NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18

Sekembalinya dari rumah sakit, Adelard tidak lagi kembali ke paviliun dengan bahu yang merosot. Ia melangkah melewati gerbang utama Mansion Mahendra dengan kepala tegak dan tatapan mata sedalam palung laut. Tidak ada lagi harapan akan kasih sayang di matanya; yang tersisa hanyalah kalkulasi matematis tentang bagaimana meruntuhkan tembok-tembok yang mengurungnya.

Di ruang makan, suasana terasa canggung. Nyonya Siska mencoba memulai pembicaraan beberapa kali, namun Adel hanya menjawab dengan satu atau dua kata yang sangat formal. Clarissa, yang merasa posisinya kembali aman setelah drama "sakit jantung" palsunya, terus mencoba memprovokasi.

"Adel, kudengar kau sudah mulai sembuh," ucap Clarissa sambil memotong pancake-nya dengan gaya berlebihan. "Sayang sekali kau melewatkan pesta teh di rumah Nyonya Wijaya kemarin. Ibu memperkenalkanku pada banyak anak pejabat. Kau tahu sendiri kan, status 'anak angkat' sepertimu mungkin akan sulit diterima di lingkaran itu."

Adel meletakkan garpunya tanpa suara. Ia menatap Clarissa dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Lingkaran sosial adalah tentang siapa yang paling berguna, Clarissa, bukan siapa yang paling banyak bicara. Nikmatilah pesta tehmu selagi kau bisa."

Tuan Mahendra berdehem, memecah ketegangan. "Adel, mengenai analisis yang kau tunjukkan di rumah sakit... kau benar tentang proyek Jakarta Utara. Tim audit menemukan kebocoran dana itu. Aku terkesan kau bisa melihatnya hanya dari laporan kasar."

"Itu baru permulaan, Ayah," jawab Adel tenang. "Jika Ayah mengizinkan, aku ingin membantu merapikan laporan keuangan untuk kuartal ini. Aku memperhatikan ada beberapa anomali di akun pengeluaran yayasan."

Wajah Clarissa mendadak pucat. Ia tersedak jus jeruknya. "Urusan yayasan? Itu kan sudah dipegang oleh Paman Broto, Ayah! Adel tidak perlu ikut campur urusan orang dewasa."

"Broto adalah pamanmu, Clarissa, bukan paman Adel," sahut Tuan Mahendra dengan nada tegas yang jarang ditunjukkannya pada Clarissa. "Dan jika ada kebocoran, siapa pun pelakunya harus bertanggung jawab. Adel, kau punya izinku. Gunakan ruang kerja kecil di lantai dua."

---

Hari-hari berikutnya, Adel menjelma menjadi bayangan yang efisien. Ia tidak lagi peduli dengan sindiran Nyonya Siska atau ejekan Clarissa di sekolah. Pukul dua siang, ia pulang, melakukan latihan etiket dengan Madam Rose tanpa satu pun kesalahan—bukan karena ia ingin dipuji, tapi karena ia ingin Madam Rose segera pergi agar ia bisa bekerja.

Di ruang kerja kecilnya, Adel membedah data yang diberikan Pak Hardi. Ia menemukan bukti yang lebih kuat: Paman Broto, adik kandung Nyonya Siska, telah menggelapkan dana yayasan sebesar dua puluh miliar rupiah selama tiga tahun terakhir. Dan yang lebih mengejutkan, sebagian besar uang itu dialirkan untuk menutupi gaya hidup Clarissa yang boros—pembelian perhiasan ilegal, pesta-pesta rahasia, hingga penyuapan guru.

Adel tidak langsung melaporkannya. Ia menunggu momen yang tepat.

Suatu sore, Tuan Mahendra pulang dengan wajah kuyu. Proyek pembangunan menara Mahendra di pusat kota terancam berhenti karena sengketa lahan yang tiba-tiba muncul.

"Mereka meminta kompensasi lima kali lipat dari harga pasar," keluh Tuan Mahendra di ruang keluarga. "Jika kita tidak bayar, proyek itu mangkrak. Jika kita bayar, aliran kas kita akan terganggu."

Clarissa mencoba menghibur. "Ayah, pakai saja dana cadangan. Kita kan keluarga terkaya."

"Kau tidak mengerti urusan bisnis, Clarissa! Diamlah!" bentak Tuan Mahendra, membuat Clarissa tersentak kaget.

Adel muncul dari balik pilar, membawa satu map biru. "Ayah, boleh saya bicara sebentar?"

"Tidak sekarang, Adel. Aku sedang pusing," tolak Tuan Mahendra.

"Ini tentang sengketa lahan itu," Adel meletakkan map tersebut di meja. "Saya melakukan riset kecil. Lahan yang diklaim oleh warga itu sebenarnya sudah dibebaskan oleh pemerintah sepuluh tahun lalu sebagai jalur hijau. Klaim mereka tidak sah secara hukum agraria. Mereka hanya menggunakan dokumen palsu yang dikoordinasi oleh firma hukum lawan."

Tuan Mahendra mengerutkan kening. Ia membuka map itu dan membacanya dengan teliti. Matanya membelalak. "Dari mana kau mendapatkan sertifikat induk ini?"

"Saya menghubungi teman lama di panti asuhan yang sekarang bekerja sebagai staf magang di Badan Pertanahan," bohong Adel. Sebenarnya, Devan-lah yang memberikan akses database itu padanya. "Ayah tidak perlu membayar satu rupiah pun. Cukup kirimkan somasi dengan bukti ini, dan mereka akan mundur."

Tuan Mahendra berdiri, menatap Adel seolah melihat penyelamat. "Kau... kau baru saja menyelamatkan ribuan miliar rupiah, Adel."

Nyonya Siska yang menonton dari kejauhan merasa tidak nyaman. Ia melihat suaminya mulai memandang Adel dengan rasa hormat yang tidak pernah diberikan pada Clarissa. Siska segera mendekat dan merangkul Tuan Mahendra.

"Hendra, jangan terlalu memuji dia. Mungkin itu hanya kebetulan. Clarissa juga tadi ingin membantumu, kan Sayang?" Siska melirik Clarissa yang hanya bisa mengangguk bodoh.

Tuan Mahendra tidak membalas ucapan istrinya. Ia menatap Adel. "Apa yang kau inginkan sebagai imbalan, Adel? Perhiasan? Mobil baru?"

Adel tersenyum tipis—senyum yang membuat bulu kuduk Nyonya Siska meremang. "Saya tidak butuh perhiasan, Ayah. Saya hanya ingin satu posisi resmi di departemen analisis risiko perusahaan sebagai 'magang khusus'. Saya ingin belajar bagaimana cara melindungi harta keluarga Mahendra dari... pencuri internal."

Tuan Mahendra mengangguk mantap. "Setuju. Mulai besok, kau punya akses penuh."

---

Malam harinya, di bawah lampu remang-remang paviliun, Devan muncul lagi melalui jendela. Kali ini ia tidak membawa roti, tapi sebotol sampanye mahal yang ia curi dari gudang ayahnya.

"Selamat atas posisi barumu, Nona Analis," ucap Devan sambil menuangkan minuman ke gelas plastik milik Adel.

"Ini baru langkah pertama, Devan," Adel menyesap minumannya. "Tuan Mahendra mulai melihatku sebagai aset. Dan Nyonya Siska mulai melihatku sebagai ancaman nyata."

"Kau tahu apa yang akan dilakukan orang yang merasa terancam?" Devan duduk di lantai, bersandar pada kaki tempat tidur Adel. "Mereka akan menyerang balik dengan cara yang paling kotor. Siska dan Clarissa sedang merencanakan sesuatu untuk menjatuhkanmu di depan dewan direksi minggu depan. Mereka akan menuduhmu membocorkan rahasia perusahaan pada kompetitor."

Adel tertawa kecil, suara yang terdengar sangat dingin. "Aku sudah menunggu itu. Aku sengaja membiarkan satu dokumen 'palsu' tentang strategi tender minggu depan tergeletak di mejaku. Aku yakin Clarissa sudah memotretnya dan mengirimkannya pada seseorang."

Devan mendongak, menatap Adel dengan kekaguman yang tak tertutupi. "Kau memasang jebakan untuk mereka?"

"Ya. Siapa pun yang menggunakan data itu dalam rapat nanti, dialah pengkhianat yang sebenarnya. Dan aku akan memastikan Ayah ada di sana untuk melihatnya sendiri."

Adel menunduk, menatap Devan yang sedang menatapnya. Jarak mereka sangat dekat. Untuk sejenak, atmosfer dingin di antara mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih hangat dan berbahaya.

"Kenapa kau membantuku sampai sejauh ini, Devan?" tanya Adel pelan. "Kau bisa saja diam dan menjadi menantu Mahendra yang kaya raya dengan Clarissa."

Devan menarik tangan Adel, mencium telapak tangannya yang kini tidak lagi kasar karena kerja paksa, melainkan halus namun kuat. "Karena aku ingin melihat ratu yang asli duduk di takhtanya. Dan aku ingin menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sampingmu saat kau meratakan mansion ini dengan tanah."

"Kau sangat berbahaya, Devan Dirgantara," bisik Adel.

"Dan kau adalah satu-satunya orang yang bisa menjinakkan bahaya itu, Adel Mahendra."

Malam itu, Adel tidak lagi merasa sendirian. Ia punya senjata, ia punya informasi, dan ia punya sekutu yang paling mematikan. Balas dendamnya bukan lagi tentang amarah yang meledak-ledak, melainkan sebuah simfoni yang disusun dengan sangat teliti. Di sisi lain mansion, Clarissa sedang tertawa bersama ibunya, tidak menyadari bahwa setiap langkah yang mereka ambil sebenarnya adalah langkah menuju lubang yang telah digali Adel dengan sangat dalam.

"Tidurlah yang nyenyak, Clarissa," gumam Adel saat melihat lampu kamar utama padam. "Karena saat kau bangun nanti, duniamu tidak akan pernah sama lagi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!