Di dunia pro-scene FPS yang kejam, satu peluru bisa menentukan segalanya.
Reno, seorang remaja yang bekerja di warnet kumuh, hanya dikenal sebagai "hantu" di server publik. Tanpa tim, tanpa perlengkapan mewah, ia mendominasi setiap pertandingan dengan satu ciri khas: satu tembakan, satu nyawa melayang. Kemampuannya yang tidak masuk akal membuat banyak orang menuduhnya menggunakan cheat.
Namun, nasib Reno berubah saat sebuah tim e-sport yang sedang di ambang kehancuran menemukannya secara tidak sengaja. Di tengah keraguan rekan setim yang tidak mempercayainya dan rival-rival besar yang siap menjatuhkannya, Reno harus membuktikan bahwa [aim] miliknya adalah murni bakat dewa.
Dari turnamen antar-warnet yang penuh asap hingga panggung megah kejuaraan dunia, Reno akan menunjukkan bahwa untuk menjadi yang terbaik, kamu tidak butuh peluru kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ab Je, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Gemuruh di Balik Baja
Suara dentuman mesin uap yang disimulasikan dari pengeras suara ruang latihan Black Viper terdengar memekakkan telinga. Reno sengaja menyetel volume suara lingkungan ke tingkat maksimal. Ia ingin Marco dan yang lainnya terbiasa dengan "polusi suara" yang akan mereka hadapi di peta *Steel Foundry*.
"Aku tidak bisa mendengar apa-apa, Reno! Suara langkah kakimu tenggelam sama bunyi mesin pres itu!" teriak Bimo frustrasi setelah karakternya kembali tewas dalam simulasi internal.
Reno melepaskan *headset*-nya sejenak. "Itu masalahnya. Golden Wyvern tahu kita sangat mengandalkan pendengaran. Di peta ini, telinga kalian akan menipu kalian. Kalian harus mulai belajar melihat getaran di layar dan menghitung ritme mesin."
Reno berdiri dan berjalan ke papan tulis digital. Ia menggambar denah lantai pabrik yang rumit. Sebagai seorang **Anak Genius** dalam hal strategi, Reno sudah memetakan titik-titik di mana suara mesin paling keras dan di mana suara itu memantul.
"Di zona ini, ada mesin tempa yang berbunyi setiap tiga detik," Reno menunjuk area tengah. "Kita akan bergerak tepat saat mesin itu berbunyi. Suara langkah kaki kita akan tertutup oleh suara tempaan. Ini adalah 'celah suara' yang harus kita manfaatkan."
Marco memperhatikan dengan seksama. Ia mulai menyadari bahwa Reno bukan hanya jago menembak, tapi memiliki pemahaman teknis yang jauh melampaui pemain pro rata-rata. "Jadi kita akan menyerang dalam ritme mesin?"
"Benar. Dan satu hal lagi," Reno menatap timnya dengan serius. "Golden Wyvern akan menggunakan granat *flashbang* secara beruntun untuk membutakan kita, karena mereka tahu kita sedang berusaha fokus pada visual. Bimo, tugasmu adalah melempar granat asap bukan untuk menutupi jalan, tapi untuk memecah pantulan cahaya."
Pagi harinya, suasana di Istora Senayan kembali memanas. Black Viper masuk ke arena dengan wajah-wajah yang tampak kurang tidur namun memiliki sorot mata yang tajam. Di seberang panggung, tim Golden Wyvern sudah menunggu. Kapten mereka, King, memberikan senyum meremehkan.
"Selamat datang di neraka baja, Bocah Warnet," bisik King saat mereka berpapasan. "Mari kita lihat apakah 'Satu Ketukan' milikmu masih berfungsi saat kamu tidak bisa mendengar arah peluru datang."
Reno tidak menjawab. Ia duduk di kursinya, memasang *headset*, dan seketika gemuruh penonton menghilang. Baginya, hanya ada satu dunia: dunia di balik layar monitor.
Pertandingan dimulai. Begitu masuk ke peta *Steel Foundry*, uap panas mengepul dari pipa-pipa besar, menghalangi pandangan jarak jauh. Telinga para pemain langsung dihujam oleh suara bising mesin yang konstan.
"Lakukan sesuai rencana. Hitung ritmenya," perintah Reno.
Ronde pertama dimulai dengan sangat lambat. Kedua tim bermain sangat hati-hati. Golden Wyvern mencoba memancing Black Viper keluar dengan tembakan-tembakan acak, namun Reno memerintahkan timnya untuk tetap diam di balik bayangan mesin besar.
Tiba-tiba, suara *Dung! Dung! Dung!* dari mesin tempa raksasa dimulai.
"Sekarang!" seru Reno.
Black Viper bergerak serentak. Suara langkah kaki mereka benar-benar hilang tertutup suara mesin. Mereka muncul dari balik uap seperti hantu, tepat di belakang formasi Golden Wyvern. King yang sedang bersiap membidik jalur utama terkejut saat melihat bayangan Reno sudah berada di sampingnya.
*Klik.*
Satu ketukan tanpa suara yang terdengar. King tumbang bahkan sebelum ia sempat menekan tombol komunikasi timnya.
"Apa?! Bagaimana mereka bisa sampai di sini tanpa suara?!" teriak King di ruang tanding Golden Wyvern.
Reno tidak berhenti. Ia bergerak di antara uap panas, menggunakan kilatan cahaya mesin untuk menyamarkan posisinya. Setiap kali mesin berdentum, satu nyawa dari tim Golden Wyvern melayang.
Penonton dan komentator terperangah. "Ini bukan lagi pertandingan e-sport biasa! Phantom sedang mempermainkan ritme peta! Dia mengubah Steel Foundry menjadi panggung orkestra kematian!" seru sang komentator dengan penuh semangat.
Reno terus maju, membuktikan bahwa meskipun telinganya dibungkam oleh bising baja, insting **One Tap God** miliknya tetap tak tertandingi. Namun, di tengah dominasinya, ia melihat sesuatu yang aneh di sudut layar. Seorang pemain Golden Wyvern tidak bergerak mengikuti ritme timnya. Pemain itu berdiri diam di area yang paling bising, seolah-olah sedang menunggu Reno datang.
"Sesuatu tidak beres," batin Reno. Apakah ini perangkap lain yang disiapkan khusus untuknya?