Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
Reza masuk ke ruangan Fahri setelah berpapasan dengan Bella di luar barusan, keningnya mengernyit, ada tanda tanya besar di benaknya usai menyaksikan wajah Bella yang tadi nampak sembab seperti habis menangis.
Ingin bertanya tapi keadaan Fahri pun nampak kacau untuk saat ini, matanya memerah, pandangannya liar seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Dalam waktu satu jam, cari tau apa yang terjadi pada Bella selama beberapa bulan ini, jika tidak ada informasi, besok tidak usah datang lagi!" perintah Fahri sambil berjalan ke arah meja kerja.
Mendengar itu, Reza tertegun seraya menelan ludah dengan kasar. Dia merasa tersudut mendengar ancaman Fahri. Apa yang sebenarnya terjadi antara Bella dan Fahri barusan?
"Kenapa masih diam?" sergah Fahri dengan suara lantang, membuat Reza terperanjat dan buru-buru meninggalkan ruangan.
Sepeninggal Reza, Fahri mengacak rambut frustasi, barang-barang yang tersusun rapi di atas meja seketika berhamburan di lantai. Matanya kian merah menyorot meja yang sudah kosong lalu terduduk lesu di kursi.
Beberapa menit berselang, Fahri berhasil menenangkan diri, dia bangkit dan berjalan meninggalkan ruangan.
Di depan restoran, Bella bersiap pulang setelah seharian bekerja. Karena jarak rumah dan restoran tidak terlalu jauh, dia pun memilih jalan kaki sambil menenteng paperbag berisi makanan.
Dari arah belakang, sebuah mobil melaju pelan mengikuti langkah Bella. Awalnya Bella berjalan dengan santai, tapi setelah menyadari ada yang mengikuti, dia kemudian melangkah dengan cepat, nyaris berlari karena ketakutan.
Sesampainya di rumah, Bella langsung masuk dan mengunci pintu tergesa-gesa. Wajahnya nampak pucat, dadanya naik turun mengatur nafas yang tidak beraturan.
Sari yang tadinya berada di kamar, langsung keluar menyambut kedatangannya. "Bella, kamu kenapa?" tanya Sari, khawatir melihat punggung Bella tersandar di daun pintu.
"Sepertinya ada yang mengikuti Bella, Bik." jawabnya sambil berjalan menghampiri Sari yang berdiri di ambang pintu kamar. Kaki Bella masih gemetar, dia benar-benar resah.
Mendengar perkataan Bella, Sari mendadak panik, dia kemudian berjalan ke arah pintu utama, mengintip dari balik tirai jendela yang tertutup.
Deg...
Sari terperanjat ketika mendapati sebuah mobil mewah terparkir di halaman. Benar saja, ternyata memang ada yang mengikuti Bella sampai ke rumah.
Dalam kekalutan pikiran keduanya, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki yang semakin mendekat. Tidak mau mengambil resiko, Sari meraih pergelangan tangan Bella dan menariknya ke kamar lalu mengunci pintu.
Entahlah, saat ini pikiran keduanya dihantui ketakutan, terlebih Sari yang benar-benar resah memikirkan Bella.
...****************...
Di tempat lain, Reza melaporkan hasil penyelidikannya kepada Fahri. Dia menjelaskan bahwa selama kembali ke kediaman Dayat, Bella diperlakukan secara tidak adil. Bella diperbudak, disiksa lahir batin, dipaksa kencan buta dengan beberapa pria, sampai akhirnya diserahkan kepada Andre.
Mengenai uang yang ditransfer Reza setiap bulan ke rekening Bella, ternyata semuanya ditilap oleh Dayat dan Hana. Bella tidak tau menahu tentang uang itu karena satu-satunya ATM yang dia punya sudah dirampas oleh Hana.
Mendengar semua yang dikatakan Reza barusan, tangan Fahri mengepal kuat, membuat buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras seiring gigi bergemeletuk, tatapannya nyalang bak singa jantan yang hendak menerkam mangsa.
Crangg...
Permukaan meja ruang tengah yang terbuat dari kaca seketika hancur berkeping-keping dan berserakan di lantai usai Fahri melayangkan tinjunya, punggung tangannya terluka, tapi tak terasa sakit sedikitpun. Justru Fahri merasakan sakit di dada, rasanya ngilu seperti ditikam belati.
"Pak, tangan Anda..."
"Lanjutkan!" sergah Fahri memotong perkataan Reza.
Fahri tidak peduli tangannya terluka atau patah sekalipun, saat ini dia hanya ingin mendengar informasi yang detail tentang Bella.
Dengan keringat bercucuran di dahi, Reza melanjutkan ucapannya. Dia mengatakan bahwa semua yang dialami Bella bukan baru-baru ini saja, akan tetapi sejak Bella masih kecil. Sebab itulah Bella mau menikah dengan Fahri, berharap bisa keluar jadi jurang dalam nan gelap gulita.
Deg...
Jantung Fahri berdegup kencang, dadanya sesak mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Reza.
Dengan raut penyesalan, tubuh Fahri merosot di lantai, dia memukul kepalanya dengan kuat, air matanya mengalir membasahi pipi.
Haaaaaaah...
Fahri berteriak sekencang-kencangnya, menjambak rambutnya dan menampar pipinya sendiri berulang kali. Andai dia tau nasib Bella seperti ini, dia tidak akan pernah menceraikannya. Biarlah perjanjian itu lenyap dengan sendirinya, persetan dengan semua itu.
Disaat bersamaan, ponsel Fahri yang tergeletak di sofa berdering, dia pun menerimanya.
"Kak..." sapa Fahri dengan suara serak dibalik telepon yang tersambung.
"Kamu kenapa, Fahri? Apa yang terjadi?" tanya Friska, kakak perempuan Fahri yang kini menetap di luar negeri.
"K-kak..." lirih Fahri terisak, dia tidak sanggup membendung air matanya.
"Iya, ini kakak. Kamu kenapa, hah?" tanya Friska lagi, suaranya terdengar panik.
"K-kak, a-aku me-menyesal men-ceraikan Bella." pungkasnya tersedu-sedu, dia merasa buruk.
Mendengar pengakuan Fahri, Friska menghela nafas, dia pikir Fahri kenapa-napa. Sebagai seorang kakak, tentu dia menginginkan yang terbaik untuk adiknya, dia berusaha menguatkan Fahri, bahkan meminta Fahri mengejar Bella kembali.
Mendengar Fahri curhat kepada sang kakak, Reza berjalan ke belakang, memanggil Yanti yang ternyata sedang mengintip di balik dinding dapur.
"Kenapa menangis, Bik?" tanya Reza menangkap basah Yanti yang sedang menitikkan air mata.
Yanti kasihan melihat Fahri seperti ini, dia juga kasihan pada Bella setelah mendengar cerita Reza tadi, malang sekali nasib mereka.
"Sudah, jangan menangis lagi!" imbuh Reza kemudian meminta Yanti mengambil kotak obat dan menyuruhnya mengobati tangan Fahri.
Sepeninggal Yanti yang berjalan ke ruang tengah membawa kotak obat, Reza berjongkok dan mengusap wajahnya kasar. Sekarang gilirannya yang menangis setelah bersusah payah menahan air mata saat menceritakan semuanya pada Fahri tadi.
Ya, Fahri sebenarnya orang yang baik. Meski terkadang terlihat dingin namun dia memiliki hati dan jiwa yang penyayang. Dia tidak pernah merendahkan orang lain, baginya kaya miskin sama saja.
Terkadang Reza sering tertawa sendiri. Di luar sana mana ada seorang asisten yang berani menyindir bosnya, mana ada asisten mengolok-olok majikannya bahkan menasehatinya, tidak ada.
Semua asisten pasti tunduk pada bos mereka, berbeda dengan Reza yang meski terkadang suka jahil, mana ada Fahri marah kecuali disaat-saat tertentu. Sebab itulah Reza masih bertahan jadi asistennya hingga detik ini.
Di luar, Yanti membersihkan luka di tangan Fahri dengan alkohol lalu membalutnya dengan perban.
"Kenapa menangis, Pak?" tanya Yanti yang sudah kembali ke dapur. Tadinya Yanti hendak menaruh kotak obat di rak dapur dan mengambil sapu, tidak disangka dia malah melihat Reza berjongkok meneteskan air mata.
Reza terkesiap dan cepat-cepat menyeka wajah lalu berdiri mensejajarkan diri dengan Yanti.
"Ssst..."
Reza gelagapan, dia tampak malu saat menaruh jari telunjuk di bibirnya, membuat Yanti tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala, lalu melanjutkan langkahnya.
Setelah menaruh kotak obat, Yanti mengambil sapu dan serokan kemudian kembali ke ruang tengah membersihkan pecahan kaca yang berserakan. Fahri yang masih terhenyak di lantai kemudian bangkit dan duduk di sofa dengan pandangan kosong.
"P-p-p-pak..." Fahri tersentak kaget, begitupun dengan Yanti, keduanya menoleh ke arah Reza yang tiba-tiba berlari kencang ke arah mereka.
Bruk...
Tubuh Reza terjungkal di sofa, dia terlalu bersemangat sehingga kehilangan keseimbangan saat berlari.
Melihat Reza jungkir balik, Yanti sontak tertawa, tidak dengan Fahri yang hanya menatapnya dengan tatapan datar.
Reza kemudian bangkit sambil menggosok pinggangnya yang tak sengaja membentur sudut meja, mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai lalu menyodorkannya ke arah Fahri.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡