NovelToon NovelToon
Sins Of The Playboy

Sins Of The Playboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Roman-Angst Mafia
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.

Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.

Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.

Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.

Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.

Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.

~~~~~
Happy reading 🦋🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#12

Aroma kopi instan yang mendingin di atas meja ruang residen perlahan memudar dari indra penciuman Olivier Martinez.

Setelah ketegangan yang menguras emosi bersama Evelyn Vance beberapa waktu lalu, lorong-lorong Stone Hospital mendadak terasa lebih sunyi bagi Olivier. Ia berjalan menyusuri lantai khusus VIP dengan langkah yang tidak secepat biasanya.

Jubah putih kedokterannya terasa sedikit lebih berat di bahunya, bukan karena beban fisik, melainkan karena kelelahan mental yang bertumpuk sejak malam operasi darurat itu.

Hari sudah beranjak siang menjelang sore. Ini adalah kunjungan terakhirnya untuk hari itu sebelum shift kerjanya resmi berakhir dan ia bisa pulang.

Saat berdiri di depan pintu kayu kokoh kamar nomor satu, Olivier terdiam selama beberapa detik. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit dingin, lalu menarik napas panjang untuk menata kembali topeng profesionalnya yang sempat retak.

Setelah siap, ia menempelkan kartu akses dan mendorong pintu elektronik tersebut hingga terbuka tanpa suara.

Di dalam kamar, gorden besar telah dibuka setengah, menampilkan langit Chicago yang mulai beralih warna menjadi keemasan.

King Stone sedang duduk bersandar di ranjangnya, tidak lagi memejamkan mata seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya. Sebuah tablet bisnis berada di pangkuannya, menampilkan grafik saham dan laporan pengiriman pelabuhan yang langsung ia matikan begitu menyadari kehadiran Olivier.

Melihat dokter pribadinya masuk, sepasang mata elang King langsung berkilat. Insting playboy dan keangkuhan pangeran Stone yang melekat di tubuhnya kembali bangkit, mencoba menutupi rasa rindu yang sebenarnya berdenyut di dadanya.

King menyandarkan kepalanya di bantalan ranjang, menyunggingkan senyuman miring yang sengaja dibuat menggoda. "Kau kembali lebih cepat dari dugaanku, Dokter Martinez. Apa kau merindukan jahitanku, atau kau hanya tidak sabar untuk memeriksa bagian tubuhku yang lain di bawah selimut ini?"

Kalimat bernada mesum dan provokatif itu menggema di dalam kamar yang sunyi.

Biasanya, Olivier akan langsung membalasnya dengan hantaman kata-kata dingin yang menusuk, atau setidaknya melayangkan tatapan muak yang tajam seperti yang ia lakukan pagi tadi.

Namun kali ini, tidak ada balasan. Tidak ada kemarahan.

Olivier hanya berdiri diam di dekat kaki ranjang, memegang papan klip medisnya dengan longgar. Sepasang mata bulatnya tidak memancarkan kilat es yang menantang, melainkan tampak redup, kosong, dan dipenuhi oleh gurat kelelahan yang teramat sangat.

Bahunya sedikit turun, menampilkan sosok seorang wanita biasa yang sedang membawa beban berat di kepalanya, bukan seorang dokter residen senior yang tangguh.

King Stone menyadari perubahan drastis itu seketika. Senyuman miring di bibirnya perlahan surut, digantikan oleh kernyitan dalam di dahinya. Otak cerdasnya langsung menangkap bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita di hadapannya.

Olivier melangkah lambat menuju sisi ranjang untuk memeriksa kantung cairan antibiotik yang menggantung di tiang infus.

Gerakannya lambat, hampir seperti robot yang kehabisan daya. Setelah memastikan semuanya berjalan normal, ia tidak langsung berbalik pergi seperti biasanya.

Olivier menoleh, menatap King lurus-lurus pada matanya, namun tanpa ada rasa permusuhan.

"Tuan Stone," suara Olivier terdengar sangat pelan, serak, dan kehilangan intonasi dinginnya yang biasa. "Bolehkah... saya duduk di sini sebentar? Hanya beberapa menit."

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat King Stone terpaku di tempatnya.

Sepanjang sepuluh tahun perpisahan mereka, dan sepanjang Tiga hari pertemuan kembali di rumah sakit ini, Olivier selalu memasang jarak berjarak ribuan mil dengannya.

Meminta izin untuk duduk di kamarnya adalah hal terakhir yang King duga akan keluar dari bibir wanita itu.

King tidak menjawab dengan kata-kata bualan lagi. Ia hanya memberikan anggukan kecil yang tegas, matanya tidak lepas dari setiap gerak-gerik Olivier.

Olivier berjalan menuju sebuah kursi sofa kulit tunggal yang terletak di dekat jendela, beberapa langkah dari ranjang King. Ia meletakkan papan dokumennya di atas meja kecil dengan pelan, lalu menenggelamkan tubuhnya di atas sofa tersebut.

Olivier menyandarkan punggungnya, menekuk kedua lututnya sedikit, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sendiri.

Keheningan yang pekat langsung membungkus kamar VIP tersebut. Hanya ada suara helaan napas Olivier yang terdengar berat dan teratur.

King Stone memperhatikan wanita itu dari atas ranjangnya. Rasa perih di perutnya akibat luka operasi mendadak terlupakan, digantikan oleh rasa sesak yang aneh di dadanya melihat kerapuhan Olivier yang terpampang nyata di depannya.

Tangan kanan King—yang ditutupi rajahan tinta hitam pekat menyembunyikan nama Olivier—mencengkeram sprei ranjang dengan kuat. Ia ingin sekali turun, melangkah mendekati sofa itu, dan menarik Olivier ke dalam dekapannya seperti yang sering ia lakukan di apartemen lantai enam belas dulu saat gadis itu sedang stres menghadapi ujian sekolah.

Namun, King tahu posisinya sekarang. Dia adalah monster yang telah menghancurkan hidup wanita itu. Langkah apa pun yang ia ambil di luar batas profesionalitas hanya akan membuat Olivier kembali membangun dinding bentengnya.

"Konflik dengan Evelyn Vance lagi?" King akhirnya bersuara, memecah kesunyian dengan nada bariton yang sengaja diperhalus, kehilangan keangkuhannya.

Olivier tidak membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya, namun ia memberikan anggukan pelan. "Dia hanya kerikil kecil. Tapi isi kepalaku terlalu penuh hari ini, Tuan Stone. Rumah sakit ini... kota ini... terkadang membuatku merasa tercekik."

Olivier menurunkan tangannya dari wajah, menatap lurus ke arah luar jendela besar yang menampilkan pemandangan luar kota Chicago. Sinar matahari senja yang berwarna merah keemasan menerpa separuh wajahnya, mempertegas gurat kecantikan alami yang tidak pernah pudar oleh waktu.

"Sepuluh tahun aku pergi dari sini," gumam Olivier, suaranya mengalir begitu saja, seolah ia sedang berbicara pada dirinya sendiri bukan pada King.

"Aku membangun hidup yang tenang di Baltimore. Menjalani hari-hari yang bisa kuprediksi, merawat pasien tanpa perlu memikirkan siapa di belakang mereka, dan pulang ke rumah dengan damai. Tapi begitu aku kembali ke Chicago... semuanya terasa seperti pusaran air yang siap menarikku kembali ke dasar."

King mendengarkan setiap kata dengan saksama. Hatinya mencelos mendengar betapa Olivier menganggap Chicago—tempat di mana mereka pernah mengukir janji manis—sebagai sebuah pusaran air yang menakutkan. King tahu dialah pusat dari pusaran air tersebut.

"Jika tempat ini membuatmu tercekik, mengapa kau memilih untuk kembali, Olivier?" tanya King, menahan diri untuk tidak terdengar menyelidik.

Olivier mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap King Stone yang sedang duduk di atas ranjang medis.

Untuk pertama kalinya dalam dua hari ini, tatapan mereka bertemu tanpa ada lapisan amarah atau topeng kebohongan. Yang ada hanyalah kejujuran dari dua manusia yang pernah saling berbagi seluruh jiwa mereka di masa lalu.

"Karena aku tidak bisa terus melarikan diri, King," jawab Olivier, kembali menggunakan nama pria itu tanpa sadar karena atmosfer ruangan yang mendadak melunak.

"Aku memiliki tanggung jawab yang harus kupenuhi. Masa residensiku di sini adalah jembatan penting untuk masa depanku. Aku mengira setelah sepuluh tahun, aku sudah cukup kuat untuk menghadapi atmosfer kota ini, menghadapi nama besar klan Stone, dan... menghadapi dirimu."

Olivier menjeda kalimatnya, menarik napas pendek yang bergetar. "Tapi aku salah. Melihatmu masuk ke IGD dengan darah yang membanjiri tubuhmu malam itu... mendengarkan bualan-mu yang menyebalkan itu... dan melihat bagaimana keluargamu masih menguasai tempat ini dengan mutlak... itu melelahkan. Aku hanya ingin menjadi dokter yang baik, tanpa perlu terseret dalam drama kekuasaan atau gosip murahan dari orang-orang seperti Evelyn."

King terdiam seribu bahasa. Lidahnya yang biasanya selalu memiliki jawaban manipulatif dan penuh percaya diri mendadak mati kutu.

Di balik tato hitam yang menutupi seluruh lengannya hingga ke leher, King merasa seperti remaja enam belas tahun yang kembali melakukan kesalahan besar karena membuat gadis yang dicintainya merasa lelah.

"Evelyn Vance tidak akan mengganggumu lagi, Olivier. Aku akan memastikannya," ucap King rendah, mencoba memberikan satu-satunya jaminan yang bisa ia berikan dengan kekuasaannya saat ini.

Olivier tersenyum tipis, sebuah senyuman tanpa rasa emosi. "Aku tahu, Tapi esensinya bukan hanya tentang Evelyn, King. Ini tentang fakta bahwa selama kau berada di rumah sakit ini, selama namaku dikaitkan sebagai dokter penanggung jawabmu, aku akan selalu menjadi sasaran empuk bagi siapa pun yang ingin mencari muka pada klan Stone."

Olivier bangkit berdiri dari sofa kulit tersebut. Gerakannya kini terlihat sedikit lebih ringan setelah sempat duduk dan meluapkan sedikit beban pikirannya selama beberapa menit. Ia berjalan mendekati meja kecil, mengambil kembali papan dokumen medisnya, lalu merapikan jubah putih kedokterannya.

Topeng profesional yang sedingin es itu perlahan kembali terpasang di wajah cantiknya, menutup rapat celah kerapuhan yang baru saja ia perlihatkan.

"Waktu istirahat saya habis, Tuan Stone," ucap Olivier, suaranya kembali beralih menjadi formal, datar, dan berjarak seperti semula.

"Terima kasih telah mengizinkan saya duduk di sini sebentar. Jadwal visit saya untuk hari ini sudah selesai. Perawat jaga malam akan menggantikan saya untuk memantau infus Anda."

King Stone menatap wanita itu dengan pandangan elang yang dalam, mengangguk pelan. "Pulanglah, Dokter Martinez. Kau butuh istirahat."

"Selamat sore, Tuan Stone," pamit Olivier pendek. Ia berbalik dengan anggun, melangkah menuju pintu elektronik kamar VIP, dan melangkah keluar tanpa menoleh ke belakang lagi.

Begitu pintu menutup dan menyisakan kesunyian yang familier, King Stone menyandarkan kepalanya ke dinding ranjang dengan helaan napas panjang yang sarat akan beban frustrasi. Kamar itu kini terasa lebih dingin setelah kepergian Olivier.

1
Yunie
seru nih
Ros 🌷🦋: hallo kak 🫶
total 1 replies
ida wati
wkwkwkwk drama persepupuan....jodoh nih kayaknya 🤣
Ros 🌷🦋: Wkwkwk masih rahasia ya kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
ida wati
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
ida wati
wkwkwkwk jngan kebanyakan gaya lu King, lu tuh budak nya El 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkwk🤣
total 1 replies
ida wati
yakin lu King??

mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Ya Tuhan ngakak aku kak🤣🤣🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
tendang aja oliv si king🤣
Ros 🌷🦋: ngakak 🤣
total 1 replies
ida wati
pake belm aja El biar gak malu wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: wkwkw🤭
total 3 replies
ida wati
huaaaa othor motong bawanggg 😭😭😭
Ros 🌷🦋: huhuhu 😭
total 1 replies
nayla tsaqif
Nora xander masih ada ikatan darah thor,, emg boleh berjodoh,,!!?? 🤔
Ros 🌷🦋: Mereka sepupuan kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
apa Nora jodohnya Xander?
Ros 🌷🦋: kalo direstuin reader 🤭🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
sekarang giliran Ken yg muntah liat tingkah king🤣🤣
Ros 🌷🦋: hahaa biar kebagian muntah triplek K🤣🤣
total 1 replies
Moes Rifah
Thor episodenya 41 kok cuma 29
Ros 🌷🦋: ada 41 episode kak🙏🏻
total 1 replies
ida wati
wakakakaaka aku bahagiaaa 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Hehehe 🤭
total 1 replies
ida wati
siram pake air keras aja biar kaku sekalian wkwkwk 🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: Ngakak 🤭🤣
total 1 replies
ida wati
grandmam suntik obat tidur aja kalo perlu suntik mati 🤣🤣🤣
Ros 🌷🦋: ma'aciww kak🫶
total 5 replies
ida wati
ahhh Noraaa kau membuatku mewekkk 😩😩😩😩😩😭
Ros 🌷🦋: bayangkan sepuluh tahun kak baru ketemu ayahnya 🤭
total 1 replies
ida wati
thorrr sembako dibawa bawa 😩😩😩😩
Ros 🌷🦋: hihihi Author juga emak2 kak 🤭🤣
total 3 replies
Agus Hidayat
😍😍😍😍😍😍
Ros 🌷🦋: Ma'aciww kak reader, Komentar adalah semangat Author 🤭🤣
total 1 replies
Moes Rifah
ayo Thor lanjut, saya suka ceritax
Ros 🌷🦋: siap kak🫶
total 1 replies
Moes Rifah
lanjut Thor smpe dr martinez hamil anak kedua
Ros 🌷🦋: Hehe siap ya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!