SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 LANGKAH PERTAMA
Arkan mengangkat wajah. “Buat keluarga, Bu.”
“Baguslah. Sekali-sekali makan enak di rumah.”
Kalimat sederhana itu membuat Arkan terdiam sesaat.
Sekali-sekali.
Dulu, memang seperti itu.
Makan enak adalah “sekali-sekali”. Periksa kesehatan adalah “nanti kalau parah”. Beli barang baru adalah “kalau benar-benar rusak”. Pindah rumah adalah “mimpi dulu”.
Arkan membayar dengan transfer.
Ibu penjual menyebutkan jumlahnya.
Arkan hampir refleks mengecek apakah harganya kemahalan, tetapi ia menahan diri. Ia membayar tanpa komentar.
[Sistem mendeteksi keberhasilan transaksi tanpa rasa panik berlebihan.]
[Catatan: martabat meningkat 2%.]
“Terima kasih,” kata Arkan kepada penjual.
“Sama-sama, Bang.”
Saat Arkan membawa beberapa kantong makanan ke motor, ponselnya bergetar lagi.
Bukan dari Olivia.
Bukan dari bank.
Sistem menampilkan menu baru.
[Prioritas Besok Telah Dikunci]
[1. Medical Check-Up Ibu Sari]
[2. Pertemuan Olivia Tan]
[3. Kontrol Komunikasi Bank]
[4. Survei Rumah Transisi]
[5. Pembaruan Kendaraan]
Arkan menatap poin kelima.
Pembaruan kendaraan.
Ia menoleh ke motor tuanya.
Motor itu tampak kecil di antara kendaraan lain yang parkir di depan rumah makan. Ada motor baru dengan bodi mengilap. Ada mobil keluarga di pinggir jalan. Ada satu SUV hitam yang lewat perlahan, lampunya memantul di aspal.
Arkan mengusap kunci motor di tangannya.
“Besok,” ulangnya dalam hati.
[Sistem menyarankan tidak menunda sampai motor menyerah di depan rumah sakit.]
“Besok.”
[Dicatat.]
Arkan mengikat kantong makanan dengan hati-hati di depan motor. Kebiasaan lama membuatnya memastikan ikatan itu kuat. Dulu, kalau makanan jatuh, itu berarti kerugian yang menyakitkan. Malam ini, meski uang bukan masalah, ia tetap tidak mau makanan untuk ibu dan Naya terjatuh sia-sia.
Ketika ia hendak memakai helm, sebuah suara dari samping terdengar.
“Arkan?”
Ia menoleh.
Seorang pria muda berdiri tidak jauh dari parkiran, mengenakan kemeja rapi dengan lengan digulung. Wajahnya familiar, tetapi Arkan perlu beberapa detik untuk mengenali.
Dimas.
Teman lama dari kampus.
Orang yang dulu satu kelas dengannya di Manajemen Bisnis. Bukan teman dekat, tetapi cukup sering satu kelompok tugas. Beberapa bulan setelah Arkan cuti, Dimas pernah mengirim pesan basa-basi yang tidak pernah berlanjut. Setelah itu, mereka tidak banyak berhubungan.
Dimas menatap Arkan dari ujung kepala sampai motor tuanya.
“Serius ini kamu?” tanyanya, setengah terkejut.
Arkan memasang helm di setang, lalu mengangguk. “Iya. Lama nggak ketemu.”
Dimas tersenyum, tetapi ada sesuatu yang menggantung di balik senyumnya. Bukan meremehkan terang-terangan. Lebih seperti seseorang yang sedang menyusun posisi lawan bicaranya berdasarkan penampilan.
“Gimana kabar? Masih cuti kuliah?”
Pertanyaan itu biasa.
Namun bagi Arkan, malam ini setiap pertanyaan tentang hidup lamanya terdengar berbeda.
Ia bisa saja menghindar.
Bisa saja berkata seadanya.
Namun ia ingat daftar prioritas sistem.
Penyelesaian kuliah Tuan Rumah.
Arkan menatap Dimas dengan tenang.
“Rencananya mau urus lagi.”
Dimas mengangkat alis. “Oh, mau lanjut?”
“Iya.”
“Baguslah. Soalnya kemarin anak-anak sempat bahas, kamu kayaknya hilang begitu saja. Sayang juga, padahal dulu lumayan ngerti materi.”
Kalimat itu terdengar memuji, tetapi Arkan menangkap kata yang terselip.
Lumayan.
Dulu, ia mungkin akan menerima kata itu sebagai kebaikan.
Malam ini, ia hanya tersenyum tipis.
“Tidak hilang. Cuma tertunda.”
Dimas mengangguk, lalu melirik kantong makanan di motor Arkan. “Lagi beli makan?”
“Buat keluarga.”
“Masih tinggal di gang sini?”
Arkan menatapnya.
Sistem langsung berbicara.
[Subjek Dimas menunjukkan pola penilaian sosial ringan.]
[Ancaman: rendah.]
[Potensi jalur kampus: sedang.]
[Rekomendasi: jaga hubungan, tetapi batasi informasi.]
Arkan menjawab singkat, “Masih.”
Dimas tampak ingin bertanya lebih jauh, tetapi ponselnya berbunyi. Ia melirik layar, lalu menepuk saku.
“Oke, nanti kabari kalau balik kampus. Grup kelas masih ada. Dosen pembimbing juga sempat nanya beberapa mahasiswa cuti.”
Arkan menangkap informasi itu.
Dosen pembimbing.
Kampus.
Hidupnya sendiri yang belum selesai.
“Boleh,” jawab Arkan. “Nanti aku hubungi.”
Dimas tersenyum lagi. “Sip. Semangat, Kan.”
Arkan mengangguk.
Dimas pergi ke arah dalam rumah makan.
Arkan berdiri sebentar di samping motor. Pertemuan itu singkat, tetapi cukup mengingatkannya bahwa bukan hanya hidup Naya yang harus bergerak. Hidupnya sendiri juga menunggu untuk diselesaikan.
Ia naik ke motor, menyalakan mesin.
Suara kasar itu kembali memecah malam.
[Sistem mendeteksi tekad akademik meningkat.]
[Prioritas penyelesaian kuliah diperbarui.]
[Catatan: Tuan Rumah akhirnya ingat bahwa dirinya bukan hanya dompet keluarga berjalan.]
Arkan menarik napas.
“Kau harus selalu merusak momen ya?”
[Sistem hanya memastikan Tuan Rumah tidak kembali melupakan diri sendiri.]
Arkan tidak menjawab.
Motor melaju kembali ke arah gang.
Ketika ia sampai di dekat warung depan, suara percakapan langsung mengecil. Bu Lilis masih di sana. Riko juga sudah bergabung, duduk dengan wajah dibuat santai. Beberapa orang menoleh ke kantong makanan yang dibawa Arkan.
Banyak.
Lebih banyak dari biasanya.
Arkan tahu mereka melihat.
Dulu, ia mungkin akan merasa malu.
Malam ini, ia hanya melewati mereka dengan tenang.
Bu Lilis sempat berseru, “Wah, banyak belanjaannya, Kan!”
Arkan menoleh sebentar.
“Buat makan keluarga, Bu.”
“Rezeki banyak ya sekarang?”
Arkan tidak berhenti.
“Alhamdulillah.”
Motor terus berjalan.
Tidak ada penjelasan tambahan.
Tidak ada celah.
Tidak ada undangan untuk bertanya lebih jauh.
Sistem memberi komentar singkat.
[Respons baik.]
[Efisiensi sosial meningkat.]
Arkan masuk ke halaman rumah kecilnya. Dari balik jendela, Naya langsung muncul, wajahnya sedikit cerah ketika melihat kantong makanan. Mungkin gadis itu mencium aromanya bahkan sebelum Arkan turun dari motor.
Ia mematikan mesin.
Malam terasa sedikit lebih tenang.
Arkan membawa makanan masuk ke rumah. Bu Sari langsung berdiri, tampak kaget melihat jumlah kantong di tangannya.
“Kan, banyak sekali.”
“Buat makan malam,” jawab Arkan.
Naya membuka salah satu kantong, lalu matanya membesar. “Ayam bakar?”
“Sama ikan.”
“Sama buah?” Naya menatapnya seperti itu hal besar.
Arkan tersenyum kecil. “Iya.”
Bu Sari menatap makanan itu lama. Refleks lamanya hampir muncul. Arkan bisa melihat kalimat “untuk apa beli sebanyak ini” sudah berada di ujung lidah ibunya. Namun perempuan itu menahannya. Mungkin ia ingat pembicaraan tadi. Mungkin ia sedang belajar.
Akhirnya Bu Sari hanya berkata pelan, “Ayo makan sebelum dingin.”
Malam itu, mereka makan di ruang tamu kecil.
Tidak ada meja makan besar.
Tidak ada kursi empuk.
Tidak ada rumah baru.
Belum ada mobil.
Belum ada kamar belajar Naya.
Belum ada medical check-up.
Belum ada pertemuan dengan Olivia.
Namun ada tiga porsi ayam bakar, ikan asam pedas, sayur hangat, dan buah potong di atas meja kecil yang biasanya hanya menampung makanan seadanya.
Naya makan dengan mata berbinar.
Bu Sari makan pelan, beberapa kali menatap Arkan seperti masih ingin bertanya, tetapi memilih menahan.
Arkan sendiri makan dalam diam.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak menghitung apakah lauk itu harus disisakan untuk besok.
Dan di kepalanya, sistem berbicara dengan nada yang terdengar hampir puas.
[Perubahan kecil berhasil.]
[Keluarga Tuan Rumah makan layak.]
[Catatan: ini baru langkah pertama.]
Arkan menatap ibu dan adiknya.
Langkah pertama.
Benar.
Besok, langkah mereka tidak lagi hanya sampai meja makan.
Besok, dunia baru benar-benar akan mulai mengetuk pintu.