NovelToon NovelToon
A Stepbrother'S Obsession

A Stepbrother'S Obsession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikahmuda / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ika Dw

Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Menjadi Pasanganku

"Nina, kamu jangan diam aja! Kalau kamu diam kamu bakalan ditindas. Untungnya ada aku, kalau kamu sendirian, kamu bakalan dicelakai!"

Sania cukup geram dengan sikap sahabatnya yang terlalu cuek dan pendiam. Nina sering ditindas, dia lebih suka mengalah tak suka dengan keributan, tapi dibalik sikap mengalahnya banyak orang yang tega memanfaatkannya.

"Dia nggak bakalan berani mencelakaiku," bantahnya santai.

"Nggak berani apanya! Jelas-jelas dia ngatain kamu kampungan dan kamu cuma diem aja. Dia udah rebut cowok kamu, dia juga menghinamu! Kok masih juga sesantai ini sih? Heran aku! Kalau aku jadi kamu sudah hancur itu mukanya!"

"Sudahlah Sania, nggak usah diambil hati atas ucapannya, terkecuali kalau dia berani main tangan."

Nina diam-diam masih ingin menyelidiki siapa sosok wanita itu. Mungkinkah dia pendatang baru atau keluarga dari salah satu dekan? Apapun alasannya ia tak ingin melepaskannya begitu saja. Diam baginya bukan tak berani melawan. Ia ingin tahu sebesar apa nyalinya yang selalu ingin mengusik ketenangannya.

"Kalau sampai berani main tangan ya beda lagi urusannya," bantah Sania. "Tapi kalau didiemin semakin ngelunjak aja itu orang!"

"Dia tidak akan berani menjatuhkan kita. Memangnya dia siapa di sini? Dia hanyalah pendatang, sedangkan aku ~~

Dengan cepat Sania menjawab. "Kita juga pendatang Nina. Kampus ini bukan milik nenek moyang kita."

Nina mengulas senyuman simpul. "Kamu salah, ini kampus didirikan oleh kakek Arga. Kakekku pernah bilang kampus ini sengaja didirikan untuk pendidikan anak cucunya. Papa juga bilang aku bisa melakukan apa saja di sini, termasuk mengeluarkan mahasiswa yang bandel."

Sania melebarkan matanya. "Apa katamu? Kampus ini milik kakekmu? Kamu tidak sedang membohongiku kan Nin?"

Sejauh ini Sania tidak pernah mengetahui kampus tempatnya menimba ilmu ternyata milik keluarga Sahabatnya. Jika saja Nina bungkam mungkin selamanya ia terlahir dalam kebodohan.

"Memangnya aku terlihat tengah membohongimu? Kalau kamu nggak percaya kamu bisa tanya langsung sama papaku. Meskipun statusku hanyalah anak sambung tapi beliau memberiku sebuah kehidupan. Apapun yang dimilikinya tentu aku memiliki hak untuk mendapatkannya. Kasih sayangnya begitu tulus, bahkan tidak sepadan jika dibandingkan dengan orang tua kandungku sendiri."

Sania menjitaknya gemas. "Tak kusangka diam-diam ternyata kau anaknya milyarder. Aku pikir Om Hermawan hanya mengurus perusahaan saja, ternyata kampus ini juga aset keluarganya?" Sania bertepuk tangan. "Wah... Kau benar-benar beruntung Nina. Kalau aku jadi kamu, aku bakalan memanfaatkan kesempatan emas ini. Kalau kamu mau, kamu bisa membalas wanita itu dengan mudah. Bukankah kau diberi kebebasan oleh papamu?"

Nina berdecak. "Ck, apa karena diberi kebebasan aku harus bertindak konyol?" Nina tidak ingin membuat ayah sambungannya kecewa karena tindakannya yang ceroboh. Ia cukup tahu diri, dulu ia hanyalah anak wanita miskin yang ditelantarkan. Andai saja dulu ibunya tak pernah bertemu dengan Hermawan, mungkin sampai detik ini ia masih tinggal di bantaran sungai bersama tumpukan sampah, sedangkan ayah kandungnya tak sekalipun pernah datang untuk menemuinya.

"Sania, aku tidak ingin memanfaatkan kebaikan Papa. Papa sudah memanjakanku layaknya tuan putri. Keluarganya bahkan begitu respek padaku. Aku tidak ingin membuatnya kecewa dengan ulahku."

Mengingat kejadian yang dialaminya bersama kakak tirinya membuatnya semakin bersalah. Jika saja Ayah sambungannya tahu tentang itu mungkin dia akan sangat kecewa. Namun apa bisa dikata, nasi sudah menjadi bubur. Kejadian itu tak bisa mengembalikan kehormatannya.

"Salut aku sama kamu. Dibuang seperti sampah dipungut dan dijadikan berlian. Kamu harus memanfaatkan papamu dengan baik nin, jangan sampai membuatnya kecewa. Ingat, kebaikan seseorang itu akan sirna jika rasa kecewa yang didapatnya. Jarang ada orang tua sambung yang begitu peduli terhadap anak tirinya. Semoga Om Hermawan tidak pernah berubah, tetap seperti yang aku lihat."

***

Tepat pukul dua belas siang, sebuah mobil Lamborghini bertengger manis di depan gerbang kampus, siapa lagi kalau bukan Rendra yang berniat untuk menjemputnya. Pria itu dengan percaya dirinya keluar dari mobil dan membuat seisi kampus dibuat gaduh oleh jeritan kaum hawa. Banyak dari mahasiswi yang melemparkan sanjungan memuji ketampanannya.

Nina yang tengah berjalan keluar  mendengus mendapatinya tengah mencari perhatian pada setiap wanita. Dia langsung berjalan cepat menghampirinya.

"Kakak! Ngapain kamu ke sini? Aku kan sudah pulang mau pulang sendiri, nggak perlu dijemput. Lagi pula jam segini kan kamu masih harus kerja!" Tak berhenti Nina mengomelinya.

Pria itu membungkam mulutnya dengan gemas. "Berisik banget jadi cewek! Ayo cepat masuk!"

Tatapan dingin Rendra membuat nyalinya menciut. Dia pun memutuskan untuk masuk dan duduk di samping kemudi.

Rendra menutup pintunya, dan memasangkan sabuk pengaman untuknya.

"Sebelum pulang temani aku dulu belanja."

Nina membelalak. "Hah?"

"Nanti malam aku dapat undangan dari rekan bisnis Papa. Nanti kamu ikut ya? Jadi pasanganku!"

Bola mata Nina membulat terkejut. "What! Jadi pasanganmu?"

"Iya, memangnya kenapa? Ada yang salah?"

Tubuh Nina membeku kala pria itu mencondongkan kepalanya nyaris tak berjarak.

"Ini nggak benar kak, kenapa harus aku yang menjadi pasanganmu?"

"Terus aku harus berpasangan sama siapa? Sama Mama, atau bi Siti?"

Nina begitu gugup memberinya jawaban. "Ya e—enggak gitu juga. Aku hanya khawatir akan dipermalukan di sana. Aku nggak ngerti soal bisnis."

"Nggak masalah ngerti kalau  nggak ngerti soal bisnis, asalkan ngerti bagaimana caranya nyenengin suami."

Bluss, wajah Nina memerah bak kepiting rebus. Ucapan Rendra berhasil membuatnya salah tingkah.

"Kamu nggak perlu mikirin bisnis, tugas kamu cukup nyenengin suamimu di tempat tidur."

Tubuh Nina membeku sedingin es. Perlakuan Rendra sangatlah berlebihan, dan itu membuatnya terbawa oleh perasaan.

"Suami? Maksud kakak apa? Aku kan belum menikah?"

"Jangan pura-pura bodoh  kamu cantik," ucapnya serak dengan jarinya mengusap bibir ranum gadis itu. "Hubungan kita lebih dari sekedar saudara. Sejak malam itu aku sudah menjadikanmu istriku, jadi jangan berpikir kalau hubungan kita ini hanya sebatas saudara."

"Tap—tapi?"

"Aku tidak suka penolakan!"

Nafas Nina tertahan saat wajah pria itu semakin mendekat dan nyaris menyisakan jarak. Satu gerakan membuatnya terbungkam, bibir mereka pun menyatu.

***

Tiba di sebuah mall, mereka memutuskan untuk belanja, tentunya Nina yang diminta untuk memilihkan pakaian buat Rendra. Pria itu memang sengaja ingin mengerjainya.

"Ayo pilihlah pakaian yang cocok untukku!"

"Kenapa harus aku? Selera kita tentu berbeda," bantahnya dengan muka ditekuk. Nina masih tidak fokus diajak belanja, ia terngiang-ngiang oleh kejadian di dalam mobil saat pulang dari kampus, ya..., Rendra mengambil kesempatan untuk menciumnya.

"Oh ayolah..., nggak usah bawel. Kurasa selera kita itu sama."

Nina menarik nafas dan memutuskan untuk mengalah, tak ingin berdebat di tempat umum.

"Kurasa kemeja ini cukup bagus."

Nina mengambil kemeja berwarna denim, kelihatan begitu elegan cocok dengan warna kulit kakak tirinya.

"Ambil. Sekarang carikan celana dan juga dalemannya sekalian."

Refleks bola matanya melotot dengan mulut terbuka. "Apa?"

Satu alis Rendra terangkat. "Kenapa? Ada yang salah?"

"Tapi kan aku nggak tahu ukuran punyamu!"

Pria itu  terkekeh. "Nggak usah sok polos! Bukankah  kamu sudah tahu punyaku! Bahkan sudah memegangnya!"

Serr,, aliran darah Nina seketika menghangat menjalar ke sekujur tubuhnya. Ia benar-benar dibuat gila oleh kakak tirinya.

Tak banyak bicara, Nina langsung memilihkan celana plus pakaian dalam lengkap secara asal, setelah itu menyerahkan pada Rendra untuk dibawanya ke kasir.

"Ini sudah aku pilihkan sesuai dengan permintaanmu, sekarang kamu bawa ke kasir. Aku akan tunggu di ruang tunggu!"

"Tapi kamu belum membeli apapun yang?!"

Bola  mata Nina seakan-akan hendak loncat, terkejut. 'apa dia bilang barusan? Dia memanggilku yang?"' Nina menggigit  bibirnya. 'astaga! Aku nggak tau jalan pikirannya, tapi ini nggak bener. Bagaimana kalau sampai Mama sama Papa tahu, ini akan memicu masalah besar. Tidak,'  gumamnya dengan menggeleng. 'aku tidak boleh terlalu dekat dengannya.'

Mendapatinya terdiam, Rendra pun menegurnya. "Kenapa bengong gitu! Ayo kita cari gaun buat kamu. Aku ingin kamu tampil cantik di pesta. Masa iya aku yang ganteng berpasangan dengan cewek yang awut-awutan."

"Kak..., aku~~

Rendra tahu apa yang tengah dipikirkan oleh adik tirinya langsung memberikan sebuah peringatan. "Kenapa? Ingin menolak?"

Gadis itu diam dengan meremas jemarinya, terlihat begitu gelisah.

"Kalau sikapmu dingin sama aku, aku bakalan bongkar rahasia kita. Aku nggak peduli kalaupun Papa sama Mama marah."

Refleks Nina mendongak dengan bibirnya bergetar ketakutan. "Kakak, kenapa kamu bicara seperti itu?"

"Kenapa? Apa kamu pikir aku takut kalaupun rahasia itu diketahui oleh orang tua? Justru aku sangat berharap mereka segera tahu."

Nina memalingkan wajahnya, gelisah.

"Sekarang terserah kamu, patuh sama aku atau rahasia itu bakalan terbongkar." 

1
Kadek Suarmi
kok tidak ada kelanjutannya?
Ermakusmini
nggak menarik
Ika Dw: nggak usah dibaca, out aja
total 1 replies
Ermakusmini
kok cuma 1 bab
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!