Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Keluar Kuil
Suasana di aula perempatan naga terasa sangat berat. Desmond berdiri membelakangi meja batu, bayangannya memanjang ke arah anak-anak buahnya yang tertunduk.
"Penjagaan di atas sudah melewati batas," suara Desmond bergetar menahan amarah. "Mereka mulai memeriksa setiap sudut gudang di sayap pria. Untuk sementara, kita tidak bisa sering berkumpul di sini."
Edmun menggeram. "Lalu bagaimana dengan rencana kita untuk bertemu dengan bangsawan itu? Dia adalah penyumbang dana terbesar kita."
"Kita harus menemuinya di luar," jawab Desmond singkat. "Tapi dia butuh bukti. Dia ingin melihat bahwa Zargous benar-benar memilih orang-orang di kuil ini. Dia ingin sesuatu yang murni, sesuatu yang bisa dia percayai sebagai tanda kesucian."
Di saat itulah, Matilda melangkah maju. "Bawa Luvya."
Seluruh mata tertuju pada Luvya yang sedang berdiri tenang di samping rak buku.
"Dia masih muda, wajahnya tidak berdosa, dan dia tahu lebih banyak tentang ajaran kita daripada siapapun di sini," lanjut Matilda meyakinkan. "Di depan bangsawan itu, Luvya akan menjadi bukti nyata. Seorang anak yang 'diselamatkan' oleh Zargous."
Desmond menatap Luvya lama, seolah menimbang-nimbang risiko. Luvya balas menatapnya dengan pandangan yang teduh namun dalam. Di dalam kepalanya, Luvya sudah bersorak. Ya, keluarkan aku dari lubang tikus ini.
"Baiklah," Desmond akhirnya mengangguk. "Luvya, kau akan ikut denganku dan Matilda malam ini. Jangan buat kesalahan. Jika bangsawan ini percaya padamu, posisi kita akan aman."
Luvya hanya menunduk hormat, menyembunyikan seringai tipisnya. Kesempatan yang bagus. Mari kita lihat siapa bangsawan bodoh yang mau menyembah iblis penipu ini.
......................
Luvya berjalan mengikuti Desmond menyusuri lorong ketiga yang terasa lebih panjang dan menanjak. Matilda mengikut dari belakang, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal. Di ujung lorong, mereka tidak menemukan palka kayu seperti di gudang kuil, melainkan sebuah tangga batu yang sangat sempit dan berlumut.
Desmond mendorong sebuah penutup berat di atas kepala mereka. Begitu terbuka, udara segar hutan yang dingin langsung menyergap indra penciuman Luvya. Mereka keluar di tengah-tengah sebuah gubuk tua yang tampak hampir roboh, tersembunyi di balik semak belukar yang lebat di pinggiran hutan.
Luvya menghirup napas dalam-dalam. Sudah setahun ia tidak merasakan udara sebebas ini. Ia memutar tubuhnya, menatap Desmond yang sedang merapikan jubah hitamnya.
"Jadi, ini jalan keluar ketiga," gumam Luvya pelan. "Satu lorong menuju sayap perempuan, satu ke sayap laki-laki, dan satu ke gubuk di hutan ini. Lalu..." Luvya menatap Desmond dengan rasa ingin tahu yang tajam. "Satu lorong lagi, yang keempat, itu menuju ke mana?"
Desmond terdiam sejenak, menatap kegelapan lubang di bawah lantai gubuk. "Lorong itu menuju jantung Kuil Matahari. Tepat di bawah altar utama tempat Imam besar memimpin doa."
Luvya sedikit tersentak. "Ke kuil utama?"
"Ya, tapi itu lorong yang berbahaya. Penjagaan sihir di sana terlalu kuat, kita bisa terdeteksi dalam sekejap. Jalan ke hutan inilah yang paling aman bagi kita untuk bergerak tanpa terlihat," jawab Desmond dingin.
"Siapa yang membangun semua labirin ini?" tanya Luvya lagi. "Kelihatannya mustahil sekte ini membangunnya dalam waktu singkat."
Desmond melangkah keluar gubuk, memastikan situasi aman. "Lorong-lorong ini sudah ada sejak pertama kali Kuil Matahari dibangun ratusan tahun lalu. Arsitek masa lalu membangunnya sebagai jalan darurat. Jika terjadi pengepungan atau bencana, para penghuni kuil bisa kabur melalui tiga arah berbeda. Namun seiring waktu, pintu-pintu keluar itu tertutup oleh bangunan baru dan terlupakan oleh sejarah resmi kuil."
Luvya mengernyitkan dahi. "Jika sudah terlupakan selama ratusan tahun, bagaimana kalian bisa tahu keberadaannya? Bahkan para penjaga di atas pun tidak tahu."
Desmond menoleh, senyum tipis yang tampak mengerikan menghiasi wajahnya di bawah sinar rembulan yang samar. "Zargous yang menunjukkannya pada kami, Luvya. Dia berbisik melalui mimpi para pengikut-Nya yang paling setia, membimbing kita untuk menguasai kegelapan yang selama ini disembunyikan di bawah kaki para pemuja matahari."
Luvya terdiam, namun di dalam hatinya ia merasa skeptis. Zargous? Atau mungkin makhluk itu memang sudah ada di sini sejak lama, menunggu orang-orang putus asa seperti kalian untuk membukakan pintunya?
"Sudah cukup pertanyaannya," potong Desmond tegas. "Kita punya tamu yang harus ditemui. Ingat Luvya, jangan bicara kecuali aku memintamu. Biarkan aura 'suci' itu tetap ada pada wajahmu."
Luvya hanya menunduk hormat, namun otaknya terus bekerja. Ia sekarang tahu jalan menuju jantung kuil. Informasi itu jauh lebih berharga daripada pertemuan dengan bangsawan mana pun malam ini.
Desmond memberikan isyarat agar mereka segera bergerak. Mereka keluar dari gubuk tua itu, melangkah menembus rimbunnya pepohonan yang mulai menggugurkan dedaunan. Hutan di sekitar kuil ini sangat sunyi, hanya suara gesekan ranting dan langkah kaki mereka yang menginjak dedaunan kering yang terdengar.
"Kita tidak bisa membawa kereta sampai ke gubuk ini," bisik Matilda di samping Luvya. "Terlalu mencolok jika ada jejak roda di jalur yang seharusnya mati."
Luvya hanya mengangguk, matanya terus memindai sekeliling. Ia mencatat setiap pohon besar atau tanda alam yang ia lewati. Baginya, ini bukan sekadar perjalanan menemui bangsawan; ini adalah pemetaan jalur pelarian jika suatu saat ia harus kabur sendirian.
Setelah berjalan sekitar lima belas menit menuju pinggiran hutan yang berbatasan dengan jalan setapak desa, sebuah kereta barang sederhana yang tertutup terpal kasar terlihat menunggu di bawah pohon ek besar. Seorang kusir dengan pakaian pelayan kusam tampak bersiaga, namun segera menunduk hormat begitu melihat Desmond.
"Naiklah," perintah Desmond pelan.
Luvya merangkak masuk ke dalam kereta yang gelap dan pengap oleh bau jerami serta peti kayu. Ia memilih posisi di sudut, dekat dengan celah kain terpal yang sedikit tersingkap. Begitu kereta mulai bergerak dengan guncangan pelan, Luvya tak bisa lagi menahan hasrat untuk melihat dunia luar.
Ia merangkak sedikit ke tepian dan menongolkan kepalanya keluar.
Udara musim gugur yang sejuk langsung menyerbu indra penciumannya. Sudah setahun ia hanya menghirup bau tanah lembap, asap lilin, dan kertas tua di bawah tanah. Kini, aroma tanah kering dan udara segar terasa begitu memabukkan. Tanpa sengaja, gerakan angin yang cukup kencang akibat laju kereta membuat penutup kepala jubah hitamnya terlepas.
Wush!
Rambut pirang pucatnya yang panjang terkibas, terbang mengikuti arah angin seolah merayakan kebebasannya yang singkat. Luvya tidak peduli. Ia benar-benar tertegun.
Kereta itu kini melewati jalanan desa yang mulai ramai sebelum memasuki pinggiran ibu kota. Tidak ada suara bising mesin atau klakson mobil yang memekakkan telinga seperti di duniaku dulu, batin Luvya. Yang ada hanyalah suara derap kaki kuda dan obrolan para penduduk.
Ia melihat kios kecil di pinggir jalan yang menjual roti hangat, aromanya begitu sedap dan menenangkan. Di sudut lain, seorang wanita tua menjual bunga-bunga musim gugur yang berwarna oranye terang. Rakyat biasa berlalu-lalang dengan gaun sederhana dan jubah wol, tampak begitu damai. Anak-anak kecil berlarian mengejar satu sama lain sambil tertawa, memainkan mainan kayu di atas jalanan batu yang rapi.
Pemandangan ini begitu cantik, begitu jauh dari aura kematian sekte Zargous atau kekejaman keluarganya. Semuanya terlihat sangat harmonis di bawah pendar cahaya matahari yang mulai meredup.
"Wah..." Luvya bergumam pelan. Senyum tulus yang sangat langka muncul di bibirnya. "Aku benar-benar hidup di negeri dongeng."
Kereta barang itu akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi dengan ukiran yang rumit. Luvya segera menarik kembali kepalanya dan membenarkan jubah serta penutup kepalanya sebelum Desmond memberikan isyarat untuk turun.
Begitu kakinya menapak di atas tanah, Luvya mendapati dirinya berdiri di depan sebuah kediaman yang sangat mewah. Bangunan itu bergaya klasik dengan pilar-pilar putih yang menjulang tinggi dan halaman luas yang dihiasi patung-patung marmer. Meskipun mewah, Luvya secara otomatis membandingkannya dengan rumah kediaman Duke Vounwad. Rumah ayahnya tetap jauh lebih megah, lebih luas, dan memiliki aura otoritas yang jauh lebih menekan daripada tempat ini.
Desmond merapikan jubahnya, wajahnya kembali kaku dan penuh wibawa sebagai seorang ketua sekte. Ia menatap Luvya sejenak untuk memastikan gadis itu sudah siap dengan peran "suci"-nya.
"Kita sudah sampai," bisik Desmond dengan nada rendah. "Ini adalah kediaman Marquess Rigel."
Luvya sedikit mengernyit di balik tudungnya. Marquess Rigel? Ia mencoba menggali ingatan dari buku-buku politik yang ia baca setahun terakhir. Marquess adalah gelar yang sangat tinggi, hanya satu tingkat di bawah ayahnya yang seorang Duke. Jika seorang Marquess sampai berlutut menyembah entitas seperti Zargous, berarti pengaruh sekte ini sudah mulai merayap ke lapisan atas kerajaan.
"Marquess Rigel adalah salah satu menteri yang merasa disisihkan oleh dewan kerajaan," Matilda berbisik di telinga Luvya, seolah bisa membaca kebingungan gadis itu. "Dia haus akan kekuatan yang lebih besar untuk menggulingkan lawan politiknya. Itulah kenapa dia membutuhkan kita."
Luvya hanya mengangguk kecil. Ia mengatur napasnya, merundukkan pandangannya agar terlihat tenang dan pasrah, namun matanya tetap waspada mengamati sekeliling.
Seorang pelayan dengan seragam hitam rapi menyambut mereka di pintu samping. Pintu rahasia yang biasa digunakan untuk tamu yang tidak ingin terlihat oleh publik. Tanpa banyak bicara, pelayan itu menuntun mereka melewati lorong-lorong sunyi yang dihiasi karpet beludru merah menuju sebuah ruang kerja pribadi yang besar di lantai atas.
Begitu pintu terbuka, aroma cerutu dan wangi ruangan yang mahal menyeruak. Di balik meja kayu ek yang besar, duduk seorang pria paruh baya dengan kumis tipis dan mata yang tampak lelah namun ambisius. Itulah Marquess Rigel.
Pria itu langsung berdiri saat melihat Desmond masuk, namun matanya segera tertuju pada sosok kecil berjubah di samping Matilda.
"Jadi..." Marquess Rigel bersuara, nadanya penuh selidik. "Inikah 'Berkat' yang kau ceritakan itu, Desmond? Seorang anak kecil?"