Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam
Malam itu, langit kota kelabu, namun lampu-lampu neon berkilau terang menyambut pusat hiburan paling eksklusif dan berbahaya: Klub Malam The Phoenix. Tempat ini bukan sekadar tempat pesta; ini markas tak resmi Alexandra Surya, tempat bertemu rekan bisnis, mengurus urusan gelap, dan menunjukkan dominasi. Di sini, Alex adalah raja mutlak.
Mobil hitam mewah berhenti tepat di depan pintu utama. Alex turun lebih dulu, jas hitamnya terbuka sedikit, memancarkan aura dingin yang membuat pengunjung dan penjaga keamanan otomatis menunduk hormat. Ia lalu memutar tubuh, menyodorkan tangan besarnya ke dalam mobil untuk membantu Aulia turun.
Malam ini Aulia tampak berbeda. Mengenakan gaun sifon biru muda rancangannya sendiri sederhana, sopan, namun menonjolkan keanggunan alaminya. Rambutnya disanggul longgar, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih. Di tengah lautan wanita berpakaian terbuka dan penuh riasan tebal, Aulia bersinar seperti mutiara di tumpukan kerikil.
“Berjalan di sampingku. Jangan pernah pisah dariku sedetik pun,” bisik Alex rendah saat jari-jemari mereka bersentuhan, mencengkeram tangan gadis itu erat seolah takut ia hilang. “Malam ini perayaan kemenanganmu. Tapi ingat, di sini banyak mata jahat. Jangan tatap siapa pun kecuali aku.”
Aulia hanya mengangguk, jantungnya berdegup kencang. Aroma alkohol, tembakau, dan parfum mahal menyeruak saat mereka masuk. Musik berdentum keras mengguncang lantai, lampu warna-warni berputar, dan suara tawa bercampur bisik-bisik penasaran menyambut kedatangan mereka. Semua mata tertuju pada Alex, lalu jatuh pada gadis kecil di sisinya. Tatapan mereka: kagum, iri, dan penuh dugaan.
Mereka menuju area VIP di lantai atas, terpisah dari keramaian, lengkap dengan sofa kulit dan bar pribadi. Di sana sudah menunggu beberapa orang penting rekan bisnis, kapten pasukan Alex, serta investor besar yang hadir tadi siang.
“Wah, Tuan Alex! Akhirnya muncul juga!” seru Tuan Darmawan sambil tertawa lebar, mengangkat gelas wiskinya. “Dan ini pasti Nona Aulia. Gadis jenius yang mengubah wajah Imperial Gold. Selamat, Non! Desainmu brilian!”
Aulia tersenyum malu-malu, hendak menjawab sopan, namun Alex langsung menarik pinggang gadis itu mendekap tubuhnya, menegaskan posisi. “Terima kasih, Darmawan. Tapi ingat, dia milikku. Karyanya, waktunya, dirinya… semuanya milikku.”
Kalimat itu terdengar kasar bagi orang luar, namun bagi Aulia, entah mengapa, nada tegas itu terasa seperti perisai pelindung.
Malam berlanjut dengan suasana riuh. Alex sibuk bicara bisnis membahas ekspansi hotel, pembelian lahan strategis, hingga transaksi ‘barang’ yang dibicarakan dengan kode rahasia. Aulia hanya diam di sampingnya, mengamati. Ia sadar, di balik wajah tampan dan gaya santai Alex, pria ini mengendalikan jaringan raksasa yang menggabungkan hukum dan kejahatan. Ia adalah pengusaha sukses sekaligus bos mafia paling ditakuti.
Saat musik berganti menjadi irama lambat dan romantis, Alex tiba-tiba berdiri, menatap Aulia dengan sorot mata gelap yang biasa muncul saat ia menginginkan sesuatu. Ia merentangkan tangan.
“Menari denganku.”
Bukan pertanyaan, melainkan perintah. Namun nada suaranya rendah, lembut, dan magnetis.
Di tengah ruangan VIP yang kini agak sepi, Alex menarik Aulia ke tengah lantai. Tangan kekarnya melingkar erat di pinggang ramping gadis itu, sementara tangan kecil Aulia bertumpu di bahu lebar pria itu. Tubuh mereka saling menempel sempurna, bergerak mengikuti alunan musik.
Bagi Aulia, ini adalah momen paling gila sekaligus paling magis dalam hidupnya. Ia bisa merasakan detak jantung kuat Alex berirama dengan detak jantungnya sendiri. Aroma tubuh pria itu memabukkan indranya. Tatapan Alex menelusuri setiap inci wajah Aulia, dari mata, hidung, hingga bibir, seolah sedang menghafal setiap detailnya.
“Kau tahu, Sayang…” gumam Alex tepat di depan bibir Aulia, suaranya bergetar halus. “Semakin aku mengenalmu, semakin aku sadar… 1 Miliar itu bukan harga beli. Itu adalah hadiah yang aku bayar hanya untuk mendapatkan kesempatan memilikimu. Kau bukan barang dagangan, Aulia. Kau adalah ratu kecilku yang dipaksa masuk ke sarang ular… dan aku adalah satu-satunya singa yang melindungimu.”
Wajah mereka makin dekat, napas mereka saling bertautan. Aulia merasa lututnya lemas, pikirannya kacau. Benih perasaan aneh campuran takut, hormat, dan ketertarikan tumbuh makin besar di hatinya.
Namun, momen manis itu pecah seketika.
KLANG!!
Sebuah botol kaca pecah berdentum di dekat meja mereka. Dari arah tangga darurat, muncul lima pria bertato lengkap, mengenakan jaket hitam dengan lambang Harimau Emas marka khas Grup Macan Hitam, musuh bebuyutan Alex, kelompok yang dulu membuat ayah Aulia terjerat hutang.
Pemimpin mereka, Bara, pria berwajah bengis dengan bekas luka di pipi, tertawa sinis sambil memutar pisau lipat di tangannya. Musik langsung berhenti. Seluruh ruangan tegang. Brian dan pengawal Alex langsung merangsek maju, tangan mereka meraih ke pinggang belakang tempat pistol tersembunyi.
“Wah, wah… lihat siapa yang ada di sini,” seru Bara keras, suaranya bergema. “Sang Raja Kota sedang sibuk merayu gadis kecil. Katanya hebat, katanya kejam… ternyata lemah juga kalau sudah kena jebakan wanita, ya Alex?”
Alex tidak melepaskan pelukannya pada Aulia, namun aura dinginnya berubah menjadi neraka yang meledak. Senyumnya lenyap, digantikan ekspresi membunuh yang nyata. Ia mendorong Aulia perlahan ke belakang, tepat di samping Brian.
“Keluar dia dari sini. Bawa ke mobil, kunci pintunya, jangan biarkan siapa pun mendekat,” perintah Alex pada Brian dengan nada datar namun mematikan. “Dan pastikan dia tidak melihat hal yang… tidak pantas.”
“Tapi Tuan” Aulia hendak protes, takut melihat jumlah lawan yang lebih banyak.
“PERGII!!” bentak Alex tanpa menoleh, matanya terkunci tajam pada Bara dan anak buahnya.
Brian segera menarik tangan Aulia paksa menjauh. Aulia menoleh terusik, melihat Alex berdiri sendirian di tengah ruangan, melawan lima orang bersenjata tajam sendirian.
“Kau mengganggu waktuku, Bara,” ucap Alex pelan, perlahan melipat lengan kemejanya hingga terlihat otot lengannya yang padat dan penuh bekas luka pertarungan masa lalu. “Dan kau membawa ingatan buruk tentang keluarga sampah itu. Kau tahu apa akibatnya menggangguku saat sedang bahagia?”
Bara menyeringai, memberi kode. “Serang!! Habisi dia!!”
Lima pria itu menerjang serentak.
Namun, Alexandra Surya bukan sekadar bos mafia yang duduk manis di kursi empuk. Ia adalah pejuang terlatih, pembunuh ulung yang bertahan hidup dari jalanan keras.
Dengan gerakan kilat, Alex menangkis serangan pisau pertama menggunakan lengan bawahnya sendiri darah segar langsung menetes namun ia tak peduli. Ia memutar tubuh, melayangkan tendangan keras ke dada lawan kedua hingga terlempar menabrak meja. Tangan kirinya menangkap pergelangan tangan lawan ketiga, memelintirnya hingga terdengar bunyi tulang patah, lalu merebut pisau itu dan menusuknya cepat ke bahu pria itu.
Suara rintihan, bunyi tulang remuk, dan benturan benda keras menggema. Alex bergerak bagai bayangan hitam, cepat, akurat, dan mematikan. Ia tidak menyerang asal-asalan; setiap pukulan, setiap tendangan, memiliki tujuan melumpuhkan total. Bagi Alex, pertarungan ini bukan tentang kekuatan, tapi tentang dominasi.
Bara yang melihat anak buahnya jatuh satu per satu, akhirnya panik. Ia mencabut pistol dari balik punggungnya, mengarahkan tepat ke dada Alex yang sedang sibuk menangkis serangan terakhir.
“MATI KAU!!” teriak Bara histeris, jari telunjuknya mulai menekan pelatuk.
Di luar pintu, Aulia yang melihat kejadian itu dari celah kaca, menjerit histeris. “ALEX!! HATI-HATI!!”
Alex menoleh sepersekian detik. Alih-alih ketakutan, sudut bibirnya malah terangkat membentuk senyum mengerikan. Secepat kilat, ia melempar pisau yang ada di tangannya.
SWISH TANG!!
Pisau itu meleset tepat menembus pergelangan tangan Bara sebelum peluru sempat keluar, membuat pistol itu jatuh ke lantai. Dalam sekejap, Alex sudah berada tepat di depan Bara, mencengkeram leher pria itu dengan satu tangan, mengangkatnya tinggi hingga kaki Bara menggelepar di udara.
“Ka… kau… iblis…” suara Bara tersendat.
Alex menatapnya dengan mata kosong, tanpa belas kasihan sedikitpun. “Benar. Aku iblis yang kau berani ganggu. Dan sekarang… aku akan kirim kau kembali ke neraka tempat asalmu.”
KRAK!!
Suara leher patah terdengar jelas. Bara lumpuh total, jatuh tak bernyawa di lantai.
Suasana hening mutlak. Keempat anak buah yang masih sadar langsung merangkak mundur ketakutan, wajah pucat pasi melihat kekejaman murni sang Raja.
Alex melepaskan cengkeramannya, menyeka darah di pipinya dengan santai seolah baru saja menyapu debu. Ia menatap mereka satu per satu, suaranya rendah dan berat, bergema ke seluruh penjuru ruangan.
“Kembalikan pesan pada bosmu… Grup Macan Hitam sudah tamat. Mulai besok, semua wilayah, bisnis, dan aset kalian… milikku. Dan jika ada satu pun dari kalian yang masih bernapas di kota ini dalam 24 jam… kalian akan berakhir sama seperti sampah ini.”
Mereka lari terbirit-birit, meninggalkan mayat pemimpin mereka.
Alex menghela napas panjang, rasa sakit di lengannya baru terasa. Namun saat ia berbalik, tatapan dinginnya seketika melebut saat menangkap sosok kecil yang berlari mendekatinya.
Aulia langsung memeluk tubuh Alex erat-erat, air matanya tumpah membasahi dada pria itu. Ia gemetar hebat, bukan karena takut pada darah atau kematian, tapi karena takut kehilangan.
“Kenapa… kenapa kau begitu nekat?! Kau bisa mati!!” isak Aulia, memukul dada bidang Alex dengan tangannya yang kecil. “Dasar bodoh! Apa kau tidak tahu caranya menjaga diri sendiri?!”
Alex tertegun. Seluruh hidupnya, tidak ada yang pernah menangis karena takut dia mati. Tidak ada yang pernah memarahinya karena dia berbahaya. Semua orang hanya takut padanya atau menginginkan hartanya. Tapi gadis kecil ini… menangis karena peduli.
Alex perlahan mengangkat tangannya yang berdarah, mengusap kepala Aulia dengan lembut, lalu merangkulnya balik, sangat erat seolah takut gadis itu lenyap. Ia menunduk, mencium puncak kepala Aulia dalam-dalam.
“Bodohnya kamu…” bisik Alex parau, suara dalamnya penuh emosi yang selama ini dikunci rapat. “Aku ini Alexandra Surya. Aku tidak mudah mati. Tapi kalau sampai ada satu goresan kecil saja di kulitmu karena mereka… aku akan membakar seluruh kota ini sampai rata dengan tanah. Ingat itu, Aulia. Keselamatanmu… adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras.”