Hujan di Jakarta Selatan tidak pernah sekadar air; ia adalah tirai yang menyamarkan dosa-dosa kota ini. Bagi Ustadz Aris, hujan sore itu adalah ujian kesabaran ketiga kalinya hari ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesa Cristian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: KOPI PAHIT DI WARUNG BU JUM
Pagi itu, Jakarta tidak bersahabat. Langit masih abu-abu, tapi panasnya sudah menyengat kulit seperti setrikaan. Di gang sempit Tebet, udara tidak lagi berbau hujan semalam, melainkan berbau gosong: bau kopi yang dibakar, bau sampah yang menumpuk, dan yang paling menyakitkan—bau fitnah yang menyebar lebih cepat daripada api.
Aris duduk di bangku plastik retak di depan Warung Bu Jum. Di hadapannya, secangkir kopi hitam pekat mengepul, tapi ia belum menyentuhnya. Tangannya gemetar halus. Bukan karena kafein, tapi karena adreanalin sisa malam tadi yang belum surut.
Di seberangnya, Rina duduk meringkuk. Wajahnya bengkak, matanya sembap. Ia memakai jaket kebesaran milik Aris yang menutupi seluruh tubuhnya. Gadis itu tidak berani menatap siapa pun. Setiap kali ada motor lewat atau tetangga melirik, bahunya langsung tersentak ketakutan.
"Minum, Nduk," suara Bu Jum, pemilik warung, terdengar kasar tapi matanya basah. Wanita paruh baya itu meletakkan piring berisi roti sobek di depan Rina. "Jangan cuma nangis. Perutmu kosong, nanti kamu pingsan sebelum urusan selesai."
Rina menggeleng pelan. "Mual, Bu..."
"Mual itu biasa. Hati yang luka memang bikin perut mual," gumam Bu Jum sambil mengusap punggung Rina kasar-kasar. "Tapi kamu harus kuat. Kalau kamu lemes, mereka bakal bilang kamu lemah, bilang kamu bohong."
Suasana di warung itu tegang. Beberapa warga yang biasanya nongkrong pagi-pagi untuk menggosip, hari ini memilih menjauh. Mereka duduk di ujung-ujung gang, berbisik-bisik sambil melirik Aris dan Rina dengan tatapan sinis. Ada yang geleng-geleng kepala, ada yang merekam diam-diam dari balik tembok.
"Tuh, lihat," bisik seorang bapak-bapak bersarung pada temannya, suaranya cukup keras untuk didengar Aris. "Si Ustadz sok suci. Bawa anak hilang ke tempat umum. Malu-maluin kampung aja. Nanti kalau Pak Hendra tahu, kita semua kena imbasnya. Pengajian mingguan bisa batal, sumbangan sunatan gratis bisa berhenti."
"Dasar orang miskin cari perhatian," sahut temannya, menyeruput kopi. "Kalau betul diperkosa, kenapa nggak lapor kemarin malam? Kenapa harus ribut-ribut dulu? Pasti mau duit."
Darah Aris mendidih. Ia ingin berdiri, ingin berteriak, ingin menampar mulut-mulut kotor itu. Tapi ia menahan diri. Ia teringat pesan ayahnya dulu: "Marah itu mudah, Nak. Tapi menahan marah demi kebenaran, itu baru jihad."
Aris menarik napas dalam-dalam, menelan rasa pahit yang lebih getir dari kopinya. Ia menoleh pada Rina. "Nak, kita harus jalan sekarang. Polsek tinggal dua blok dari sini."
Rina menggigit bibirnya hingga berdarah. "Ustadz... takut. Kalau polisi juga sama kayak Ibu? Kalau mereka bilang saya yang salah? Kalau mereka suruh saya damai saja?"
Pertanyaan itu menusuk hati Aris. Itu adalah ketakutan terbesar rakyat kecil di negeri ini: Ketakutan bahwa hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah. Bahwa keadilan hanya mitos bagi mereka yang tidak punya uang pelicin.
Aris meraih tangan Rina. Tangan gadis itu dingin seperti es.
"Dengar saya, Rina," kata Aris, menatap lurus ke mata gadis itu dengan ketegasan yang jarang ia tunjukkan. "Di dunia ini, mungkin banyak orang yang bisa dibeli. Polisi bisa dibeli, pejabat bisa dibeli, bahkan ibu kandung pun bisa buta karena uang. Tapi ada satu Hakim yang tidak bisa disuap seharga bumi dan langit. Dan saya bersumpah, selama napas masih ada, saya tidak akan membiarkan Anda sendirian menghadap mereka."
Bu Jum tiba-tiba berdiri, melepas celemek kotornya. "Saya ikut," katanya singkat.
Aris terkejut. "Bu Jum? Warungnya..."
"Biarin tutup sehari. Dagangan nggak akan lari, tapi nyawa manusia kalau hancur nggak bisa ditambal," potong Bu Jum tegas. Ia melirik ke arah warga yang masih berbisik. "Lagian, saya muak lihat muka-muka munafik itu. Biarkan mereka tahu bahwa di gang ini, masih ada satu-dua orang yang punya tulang belakang!"
Beberapa warga yang mendengar sontak terdiam. Tatapan sinis mereka goyah.
Tiba-tiba, sebuah mobil Alphard hitam mengkilap membelah kemacetan gang sempit itu. Mobil itu berhenti tepat di depan warung, menghalangi jalan. Kaca jendela turun perlahan.
Wajah Pak Hendra muncul. Ia tersenyum tipis, senyum yang sudah diatur sedemikian rupa agar terlihat ramah namun mengintimidasi. Di sampingnya, duduk seorang pria berseragam rapi—seorang Kapolsek setempat.
"Waduh, waduh," suara Pak Hendra keluar dari mobil, lembut tapi berbisa. "Pagi-pagi sudah ramai saja. Ada apa ini, Ustadz? Kok membawa anak gadis orang ke tempat umum begini? Kasihan, nanti dia trauma."
Warga yang tadinya menjauh, kini mendekat seperti lalat melihat gula. Mereka mengerumuni mobil, mendengarkan setiap kata Pak Hendra seolah itu wahyu.
"Ini fitnah besar, Ustadz," lanjut Hendra, pura-pura sedih. "Kemarin malam anak ini datang ke rumah saya, minta bantuan uang karena ibunya sakit. Saya kasih. Eh, ternyata pagi-pagi dia malah buat cerita bohong begini. Saya sampai nggak tega melaporkan dia ke polisi. Kasihan masa depannya."
Polisi di sampingnya mengangguk serius. "Betul. Kami sudah dapat laporan. Kalau memang ada tuduhan palsu dan pencemaran nama baik, kami wajib proses. Bisa masuk penjara, lho, Nak," ancam polisi itu pada Rina.
Rina menjerit kecil, tubuhnya gemetar hebat hingga hampir jatuh dari kursi. "Tidak... bukan begitu... Ustadz..."
Aris berdiri perlahan. Kakinya terasa berat seperti diikat beton, tapi ia memaksakan diri melangkah mendekati mobil mewah itu. Kontras sekali: Gamus lusuh vs Mobil Mewah. Suara rakyat kecil vs Kuasa Uang.
"Pak Kapolsek," sapa Aris tenang, meski jantungnya berpacu kencang. "Sebelum Bapak memvonis, apakah Bapak sudah memeriksa visum et repertum dari dokter yang memeriksa korban semalam? Apakah Bapak sudah mendengar kesaksiannya tanpa tekanan?"
Polisi itu tertegun sejenak, lalu cemberut. "Kami sedang menyelidiki, Ustadz. Jangan sok tahu hukum. Ini ranah kami."
"Hukum bukan hanya pasal di buku, Pak," balas Aris, suaranya mulai naik, membuat warga terdiam. "Hukum adalah rasa keadilan. Jika Bapak membiarkan serigala berbulu domba ini lolos hanya karena dia kaya, maka badge di dada Bapak bukan lambang pengayom masyarakat, tapi lambang penjaga kepentingan elit!"
Hendra tertawa renyah, seolah Aris baru saja melawak. "Wah, gila nih ustadz. Sok heroik. Tahu nggak, Ustadz? Hidup itu butuh makan. Kamu pikir idealisme bisa bayar listrik mushollamu? Bisa bayar sekolah anak-anak kampung ini?"
Hendra merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna cokelat. Ia menyodorkannya lewat jendela mobil, tepat ke arah Aris.
"Ini," kata Hendra santai. "Ambil. Buat perbaiki atap musholla. Buat biaya pengobatan anak ini kalau dia memang sakit jiwa. Anggap saja sedekah dari saya. Lupakan masalah ini. Kita damai. Anak ini saya sekolahkan lagi, ibunya saya beri modal usaha. Semua senang. Kenapa harus ribut?"
Amplop itu tergantung di udara. Tebal. Menggiurkan. Bagi Aris, itu setara dengan gaji setahunnya. Bagi Rina, itu adalah harga dirinya yang sedang ditawar.
Warga menahan napas. Semua mata tertuju pada tangan Aris. Akankah ia mengambilnya? Akankah ia menyerah pada realitas pahit bahwa uang selalu menang?
Aris menatap amplop itu lama. Lalu, ia menatap wajah Rina yang penuh harap dan ketakutan. Ia teringat khutbahnya semalam. "Atap yang bocor biarlah hujan yang membasuh."
Perlahan, Aris mengulurkan tangannya. Bukan untuk mengambil amplop.
TAMPAR!
Tangan Aris menepis amplop itu hingga terbang jatuh ke genangan air kotor di selokan. Kertas-kertas uang berhamburan, basah, dan lumpur.
Hening.
Satu gang ternganga. Pak Hendra terbelalak, senyumnya lenyap digantikan oleh kemarahan yang dingin. Polisi di sampingnya siap turun dari mobil.
"Sedekah Anda haram, Pak," ucap Aris lantang, suaranya bergetar menahan emosi yang memuncak. "Karena ia berasal dari air mata anak yatim yang Anda sakiti. Uang Anda mungkin bisa membeli dunia, tapi tidak bisa membeli diamnya hati nurani saya. Dan tidak bisa membeli keadilan Tuhan!"
Aris berbalik, menggandeng tangan Rina erat-erat. "Bu Jum, ayo. Kita jalan kaki ke polsek. Biar seluruh kampung lihat, bagaimana caranya orang benar menghadapi kebatilan."
Mereka bertiga berjalan meninggalkan mobil mewah itu, menembus kerumunan warga yang membelah jalan dengan wajah malu dan takjub. Di belakang mereka, amplop cokelat tergeletak di selokan, simbol kekalahan uang di hadapan harga diri.
Tapi Aris tahu, ini belum usai. Saat mereka berbelok di ujung gang, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal:
"Kamu sudah menandatangani kematianmu sendiri, Ustadz. Hati-hati di jalan. Kecelakaan bisa terjadi kapan saja."
Aris menghentikan langkah sejenak. Ia menatap langit Jakarta yang semakin mendung. Badai sebenarnya baru saja dimulai. Dan kali ini, musuhnya bukan hanya manusia, tapi sistem yang busuk hingga ke akar-akarnya.
"Ya Allah," bisik Aris dalam hati, sementara tangannya semakin erat menggenggam tangan Rina yang dingin. "Jika jalan-Mu sebegini terjal, kuatkanlah kaki hamba. Karena jika hamba jatuh, siapa yang akan membela mereka yang tak bersuara?"
Langit menjawab dengan guntur yang menggelegar, seolah bersiap untuk perang yang jauh lebih besar daripada sekadar kasus asusila biasa.
Bersambung...