NovelToon NovelToon
Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Dikhianati Tunanganku, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Pernikahan Kilat / Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Puteri Bulan

Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.

"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.

Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Mansion Arkananta malam itu tampak lebih dingin dari biasanya. Cahaya lampu gantung kristal di ruang makan utama diredupkan, menyisakan pendar keemasan yang tajam di atas meja panjang dari kayu mahoni. Aeryn berdiri di depan cermin besar, merapikan gaun hitamnya yang elegan namun memberikan kesan berkabung. Tidak ada lagi cincin berlian besar, hanya sepasang anting perak kecil yang berkilau.

"Kau yakin ingin melakukan ini di sini?" suara Xavier memecah keheningan. Ia berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan jas abu-abu gelap tanpa dasi. Tangannya dimasukkan ke saku celana, matanya yang tajam menatap Aeryn melalui pantulan cermin.

"Aku butuh tempat di mana mereka merasa terancam, Xavier. Rumah mereka terlalu banyak menyimpan kenangan palsu tentang Ibu Bianca sebagai malaikat," jawab Aeryn tenang. Ia berbalik, menatap suaminya. "Apa semua sudah siap di dapur?"

"Sesuai instruksimu. Bahan-bahannya didatangkan langsung dari pasar tradisional di pedalaman Kalimantan sore tadi," Xavier melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. "Hugo juga sudah mengatur agar tidak ada gangguan dari luar. Malam ini, mereka hanya milikmu."

Aeryn mengangguk. "Terima kasih."

Tepat pukul tujuh malam, suara deru mobil terdengar di depan lobi. Baskara dan Ibu tirinya datang dengan langkah yang kaku. Baskara tampak sangat tertekan; dasinya miring dan wajahnya pucat. Sebaliknya, Ibu Bianca berusaha mempertahankan sisa-sisa martabatnya dengan mengenakan gaun sutra berwarna marun, meski Aeryn bisa melihat jemarinya bergetar saat memegang tas kecilnya.

"Selamat datang, Papa. Ibu," sapa Aeryn saat mereka memasuki ruang makan. Ia menyambut mereka dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

"Kenapa harus malam-malam begini, Aeryn?" tanya Baskara parau. "Kau bilang ada dokumen aset terakhir yang harus ditandatangani."

"Urusan bisnis bisa menunggu setelah makan malam, Pa. Mari duduk," jawab Aeryn sambil memberi isyarat ke arah kursi yang sudah disiapkan.

Xavier duduk di kepala meja, memancarkan aura dominasi yang membuat Baskara enggan menatapnya. Ibu Bianca duduk di hadapan Aeryn, matanya terus berpindah-pindah, waspada terhadap setiap bayangan di ruangan itu.

"Silakan dinikmati hidangan pembukanya," ucap Xavier dengan suara bariton yang berat.

Seorang pelayan masuk membawa piring-piring kecil berisi sup bening dengan aroma yang sangat spesifik—aroma rempah hutan dan akar-akaran yang jarang ditemukan di Jakarta. Begitu piring itu diletakkan di depan Ibu Bianca, wanita itu membeku. Wajahnya yang tadinya dipulas bedak tebal mendadak kehilangan warna.

"Sup akar kuning?" bisik Ibu Bianca, suaranya hampir tidak terdengar.

"Ibu ingat?" Aeryn menyesap air putihnya pelan. "Ibu pernah bilang padaku dulu, saat aku masih kecil, bahwa ini adalah sup tradisional dari desa asal Ibu di Kalimantan. Katanya, sup ini bisa membersihkan darah dari segala racun."

Baskara mengernyit, mencoba mencicipi sup itu. "Rasanya aneh. Pahit."

"Pahit itu bagus untuk kesehatan, Pa," timpal Xavier, matanya terus mengunci Ibu Bianca. "Bukankah begitu, Nyonya Ratna? Sebagai mantan perawat, Anda pasti tahu banyak tentang dosis dan rasa pahit."

Ibu Bianca meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras. "Aku sedang tidak nafsu makan sup. Terlalu banyak kenangan... di desa."

"Oh, benarkah? Aku pikir Ibu akan menyukainya," sahut Aeryn. "Pelayan, bawakan hidangan utamanya."

Menu utama disajikan. Seekor ikan sungai besar yang dimasak dengan bumbu kuning pekat, dikelilingi oleh sayur pakis liar. Aroma kunyit dan asam yang tajam memenuhi ruangan. Ini adalah hidangan yang persis sama dengan yang sering dimasak oleh Maryam, ibu kandung Aeryn, saat mereka masih tinggal di rumah lama sebelum semuanya hancur.

"Ini... masakan Maryam," gumam Baskara, matanya mulai berkaca-kaca saat ingatan lama menghantamnya. "Kenapa kau menyajikan ini, Aeryn?"

"Aku hanya ingin kita mengingat masa lalu, Pa. Bukankah kita keluarga yang dibangun di atas kenangan?" Aeryn menatap Ibu Bianca yang kini mulai berkeringat dingin meskipun ruangan itu ber-AC. "Ibu, kenapa tidak dimakan? Bukankah Ibu yang dulu sering membantu Ibu Maryam di dapur penjara untuk menyiapkan ini?"

Ibu Bianca meremas serbet di pangkuannya. "Aku... aku lupa. Itu sudah terlalu lama."

"Lucu sekali," Xavier menyela, suaranya terdengar seperti predator yang sedang mempermainkan mangsanya. "Istriku menemukan catatan lama bahwa Anda adalah perawat yang sangat teliti. Seorang perawat tidak akan pernah lupa pada apa yang dia berikan kepada pasiennya. Baik itu makanan... atau obat-obatan."

"Apa maksudmu, Xavier?" tanya Baskara, mulai merasa ada yang tidak beres di meja makan itu.

"Tanya pada istrimu, Pa," desis Aeryn. "Tanya padanya kenapa dia menyimpan botol kecil bertuliskan Metilsulfat di laci mejanya selama dua puluh tahun. Apa itu semacam kenang-kenangan kemenangan?"

Ibu Bianca tiba-tiba berdiri, kursinya terdorong ke belakang dengan suara derit yang memekakkan telinga. "Cukup! Aku tidak datang ke sini untuk dihina oleh anak kecil!"

"Duduk kembali, Nyonya," perintah Xavier. Suaranya tidak keras, namun mengandung ancaman yang membuat kaki Ibu Bianca lemas. "Perjamuan ini belum selesai."

Ibu Bianca kembali duduk dengan tubuh gemetar. Paranoianya mulai memuncak. Setiap suara langkah pelayan di belakangnya membuatnya tersentak. Ia mulai melihat bayangan Maryam di setiap sudut ruangan yang remang-remang.

"Kenapa kau begitu takut, Bu?" tanya Aeryn dengan nada bicara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan. "Apa kau merasa Ibu Maryam ada di sini? Apa kau merasa dia sedang berdiri di belakangmu, menunggu gilirannya untuk menyuapimu?"

"Diam! Diam kau, Aeryn!" teriak Ibu Bianca. Matanya melotot, menatap kosong ke arah pintu dapur. "Dia sudah mati! Dia sudah tidak ada!"

Baskara menatap istrinya dengan ngeri. "Ratna? Ada apa denganmu?"

Aeryn memberi isyarat kepada pelayan terakhir. "Ini hidangan penutup yang paling istimewa. Sebuah persembahan dari hati ke hati."

Pelayan itu membawa sebuah nampan perak yang tertutup tudung saji. Ia berjalan perlahan, sengaja membuat suara langkah sepatunya bergema di lantai marmer. Nampan itu diletakkan tepat di depan Ibu Bianca.

"Buka, Bu. Ini adalah penutup dari segala sandiwara kita," ucap Aeryn.

Tangan Ibu Bianca bergetar hebat saat ia meraih pegangan tudung saji itu. Ia menoleh ke arah Baskara, memohon bantuan, namun Baskara hanya diam dengan wajah penuh kebingungan dan kecurigaan yang mulai tumbuh. Dengan satu sentakan, Ibu Bianca membuka tudung saji itu.

Ibu Bianca membelalakkan matanya. Di atas piring porselen putih yang mahal itu, tidak ada kue atau buah-buahan. Yang ada hanyalah sebuah kalung perak dengan liontin lili putih yang bersih—replika sempurna dari kalung kesayangan Maryam yang pernah hilang. Kalung itu tampak bersinar di bawah lampu kristal, seolah-olah baru saja diambil dari leher pemilik aslinya.

"TIDAK! TIDAK MUNGKIN!"

Ibu Bianca berteriak histeris, suaranya melengking memenuhi ruang makan hingga memecahkan keheningan malam. Ia memundurkan kursinya hingga terjatuh, tangannya menunjuk-nunjuk piring itu dengan wajah yang dipenuhi kengerian murni.

"AMBIL ITU! JAUHKAN DIA DARIKU!" pekiknya lagi, ia jatuh terduduk di lantai sambil menutup wajahnya, terisak dalam kegilaan paranoia yang meledak.

Aeryn tetap duduk diam di kursinya, menatap ibu tirinya yang hancur dengan pandangan dingin. Di sampingnya, Xavier menyesap wiskinya dengan tenang, matanya berkilat puas menyaksikan mangsa mereka akhirnya mengaku tanpa perlu satu pun tamparan.

"Selamat malam, Ratna Galih," bisik Aeryn pelan, nyaris tak terdengar di tengah jeritan histeris ibu tirinya. "Ini baru permulaan dari mimpi burukmu."

1
Maria Mariati
lahhhhhh
Red Blossom
Xavier jangan kenapa2 ya thor
rasyaaa
lama2 jadi bosa sama alur ceritanya
Devie~S
bikin ketagihan bacanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!