NovelToon NovelToon
TIRAKAT 3

TIRAKAT 3

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"

Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.

Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...

DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 NISA DAN SEBUAH PONDOK DI KAKI GUNUNG KELUD

Perjalananku hampir memakan waktu 1 jam menggunakan mobil yang dikemudikan oleh Pak Nardi menuju pondok pesantren milik Ustadz Furqon...

Pandanganku seperti belum selesai dibuat kagum oleh pemandangan area persawahan di kanan dan kiri jalan raya sejak dari stasiun Kediri tadi, kini pandanganku semakin dibuat takjub dengan pemandangan indahnya Gunung Kelud.

Aku yang duduk di bangku depan, bersebelahan dengan Pak Nardi, seolah dibuat terhipnotis dengan pemandangan menyeluruh dari Gunung Kelud. Apalagi ini adalah pertama kalinya aku bisa melihat Gunung Kelud dalam hidupku.

Beberapa saat aku sampai tak sadar, mulutku sampai terbuka sedikit, sambil memandangi area yang begitu luas, begitu hijau, begitu indah, yang berada di bawah gagahnya Gunung Kelud.

Tampak di sekitar area puncaknya, ada beberapa awan tipis yang menutupi. Seolah bagaikan kelopak bunga yang menempel pada tangkainya. Di tambah lagi dengan terhamparnya area hutan-hutan, area persawahan, dan juga beberapa area perkebunan. Serta langit di atasnya yang tampak cerah membiru.

"Masya Alloh... Bagusnyaaa..." aku sampai tak sadar mengucapkan itu, berkali-kali.

Selang beberapa saat, Pak Nardi kembali mengajakku mengobrol ringan.

"Mbak baru pertama kali datang ke sini ya?" tanyanya dengan logat Jawa yang kental, terasa sopan dan santun nadanya di telingaku.

"Iya Pak. Saya baru pertama kali datang ke sini." jawabku.

"Owalah... Pantesan... Mbak seperti kelihatan kesem-sem, hehehe..."

"Kesem-sem itu apa Pak?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya.

"Eh, gak tau ya? Kesem-sem itu artinya suka banget gitu loh Mbak."

"Ooohhh... Iya-iya..."

"Memangnya rumah Mbak Nisa ini di mana sih?"

""Rumah saya di Desa Mawi, Bogor, Jawa Barat Pak..."

"Waduuuhhh... Jauhnya..."

"Hehe, iya Pak." responku singkat. Ke dua mataku masih saja tak bisa lepas dari pemandangan Gunung Kelud yang sangat indah ini.

"Terus, Mbak kenal sama Ustadz Furqon dari lama?"

"Lumayan lama sih Pak. Saya juga bantu mengajar anak-anak ngaji di pendopo beliau. Ya anak-anak seumuran sekolah SD aja sih..." jelasku.

"Owalaaah..." respon Pak Nardi dengan logat Jawanya.

"Em... Kalau Bapak asli dari sini ya?" tanyaku.

"Sebenarnya saya bukan warga asli sini Mbak, tapi karena pindah ke sini dari kecil, makanya dianggap kayak warga asli sini."

"Oh begitu ya..."

"Iya Mbak..."

"Gimana Pak rasanya tinggal di sini?"

"Wah, pokoknya nyaman banget Mbak. Pasti beda sama tinggal di kota. Hehehe..."

"Iya juga sih Pak, hehe..."

Aku dan Pak Nardi melanjutkan obrolan kami sambil mobil terus melaju dengan kecepatan agak pelan.

Selang 20 menit kemudian, tibalah kami di sebuah jalanan yang sudah tak beraspal. Digantikan dengan jalanan tanah cukup berbatu yang membuat tubuhku bergoyang sedikit.

Beberapa kali Pak Nardi tampak menyapa warga lokal yang melintas di pinggir jalan. Ada yang sambil membawa karung penuh rumput segar, ada yang sambil mengangon hewan ternaknya, ada yang sedang mengolah lahan sawah, dan beragam aktifitas lainnya khas warga desa yang tenteram.

Sesekali terasa hembusan angin yang agak kencang masuk ke dalam mobil. Begitu sejuk, begitu bersih rasanya ketika kuhirup dalam-dalam. Bercampur dengan aroma sawah, aroma pepohonan, bahkan beberapa kali tercampur dengan aroma hewan ternak warga.

Tak lama kemudian, di depanku tampak sebuah area perkebunan tebu yang luas. Dan laju mobil mulai masuk ke jalan di tengah-tengah perkebunan tebu itu.

"Mbak, kurang lebih 800 meter lagi kita sampai di pondoknya Ustadz Furqon ya... Sabar dan harap maklum, jalanannya kurang bagus. Hehehe..." jelas Pak Nardi.

"Iya Pak..." jawabku.

Kuperhatikan kanan dan kiri jalan, dipenuhi barisan tanaman tebu yang rapat. Mungkin tanaman tebu itu setinggi diriku. Batangnya yang besar-besar, berwarna hijau kekuningan, menandakan bahwa seluruhnya sangat subur dan terawat dengan baik. Akhirnya, jalanan pun mulai menanjak sedikit. Tak terlalu tinggi, masih cukup landai.

Lalu sampailah kami di sebuah jalan yang agak sempit tapi masih cukup untuk dilalui mobil. Di bagian jalan lebih tinggi, tampak dari kejauhan ada sebuah desa dengan rumah-rumah warga yang cukup berjarak antar satu dengan lainnya.

Dan pikiranku mulai bertanya-tanya...

Kenapa Ustadz Furqon membangun pondok pesantren di sebuah wilayah yang justru sedikit warga desanya?

Apakah santrinya banyak?

Bagaimana konsep pondok pesantrennya?

Dan pertanyaan-pertanyaan lain hadir dalam kepalaku...

--------------------

--------------------

Akhirnya... Mobil pun berhenti di sebuah lahan parkir. Tepat di depan gapura yang tampaknya terbuat dari kayu jati yang kokoh.

"Alhamdulillah, kita sampai Mbak..." ucap Pak Nardi.

"Alhamdulillah..." sahutku.

Pak Nardi langsung mematikan mesin mobil, membuka kunci pintu di kedua sisi, lalu turun duluan menuju bagasi belakang untuk menurunkan tas-tas milikku. Aku pun segera turun dari dalam.

Ketika ke dua kakiku menginjak tanah, seketika itu juga tercium aroma lingkungan sekitar yang sangat asri dan bersih. Dan aku merasakan aroma ini lebih asri dan bersih dari pada lingkungan tempat tinggalku di Jawa Barat.

"Bismillah Ya Alloh... Semoga aku bisa betah di sini. Semoga aku bisa mengabdi dan bekerja dengan baik di sini." gumamku dalam hati.

Kemudian, Pak Nardi yang menghampiriku dengan membawakan dua tasku, segera mengajakku untuk masuk.

"Ayok Mbak, masuk. Jangan berdiri di sini aja, nanti kesambet loh... Hehehe..."

Aku yang mendengarnya mengucap kata "kesambet" itu, sedikit kaget batinku. Namun segera kutepis rasa kaget itu. Dan aku mengikutinya dari belakang.

Ketika aku masuk melewati gapura kayu jati itu, seketika aku disuguhkan pemandangan area pondok pesantren Ustadz Furqon ini.

Halamannya cukup luas dengan rumputnya yang hijau, berhiaskan tanaman-tanaman bunga berbagai jenis, dan juga ada beberapa pohon jati yang cukup tinggi dan teduh.

Tepat di bagian tengah area pondok terdapat sebuah masjid. Tapi bagiku itu bukan seperti masjid, melainkan lebih mirip sebuah mushollah. Karena ukuran bangunannya yang tak terlalu besar untuk bisa disebut masjid. Dan terdapat beberapa toilet tertutup dinding lengkap dengan area berwudhu di sebelah kirinya.

Dan sedikit yang membuatku heran adalah...

Di sisi kiri masjid itu ada jarak cukup lebar. Dengan jalan setapak yang sudah dilapisi batu-batu pipih. Lalu di samping jalan itu ada satu bangunan yang dibentuk memanjang sampai ke bagian belakang masjid. Dari penampilan bangunan itu yang memiliki beberapa pintu, aku menebaknya itu adalah ruang-ruang belajar bagi para santri.

"Di mana asrama putrinya ya?" seketika aku bertanya sendiri dalam hati.

Dan lebih herannya lagi, ketika aku menyadari lingkungan pondok pesantren ini adalah...

"Kok keliatan sepi banget ya? Pada kemana santrinya? Masa gak ada orang sama sekali?"

Di saat aku masih berdiri di halaman memperhatikan sekitar, Pak Nardi memanggilku.

"Mbak, ke sini..."

"Eh, iya Pak, tungguin saya..." jawabku sambil kembali mengikutinya dari belakang.

Aku sambil mengikuti langkah Pak Nardi, berjalan ke arah sebelah kiri dari Masjid, akhirnya bisa mengetahui beberapa area lainnya.

Di sisi kiri masjid yang berbatasan dengan dinding toilet ini, ada jalan setapak yang sama persis seperti sisi kanan tadi, memanjang sampai ke belakang. Ternyata, tepat di belakang masjid, terdapat sebuah bangunan berlantai dua. Dengan tiga ruangan di bawahnya, dan dua ruangan lagi di atasnya. Lalu tepat di bagian ujung lantai dua tampak seperti sebuah balkon terbuka.

Dan tak jauh, ada sebuah area cukup luas dengan lantai semen dan juga sebuah sumur. Sepertinya itu untuk area mencuci pakaian. Bersebelahan dengan sebuah bangunan yang mirip pendopo, yang sudah lengkap dengan berbagai perabotan. Mungkin fungsinya sebagai dapur.

Setelah aku melihat keseluruhan area, aku bisa langsung hafal denahnya. Karena memang pondok pesantren ini ternyata tak terlalu luas.

"Mbak, kamarnya ada di lantai atas ya. Paling pertama dari tangga." ucap Pak Nardi sambil mulai menaiki tangga. Dan aku pun mengikutinya dari belakang.

Ketika aku sudah sampai di lantai atas, Pak Nardi langsung membukakan pintu kamar yang akan menjadi tempat tinggalku ini.

"Mbak, Ini tasnya saya taruh di mana?" tanya Pak Nardi.

"Gak usah repot-repot Pak, biar saya aja yang masukin tasnya ke dalam."

"Oh, ya sudah kalau gitu. Mbak mau langsung istirahat kan?"

"Em... Sepertinya iya Pak..."

"Hehe, ya sudah, saya tinggal dulu ya Mbak."

"Em, iya Pak, terima kasih banyak ya Pak..."

"Iya Mbak, izin permisi."

Aku menjawabnya dengan anggukan kepala sambil tersenyum...

Kulihat Pak Nardi menuruni anak tangga, lalu beberapa saat kemudian ia berjalan menuju mobilnya di area parkir depan gapura pondok. Dan beberapa saat kemudian, ia pergi.

"Aduh... Kenapa aku gak tanya ke Pak Nardi dulu ya?" ucapku sendirian saat teringat dengan berbagai pertanyaan dalam kepalaku saat baru sampai tadi.

Aku masih berdiri di depan kamarku, di lantai atas ini. Dengan sudut pemandangan yang lebih jelas lagi ke seluruh area pondok pesantren ini.

Akan tetapi... Lagi-lagi aku bertanya dalam hati...

Kenapa sepi sekali di sini?

Kemana Ustadz Furqon dan Bu Fatimah?

Kemana para tenaga pengasuh asrama putri selain diriku?

Kemana para santri perempuannya?

Dan... Kenapa aku mulai merasa "sendirian" dan merasa "tak nyaman"?

1
Yeni Yeni
penasaran aku mbak🤭
SecretS
Lanjut kak👍👍👍😊😊
SecretS
👍👍👍lanjut kak, berarti sekar mayang bisa liat masa depan kayak Dayang Putri ah, menurut ku sekar mayang terlalu jahil ngak seperti Dayang Putri 😁
SecretS
Lanjut kak, 👍👍👍😁😁😁 ternyata wanita dekat toilet itu sekar mayang toh aku kira kuntilanak penunggu 😅
SecretS
Ooh, jadi ya buat tiket Nisa hilang itu sekar mayang toh. Buat yang punya kebingungan nyari tiket nya untung tuanya mau mbalikin dan kejadian nya sebelum Dayang Putri datang kalau ngak.... 😅😅 buat tuanya malu aja sekar mayang, pasti karena sekar mayang Zaki bayarin makanan nisa😁sedikit merasa bersalah akibat perewangannya. Lanjut kak 👍👍👍👍
Yeni Yeni: kodam zaki usil
total 1 replies
SecretS
Cover nya kok buat yang baca merinding ya kak 😅😅, tapi lanjutanya bagus 👍👍👍semangat 😀
Deni Komarullah: Hehehe... Terima kasih Kak atas dukungan dan komentarnya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!