Hari itu dimana aku salah memilih dan bersikeras walau orang tua ku melarang dan memperingatkan atas apa yang ku pilih.
aku hidup dengan status baru sebagai seorang istri, dimana aku harus selalu berusaha menutupi apa yang ku rasakan.
Hingga dimana hidup ku bagai di ujung jurang neraka yang menjelma di dalam bumi,
rasa ingin mengakhiri waktu untuk diriku sendiri.
sayang Tuhan masih baik mengirimkan perantara untuk hidup ku.
hari hari ku masih dengan segala pertanyaan hingga ayah ku datang ke rumah ku dengan seribu misteri jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra Badrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pemulihan bunga
Setelah selesai makan malam bersama, dua gadis itu duduk di bangku balkon dekat kamar bunga, mereka menatap langit, harapan helen tidak ada pertanyaan yang harus menjelaskan pada sahabat nya itu tapi sayang bunga menuntut nya lagi menceritakan semua yang sudah terjadi, dengan berat helen menceritakan satu demi satu kejadian
"Pak Dayat seorang driver online yang menabrak mu secara ngak sengaja Nga, dia bertanggung jawab atas apa yang udah terjadi, kami meminta nya membawa kamu yang udah bermandi darah ke rumah sakit, ayah datang tidak lama setelah itu entah apa yang mereka bicarakan bertiga aku ngak fokus dengan mereka karena kepala ku berputar bau darah, mikirin kamu"
"Esok nya aku tau dari ibu kalo pak dayat di minta bekerja untuk ayah, dia baik, lucu ... Anak nya ganteng satu pernah datang mengantarkan sesuatu tertinggal yang di perlukan pak dayat untuk memberikan informasi ke ayah"
"Informasi?"
Mata bunga melirik helen yang menghentikan cerita nya, rasa penasaran yang begitu besar tidak hilang serta merta walau kepala nya hampir pecah karena aspal jalanan.
"Betul, informasi tentang Chandra semua yang dia lakukan, vandy dan pak dayat begitu bersemangat menguak kejahatan chandra, laki laki itu tidak pantas untuk mu Nga hanya memanfaatkan apa yang kamu miliki untuk kepentingan pribadi nya".
"Ya mungkin awal nya memang suka tapi aku yakin tidak pernah ada rasa lain yang tumbuh dalam hati nya untuk dirimu sendiri."
"Bulan demi bulan berlalu sampai semua terkumpul, betulkah chandra selalu meminta uang sama kamu setiap minggu nya, bahkan untuk makan harian pun harus meminta ke kamu ?"
"Ponsel mu berkali kali di buka log tapi selalu gagal, sampai vandy meminta tolong ke Revo untuk hal itu,
Revo datang mencari mu kerumah, pak darmo meminta ijin ke ayah, ayah mengijinkan dia datang ke rumah dimana kamu di rawat kemarin."
"Tulus banget revo sayang telat dateng nya, kami sedikit ringan ketika dia datang, menemani dan menjaga juga. Ponsel mu di buka ayah memberikan nya pada revo, berhasil di buka semua bukti bertambah begitu saja."
"Ruko mu yang di pakai chandra sudah kembali untung kamu tidak memberikan surat surat kepemilikan ke chandra, kamu tuh kenapa begitu polos tidak berfikir panjang, baik boleh tapi bukan semua harta mu begitu gamblang di berikan gitu aja Nga!"
Gadis itu terus menyimak apa yang di ceritakan tapi lidah kaku ketika ingin menanyakan bagaimana kabar Chandra sekarang, pasti banyak waktu sulit yang di lalui.
hanya pikiran itu yang terlintas dipikiran nya.
"Ngak perlu khawatir nga, Chandra masih tinggal di apartemen mu walau tanpa pekerjaan pasti dan masih bisa hidup dengan layak, dia selalu tau perkembangan mu, dia kedapatan datang secara sunyi lewat cctv yang terpasang, sampai dimana kamu sadar mu, dia tau!"
"Tapi bukan karena sayang pada mu, itu semua karena card credit yang kamu berikan nya, pikiran pendek nya hanya berfikir card itu hanya bisa di pakai ketika kamu sadar untuk memenuhi kebutuhan nya dan wanita yang bersama nya sudah pergi mungkin ngak tahan hidup susah,lebih baik kamu non aktifkan CC itu supaya sedikit mengurangi kejahatan nya."
"Kok kalian bisa bilang itu jahat ? Kan dia ngak main fisik Len."
Helen nya geleng kepala karena bunga begitu polos, tidak kriminal aja sulit membedakan, hanya akan di bilang kriminal ketika melukai tubuh, toleransi nya begitu tinggi.
"Dia itu memeras kamu bunga gitu aja ngerti, bikin emosi aja deh!
gertak helen membuat bunga diam, tidak menjawab lagi".
"Kamu masih sayang dia ?"
"Entah, tapi ada khawatir di hati ku saat ini.
aku tidak tau harus bagaimana tapi aku seperti merasakan yang dia rasakan Len, pasti sulit sekali melewati ini semua.
aku hanya berniat membantu nya berhasil atau tidak tapi aku yakin suatu hari nanti dia sadar akan hal itu kesalahan nya."
"bodo ah Nga!
udah jelasin tapi masih aja bela b*jingan itu, sesekali lihat dan bedakan mana yang tulus dan mana yang hanya sekedar bahkan mana yang hanya memanfaatkan mu."
"Kau begitu baik wahai anak cantik, aku khawatir kau akan selalu mendapat perlakuan tidak indah dari sekelilingmu loh, aku tidak bisa selalu ada di samping mu walau hanya sebentar saja, karena kamu memiliki dunia yang sering kamu singgahi nyaman tapi tidak dengan ku."
"Hari sudah larut malam, kita istirahat saja di kamar, kamu masih dalam pemulihan ngak boleh cape barang sedikit pun."
"Helen memapah tubuh bunga hingga masuk ke dalam kamar, bunga berusaha mencari sesuatu di dalam laci yang di sadari oleh helen tapi berubah acuh supaya bunga cepat untuk beristirahat memejamkan mata nya."
Semakin di acuhkan semakin gigih mencari, hingga membuat helen gerah sendiri hingga menanyakan apa yang di cari nya malam gini.
"Aku mau menonton tapi tidak melihat laptop ku dari kemarin, apa kamu menyimpan nya?"
"laptop mu lagi di perbaiki karena terkena tetesan air hujan kemarin dari atap ini, besok akan selesai tidur lah sekarang itu jauh lebih baik sekarang"
Alasan yang menghentikan nya, karena semua elektronik laptop dan ponsel nya lagi di proses untuk menarik perhatian chandra kembali, memancing nya bagai berkomunikasi dengan bunga.
Beberapa Minggu berlalu bunga menunjukan perkembangan pemulihan nya semakin membaik, dia di ijinkan untuk keluar dari rumah sebentar untuk sekedar berjalan jalan.
di dampingi Dayat atau pun Vandy yang memang sedang lenggang waktu nya.
"Aku mau pergi ke cafe pak, bapak tau kan tempat nya.?"
"Tau dong non Ayuk saya temani nanti neng helen menyusul setelah mengambil laptop non."
mereka sampai di cafe milik revo, semua pekerja yang disana begitu senang melihat bunga kembali.
"non sini bapak bantu, jangan sungkan, non udah kaya anak bapak sendiri pasti di jaga baik baik kaya ayah non yang menjaga".
Bunga tersenyum di perlakukan seperti itu oleh pa Dayat,bahkan sampai menu yang bunga mau pun pa dayat sangat mengerti walau baru pertama kali pa dayat ikut bersama nya ke cafe itu.
Pak Dayat segera mengirim pesan teks ke group yang isi nya Ratna, Banu, Helen, Vandy, Revo, Tora dan diri nya.
"Kami sudah sampai" sambil mengirim gambar foto yang dia potret selfi.
vandy yang membalas pesan itu "dasar aki aki narsis, awas nanti pulang mules loh"
Di timpali revo " pesan saja pak, 15 menit lagi saya akan kesana, tunggu ya".
"Ih den vandy iri aja mau di bungksuin apa biar engak iri sama saya."
"non ada tambahan lagi ngak?"
"Bapak kok tau saya suka ini ? Terima kasih ya, pesanan bapak mana jangan saya sendiri yang makan dan minum, pesan juga ya duduk bareng saya aja jangan di luar atau di meja lain"
"Baik non, tidak lama pak dayat datang dengan minuman nya."
Mereka berbincang dengan zona memperkenalkan masing masing diri, bunga mendengar cerita pak dayat dengan senang.
"Bapak, senang kerja sama ayah? Pasti ayah galak ya pak?"
"Engak non, bapak baik sekali sama saya, anak anak saya di perhatikan ayah nya non sekolah anak saya jadi layak deh, seneng kerja sama keluarga non baik baik, lucu menghibur kadang rasa nya kaya bukan kerja tapi tinggal sama keluarga besar non."
"Puji Syukur kalo bapak nyaman, bapak memang di tugaskan menjaga saya?"
"Saya minta non, saya udah janji mau bertanggung jawab menjaga non kaya jaga anak saya sendiri, saya kira non orang nya galak, saya sempet takut tapi hati saya mencelos liat nn senyum pertama kali waktu non baru sadar, kaya liat anak saya baru lahir Ya Allah senang bukan main saya mah."
Tidak lama percakapan mereka revo datang dengan pegawai cafe membawakan kue dan buket bunga sebagai doa dan ucapan selamat sudah kembali sehat.
"Den, bapak ngak di ajak bawa, kan mau juga bawain buat non bunga...
pegawai cafe tersenyum melihat tingkah polos pak dayat yang ngak mau ketinggalan moment juga.
"Kita duduk sama sama aja pak, nikmati kue nya, bapak udah jaga bunga dengan baik satu bagian dari ini juga."
Bunga tersenyum dan berterima kasih ke semua yang disana, begitu juga revo senang melihat perkembangan bunga.
"Bagaimana keadaan mu sudah jauh lebih baik ?"
"aku sudah jauh lebih baik, tapi masih harus menggunakan tongkat ini, makasih ya sudah ikut menjaga ku"
angkukan revo menandakan iya dengan tulus.
Mereka mengobrol dan bercanda bersama, pak Dayat begitu senang ada di dekat mereka tanpa membedakan kasta, suku dan apapun.
"Bapak, Helen kok lama banget kata nya mau nyusul kesini?"
"mungkin sebentar lagi sampai non"
kita tunggu aja ya disini, biar pulang nya bareng nanti.
Di luar sana tepat di belakang pohon depan cafe pak dayat melihat ada seseorang yang selalu memperhatikan mereka sedari tadi, dia berusaha keluar dan reflek membuat terkejut mendapati chandra mengintai bunga sejak tadi.
Dengan tepukan di pundak lalu di seret nya ke luar dari persembunyiannya,
tidak lama Helen datang melihat itu semua, "loh kenapa pak ?"
"Ini neng dari tadi perhatikan dari jauh."
"Kamu mau apa lagi Chandra ? Kurang membuat bunga sakit ?" tanya helen begitu ketus.
"Dia masih kekasih ku, aku bebas melakukan apapun, dia milik ku."
Revo pun datang menghampiri mereka, "mau membuat ulah apalagi? Tidak sadar diri hidup mu benalu untuk bunga?"
"Kau jangan sesekali menginginkan nya, cepat atau lambat bunga akan kembali pada ku."
"Kembali memberi mu makanan ? Kau hanya menumpang hidup, sadar hei pukulan di berikan begitu saja bentuk peringatan untuk chandra, jangan kau ganggu bunga atau aku yang menjadi lawan mu."
"Lepaskan saja benalu itu, biarkan dia berfikir dengan baik, pak.
Kita kembali ke dalam saja jangan biarkan bunga tau kedatangan nya."
Mereka datang beriringan menuju meja dimana bunga duduk, bunga menatap Helen yang membawa banyak bawaan untung saja bawaan nya banyak jadi ngak curiga.
"Lebay banget si pake di jemput segala len.."
"biarin kan berat, nih untuk kamu aku bawakan laptop baru dan ponsel baru nanti kita nonton ya, aku bawa modem baru untuk nonton anti loading loading"
Bunga senyum tiga jari begitu senang, " thank you Helen ... Lapiyuuuu" memonyongkan bibir nya ke arah helen.
"Aku masih normal bungaaa, Stop ya!"
Mereka tertawa melihat itu semua, begitu transparan dan natural yang mereka lakukan tanpa ada kebohongan atau di lebih lebihkan sedikitpun.
"Vo, nanti kerumah kan? kita bakar bakar ikan di halaman," ajakan bunga sulit untuk di tolak.
"nanti aku datang jam tujuh malam ya Nga, aku selesaikan pekerjaan dulu hari ini."
"Ya sudah kita pulang yaa..."
"bye ....."
Pergantian waktu pun tiba sore menjelang, Banu yang melihat kedatangan mereka.
bunga di bawa helen ke kamar tinggallah dayat dan banu di teras.
"pak, tadi dia datang mengintai lagi, saya khawatir kalau kita lengah non akan di bawa nekat."
"tidak akan dia membawa bunga dia hanya perlu uang bunga pak, tolong di jaga ya apapun di sekitar bunga. terima kasih pak dayat."
"Len.... Vandy kemana kok ngak kelihatan dari kemarin ?"
"Vandy dinas bestie, lagi di jalan pulang kesini kok tenang aja" jawab Helen singkat.
"Ehemmm... Tora ? Masa barengan pergi sama vandy."
"Idihhh..kegiatan nya kan beda bestie gimana si andaaahh....."
"tora lagi pulang malem terus."
Helen berubah menutupi kalau sesungguhnya mereka berdua pergi bersama untuk mengambil hak hak bunga seperti kendaraan motor, mobil yang di pakai chandra.
"Yaudah aku mau mandi dulu yaa len."
"kamu bisa sendiri ke dalam ?
air hangat nya udah di dalam kamar mandi ya, panggil aku kalau perlu sesuatu."
"Iya bawel banget...." emosi bunga mendengar Helen yang terus menerus bicara tanpa jeda.
Malam pun hinggah, semua sibuk mengeluarkan persiapan Bakaran malam ini, sambil menunggu yang lain datang.
"Pak, non suka ikan bakar apa?"
banu tersenyum dengan pertanyaan dayat yang ngak mau kalah perhatian sama anak gadis nya.
"Itu pak Ikan mas dan ikan kuwek" sambil menunjuk ke arah ikan ikan itu.
"oke deh nanti saya bantu bakarin."
Vandy datang langsung membuly pak dayat, "pak bapak ngak tanya saya suka ikan apa?"
"itu banyak loh den ikan, tinggal pilih aja sendiri."
"Hahaha...... Di pilih di pilih di pilih"
Helen tertawa dengan jawaban pak dayat....
"Lama lama kaya anak tiri di perlakukan pak dayat ini, kemarin aja bunga sakit apa aja di kasih ke aku, sekarang ....... Aahhh sudahlah"
"Aku mau cari bapak baru aja......"
"Pak Darmo ....... Jadi bapak ku aja yaaaa.... sampe bapak ku dari kampung datang ke jakarta"
"Engak ah.... jajan nya banyak pusing saya nanti" timpal pak darmo.
Yang lain mendengar itu langsung tertawa merasa hadiran nya mereka menghibur satu sama lain.
"Tega banget jadi ngak ada yang mau jadi bapak aku nihhh.. Yaudah aku bikin kopi sendiri jangan minta yaaa pak dayat pak darmo....."
"Kalo itu satu boleh lah den segelas rame rame ngak apa tenang aja Aden yang buat kita yang minum"
"Setujuuhhhhh" teriak pak darmo dengan antusias
Mereka selalu bercanda lepas bagai tanpa beban hidup yang di alami