NovelToon NovelToon
Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Raja Cahaya Yang Mencintai Ratu Kegelapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Iblis
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: leona athena

menceritakan seorang raja kehidupan yang tertarik dengan sang ratu kematian yang dia baca di sebuah buku legenda sang ratu kematian yang sangat cantik dan dingin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leona athena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 12 : di hadapan sang penguasa kematian

Langkah demi langkah, Raja Xavier melangkah masuk ke dalam ruang utama istana. Pintu besar di belakangnya tertutup perlahan, meninggalkannya sepenuhnya di dalam wilayah milik sang Ratu.

Begitu kakinya menginjakkan lantai marmer hitam yang berkilau, keajaiban terjadi.

Lampu-lampu dinding yang tadinya gelap, tiba-tiba menyala satu per satu. Cahayanya bukanlah cahaya terang yang menyilaukan, melainkan cahaya lembut berwarna ungu kebiruan yang memancar dari kristal-kristal alami yang tertanam di dinding dan langit-langit tinggi. Cahaya itu menerangi seluruh ruangan yang sangat luas, megah, dan terasa begitu sakral.

Di sepanjang lorong dan di sepanjang sisi ruangan, berbaris rapat ratusan sosok Perajurit Bayangan. Tubuh mereka yang terbuat dari kabut padat dan baju besi gelap berdiri tegak dan kaku, kepala mereka tertunduk dalam-dalam sebagai tanda hormat. Sama seperti yang ia temui di luar, mereka tidak bergerak, tidak bersuara, seolah-olah hanya ada untuk menjadi saksi bisu atas apa yang akan terjadi di sini.

Suasana hening. Sunyi senyap. Hanya suara langkah kaki Xavier yang terdengar jelas, bergema di seluruh penjuru ruangan yang luas itu.

Dan di ujung lorong itu, di atas tangga yang tinggi dan megah, di situlah pusat dari segalanya berada.

Di sana, di atas singgasana yang terbuat dari kristal hitam bening yang memancarkan aura dingin, duduklah sosok yang selama ini ada dalam pikiran dan hatinya.

Ratu Elara.

Xavier tertegun. Napasnya seakan berhenti berhembus.

Selama ini ia hanya melihat gambar dan mendengar cerita. Tapi melihatnya secara langsung... sungguh melebihi segala bayangan dan deskripsi yang pernah ada.

Elara duduk dengan postur tubuh yang sangat anggun dan berwibawa, seolah-olah ia lahir hanya untuk duduk di tempat itu. Gaun panjangnya yang berwarna hitam pekat mengalir jatuh menutupi kursi dan tangga di bawahnya, dihiasi kilauan kristal-kristal kecil yang berkilau bagaikan bintang-bintang yang jatuh dari langit. Kulitnya seputih porselen, sangat halus dan pucat, kontras sempurna dengan rambutnya yang panjang, hitam legam, dan terurai indah menutupi sebagian bahu serta dadanya.

Namun yang paling memikat sekaligus menakutkan adalah matanya. Mata itu berwarna hitam pekat, dalam dan kosong, seolah mampu menelan segala cahaya yang ada. Tatapannya datar, dingin, dan tidak ada ekspresi sama sekali, seolah-olah apa pun yang ada di dunia ini tidak ada artinya baginya.

Tapi, ada satu hal yang membuat pemandangan itu terasa hangat dan manis, melengkapi keagungan sang Ratu.

Melingkar di sekitar singgasana, menjalar dari atas tempat duduk hingga turun ke lantai, ada tubuh yang panjang dan berkilau. Itu adalah Gargoyle, naga kristal kesayangan sang Ratu.

Tubuhnya besar namun bentuknya anggun, sisiknya memancarkan cahaya ungu dan hitam yang indah. Sebagian besar tubuhnya melilit erat di sekitar kursi, sedangkan bagian depannya berbaring santai tepat di pangkuan Elara. Kepalanya yang besar diletakkan dengan tenang di atas paha sang Ratu, matanya terpejam rapat, seolah sedang tidur nyenyak dan merasa sangat aman di sana.

Pemandangan itu sangat kontras: sosok Ratu yang dingin dan angkuh, namun memeluk makhluk raksasa itu dengan lembut, tangan putihnya membelai kepala naga itu perlahan dan penuh kasih sayang.

Inilah Elara. Wanita yang memegang nyawa seluruh makhluk, namun hatinya begitu lembut terhadap makhluk yang setia padanya.

 

⚠️ Reaksi Sang Penjaga

Langkah Xavier berhenti beberapa meter di bawah tangga menuju singgasana. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sebagai tanda hormat yang setinggi-tingginya, jantungnya berdebar kencang namun dipenuhi rasa syukur yang luar biasa.

Namun, kehadiran orang asing itu tidak luput dari perhatian.

Begitu langkah Xavier berhenti, Gargoyle yang sedang tidur itu seketika membuka matanya.

Matanya yang tadi tenang dan damai kini berubah menjadi tajam dan berbahaya. Cahaya ungu di dalamnya menyala terang. Ia mengangkat kepalanya dari pangkuan Elara, lalu menatap tajam ke arah orang yang baru datang itu.

Tubuhnya yang besar perlahan bangkit. Ia mengembangkan sayapnya yang lebar, menciptakan bayangan yang menutupi sebagian ruangan. Suara geram rendah dan mengancam keluar dari tenggorokannya, menunjukkan gigi-giginya yang tajam. Ia siap untuk menerkam dan mencabik-cabik siapa saja yang berniat jahat terhadap tuannya.

Ia bisa merasakan aura cahaya yang asing itu, sesuatu yang sangat berbeda dan kontras dengan dunia tempat mereka tinggal. Baginya, semua yang berbeda adalah ancaman.

Namun, sebelum Gargoyle sempat bergerak menyerang atau mengeluarkan suara yang lebih keras, tangan halus Elara bergerak perlahan dan diletakkan di atas kepala naga itu.

"Tenanglah, Gargoyle..."

Suara Elara terdengar lembut namun jelas, mengalun di seluruh ruangan. Suaranya indah, tapi terasa dingin dan jauh, seolah-olah suara itu berasal dari dunia lain.

Mendengar suara tuannya, Gargoyle langsung menghentikan geramannya. Ia menundukkan kepalanya dengan patuh, meski matanya masih tetap mengawasi Xavier dengan penuh kewaspadaan dan kesiagaan. Ia kembali berbaring, tapi kali ini ia tidak lagi tidur, melainkan tetap waspada, siap melindungi tuannya kapan saja.

 

🗣️ Pertanyaan yang Dingin

Elara menatap Xavier dari atas sana. Tatapannya tidak berubah. Tidak ada rasa penasaran, tidak ada rasa senang, tidak ada apa-apa. Hanya ketidakpedulian yang murni.

Ia sudah terlalu sering mengalami hal ini. Ribuan kali orang datang ke sini. Ada yang ingin membunuhnya, ada yang ingin mengambil kekuasaannya, ada yang ingin memanfaatkannya. Semuanya punya tujuan. Semuanya ada maunya. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang datang karena benar-benar ingin mengenalnya sebagai dirinya sendiri.

Pengalaman pahit itu telah membentengi hatinya setebal tembok batu yang tak bisa ditembus. Baginya, manusia itu sama saja. Mereka akan bersikap manis di awal, lalu menusuk dari belakang saat kesempatan tiba.

Elara membuka mulutnya, dan pertanyaan yang keluar dari bibirnya lurus ke sasaran, tajam dan langsung ke inti permasalahan.

"Kau berhasil melewati semua penjagaanku. Kau berhasil sampai ke sini..." ucapnya dengan nada datar, tanpa emosi. "Raja Xavier dari Negeri Cahaya... Aku sudah tahu siapa dirimu. Sekarang katakan padaku..."

Ia menatap mata Xavier dalam-dalam, seolah ingin membaca isi hati pria itu.

"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku? Apa yang membuatmu berani menempuh perjalanan sejauh ini, melewati bahaya demi bahaya, hingga berani berdiri di hadapanku? Apakah kau ingin kekuasaanku? Apakah kau ingin kepalaku agar kau dipuja sebagai pahlawan? Atau mungkin kau ingin sesuatu yang lain?"

Setiap kata yang diucapkannya mengandung keraguan yang mendalam. Ia tidak percaya ada kebaikan yang datang secara cuma-cuma. Baginya, kebaikan itu hanyalah topeng untuk menutupi keinginan yang tersembunyi.

"Sudah ribuan tahun aku hidup di dunia ini, dan aku sudah melihat segala macam sifat manusia. Mereka tersenyum di hadapanku, tapi mengutukku di belakangku. Mereka memujiku, tapi takut padaku. Tidak ada yang tulus. Jadi, katakan padaku... Apa bedanya dirimu dengan mereka yang lain?"

Elara menunduk sedikit, tatapannya semakin tajam.

"Jangan berusaha menipuku, Raja Cahaya. Aku sudah terlalu sering dikhianati. Aku sudah terlalu sering dipermainkan. Hatiku ini sudah mati, sudah membeku, dan tidak bisa lagi merasakan apa-apa. Jadi, katakan saja terus terang apa maumu. Jika itu yang aku miliki, mungkin aku akan memberikannya agar kau cepat pergi dari sini. Tapi jika kau datang dengan niat buruk..."

Ia berhenti sejenak, dan udara di sekelilingnya tiba-tiba menjadi sangat dingin hingga embun mulai terbentuk di dinding dan lantai.

"...kau tidak akan pernah bisa keluar dari ruangan ini dalam keadaan hidup."

Ancaman itu diucapkan dengan nada santai, seolah-olah ia sedang membicarakan hal yang paling sepele. Bagi Elara, mengambil nyawa adalah hal yang biasa ia lakukan.

Ia menunggu jawaban, matanya tetap waspada, siap melihat kapan saja topeng kesalehan pria di hadapannya itu akan terlepas dan menunjukkan sifat aslinya.

Namun, apa yang dilihatnya justru membuatnya sedikit bingung. Di mata Xavier, ia tidak melihat rasa takut, tidak melihat keserakahan, dan tidak melihat niat buruk. Yang ia lihat hanyalah tatapan yang lembut, penuh rasa iba, dan cinta yang tulus—sesuatu yang sudah sangat lama tidak pernah ia lihat lagi.

 

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya diterima juga😊
𝐀⃝🥀Weny
pembukaan ceritanya sangat bagus dan bikin penasaran😊
leona: hihihihi/Hey/
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!