NovelToon NovelToon
Terpesona Oleh Bu Rt

Terpesona Oleh Bu Rt

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mooniecaa_moon

Menjadi janda muda di usia 27 tahun sekaligus Bu RT membuat Jasmine kenyang digosipkan miring oleh warga kompleks, namun ia tidak pernah menyangka bahwa tantangan terbesarnya bukan berasal dari bibir nyinyir ibu-ibu PKK, melainkan dari Aldi—berondong kuliahan nakal sekaligus Ketua Karang Taruna baru yang nekat melempar pesona demi bisa masuk ke dalam hidupnya. Di tengah benturan masa lalu Jasmine yang kelam sebagai single mom dan penolakan keras dari orang tua Aldi, sebuah kepasrahan di malam yang sepi justru menjebak keduanya dalam ketegangan yang tak semestinya terjadi, menyisakan satu pertanyaan besar: mampukah Aldi mengubah obsesi liarnya menjadi sebuah pernikahan nyata, ataukah hubungan terlarang ini justru akan hancur menjadi skandal terbesar di RT 04?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: RITUAL SEBELUM TIDUR

Setelah urusan tanda tangan berkas proyek dengan Bu RT selesai, Aldi, Kenan, dan Sendy langsung pamit undur diri. Mereka bertiga kembali menaiki motor bebek milik Sendy, membelah jalanan kompleks yang sudah sepi dengan cara bonceng tiga. Angin malam yang dingin menusuk pori-pori kulit tidak mereka hiraukan, malah Sendy sengaja membawa motornya zig-zag membuat Aldi yang duduk di tengah misuh-misuh sepanjang jalan karena takut jatuh.

Karena besok adalah hari Sabtu dan kebetulan tidak ada jadwal kelas kuliah, bocah-bocah itu sengaja memutuskan untuk menginap dan tidur di rumah Aldi. Begitu sampai di depan pagar rumah Aldi, mereka bertiga langsung melangkah masuk ke dalam dengan langkah yang diendap-endap. Di ruang tengah, ternyata Bu Baren belum tidur dan sedang merapikan toples kue di meja makan.

"Lho, kok kalian berdua ikut ke sini?" tanya Bu Baren heran melihat Kenan dan Sendy mengekor di belakang anaknya.

"Iya, Tante. Mau numpang tidur di sini, besok kan libur gak ada kuliah. Boleh ya, Tante? Daripada kita kelayapan di luar ntar diculik wewe gombel," celetuk Sendy sambil memasang muka melas andalannya.

Bu Baren tertawa kecil melihat kelakuan teman-teman anaknya yang sudah dianggap seperti anak sendiri itu. "Ya sudah boleh, tapi tidurnya di kamar Mas Aldi ya, jangan berisik, Bapak sudah tidur dari tadi soalnya."

"Siap, Tante! Makasih banyak ya," sahut Kenan gembira.

Saat mereka bertiga hendak melangkah menuju tangga lantai dua tempat kamar Aldi berada, tiba-tiba pintu kamar mandi bawah terbuka. Muncullah Mikha yang baru saja selesai mencuci muka. Gadis SMA itu memakai piyama bermotif kartun dengan bando kuping kucing yang menahan poni rambutnya ke atas. Meskipun wajahnya polos tanpa riasan dan rambutnya sedikit berantakan, harus diakui kalau Mikha ini punya bibit cantik yang menurun dari ibunya.

"Dih, rombongan sirkus dari mana nih malam-malam datang ke rumah gue?" sindir Mikha sambil berkacak pinggang di depan tangga.

Sendy langsung bersiul goda melihat adik temannya itu. "Wah, Mikha... makin hari makin bersinar aja nih calon-calon kembang desa part dua komplek kita. Sengaja ya dandan imut begini buat menyambut kedatangan Kakak?"

"Dih, najis banget! Kak Sendy mending buruan naik deh, bau ro*ok tahu gak!" balas Mikha sambil melempar tatapan sinis, namun pipinya sedikit merona karena ledekan itu.

"Mikha, masuk kamar sana! Gak usah di ladenin dua kunyuk ini," omel Aldi sambil mendorong punggung Kenan dan Sendy agar cepat naik ke lantai atas sebelum adiknya itu makin cerewet dan memicu keributan baru yang bisa membangunkan bapak mereka.

Begitu sampai di kamar Aldi yang berukuran tidak terlalu besar, suasana langsung berubah santai. Kamar cowok itu berantakan umumnya anak muda lah, dengan baju-baju yang digantung di balik pintu, sebuah gitar akustik di pojok ruangan, dan kasur lantai tambahan yang sengaja digelar untuk menampung dua temannya. Kenan langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur lantai, sementara Sendy sibuk mencari colokan listrik untuk ngecarger baterai HP-nya yang sudah sekarat.

Aldi sendiri duduk di pinggiran kasur utamanya, melepas kaos hitamnya lalu menggantinya dengan kaos dalam singlet putih yang biasa ia pakai kalau mau tidur. Kamar itu mendadak hening selama beberapa saat, hanya terdengar suara kipas angin dinding yang berputar pelan menghasilkan hembusan angin yang sejuk.

Kenan yang posisinya sedang telentang menatap langit-langit kamar mendadak mengubah posisi duduknya menjadi bersila. Ia menatap Aldi dengan pandangan yang sangat serius, tipe pandangan mata seorang sahabat yang sedang ingin mengulik sebuah rahasia besar.

"Di, gue mau nanya serius sama lu. Kagak pakai bohong, kagak pakai bercanda," buka Kenan memecah keheningan.

Aldi yang sedang sibuk membalas pesan di HP-nya langsung menoleh. "Nanya apa? Serius amat muka lu, kek orang mau minjem duit."

Sendy yang baru selesai mencolokkan HP-nya ikut bergabung, duduk lesehan di bawah karpet dekat kasur Kenan. "Iya, Di. Ini masalah yang tadi di rumah Bu RT. Gue liat-liat lo tuh sebenernya suka beneran ga si sama bu jasmine? kaya iya kaya enggak?" tanya Sendy ikut menimpali.

"Iya bener kata si Sendy," sambung Kenan lagi. "Kelakuan lu tuh dari pas rapat karang taruna sampai pas nganter sup iga tadi tuh mencurigakan banget. Lu kalau di depan dia saltingnya gak ketolongan, tapi di tongkrongan lu kayak sengaja bikin itu jadi bahan banyolan. Jadi sebenernya perasaan lu tuh gimana ke dia?"

Aldi terdiam sesaat mendengar pertanyaan bertubi-tubi dari dua sahabatnya. Ia meletakkan HP-nya di atas bantal, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding kamar. Senyum jenaka yang biasanya selalu ada di wajah Aldi malam ini mendadak luntur, digantikan oleh ekspresi yang lebih santai dan tenang.

Aldi menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan sebelum akhirnya menjawab. "Sejauh ini gue cuma seru-seruan aja sih, kalo suka beneran sih belom," jawab Aldi dengan jujur dan santai.

Kenan dan Sendy saling bertukar pandang mendengar jawaban dari mulut Aldi. Mereka berdua tampak sedikit terkejut karena mengira Aldi bener-bener sudah jatuh cinta setengah mati sampai ke ubun-ubun kepada janda muda seksi pemilik wilayah RT 04 itu.

"Seru-seruan gimana maksud lu? Lu sengaja tebar pesona gitu biar dibilang keren bisa deketin janda kembang?" tanya Sendy dengan dahi berkerut.

"Kagak gitu juga, Nyuk," bela Aldi sambil melempar bantal kecil ke arah Sendy. "Maksud gue tuh, ya siapa sih cowok normal yang gak terpesona liat Bu Jasmine? Dia itu cantik, mandiri, tegar pula ngurus anak sendirian. Lu berdua juga tadi pas dia keluar pakai daster merah langsung melotot kan? Nah, gue juga sama. Gue seneng aja godain dia, liat dia salting atau senyum gara-gara banyolan gue. Itu tuh bikin suasana rapat atau urusan komplek yang tadinya ngebosenin jadi seru."

Kenan mengangguk-angguk paham, mulai mengerti jalan pikiran sahabatnya itu. "Jadi lu belum ada niatan sampai ke arah pengen milikin dia atau gimana gitu?"

"Ya belom lah, gila lu," sahut Aldi sambil terkekeh pelan. "Lu tau kan chat gue di grup kemarin cerita soal ini? kan nyokap gue ngomong apa di dapur? Umur kita beda enam tahun. Gue ini masih anak kuliahan semester empat, tugas kuliah masih numpuk, duit jajan masih sering megap-megap nunggu kiriman bokap. Sedangkan Bu Jasmine itu udah matang, dia punya anak balita yang masa depannya panjang. Beban hidupnya udah berat, masa mau ditambahin beban lagi sama bocah kuliahan kayak gue?"

Sendy langsung menepuk pundak Aldi dengan keras. "Nah! Akhirnya otak lu balik lagi ke setelan pabrik, Di! Gue sempet ngeri aja tadi lu beneran nekat mau ngelamar dia minggu depan pake duit lu."

"Sialan lu, Sen! Gak se-nekat itu juga kali gue," kata Aldi tertawa. "Tapi ya gak menutup kemungkinan juga sih ke depannya gimana. Namanya juga perasaan orang, mana ada yang tahu kan seiring berjalannya waktu? Apalagi sekarang gue udah resmi jadi Ketua Karang Taruna. Urusan dinas sama dia pasti bakal makin intens. Lu berdua siap-siap aja gue repotin terus buat jadi tameng."

"Halah, ujung-ujungnya tetep aja kita berdua yang jadi korban modus lu," gerutu Kenan sambil merebahkan kembali tubuhnya ke kasur lantai. "Tapi ya emang bener sih kata lu. Bu Jasmine itu emang beda kelas sama cewek-cewek di kampus kita. Auranya itu lho, dasteran aja bisa bikin cowok-cowok komplek salah fokus, pantes aja duo lambe turah Bu Ratna sama Bu Widuri sirik setengah mati."

"Bahas si Irene kembang desa sebelah juga tadi kocak banget pas diomongin Mbak Catur," timpal Sendy sambil mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur berwarna kuning temaram yang membuat suasana kamar menjadi semakin rileks. "Gue gak kebayang besok pas kerja bakti, muka si Ratna sama Widuri bakal sekecut apa pas liat lu koordinasi berdua sama Bu Jasmine di lapangan."

"Biarin aja mereka berdua makin julid, ntar juga kena struk sendiri gara-gara kebanyakan ngurusin hidup orang," balas Aldi santai sambil menarik selimutnya sampai ke batas dada.

Percakapan di kamar atas itu perlahan-lahan mulai menyusut seiring dengan rasa kantuk yang mulai menyerang mereka bertiga. Suara tawa kecil dan ledekan-ledekan ringan yang sempat meramaikan kamar lambat laun digantikan oleh suara tarikan napas teratur dari Kenan dan Sendy yang rupanya sudah terlelap duluan karena kelelahan setelah seharian beraktivitas.

Sementara itu, Aldi masih terjaga. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang temaram. Meskipun tadi dia mengatakan kepada teman-temannya bahwa perasaannya sejauh ini hanya sebatas seru-seruan, ada bagian kecil di lubuk hatinya yang tidak bisa berbohong. Bayangan senyuman tulus Jasmine saat menerima rantang sup iga dari ibunya tadi entah kenapa terus berputar di kepalanya, meninggalkan sebuah rasa hangat yang aneh yang belum pernah Aldi rasakan sebelumnya saat mendekati gadis-gadis seumurannya di kampus.

Aldi membalikkan badannya membelakangi jendela, memejamkan mata perlahan sambil mengulas senyum tipis di kegelapan malam. Urusan seru-seruan atau suka beneran, Aldi memilih untuk membiarkan takdir yang menjawabnya seiring berjalannya waktu. Malam itu, di bawah atap rumahnya yang tenang, sang Ketua Karang Taruna baru akhirnya tertidur dengan lelap, bersiap menyambut hari esok yang dipastikan akan jauh lebih ramai dan penuh warna.

1
Neny Tryana
👍🏻👍🏻
anggita
like iklan👍☝, buat bu rt.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!