedihan batin.
Ucapan lirih dari sang suami sempat membuat jemari tangan Hana bergerak sedikit, namun ia segera menguasai emosinya agar tidak tampak lemah di depan para karyawan. Kesadaran akan harga diri yang telah lama diinjak injak selama menetap di lingkungan surau membuat wanita muda itu memilih bersikap dingin laksana batu es. Ia tahu bahwa Azzam telah melakukan pengorbanan besar dengan meninggalkan posisinya di yayasan, tetapi pemaafan tidak bisa dibeli hanya dengan pengembalian barang masa lalu. Hana menarik napas panjang, mengarahkan pandangannya lurus ke dalam sepasang mata Azzam yang tampak cekung akibat didera kelelahan fisik dan mental yang luar biasa.
Sementara itu, suasana di luar ruko kian temaram seiring dengan turunnya hujan lebat yang mengguyur pusat kota, menciptakan sekat pembatas yang memisahkan mereka dari kebisingan jalanan. Ayah Hana yang sejak tadi memantau dari lantai atas perlahan turun tangga, melangkah mantap dengan wibawa seorang kepala keluarga yang siap melindungi putrinya dari guncangan psikologis. Lelaki paruh baya itu berdiri di samping Hana, menatap Azzam dengan raut muka yang tidak lagi memancarkan kemarahan melainkan sebuah ketegasan yang mutlak. Azzam membungkuk takzim memberikan penghormatan yang paling dalam, menyadari bahwa posisinya saat ini benar benar berada di titik terendah sebagai seorang menantu yang gagal.
"Azzam, jika kamu memiliki nyali sebagai seorang lelaki muslim yang bertanggung jawab, sampaikan semua argumenmu di ruang tamu keluarga," tegas sang ayah seraya menunjuk ke arah ruang dalam.
Azzam mengangguk pelan, menyandang kembali tas ranselnya dengan sikap pasrah yang penuh ketundukan moral. "Saya siap menerima segala keputusan dan konsekuensi dari pihak keluarga Ayah, demi tuhan saya tidak akan menghindar lagi."
"Masuklah melalui pintu samping agar para karyawan tidak terganggu oleh urusan domestik kita yang belum selesai ini," sambung sang ayah dengan nada dingin.
Langkah kaki Azzam terasa sangat berat laksana memikul beban berton ton semen saat mengikuti arah berjalan sang mertua menuju ruang dalam yang bernuansa hangat. Desain interior ruangan yang modern dengan sofa beludru cokelat tua semakin menegaskan status sosial keluarga Hana yang selama ini kerap direndahkan oleh Umi Kalsum. Di atas meja kayu jati, beberapa berkas pendaftaran sidang dari pengadilan agama sudah terletak rapi, siap menjadi penentu akhir dari ikatan suci yang dahulu dibangun dengan janji sakral. Hana duduk di hadapan Azzam dengan jarak yang cukup jauh, memisahkan diri mereka dalam sebuah batasan syariat yang sangat ketat dan tidak boleh dilanggar.
Perbincangan serius itu dimulai dengan keheningan yang mencekam, hanya ditemani oleh bunyi rintik hujan yang menghantam kaca jendela luar dengan irama konstan. Sang ayah membuka lembaran berkas hukum tersebut, membacakan poin poin tuntutan khulu yang diajukan oleh Hana terkait kelalaian nafkah batin dan intimidasi psikologis selama di pondok. Azzam mendengarkan setiap kalimat dakwaan moral tersebut dengan kepala tertunduk sedalam dalamnya, menyadari bahwa setiap detail kesalahan yang tertulis adalah cerminan dari kelemahannya sendiri. Ia tidak berusaha menyangkal atau membela diri dengan menggunakan dalil agama, karena ia tahu bahwa tindakan ibundanya memang telah melampaui batas keadilan kemanusiaan.
"Saya menerima semua tuntutan ini tanpa ada niat untuk mengajukan banding atau mempersulit proses persidangan Hana," ungkap Azzam dengan suara yang serak menahan luapan air mata.
Hana mendongak, menatap suaminya dengan ekspresi wajah yang terkejut atas kepasrahan mutlak yang ditunjukkan oleh sang ustaz muda yang biasanya teguh berprinsip. "Apakah itu berarti Anda bersedia melepaskan ikatan pernikahan ini tanpa ada usaha untuk memperbaiki kesalahan masa lalu di pesantren?"
"Perbaikan itu tidak akan pernah berjalan adil selama Umi masih menganggap kehadiranmu sebagai sebuah ancaman bagi silsilah suci yayasan," jawab Azzam seraya menatap balik Hana dengan tatapan hancur.
"Mengapa baru sekarang Anda menyadari kenyataan pahit itu, setelah seluruh dinding sabar yang saya bangun runtuh tidak berbekas?" tanya Hana dengan nada suara yang mulai meninggi.
Pernyataan retoris dari sang istri merobek sisa kekuatan batin yang dimiliki Azzam, melahirkan sebuah penyesalan kolektif yang terlambat datang menyelamatkan rumah tangga mereka. Ia menyadari bahwa posisinya kini benar benar laksana seorang musafir yang tersesat di dalam rumahnya sendiri, kehilangan hak asasi untuk memeluk wanita yang sangat dicintainya. Sang ayah yang melihat ketulusan dari sikap pasrah Azzam mulai melunakkan pandangan matanya, namun tetap tidak berniat membatalkan jalur hukum yang sedang bergulir. Bagi keluarga kota tersebut, kepastian status hukum Hana adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan air mata penyesalan seorang lelaki yang telanjur lalai.
Malam kian larut membawa hawa dingin yang menusuk tulang, memaksa para karyawan ruko untuk pamit pulang setelah menyelesaikan seluruh target pengepakan barang butik. Hana bangkit berdiri untuk mengantar para pekerjanya menuju pintu depan, meninggalkan Azzam bersama ayahnya yang masih terlibat dalam pembicaraan mendalam mengenai masa depan tanah wakaf. Ketika kembali ke ruang tengah, Hana mendapati suaminya sedang memandangi sebuah foto lama pernikahan mereka yang sengaja diletakkan di sudut lemari kaca teratas. Tatapan mata Azzam begitu kosong, mencerminkan kerinduan yang teramat dalam terhadap sosok Hana yang dahulu selalu menyambutnya dengan senyuman tulus di teras surau.
"Pilihlah jalan terbaik untuk kesembuhan fisik Umi Kalsum di kampung halaman, Azzam, jangan biarkan bakti anakmu terputus karena masalah ini," ucap Hana secara tiba tiba dari balik pilar ruangan.
Azzam tersenyum getir, mengalihkan pandangannya dari foto lama tersebut menuju wajah anggun istrinya yang kini tampak kian matang dalam berpikir. "Bakti kepada ibu akan tetap saya tunaikan, namun janji saya untuk melindungimu dari fitnah keji juga tidak akan pernah saya lupakan sepanjang hayat."
"Komitmen itu terasa sangat hambar sekarang, di saat saya sudah mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri tanpa bantuan perlindunganmu," balas Hana dengan ketegasan yang mutlak.
"Tolong beri saya satu kesempatan terakhir untuk membuktikan ucapan saya ini di hadapan sidang perdana kita minggu depan," pinta Azzam seraya menggenggam erat tali tas ranselnya.
Pertemuan emosional malam itu akhirnya ditutup dengan keputusan Azzam untuk pamit meninggalkan ruko, kembali menuju penginapan kecil dekat stasiun dengan hati yang dipenuhi gumpalan duka. Hana berdiri di dekat jendela lantai dua, memandangi sosok tinggi suaminya yang berjalan gontai menembus sisa sisa air hujan malam kota yang sepi. Ada rasa hampa yang mendadak menyusup ke dalam rongga dadanya, menyaksikan bagaimana seorang lelaki yang dahulu sangat berkuasa di pesantren kini tampak begitu rapuh dan tidak berdaya. Langkah kaki Azzam yang menghilang di kegelapan jalan protokol menjadi penanda bahwa babak awal dari perjuangan batin mereka yang sesungguhnya baru saja dimulai.