Keisha lari membawa rahasia hidupnya. Lima tahun ia bersembunyi, berpikir tak ada yang akan tahu. Tapi Arsen tidak pernah berhenti mencari. Ketika mereka bertemu kembali, dunia Keisha gemetar. Pria itu datang bukan untuk membenci, tapi untuk menuntut haknya sebagai seorang ayah dan ingin memiliki Keisha sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN MUTLAK
Pagi itu, matahari bersinar terik namun tidak mampu menghangatkan suasana di kediaman orang tua Keisha. Rumah yang biasanya tenang, kini dipenuhi oleh aura tegang yang mencekam.
Keisha duduk di sofa dengan wajah datar, matanya merah sembab namun tidak ada lagi air mata yang jatuh. Di pangkuannya, Leo tertidur pulas karena kelelahan menangis semalam.
Di hadapannya, Arsen berdiri dengan penampilan yang berantakan. Jas yang tadi malam dipakai dengan gagah, kini terlihat kusut. Matanya tampak panda dan lingkar hitam terlihat jelas di bawah matanya. Dia tidak tidur semalaman, langsung mengejar Keisha begitu kejadian di pesta usai.
"Sha, ayo pulang. Tolong bicara sama aku," pinta Arsen, suaranya terdengar serak dan sangat lelah.
Keisha tidak menoleh. Dia menatap lurus ke depan dinding. "Pulang ke mana? Ke rumah yang isinya mantan tunanganmu dan orang tuamu yang membenciku? Tidak, makasih. Aku cukup di sini saja."
"Itu rumah kita! Rumahmu!"
"Dulu aku pikir begitu. Tapi ternyata aku cuma tamu tak diundang di sana, Arsen. Bahkan orang tuamu sendiri menganggap Natasha sebagai pendamping resmi, bukan aku. Apa gunanya aku kembali kalau posisiku saja tidak jelas?"
"Aku akan jelaskan pada mereka! Aku akan bilang kalau kau adalah satu-satunya istriku!"
"Sudah terlambat, Arsen. Luka yang sudah tergores dalam, tidak bisa sembuh cuma dengan kata maaf," jawab Keisha dingin. Dia akhirnya menoleh, menatap mata Arsen tajam. "Aku sudah memutuskan. Kita berpisah saja."
BRAKK!
Tangan Arsen menghantam dinding dengan keras tepat di samping kepala Keisha, membuat gadis itu tersentak kaget.
"JANGAN PERNAH UCAPKAN KATA ITU LAGI!" bentak Arsen, napasnya memburu karena emosi yang meledak. Wajahnya memerah, urat lehernya menonjol. "Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi! Kau milikku! Leo anakku! Kita satu keluarga! Tidak ada pisah-pisah!"
Keisha memeluk Leo lebih erat, sedikit takut dengan kemarahan Arsen, tapi dia berusaha tetap tegar. "Terus apa solusinya? Kau mau menceraikanku dan menikahi Natasha demi perusahaanmu? Silakan! Aku tidak akan menghalangimu!"
"GILA!" Arsen menarik napas panjang, berusaha mengontrol amarahnya. Dia tidak mau menakuti istrinya. "Dengar aku baik-baik, Keisha. Aku mungkin bodoh karena tidak tegas dari awal. Aku mungkin lemah karena membiarkan orang lain mengatur hidupku. Tapi mulai detik ini... semuanya berubah."
Arsen berlutut di hadapan Keisha, membuat posisinya sejajar dengan wanita itu. Matanya menatap tajam penuh keyakinan.
"Aku lebih memilih kehilangan seluruh perusahaan, kehilangan uang, kehilangan segalanya... daripada harus kehilangan kalian. Mengerti? Perusahaan bisa aku bangun lagi dari nol. Tapi kalau aku kehilangan kalian, aku hancur selamanya."
Kata-kata itu menusuk tepat di jantung Keisha. Gadis itu terdiam, bibirnya bergetar.
"Terus... apa yang mau kau lakukan? Natasha dan orang tuamu tidak akan membiarkan kita hidup tenang."
"Biarkan aku yang urus mereka. Kau tidak perlu ikut kotor tangan," jawab Arsen tegas. Dia berdiri lagi, dan kali ini aura di sekelilingnya berubah total. Bukan lagi aura pria bimbang, tapi aura pemimpin yang siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Sore harinya, di kantor pusat Arsen Group.
Rapat darurat digelar. Hadir di sana adalah Ayah Arsen, Ibu Arsen, dan tentu saja Natasha yang duduk dengan wajah sombong di samping meja rapat.
"Jadi, apa keputusanmu, Nak?" tanya Ayah Arsen dengan nada berat. "Kau mau pilih keluarga bisnis kita yang sudah terjalin puluhan tahun, atau wanita pelakor dan anak haram itu?"
Natasha tersenyum miring. "Sudah kubilang kan, Sayang. Pilih aku, dan semua akan baik-baik saja. Kita bisa berpretensi tidak terjadi apa-apa."
Arsen duduk di kursi kepala dengan sangat tenang. Dia menatap satu per satu orang di hadapannya dengan tatapan dingin yang membekukan.
"Aku sudah mengambil keputusan," suara Arsen pelan namun bergema di seluruh ruangan.
Natasha tersenyum lebar. "Pintar. Aku tahu kau akan memilih yang terbaik."
"Aku memilih... mengundurkan diri dari seluruh jabatan di perusahaan ini. Dan membatalkan seluruh kerjasama dengan keluarga kalian, Natasha," potong Arsen datar.
Wajah Ayah Arsen memucat. "APA?! Kau gila?! Ini perusahaan kakekmul!"
"Dan aku yang membangunnya jadi besar seperti sekarang! Tanpa ide dan kerjaku, perusahaan ini cuma bangunan kosong!" bentak Arsen kali ini. Dia berdiri, menatap ayahnya tajam. "Selama ini Bapak pikir aku mainan? Bapak pikir aku tidak bisa hidup tanpa nama keluarga ini? Mulai hari ini, aku keluar. Aku bangun kerajaanku sendiri."
Arsen lalu menoleh ke arah Natasha yang kini wajahnya sudah berubah pucat dan kaget.
"Dan kau, Natasha. Jangan pernah menampakkan wajahmu di depan keluargaku lagi. Kalau kau berani menyakiti satu rambut saja di kepala istriku atau anakku... aku pastikan kau dan keluargamu bangkrut dan tidak bisa berkiprah di bisnis Indonesia lagi. Aku punya semua bukti kecurangan perusahaanmu selama ini. Mau coba aku buka ke publik?"
Natasha gemetar ketakutan. Senyumnya hilang berganti dengan kepanikan. "Kau... kau mengancamku?"
"Aku hanya memperingatkan. Keluar dari sini sebelum aku panggil satpam," desis Arsen dingin.
Natasha tidak berani bicara lagi. Dengan wajah murka dan malu, dia berjalan terhuyung keluar dari ruangan itu, diikuti oleh orang tua Arsen yang masih terlihat syok dan marah besar.
Ruangan rapat menjadi kosong. Tinggal Arsen sendirian.
Dia menghela napas panjang, lalu mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor Keisha.
"Halo..." suara Keisha terdengar ragu di seberang sana.
"Sayang," suara Arsen melembut seketika, hilang semua aura galaknya tadi. "Semua sudah selesai. Aku sudah usir dia. Aku juga tinggalkan perusahaan itu kalau memang itu syaratnya supaya kita bisa tenang."
"Arsen... kau gila ya? Bagaimana dengan hidupmu?" tanya Keisha cemas.
"Kalian adalah hidupku. Uang dan jabatan cuma pelengkap," jawab Arsen lembut. "Sekarang, bolehkah suamimu pulang ke rumah? Atau... bolehkah aku diizinkan masuk kembali ke hatimu?"
Keisha terdiam di seberang sana. Air mata bahagia akhirnya jatuh lagi. Rasa sakit itu memang masih ada, tapi melihat pengorbanan Arsen yang sebegitu besarnya... hatinya luluh total.
"Iya... pulanglah. Aku dan Leo menunggumu," bisik Keisha pelan.
Senyum lebar akhirnya terukir kembali di wajah Arsen. Badai memang besar, tapi mereka berhasil melewatinya bersama. Dan kali ini, tidak ada yang bisa memisahkan mereka lagi.