Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
" Ada kecelakaan pak terpeleset jalanan licin , motor yang satu nya juga terjatuh karena kaget melihat motor di depan nya jatuh " .
" Terus keadaan nya gimana kang ? " . Pak Soni hanya bisa bertanya karena tidak tega melihat bu Wati yang sudah tampak pucat menahan takut dan dingin .
" Tadi sudah hubungi polisi dan ambulans pak " .
Tidak lama kemudian datang mobil polisi dan ambulans hampir bersamaan .
Mereka bertiga diam sesaat saat polisi mulai mengevakuasi .
" Seperti nya penumpang yang di depan meninggal semua pak kalau penumpang yang di belakang terluka parah , sedangkan pemotor juga terluka parah " .
" Neduh di sana saja dulu kang " . Pak Soni menawari pemuda itu untuk berteduh di teras rumah sebab merasa kasihan melihat tubuh nya yang sudah menggigil dan bibir nya yang memucat .
" Makasih pak , saya mau pergi saja " .
Pemuda itu berjalan santai di pinggir jalan , pak Soni melihat nya sebentar dan berfikir mungkin kendaraan pemuda tadi d parkir agak jauh dari tempat kejadian .
" Pak , kita lihat saja ke sana " .
" Ibu apa nggak apa - apa , bapak cuma khawatir ibu takut dan kepikiran " .
" Ibu nggak pa pa kok pak " .
Melihat bu Wati yang sudah yakin akhir nya mereka berdua berjalan untuk melihat korban kecelakaan dari dekat .
DEGH !
Pak Soni terdiam menatap salah satu korban kecelakaan yang meninggal . Wajah nya langsung pias ketika mengetahui wajah korban kecelakaan mirip dengan pemuda yang diajak nya berbicara di pinggir jalan tadi .
" Pak , bapak kenapa ? " . Bu Wati menggoyang lengan pak Soni .
" Eh itu bu , bukan nya itu pemuda yang tadi ? " .
" Maksud bapak apa tho ? " .
" Itu bu korban yang pake jaket dan helm nya terlepas , bukan kah itu pemuda yang bicara sama bapak tadi di pinggir jalan " .
" Dari tadi kan bapak sama ibu , kita juga nggak ngobrol sama siapa - siapa pak " .
" Astaghfirullah , Astaghfirullah .. "
Pak Soni mengelus dada nya berkali - kali karena tiba - tiba terasa sangat sesak .
" Permisi , maaf apa bapak dan ibu yang punya rumah itu ? " . Seorang polisi berjalan mendekat dan bertanya pada pak Soni dan bu Wati .
" Memang kami pak yang tinggal di rumah itu " . Jawab pak Soni .
" Kami butuh kesaksian bapak atau ibu , mari menepi di situ " . Polisi tersebut mengajak pak Soni dan bu Wati mendekat ke mobil polisi yang di pasangi tenda darurat di samping nya .
" Baik pak " . Jawab pak Soni akan tetapi mata nya tidak sengaja menatap sosok pemuda korban kecelakaan berdiri di seberang jalan tersenyum dan melambaikan tangan nya .
Polisi bertanya pada pak Soni karena di sana hanya ada rumah itu satu - saru nya yang berada di sana . Akan tetapi pak Soni tidak bisa memberi nya banyak keterangan sebab tidak melihat sendiri awal kejadian kecelakaan nya .
Usai memberikan kesaksian , pak Soni dan bu Wati kembali berjalan ke pinggir jalan .
" Pak bu , apa kalian yang punya rumah itu ? " . Tiba - tiba ada pemotor yang mendekati mereka .
" Memang kami kang yang tinggal di sana " .
" Bagaimana akang tahu kalau saya tinggal di rumah itu ? " .
" Saya punya sawah dan gubuk kecil di ujung jalan sana pak , kadang saya juga bermalam di sana , saya heran saja sama korban kecelakaan nya , padahal cuma kecelakaan tunggal tapi kenapa bisa terpotong potong begitu tubuh nya " .
Pak Soni jadi berpikir bagaimana bisa kecelakaan tunggal hanya karna terpeleset bisa sampai seperti itu dengan tubuh yang terpotong - potong .