NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA PULUH DUA

"Terima kasih, Mbak Sisil," ujar Adel.

Mbak Sisil pergi, namun sempat melirik keduanya dengan rasa penasaran yang jelas.

Bastian mengambil gelasnya dan menyeruput sedikit.

Adelia melakukan hal yang sama. Udara dingin dari AC membuat momen itu terasa damai, terlalu damai bagi Adelia yang akhir-akhir ini tak pernah benar-benar tenang.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.

TRIIIINNGG... TRIIIINNGG...

Telepon rumah berbunyi keras, memecah keheningan.

Adelia refleks berdiri. "Saya jawab dulu ya, Pa."

Namun, Bastian bergerak lebih cepat. Ia mengangkat tangannya menahan gerak Adelia.

"Biar Papa saja, kamu istirahat!" ujar Bastian.

Adelia menurunkan tangannya, heran. "Tapi Pa-"

"Papa aja yang angkat, kamu duduk saja!" potong Bastian.

Sebelum Adel sempat membantah, Bastian sudah berdiri dan berjalan menuju telepon yang berada di meja dekat ruang tengah. Ia mengangkat gagangnya.

"Halo, ini rumah keluarga Ivander!" ucapnya dengan suara tenang.

Dari seberang, suara Lukas langsung terdengar- penuh kecemasan.

"Pa? Itu Papa, kan? Papa ada di rumah?"

Bastian mengernyit sedikit. "Iya, ini Papa. Ada apa Lukas?"

"Pa..." suara Lukas terdengar terburu-buru, "Adel baik-baik saja kan? Aku coba telpon semalam tapi sinyal hilang... dan tadi aku mimpi buruk... aku lihat Adel dengan-"

"Sssst, Lukas." Bastian memotong dengan nada menenangkan. "Adelia baik-baik saja."

"Tapi Pa... aku benar-benar nggak tenang. Aku... aku mimpi dia sama seseorang. Aku nggak bisa lihat wajahnya, tapi aku takut... mimpi itu terasa nyata."

Bastian tersenyum kecil-senyum yang tidak sampai ke matanya.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Papa sudah cek Adelia sejak pagi."

"Dia sedang istirahat sekarang."

Lukas terdengar lega, meski masih cemas. "Adel nggak bisa bicara sebentar, Pa? Aku cuma mau denger suaranya."

Bastian melirik ke arah sofa.

Adelia sedang meminum air sambil memijat betisnya. Punggungnya terlihat lelah.

Dan entah kenapa, Bastian tidak ingin memberikan

telepon itu padanya.

"Adelia tertidur," bohong Bastian halus. "Dia capek setelah kegiatan pagi. Jangan ganggu dia dulu!

"Oh... begitu ya..." Lukas terdengar menahan kecewa.

"Kalau begitu, Pa tolong jaga Adel ya! Selama aku nggak bisa di sana, aku harus pastikan dia aman."

Bastian menatap ruang tamu, sorot matanya seperti menyimpan sesuatu yang tidak tampak.

"Tentu," jawabnya pendek. "Papa akan jaga dia."

"Terima kasih, Pa."

Telepon terputus.

Bastian menggantungkan gagang telepon dan kembali ke ruang tamu dengan santai.

Adel langsung bertanya, "Pa, siapa yang telpon?"

saja. Bastian mengusap tengkuknya, berpura-pura biasa

"Oh... cuma salah sambung."

Adelia mengangguk tanpa curiga. "Oh, begitu..."

Bastian duduk kembali di sofa, mengambil gelasnya dan meneguk air itu perlahan. Pandangannya tidak tertuju pada apa pun di ruangan itu-namun sorot matanya menyimpan ketenangan yang terlalu sempurna.

Ia menutupi fakta penting:

Bahwa Lukas menelepon.

Bahwa Lukas ingin bicara dengan istrinya.

Bahwa Lukas sedang cemas dan memikirkan Adel sepanjang pagi.

Dan Bastian memutus rantai itu.

Ia menahan suara Lukas agar tidak sampai kepada Adelia. Ia menahan suara Adelia agar tidak sampai kepada Lukas.

Perlahan tapi pasti, Bastian mulai menjadi jembatan-dan sekaligus tembok di antara pasangan suami istri itu.

Adelia tidak tahu.

Ia hanya menarik napas lega, tidak menyadari apa yang sedang dibungkam oleh ayah mertuanya.

Sementara Bastian duduk di sampingnya, tenang.

Terlalu tenang. Seolah semua berjalan sesuai keinginannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!