NovelToon NovelToon
Algojo Dari Bukit Wengker

Algojo Dari Bukit Wengker

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Iblis / Perperangan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Patih Gajah Mada membalikkan badannya dari mulut gua, melangkah tenang melintasi kerumunan warga desa yang sedang menghangatkan diri di dekat api unggun. Langkahnya terhenti di bagian gua yang paling dalam, tempat di mana raga Gandraka dibaringkan. Ia menatap lekat-lekat bocah yang wajahnya masih sepucat kain kafan itu, lalu beralih menatap Ki Bagaskara yang duduk di sisi raga anaknya.

"Bagaimana kondisinya, Bagaskara?" tanya Gajah Mada, suaranya berwibawa namun terselip nada kekhawatiran yang jarang ia tunjukkan.

Ki Bagaskara menghela napas berat, wajah sang jagal legendaris itu tampak layu. "Sangat kritis, Gusti Patih. Sukmanya compang-camping setelah dipaksa memutus tiga pasak sekaligus. Aliran darahnya membeku akibat hawa Chandra Pralaya dari luar. Jika dibiarkan, jiwanya bisa terurai sebelum fajar."

Mendengar hal itu, Gajah Mada langsung mengambil posisi bersila di ujung kepala Gandraka. "Kita tidak punya banyak waktu. Lodra, Bagaskara, bersiaplah. Kita satukan aliran tenaga murni kita untuk mengikat kembali jiwanya."

Nyai Lodra dan Ki Bagaskara tertegun sejenak, tak menyangka seorang Mahapatih tertinggi Majapahit sudi mengorbankan tenaga murninya sendiri demi anak mereka. Namun tanpa membuang waktu, mereka segera mengambil posisi di sisi kiri dan kanan Gandraka. Nyai Lodra menempelkan telapak tangannya pada dada sang putra, menyalurkan kehangatan ilmu penyembuhan Klan Anggrek Hitam, sementara Ki Bagaskara memegang khalayak nadinya untuk menjaga detak jantung Gandraka.

Gajah Mada kemudian meletakkan kedua telapak tangannya di atas dahi dan ubun-ubun Gandraka. Patih besar itu memejamkan mata, memusatkan konsentrasi tingkat tinggi. Seketika, aura kuning keemasan yang sangat murni dan tebal menguar dari tubuh Gajah Mada, mengalir masuk ke dalam raga Gandraka melalui titik-titik saraf spiritualnya.

Tenaga murni Gajah Mada yang luar biasa solid bertindak bagai perekat gaib, menjahit kembali retakan-retakan pada sukma Gandraka, sementara hawa penyembuhan Anggrek Hitam melelehkan kebekuan di dalam pembuluh darahnya.

Proses itu berlangsung dalam ketegangan yang sunyi. Hingga dalam waktu singkat, keajaiban pun terjadi. Dada Gandraka yang semula kaku mulai naik turun dengan teratur. Napasnya yang tadi tersengal kini berubah menjadi stabil dan tenang. Walau tubuhnya masih pingsan dan luka-luka gaibnya masih memerlukan penyembuhan lebih lanjut selama beberapa hari ke depan, bantuan tenaga murni dari sang Mahapatih telah berhasil menyelamatkan Gandraka dari ambang kematian.

Gajah Mada perlahan menarik kembali kedua tangannya, lalu mengembuskan napas panjang untuk menata kembali aliran energinya sendiri. Ia menatap Gandraka dengan sorot mata yang penuh misteri dan beban masa depan.

"Gandraka harus selamat," ucap Gajah Mada pelan, namun bergaung penuh arti di telinga Ki Bagaskara dan Nyai Lodra.

"Mengapa Gusti Patih sampai sejauh ini merelakan tenaga murni Anda untuk putra kami?" tanya Nyai Lodra dengan rasa penasaran yang tak terbendung.

Gajah Mada berdiri, bersedekap dada sembari menatap nyala api unggun di dekat mereka.

"Karena aku tahu siapa anakmu yang sebenarnya, Lodra," jawab Gajah Mada dingin. "Gandraka adalah kunci bagi terbukanya sebuah jagat baru yang diramalkan sejak purbakala. Sebuah jagat yang nantinya akan menaungi para lelembut, siluman, dan jin yang menolak berpihak—baik kepada golongan iblis yang haus darah, maupun golongan dewata yang terlalu tinggi di atas sana. Sebuah jagat baru yang mandiri, yang bersikap netral, dan harus tetap netral demi menjaga keseimbangan bumi Nusantara."

Gajah Mada membalikkan badan, menatap tajam kedua orang tua Gandraka.

"Sebab itulah, aku sebagai Mahapatih Majapahit juga memikul tanggung jawab penuh atas keselamatan Gandraka. Jika kekuatan besar di dalam darah bocah ini jatuh ke tangan orang yang salah dan berhati jahat, maka jagat netral itu tidak akan pernah tercipta. Yang ada, sebuah bencana besar yang melampaui batas nalar manusia akan menyapu bersih tanah Jawa ini. Kita harus menjaganya sampai takdir itu tiba."

Gajah Mada kemudian membalikkan badannya, melangkah menuju bagian tengah gua yang dipenuhi oleh riuh rendah kecemasan warga. Di bawah pendar api unggun yang bergoyang, ia mengangkat tangan kanannya, seketika membungkam seluruh kegaduhan di dalam sana.

​"Jayantaka! Argapati! Menghadap kemari!" seru Gajah Mada, suaranya yang berat menggema tegas di sela-sela dinding batu.

​Senopati Jayantaka dan Ki Lurah Argapati yang semula sedang menenangkan beberapa tetua desa segera bangkit. Mereka melangkah cepat dan langsung berlutut dengan takzim di hadapan sang Mahapatih.

​"Sendiko Dawuh, Gusti Patih," ucap keduanya serempak.

​"Benteng es di luar sana tidak akan mencair dalam satu atau dua hari," ujar Gajah Mada sembari menatap tajam kedua bawahannya. "Kita tidak boleh membiarkan rakyat Mojorejo larut dalam ketakutan dan berdiam diri hingga mati kelaparan. Argapati, kau yang paling mengenal tabiat dan kemampuan warga desa ini. Jayantaka, kau pegang kendali keamanannya. Kumpulkan para pria dan bagilah tugas sekarang juga!"

​"Hamba laksanakan, Gusti Patih," jawab Ki Lurah Argapati tegas.

​Argapati segera berdiri di atas sebuah batu besar agar bisa dilihat oleh seluruh warga. Dengan kecakapannya sebagai pemimpin desa, ia mulai menunjuk dan membagi warga menjadi beberapa kelompok kerja demi bertahan hidup di dalam pengungsian.

​"Kalian kelompok berbadan tegap, ikut bersamaku dan pasukan Bhayangkara!" perintah Argapati menunjuk belasan pemuda desa. "Tugas kita adalah menyisir bagian dalam ceruk gua yang kering untuk mencari sisa-sisa kayu atau akar mati yang bisa dijadikan bahan bakar api unggun. Tanpa api, hawa beku dari luar akan membunuh anak-anak kita!"

​Sementara itu, Jayantaka mengoordinasi kelompok lainnya. "Bagi yang memiliki keahlian memanah dan bertombak, bersiap di belakangku. Kita akan bergerak ke arah sungai bawah tanah yang mengalir di perut gua sebelah barat untuk mencari ikan, sekaligus berburu binatang liar yang ikut berlindung di sekitar tebing selatan ini. Tetap dalam formasi, jangan ada yang memisahkan diri!"

​Untuk para wanita dan lansia, Nyai Lodra ikut turun tangan membantu mengorganisasi mereka di bagian gua yang paling hangat untuk merawat anak-anak, mengolah bahan makanan yang berhasil didapatkan, serta menjaga nyala api agar tidak padam.

​Maka, di bawah komando yang solid, roda kehidupan di dalam gua besar itu pun mulai berjalan. Ketakutan yang tadinya melumpuhkan warga desa Mojorejo perlahan terkikis oleh kesibukan kerja yang teratur. Suara kapak yang membelah kayu mati, riak air dari warga yang memancing di sungai bawah tanah, serta aroma masakan sederhana mulai memenuhi rongga gua, menciptakan kehangatan baru di tengah kepungan badai salju Chandra Pralaya yang masih mengamuk di luar sana.

1
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
hancurrrr leburrrkannn sudahhhhh.....
Semoli Ginon
waduh lawan makin berat nih kayanha
saniscara patriawuha.
ratakannnnn dannn salinggg hancurrrrkannnn......
Semoli Ginon
wah dua eyang rebutan
saniscara patriawuha.
sikatttty sudahhhh manggg jigurrr ojooo kendorrrr....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnn manggg jigurrrrrr....
Semoli Ginon
ayo balaskan dendam 👍
saniscara patriawuha.
gassssd manehhhhh manggg jigurrrr... ojo kondorrrrr....
saniscara patriawuha.
gassddd....
🆓🇵🇸 Jenahara
mantap...🔥
Protocetus: jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
total 1 replies
Semoli Ginon
mantul. lanjut 👍
🆓🇵🇸 Jenahara
up🔥
saniscara patriawuha.
gassdd pollll manggg jigurrrr...
Semoli Ginon
lanjur bos 👍
saniscara patriawuha.
gassss pollllll
Semoli Ginon
mantap👍
saniscara patriawuha.
lqnjutttttt kannnn manggg jigurrrr....
🆓🇵🇸 Jenahara
up
Semoli Ginon
woke. 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!