Aku sudah mati sekali di hari kiamat.
Sekarang aku kembali—3 hari sebelum semuanya dimulai.
Aku tahu siapa yang akan mati.
Aku tahu monster apa yang akan muncul.
Aku tahu dunia ini tidak bisa diselamatkan.
Jadi kali ini…
aku akan mengubah semuanya.
Atau menghancurkannya dengan caraku sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizqi Handayani Mu'arifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Antara mati dan hidup
Sedangkan disisi lain.
"Reina saya akan pergi mencari Prisma." ucap Kael.
Andri menahan Kael,"tidak boleh, luka fisikmu belum sembuh total."
"bagaimana jika dia dikalahkan oleh monster itu!" bentaknya.
Santo memegang bahunya menenangkan, "tenang saja. Prisma tidak lemah dan perasaannya tidak seperti dulu."
DUUUAAARRR!!
Ledakan dahsyat mengguncang kota mati itu.
Dinding-dinding gedung yang telah hancur runtuh satu per satu ketika Prisma dan monster mutasi tersebut saling bertabrakan di tengah jalan seperti dua meteor hidup.
Palu Prisma menghantam cakar monster.
Gelombang kejutnya menyapu kendaraan-kendaraan berkarat hingga terbalik.
Namun kali ini Prisma terdorong mundur.
Sepatu besinya menyeret aspal hingga menciptakan parit panjang.
Monster itu jauh lebih kuat setelah berevolusi. “Apa hanya segini?” ejek monster itu sambil menyeringai lebar.
Tubuhnya tiba-tiba menghilang.
Mata Prisma membesar.
"Cepat!". Batin Prisma.
BRAKK!!
Sebuah pukulan menghantam sisi tubuh Prisma sebelum ia sempat bereaksi. Tubuh kecilnya terpental menembus lantai gedung tua dan menghancurkan beberapa pilar sekaligus.
Debu memenuhi udara.
Prisma batuk pelan sambil berusaha berdiri. Darah mengalir dari sudut bibirnya.
Belum sempat ia mengatur napas, monster itu sudah muncul di depannya.
Cakar raksasa langsung mengarah ke kepala Prisma.
Prisma segera mengangkat lengannya.
DUAAAK!!
Benturan keras membuat lantai gedung ambruk.
Prisma tertahan di bawah tekanan monster.
Lengan bajunya robek akibat energi liar yang terus dipaksa keluar.
Monster itu tertawa. “Kau mulai hancur.”
Retakan biru memang mulai muncul di kulit Prisma.
Efek samping kekuatan energi inti miliknya mulai bekerja.
Semakin besar kekuatan yang ia keluarkan, semakin besar tekanan balik yang menghancurkan tubuhnya sendiri.
Namun—
Tatapan Prisma tetap tenang. “Tahu tidak…” katanya.
Monster itu mengerutkan kening.
Prisma perlahan menyeringai tipis. “…aku memang paling lambat dan lemah di tim.”
Energi biru tiba-tiba berkumpul di punggung Prisma. Puluhan paku energi raksasa muncul melayang di udara.
Mata monster itu melebar.
“Tapi—”
SEMUA paku energi melesat bersamaan.
TRRRAAAAKKK!!
Monster itu langsung tertusuk dari segala arah. Tubuhnya dipaku ke dinding gedung. Raungannya mengguncang udara.
Prisma segera bangkit.
Energi di palunya mulai berubah bentuk. Bukan lagi sekadar cahaya biru…
melainkan lapisan energi padat seperti kristal. Tanah di sekitarnya mulai melayang akibat tekanan kekuatan itu.
“Mode Benteng…”
SUUUUNG—
Armor energi mulai membungkus tubuh Prisma sedikit demi sedikit.
Bahunya membesar. Retakan cahaya memenuhi tubuhnya.
Aura pertahanannya meningkat berkali-kali lipat.
Monster itu berusaha melepaskan diri sambil meraung marah.
Namun Prisma sudah berjalan mendekat.
Setiap langkahnya membuat gedung bergetar dan semakin hancur.
BOOM…
BOOM…
BOOM…
Monster itu akhirnya berhasil menghancurkan paku-paku energi dan melompat maju dengan brutal.
“MATI!!” kata monster itu. Cakarnya menghantam kepala Prisma.
DUAAAAAK!!
Namun—
Prisma bahkan tidak bergerak.
Serangan monster itu tertahan oleh lapisan energi transparan di sekitar tubuh Prisma.
Monster itu membelalakkan mata. “Tidak mungkin…” monster itu sangat terkejut.
Prisma menatapnya tanpa ekspresi.
Lalu—
Ia mengangkat palunya perlahan.
“Gravity Break.”
Dalam sekejap—
TEKANAN MENGERIKAN menghantam seluruh area.
Monster itu langsung berlutut.
Tanah di sekitarnya ambruk seperti dihantam gunung raksasa.
Tubuh monster mulai retak.
Tulang-tulangnya patah satu per satu akibat tekanan luar biasa.
“A… AARGHHHH!!”
Prisma melangkah semakin dekat.
Aura birunya berubah liar.
Namun di saat yang sama, retakan di tubuh Prisma semakin banyak. Darah mulai keluar dari lengannya sendiri.
Kekuatan itu juga menghancurkan dirinya perlahan. Tetapi Prisma tetap mengangkat palunya tinggi-tinggi. Matanya dingin.
“Berakhir.”
Monster itu meraung putus asa dan memaksa seluruh energinya keluar.
Aura merah dan biru bertabrakan.
Lalu—
DDDUUUUAAAAAARRRRR!!!!!!!
Cahaya raksasa meledak dan menelan seluruh kota mati itu.
Ledakan itu menerangi langit hitam dunia kiamat seperti matahari sesaat.
Gelombang energinya menyapu seluruh kota mati, menghancurkan gedung-gedung yang sudah rapuh dan melemparkan puing ke udara seperti hujan batu.
Kemudian…
sunyi.
Debu hitam perlahan turun memenuhi jalanan.
Api kecil menyala di antara reruntuhan.
Di tengah kawah raksasa yang terbentuk akibat benturan terakhir, Prisma masih berdiri.
Namun tubuhnya gemetar hebat.
Armor energinya telah hancur sebagian. Retakan cahaya memenuhi lengan dan dadanya seperti kaca yang hampir pecah.
Napasnya berat. Darah menetes dari ujung jarinya.
Di depannya monster mutasi itu berlutut.
Separuh tubuhnya lenyap.
Daging hitamnya terus bergerak mencoba beregenerasi, namun kali ini gagal. Energi biru Prisma masih tertanam di dalam luka monster tersebut dan menghancurkan inti mutasinya dari dalam.
Monster itu tertawa pelan. Suara tawanya sudah tidak seganas sebelumnya. “Lucu juga…” Ia batuk darah hitam. “Manusia… ternyata belum sepenuhnya punah.”
Prisma berjalan perlahan mendekat sambil menyeret palunya.
Langkahnya berat.
“Kalau hanya untuk bertahan hidup…” ucap Prisma pelan, “kami tidak akan kalah.”
Monster itu terdiam beberapa detik. Lalu matanya yang merah perlahan redup.
“Aku… iri.” katanya.
Tubuhnya mulai hancur menjadi abu hitam sedikit demi sedikit.
“Aku kehilangan diriku… sejak lama…sejak kejadian itu.”
Fragmen kenangannya memenuhi pikirannya. Warga desa yang selalu membanggakannya karena selalu menjadi pelindung dan selalu menolong warga yang kesusahan.
Keluarganya yang selalu menyayangi dan membanggakannya telah hancur bersama seluruh warga desa beserta tempat tinggal mereka.
Untuk pertama kalinya, suara monster itu terdengar seperti manusia biasa.
Prisma memandangnya dalam diam. Dunia kiamat telah mengubah banyak orang menjadi monster.
Sebagian mati sebagai manusia. Sebagian lagi hidup… tetapi kehilangan diri mereka sendiri.
Dan monster di depannya adalah salah satunya.
Angin dingin berhembus melewati reruntuhan kota.
Tubuh monster itu akhirnya hancur seluruhnya menjadi debu hitam yang terbawa angin disore hari.
Pertarungan selesai.
Namun—
BRUK!
Lutut Prisma tiba-tiba menyentuh tanah.
Ia memuntahkan darah.
Retakan energi di tubuhnya semakin besar akibat memaksakan “Mode Benteng” terlalu lama.
Penglihatannya mulai kabur.
“Prisma!” Suara Reina terdengar dari kejauhan.
Beberapa detik kemudian Reina, Santo, Dandi, dan Andri berlari memasuki area kehancuran.
Mereka langsung terdiam melihat kondisi kota yang hampir rata dengan tanah.
Andri sampai menelan ludah. “Dia… melakukannya sendirian?”
Santo menghela napas pelan sambil melihat kawah besar di tengah kota. “Monster itu benar-benar mati…”
Reina segera berlutut di depan Prisma. “Kau gila?!” bentaknya marah sambil menahan tubuh Prisma yang hampir jatuh.
Prisma hanya tertawa kecil. “Masih hidup…”
“Diam saja!” Reina mencoba menutupi retakan energi di tubuh Prisma dengan kekuatannya, namun retakan itu terus menyebar perlahan.
Dandi memandangi area sekitar dengan wajah serius. “Pertarungan sebesar ini…” Ia mengepalkan tangannya. “…akan menarik monster lain.”
Benar saja.
Dari kejauhan suara raungan mulai terdengar.
Satu…
dua…
lalu puluhan.
Lampu merah samar bermunculan di dalam kegelapan reruntuhan kota.
Santo perlahan mengeluarkan pedang hitamnya.
Aura bayangan mulai muncul di sekitarnya.
Andri memutar pistol modifikasinya sambil tersenyum tipis. “Hebat. Baru sampai sudah disambut.”
Reina membantu Prisma berdiri. Tatapannya berubah dingin ke arah kegelapan. “Kalau begitu…”
Angin malam berhembus melewati puing-puing kota mati.
“…kita hancurkan semuanya.”