NovelToon NovelToon
CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

CINTA KEDUA DI BALIK HIJAB.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Komedi / Romantis
Popularitas:12k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Setelah lima tahun berjuang tanpa hasil, Ardiah akhirnya menyerah pada desakan keluarga suaminya. Ia meminta Ferdi menceraikannya demi memenuhi keinginan ibunya untuk menikah lagi.

Dengan hati hancur, mereka pun berpisah. Namun dari rasa sakit itu, Ardiah bangkit dengan penampilan baru, memakai hijab dan kembali bekerja sebagai desainer interior di sebuah perusahaan besar.

Di sana, ia bertemu Haikal Akram, CEO muda yang dulu sering mengganggunya saat kuliah. Awalnya Ardiah tak suka padanya, tapi seiring waktu, sikap Haikal berubah menjadi lebih dewasa dan penuh perhatian.

Sementara itu, Ferdi mulai menyadari kesalahannya setelah melihat Ardiah tumbuh menjadi wanita kuat dan mandiri.

Apakah cinta pertama bisa kembali? Atau justru Ardiah akan menemukan kebahagiaan sejati bersama Haikal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INSIDEN DI TENGAH MALAM

Suasana di dalam kamar pengantin itu mendadak canggung setelah Ardiah selesai membersihkan diri. Ia keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, namun langkahnya ragu-ragu saat melihat Haikal yang masih duduk di tepi ranjang.

“Aku akan tidur di sofa,” ucap Ardiah tegas, menunjuk sofa panjang berwarna abu-abu di sudut ruangan. “Itu sudah sesuai perjanjian. Tidak ada kontak fisik.”

Haikal menggeleng kuat-kuat. “Tidak mungkin. Aku tidak akan membiarkan istriku tidur di tempat yang tidak nyaman. Aku yang akan tidur di sofa.”

Tanpa menunggu bantahan, Haikal mengambil bantal dan selimut, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa sempit itu. Dalam hatinya, ia merutuki keberadaan sofa tersebut. "Kenapa harus ada sofa sih di kamar ini? Besok aku harus bilang sama Mama agar sofa ini dibuang," batinnya kesal. Kakinya yang panjang membuat posisinya terlihat menyakitkan, lututnya hampir menyentuh dagu.

Ardiah menonton dari tepi ranjang dengan rasa tidak enak. “Haikal, tukar saja. Tubuhmu terlalu besar untuk sofa itu. Aku lebih kecil, pasti pas.”

“Tetap di sana,” potong Haikal, meski wajahnya meringis menahan sakit karena posisi kakinya. “Agar Kakak bermimpi indah. Selamat tidur, Istriku.”

Kata ‘Istriku’ itu membuat dada Ardiah berdegup aneh. Ia segera menarik selimut dan memejamkan mata, mencoba mengabaikan kehadiran pria itu. Namun, ketenangan hanya bertahan sebentar. Pukul 12.30 malam, terdengar suara gedebuk keras, diikuti erangan kesakitan.

“Aduh!”

Ardiah langsung bangkit. Ia melihat Haikal sudah berada di lantai, mengusap kepala dan pantatnya dengan wajah meringis. Rasa cemas tiba-tiba menguasai Ardiah. Ia berlari menghampiri.

“Kau tidak apa-apa, Haikal? Sakit sekali?” tanya Ardiah panik.

Melihat kekhawatiran di mata Ardiah, sisi manja Haikal langsung muncul. “Aduh, Kak Diah... kepala dan bokongku sakit. Kayaknya aku gegar otak,” rengeknya dramatis.

Ardiah panik. Ia membantu Haikal berdiri dan memapahnya ke tepi ranjang. Saat memeriksa kepala Haikal, ia menemukan benjolan kecil. Begitu jarinya menyentuh area itu, Haikal berteriak histeris.

“Awas! Sakit!”

“Tunggu, aku ambilkan nasi hangat,” kata Ardiah cepat. Ia keluar kamar dan kembali beberapa menit kemudian dengan kain yang membungkus gumpalan nasi hangat dari rice cooker. Tradisi lama itu dipercaya bisa mengurangi benjolan.

Saat Ardiah menempelkan kompres nasi itu ke kepala Haikal, pria itu mengerang lagi, tapi kali ini dengan senyuman tipis yang tersembunyi di balik bantal. Ini sengsara membawa nikmat, batin Haikal puas. Dia sangat khawatir padaku. Ini baru permulaan, Kak Diah.

Sakit palsu itu berubah menjadi peluang. Haikal tiba-tiba melingkarkan tangannya ke pinggang Ardiah yang sedang berdiri di depannya, lalu menempelkan wajahnya ke perut Ardiah dengan manja.

“Aukh... sakit banget, Kak! Kalau dipeluk begini, rasanya agak mendingan,” keluhnya dengan nada kekanak-kanakan.

Ardiah kaget dan berusaha melepaskan diri. “Eh, lepaskan! Kenapa kau memelukku?”

“Nggak mau,” tolak Haikal, menggeleng seperti anak kecil yang manja pada ibunya. “Aku kan lagi sakit. Pelukanmu obatnya.”

Ardiah memutar bola matanya, kesal namun luluh. “Dasar manja! Sudah, diam saja.” Ia tetap mengompres kepala Haikal hingga benjolannya tampak mereda. “Sudah. Kembali tidur. Ini masih jam satu pagi.”

Haikal menunjukkan wajah memelas, mirip anak anjing yang ditinggal pemiliknya. “Kak, aku takut jatuh lagi. Boleh ya aku tidur di sini? Tempat tidurnya kan besar. Aku janji tidak akan macam-macam.” Ia mengangkat dua jari, tanda sumpah.

Mengingat tubuh Haikal yang memang terlalu besar untuk sofa, Ardiah akhirnya mengalah. “Ya sudah. Tapi awas saja kalau kau melewati batas ini.” Ia meletakkan bantal guling panjang sebagai pembatas di tengah kasur.

“Iya, iya. Aku janji,” sahut Haikal cepat.

Mereka berbaring berdampingan dengan bantal guling di antara mereka. Ardiah tidur membelakangi Haikal. Karena kelelahan, ia akhirnya tertidur. Melihat napas Ardiah sudah teratur, Haikal segera mengambil ponselnya dan mengetik pesan panjang untuk ibunya.

Mah, Ikal nggak mau tau. Pokoknya besok pagi Mama harus keluarkan sofa di kamar Ikal. Jangan sampai Mama menyesal melihat bokong dan kepala Ikal hancur gara-gara tidur di sofa sempit itu. Dan satu lagi, Mah, Mama harus bisa menahan menantu Mama itu agar tetap tinggal di sini. Kalau dia keluar dari rumah ini, mungkin kalian tidak akan punya kesempatan punya cucu. Karena sudah pasti kalau dia pulang ke apartemennya, Ardiah tidak akan mau tidur sekamar lagi.

Keesokan paginya, pukul 04:30 waktu subuh tiba. Haikal sudah bangun lebih dulu. Ia bahkan sudah mengenakan kemeja koko putih dan sarung tenun, terlihat rapi dan wangi. Ia membangunkan Ardiah dengan lembut.

“Kak, bangun. Sudah waktu Subuh. Yuk, kita sholat berjamaah,” bisiknya.

Ardiah terbangun, merasa aneh melihat Haikal yang begitu religius di pagi hari. Tanpa banyak bicara, ia pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Saat kembali, Haikal sudah menggelar sajadah di sudut kamar. Ardiah memakai mukena yang disediakan, dan mereka pun melaksanakan sholat Subuh berjamaah dengan Haikal sebagai imam.

Suara bariton Haikal melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan merdu yang begitu menenangkan, membuat hati Ardiah yang biasanya gelisah, terasa damai mendengar bacaan itu. Setelah salam, Haikal melanjutkan doa dengan suara yang cukup keras agar Ardiah mendengarnya.

"Ya Allah, ampunilah segala dosa-dosa kami, baik yang sengaja maupun tidak sengaja. Berikanlah kami kesehatan, umur yang panjang, dan limpahan rezeki yang berkah untuk keluarga kecil ini. Ya Rahman, jadikanlah pernikahan dan rumah tangga kami ini sebuah ikatan yang sakinah, mawadah, warahmah. Lembutkanlah hati kami satu sama lain..." Haikal mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan dengan nada yang semakin dalam.

"Berikanlah kami keturunan yang sholeh dan sholehah di waktu yang Engkau ridhai, yang akan menjadi penyejuk mata bagi kami berdua. Dan janganlah Engkau pisahkan kami, ya Allah, kecuali dengan kematian yang memisahkan..."

Dada Ardiah bergemuruh mendengar doa itu. Air mata Ardiah hampir saja menetes, namun ia sekuat tenaga menahannya. Keturunan? pikirnya cemas. Padahal ia berpikir kalau dirinya mandul. Namun, ia tetap mengucapkan “Aamiin” setiap akhir doa, menghormati peran Haikal sebagai imam.

Setelah selesai berdoa, Haikal memutar tubuhnya menghadap Ardiah. Ia mengulas senyum paling tulus yang pernah Ardiah lihat, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan, menunggu.

Ardiah menatap telapak tangan yang terbuka itu dengan ragu-ragu yang amat sangat. Ia terpaku di atas sajadahnya, bimbang antara batasan kontrak yang mereka sepakati atau realita yang sedang berjalan.

Melihat keraguan di mata istrinya,

Haikal memajukan tubuhnya sedikit. "Kak Diah," panggil Haikal dengan suara yang begitu lembut, meruntuhkan sisa-sisa keraguan Ardiah. "Walaupun di atas kertas kita memulai ini dengan sebuah kontrak, tapi secara hukum agama dan negara, detik ini kita adalah suami istri yang sah dan halal. Tidak ada dosa di antara kita untuk saling bersentuhan. Pahala, Kak."

Mau tak mau, dengan tangan yang sedikit gemetar, Ardiah akhirnya menjulurkan tangannya. Ia meraih jemari Haikal yang terasa hangat dan besar, menggenggamnya, lalu membungkukkan tubuhnya untuk mencium punggung tangan suaminya itu dengan khidmat, selayaknya seorang istri yang menaruh hormat dan bakti pada imamnya.

Sentuhan kulit itu memang berlangsung singkat, namun kehangatan yang ditinggalkannya menjalar begitu cepat ke dalam pembuluh darah Ardiah, menyisakan sensasi aneh yang menolak untuk hilang. Saat Ardiah mendongak, ia mendapati Haikal sedang tersenyum tipis dengan sepasang mata yang berbinar puas dan penuh kemenangan. Langkah kecil, cerdik, dan manis yang direncanakan Haikal untuk memenangkan hati sang istri tampaknya berjalan dengan sangat sempurna pagi ini.

1
Lia siti marlia
nah kan kelimpungan jadinya 🤭maka kalau mau apa apa di obrolin dulu ...ngasih kejutan yang mengancan kesejahteraan rumah tangga kamu kal kal🤭🤭🤭
Eliermswati
smngat kal smga bs mndpt maaf dr istri mu dan bs segera d bwa plng😂😂smngt thor up nya
Nana Biella
semangat kal
Wardah Saiful
baguus critanya
Lia siti marlia
benar kamu mamah mu ikal kamu terlalu terburu buru 🥺🥺🥺ternyata aku swlah menilaimu kamu terlalu gegabah ikal ...sekara terima akibat nya diah petgi kamu harus bertanggung jawab atas kecerobohan mu 🥺🥺😭😭
Suren
ini mantap Diah suami mu ini
Alim
mantap
Jaya Fandi
suami yg luar biasa,,jgn disia" kn Diah,,
Mira Hastati
bagus
Lia siti marlia
nah itu baru suami bijak 😍😍mantap kal kamu hebat menerima kekurangan dengan cara memperbaiki💪💪💪
Rima R P
aku baru nemu novel mu ka selama ini penggemar noveltoon langsung suka sama karya yg ceo bujang lapuk.. kenapa ga di lanjutin ka padahal cerita nya bagus banget please ka lanjutin aja aku yakin banyak yg suka ko kalo udah tau dan baca🥺
Hikari_민윤기
di tunggu crezy upnya..
udah tak kasih kopi buat temen begadang...
sunaryati jarum
Nah,kan hati Diah mulai leleh,jadi perjanjian kontrak nanti dijadikan abu saja,Nak Ikal
sunaryati jarum
Buat Diah lupa niatnya untuk pisah darimu.Buat Diah terikat kuat di dalam hatinya hanya kamu.
Lia siti marlia
pandangan tentang suami mulai berubah entar entar mulai ada benih beni cinta dong diah😍😍😍😍
Suren
gercep Haikal..jgn biar kan Diah sampai minta cerai. buat dia hanyut dlm keromantisan yg kamu buat..good jobb👍
Lia siti marlia
sedikit sedikit yah ikal menggoda perasaan ardiah terus dikit dikit kecup kening entar kecup yang lainnn🤭🤭🤭🤣🤣🤣
Jaya Fandi
ya ampuunn biang kerok ,,
Lia siti marlia
kalau orang kaya beneran sayang nya sayang bangetttttt cintanya cinta bangettttt gak kaya OKB 🤣🤣🤣
Lia siti marlia
hais siapa lagi tub yang manggil jangan jangan c ferdi lagi🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!