“Menikah denganku artinya bebas menyentuh siapa saja di luar sana, kecuali hatiku.”
Bagi Narendra, CEO muda berego tinggi, kesepakatan open marriage adalah solusi kejenuhan rumah tangganya bersama Alika. Sebagai praktisi PR ternama, Alika menelan kepedihan itu rapat-rapat demi menjaga citra sempurna mereka di depan publik. Namun, sandiwara power couple ini mulai retak saat tubuh Alika perlahan digerogoti penyakit autoimun akibat tekanan batin yang ia pendam sendiri. Di kala Narendra sibuk mencari kesenangan luar, Alika justru bertaruh nyawa dalam kesunyian. Akankah ego Narendra runtuh saat menyadari nafas sang istri perlahan menjauh dari batas waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Jarum Suntik dan Kurir Rahasia
Tepat pukul dua siang, sebuah mobil sedan hitam berhenti di pelataran rumah kawasan Menteng. Dari balik jendela kamarnya di lantai dua, Alika mengintip melalui celah gorden. Jantungnya berdegup kencang layaknya genderang perang saat melihat dr. Hendrawan keluar dari mobil sambil menenteng tas medis kulit berwarna cokelat.
Dokter berusia pertengahan lima puluh tahun itu adalah loyalis sejati Artha Group. Bagi dr. Hendrawan, pasien utamanya bukanlah orang yang ia periksa, melainkan sosok yang membayar seluruh tagihannya: Narendra Pradipta.
"Nyonya, Dokter Hendrawan sudah menunggu di ruang duduk atas," lapor Murni yang masuk ke kamar dengan wajah cemas.
Alika menarik napas panjang, berusaha menekan rasa mual dan ngilu yang menyerang persendiannya. Ia sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia mengenakan loungewear sutra berlengan panjang untuk menutupi ruam di lengannya, serta sebuah turban sutra modis yang melilit kepalanya dengan apik—sebuah kamuflase sempurna guna menyembunyikan kerontokan rambutnya yang kian parah. Wajahnya ia pulas dengan foundation tebal, mengunci sisa ruam di pipinya agar tidak terlihat.
Saat Alika keluar, dr. Hendrawan langsung berdiri. Matanya yang tajam di balik kacamata minus memindai penampilan Alika dengan saksama.
"Selamat siang, Nyonya Alika. Pak Narendra menginstruksikan saya untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Beliau sangat khawatir dengan insiden pingsan Anda semalam," sapa dr. Hendrawan dengan nada formal yang kaku.
Khawatir? Alika tertawa getir dalam hati. Dia tidak khawatir, Dokter. Dia hanya sedang memastikanku tidak gila atau berselingkuh.
"Silakan, Dok. Hanya kelelahan biasa. Jadwal humas menjelang kuartal akhir memang sangat padat," Alika menjawab dengan tenang, memainkan perannya sebagai istri CEO gila kerja dengan sempurna.
Dokter Hendrawan mulai memeriksa tekanan darah, detak jantung, dan suhu tubuh Alika. "Tekanan darah Anda sangat rendah, Nyonya. Dan detak jantung Anda sedikit tidak beraturan. Pak Narendra menyebutkan Anda mengeluh sakit perut dan kelelahan ekstrem belakangan ini. Apakah Anda sedang diet ketat?"
"Ya, saya sedang mencoba diet intermittent fasting, mungkin tubuh saya kaget," bohong Alika dengan mulus.
Dokter itu mengangguk, namun tangannya mulai mengeluarkan alat suntik dan tabung-tabung kecil dari dalam tas. "Saya perlu mengambil sampel darah Anda. Pak Narendra meminta panel pemeriksaan lengkap: cek darah rutin, fungsi hati, ginjal, dan kadar gula."
Alika menahan napas. "Pemeriksaan lengkap? Apakah itu perlu?"
"Hanya prosedur standar untuk menyingkirkan kemungkinan tifus atau demam berdarah," jawab dr. Hendrawan sambil mengikatkan tourniquet di lengan Alika.
Saat jarum itu menembus nadinya, otak Alika berputar cepat. Ia sangat paham prosedur medis. Tes darah rutin (hematologi lengkap) hanya akan menunjukkan bahwa ia menderita anemia parah dan tingkat peradangan yang tinggi (leukosit naik). Tanpa tes Antinuclear Antibody (ANA) yang spesifik untuk penyakit autoimun, dr. Hendrawan tidak akan bisa menyimpulkan bahwa ia mengidap Lupus. Rahasianya masih aman, setidaknya untuk sementara waktu.
"Hasilnya akan keluar besok pagi, Nyonya. Saya akan mengirimkan laporannya langsung ke ponsel Pak Narendra," ucap dr. Hendrawan seraya merapikan peralatannya. "Sementara itu, Anda harus bed rest total. Jangan memikirkan pekerjaan dulu."
Begitu punggung dr. Hendrawan menghilang di balik pintu, pertahanan Alika runtuh. Ia bergegas masuk ke kamar, mengunci pintu rapat-rapat, lalu merosot di balik pintu. Napasnya memburu. Ia segera meraih ponselnya dan membuka pesan dari nomor tak dikenal yang masuk pagi tadi—dr. Raditya.
Dengan jari bergetar, Alika mengetik balasan.
Alika: "Dokter Hendrawan baru saja mengambil sampel darah saya untuk panel dasar. Mas Narendra mengurung saya di rumah. Saya tidak bisa ke rumah sakit, tapi persendian saya mulai kaku dan ruam ini terasa panas. Apa yang harus saya lakukan?"
Balasan dari Raditya masuk hanya dalam hitungan detik, seolah pria itu memang sedang menantinya di depan layar.
Dr. Raditya: "Panel dasar hanya akan menunjukkan inflamasi dan anemia, dia tidak akan curiga ke arah autoimun tanpa tes ANA. Tapi Anda butuh imunosupresan itu SEKARANG untuk menekan radangnya, Alika. Jika Anda tidak bisa keluar, apakah ada orang di rumah itu yang bisa Anda percaya?"
Alika menggigit bibir bawahnya. Pandangannya beralih pada pintu kamar. Hanya ada satu orang. Alika membuka pintu dan memanggil Murni yang sedang merapikan ruang duduk.
"Murni, masuklah sebentar. Tolong kunci pintunya," bisik Alika.
Murni, yang sudah melihat sendiri rambut majikannya rontok parah pagi tadi, masuk dengan wajah tegang. "Ada apa, Bu?"
Alika menggenggam kedua tangan asisten rumah tangganya itu. Matanya memancarkan keputusasaan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di rumah ini. "Murni... aku butuh bantuanmu. Tolong, ini menyangkut nyawaku, dan Mas Narendra tidak boleh tahu."
Mata Murni membelalak. "Ya Tuhan, Bu Alika... apa yang harus saya lakukan?"
"Nanti sore, saat jadwalmu berbelanja bahan makanan ke swalayan, pergilah ke Apotek K24 di Jalan Cikini. Dokter Raditya akan menitipkan obat atas namamu di sana. Tolong ambilkan untukku, dan sembunyikan di dalam kantong belanjaan sayur agar tidak diperiksa oleh satpam di depan," instruksi Alika dengan suara bergetar.
Murni menelan ludah. Ia tahu, jika Tuan Narendra sampai mengetahui hal ini, ia tidak hanya akan dipecat, tapi hidupnya bisa hancur. Namun, melihat tangan majikannya yang gemetar dan wajah pucat di balik riasan tebal itu, nurani Murni menang.
"Baik, Bu. Saya akan mengambilnya. Ibu tenang saja," janji Murni mantap.
Di lantai lima puluh gedung Artha Group, Narendra duduk bersandar di kursi kebesarannya. Ponselnya menyala, menampilkan pesan dari dr. Hendrawan.
"Pemeriksaan awal selesai, Pak. Nyonya Alika terlihat pucat dan tekanan darahnya rendah. Dugaan sementara adalah kelelahan ekstrem akibat diet yang salah dan stres kerja. Sampel darah sedang diproses."
Narendra meletakkan ponselnya di atas meja dengan senyum miring. Kelelahan ekstrem dan stres kerja.
Egonya merasa sangat terpuaskan. Terbukti baginya, tanpa kebebasan palsu yang ia berikan, Alika hanyalah wanita lemah yang akan hancur oleh beban kerjanya sendiri. Narendra menatap layar monitor di mejanya yang menampilkan akses langsung ke CCTV kediaman Menteng. Ia melihat rekaman dr. Hendrawan yang keluar dari rumahnya.
"Kamu tidak akan bisa ke mana-mana, Alika," gumam Narendra pada dirinya sendiri. "Pria berjas putih kesayanganmu itu tidak akan bisa menyelamatkanmu di dalam sangkarku."
Narendra sama sekali tidak menyadari bahwa di balik diamnya sang istri yang terkurung di rumah, sebuah konspirasi kecil untuk mempertahankan nyawa sedang berjalan tepat di bawah hidungnya. Dan kebencian Narendra pada dr. Raditya, perlahan-lahan justru menjadi dinding penghalang yang mencegah istrinya mendapatkan pengobatan yang layak.