Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benar-Benar Berubah
Empat pria yang beberapa detik lalu saling hantam bagai binatang buas, kini benar-benar berhenti. Sepasang mata elang milik Kayden Gilbert menatap lurus ke arah Vivian. Sorot matanya yang biasanya sedingin es kini bergetar samar, menatap tajam ke arah sosok perempuan yang berani membentaknya.
Suara itu... aura itu…
Perasaan Kayden berkecamuk hebat. Jantungnya berdegup dengan ritme yang tak beraturan. Detik itu juga, ingatannya melesat pada sosok istrinya, Vivian Marvis. Hanya Vivian-nya yang memiliki keberanian dan dominasi suara sekuat itu untuk menghentikan amarahnya.
Namun, begitu melihat wajah asing Arini, tatapan Kayden kembali menggelap penuh kekecewaan. Ia mengepalkan tangannya teramat kuat seolah dirinya sedang berhalusinasi karena terlalu merindukan istrinya.
Sembari menahan emosinya yang campur aduk, Kayden melangkah maju dengan aura membunuh yang kembali pekat. Setiap ketukan langkah sepatunya di tanah terdengar bagaikan lonceng kematian.
"Kau..." Kayden menunjuk Vivian. "Berani sekali wanita rendahan sepertimu membentakku? Serahkan anak-anakku sekarang juga!"
Melihat Kayden mendekati Vivian dan anak-anak, Arsen tidak tinggal diam. Dengan sudut bibir yang sedikit berdarah akibat pukulan Kayden tadi, Arsen menghadangnya cepat. Tubuh tegapnya menutupi pandangan Kayden dari Vivian.
"Jangan berani melangkah satu senti pun lagi, Kayden!" geram Arsen dengan rahang mengeras kokoh. "Kau sudah melanggar batas wilayah kami! Menghancurkan pengawal klan Marvis, menyakiti Alex dan sekarang kau mau bertingkah seperti iblis di sini?!"
Kayden berhenti tepat di depan Arsen. Dua pria tangguh itu saling melempar tatapan mematikan.
"Aku tidak ada urusan denganmu, Arsen Willson. Singkirkan tubuhmu sebelum aku benar-benar patahkan lehermu," desis Kayden tanpa ketakutan sedikit pun. Pria itu melirik sinis ke arah Alex yang bersembunyi di balik punggung Vivian.
"Lagipula, anak itu pantas mendapat pelajaran karena berani menjahili putriku! Aku melihatnya sendiri!"
Di balik punggung Vivian, Alex mendengus jengkel mendengar tuduhan Kayden. Walaupun tubuhnya masih sedikit gemetar karena syok, bocah bermuka datar itu tetap tidak mau terlihat lemah di depan Deana.
"Alex tidak menjahilinya! Dia duluan yang mengejek Cendol!" ketus Alex membela diri di samping Deana.
Deana langsung melotot galak. "Kamu yang ambil ikat lambut Deana duluan, dasal es cendol tukang mengadu. Lasain dihajal Papaku. Papaku itu kuat sepelti laksasa, kamu mana bisa menang!"
Walaupun kesal pada ayahnya, Deana tetap merasa bangga secara tidak sadar melihat kekuatan Kayden.
"Diam kamu, Kunti Cadel! Nanti aku balas kamu ya!" ancam Alex sengit sembari mengepalkan tangan kecilnya.
"Nda takut!"
Vivian yang bisa mendengar jelas perdebatan dua bocah kematian di belakang punggungnya itu hanya bisa menghela napas lelah. Di situasi hidup dan mati seperti ini, dua anak itu malah sempat-sempatnya saling adu mulut.
Vivian kemudian mengalihkan fokusnya kembali ke depan. Dari balik tubuh Arsen, ia bisa melihat wajah tampan Kayden yang tampak lelah namun tetap memancarkan kekejaman yang mutlak.
Rasa benci dan amarah di dalam dada Vivian kembali membakar jiwanya saat teringat obrolan Arsen dan ayahnya tadi, suaminya ini masih menyandera jasad lamanya.
Nicolas Marvis ikut berdiri di samping Arsen. Wajah tua mantan ketua mafia itu memerah padam penuh wibawa.
"Kayden Gilbert! Kau pikir rumahku ini... halaman belakang rumahmu yang bisa kau masuki sesuka hati?!" bentak Nicolas tajam.
"Lastri sudah menyampaikan pesan cucuku, bukan? Jika kau menginginkan mereka kembali, seret kakimu sendiri ke sini! Dan sekarang kau sudah datang, maka jawabanku hanya satu... aku tidak akan pernah membiarkan darah dagingku kembali terpenjara di Neraka itu lagi!"
Kayden menyunggingkan senyum sinis yang teramat dingin dengan pandangan meremehkan.
"Darah dagingmu, Om?" tanya Kayden dengan nada mengejek, menunjuk bayi dalam gendongan Vivian. "Deana mungkin memiliki darah Marvis di tubuhnya. Tapi bayi laki-laki di pelukan pelayan itu... dia adalah putra kandungku dari….” ucapnya berhenti sejenak.
“Pihak Marvis sama sekali tidak punya hak atas anak itu! Serahkan mereka kepadaku sekarang, atau aku akan meratakan mansion ini menjadi tanah malam ini juga!" lanjutnya mengancam serius.
Mendengar perkataan Kayden mengenai status Baby Elvano yang hampir terungkap, rasa ingin tahu Vivian semakin tinggi. Mumpung ada sang Ayah dan Arsen, ia hendak menuntut jawaban langsung dari mulut Kayden tentang siapa sebenarnya ibu kandung dari bayi di dekapannya ini.
Namun, belum sempat Vivian mengayunkan kaki, sebuah pergerakan cepat kembali mengejutkannya.
Deana tiba-tiba berlari melewati Arsen, lalu merentangkan kedua tangan kecilnya lebar-lebar. Dengan napas terengah-engah dan wajah tembam yang memerah menahan emosi, bocah cilik itu menghadang tatapan sang Ayah.
"Nda boleh! Papa ndak boleh ambil adik El!" teriak Deana, suaranya yang cadel melengking nyaring.
Kayden sempat tertegun. Langkah kakinya otomatis terhenti. Mata elangnya menatap putri kecilnya yang kini berdiri menantangnya tanpa rasa takut sedikit pun.
Ada getaran aneh yang menyengat benak Kayden. Deana sudah berbeda. Putrinya tidak lagi menangis ketakutan atau bersembunyi seperti dulu saat melihatnya.
Detik ini, di mata Kayden, cara berdiri Deana, sorot matanya yang menuntut keadilan dan keberaniannya bener-bener bak jiplakan sempurna dari Vivian yang selalu berani menentang keras setiap kali Kayden berbuat salah di masa lalu.
Kayden menarik napas dalam, mencoba meredam hawa membunuhnya. Ia melunakkan suaranya selembut mungkin, walau tatapan matanya tetap terlihat serius dan menuntut.
"Deana, Elvano itu adikmu, benar. Tapi dia harus pulang ke Black Valley bersama Papa. Tempatnya bukan di rumah ini. Ayo ikut Papa pulang, Nak."
"Nda mau!"
Deana menggeleng kuat-kuat, menolak bujukan itu mentah-mentah. "Adik El punyanya Dea juga... Kalo Papa mau Dea dan adik El pulang ke lumah..."
Deana menjeda kalimatnya, lalu menunjuk ke arah Nicolas dan kamar Aletha beristirahat.
"Papa halus minta maap dulu sama Kakek dan Nenek. Papa sudah bikin Kakek sedih dan bikin Nenek sakit. Papa halus minta maap!"
"Papa pelnah bilang, kalo Dea salah, Dea halus minta maap, kan? Papa sudah lupa?"
Jleb!
Mendengar tuntutan polos yang keluar dari bibir mungil putrinya, Vivian yang berdiri di belakang hampir saja meneteskan air matanya. Ia teramat kagum pada kedewasaan berpikir Deana yang tumbuh begitu pesat.
Tidak hanya Vivian, bahkan Davin yang berdiri di belakang Kayden pun diam-diam menyunggingkan senyuman. Ia merasa sangat bangga pada Nona kecilnya.
‘Nona Muda Deana benar-benar berubah sejak bersama wanita itu.’ Batin Davin penuh takjub.
‘Putriku sayang… Mama bangga padamu.’ Batin Vivian menangis terharu.
'Wow... dia pintar juga ternyata.' Batin Alex sambil tersenyum tanpa sadar.
____
^^^...To be continued^^^