Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.
Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 - Setelah Pengakuan
Setelah seseorang mengakui perasaannya sendiri, hal-hal sederhana bisa berubah menjadi rumit. Jarak yang dulu terasa biasa mendadak terlalu dekat, tatapan yang dulu dibalas santai kini membuat jantung ribut sendiri, dan nama sendiri yang dipanggil seseorang terdengar lebih berbahaya dari sebelumnya. Perubahan itu sering datang diam-diam, lalu membuat orang bingung menghadapi kebiasaan yang sebelumnya terasa mudah.
Itulah yang sedang dialami Airel Virellia.
Sejak malam di lorong samping toko buku itu, sejak ia akhirnya jujur dalam hati bahwa dirinya jatuh cinta pada Zevarion Hale, seluruh caranya bersikap di dekat pria itu berantakan. Tidak ada yang berubah secara resmi di antara mereka, tetapi di dalam dirinya semuanya bergeser. Hal-hal kecil yang dulu dianggap biasa sekarang terasa terlalu berarti.
Pagi itu ia datang lebih awal ke kampus. Langit masih mendung tipis, rumput halaman depan basah oleh embun, dan beberapa mahasiswa berjalan cepat sambil membawa sarapan. Airel masuk ke kelas dengan niat yang sangat jelas, yaitu duduk tenang, fokus belajar, dan bersikap normal.
Rencana itu bagus.
Sayangnya gagal dalam tiga menit.
Ia baru membuka buku catatan dan menuliskan tanggal di pojok halaman ketika suara rendah yang sudah terlalu dikenalnya terdengar dari samping.
“Airel.”
Ia terkejut sampai pensil di tangannya jatuh ke lantai dan menggelinding ke bawah kursi. Beberapa mahasiswa menoleh sebentar, lalu kembali sibuk sendiri. Airel menunduk cepat mengambil pensil sambil berharap wajahnya tidak terlalu merah.
Zev berdiri di dekat mejanya dengan tas selempang hitam di bahu. Ekspresinya datar seperti biasa, seolah ia tidak merasa baru saja membuat seseorang hampir panik.
“Aku cuma manggil.”
“Aku tahu.”
“Terus kenapa kaget?”
“Refleks.”
“Refleks kamu lucu.”
Airel pura-pura sibuk merapikan buku dan membuka halaman lain. Ia menolak menatap Zev lebih lama karena pria itu selalu punya cara membuat dirinya makin gugup hanya dengan berdiri diam.
Zev menarik kursi di sebelahnya lalu duduk santai.
“Kenapa duduk di sini?” tanya Airel.
“Kursi kosong.”
“Masih banyak.”
“Yang ini paling dekat.”
Airel menatap lurus ke depan. Kalau ini terjadi seminggu lalu, ia akan membalas dengan wajah datar dan komentar ketus seperti biasa. Sekarang satu kalimat sederhana seperti itu cukup membuat telinganya panas.
Zev menoleh dan memperhatikan wajahnya beberapa detik.
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Muka kamu merah.”
“Panas.”
“AC nyala.”
Airel menghela napas panjang.
“Kamu ribut banget pagi-pagi.”
“Berarti kamu sehat.”
Ia lalu membuka laptop seolah percakapan itu tidak penting. Sikap santainya justru paling menyebalkan karena membuat Airel terlihat seperti satu-satunya orang yang kacau.
Kuliah dimulai, dosen masuk membawa setumpuk kertas dan mulai menjelaskan materi dengan suara yang tidak berubah dari minggu ke minggu. Airel berusaha mencatat, tetapi konsentrasinya pecah ke mana-mana. Sebagian karena materi cukup rumit, sebagian besar karena Zev duduk terlalu dekat.
Sesekali pria itu mencondongkan badan melihat catatannya. Kadang meminjam pulpen padahal pulpen sendiri ada di atas meja. Kadang bertanya soal rumus yang jelas-jelas sudah ia pahami lebih dulu. Semua itu dilakukan dengan wajah tenang seperti orang tidak bersalah.
Saat tangan mereka tak sengaja bersentuhan ketika sama-sama mengambil penghapus, Airel langsung menarik tangannya terlalu cepat.
Zev menoleh.
“Kamu kenapa lagi?”
“Kenapa apanya?”
“Kayak kesetrum.”
“Aku buru-buru.”
“Kita lagi duduk.”
Airel menutup bukunya perlahan agar tidak terlihat kesal. Pria ini seolah hidup dengan misi membuatnya salah tingkah setiap hari.
Di sela kelas, Kalista yang duduk di depan menoleh ke belakang dan mengangkat alis melihat posisi mereka. Airel langsung memberi tatapan ancaman, tetapi temannya itu justru tersenyum makin lebar.
Saat jam makan siang, mereka bertiga pergi ke kantin. Tempat itu ramai seperti biasa, penuh suara piring, aroma gorengan, dan mahasiswa yang membahas tugas sambil setengah mengeluh. Airel duduk berhadapan dengan Kalista sambil menusuk nasi goreng tanpa semangat.
Kalista menatapnya sambil menahan tawa.
“Ini seru banget.”
“Apa?”
“Kamu berubah jadi pemalu.”
“Aku enggak pemalu.”
“Barusan Zev pinjem penghapus, kamu kasih sambil salah pegang sisi penghapusnya.”
Airel membeku.
“Itu kecelakaan.”
“Terus tadi waktu dia bilang makasih, kamu jawab dua kali.”
“Aku sopan.”
“Kamu gugup.”
Airel hendak membalas ketika seseorang datang membawa nampan dan duduk tepat di sebelahnya. Bukan di kursi kosong seberang. Bukan di meja lain yang masih banyak tempat.
Di sebelahnya.
“Geser dikit,” kata Zev santai.
“Kursi sana kosong.”
“Aku suka sini.”
“Kamu suka nyusahin.”
“Aku pilih yang dekat.”
Kalista menatap Airel penuh arti, lalu bangkit sambil membawa gelasnya.
“Aku pindah meja lain deh. Udara sini manis banget.”
“Kalista.”
Namun gadis itu sudah pergi sambil tertawa kecil. Airel menatap piring di depannya seolah nasi goreng mendadak jadi topik penting nasional.
Zev membuka botol air mineral lalu meletakkannya di dekat tangan Airel.
“Kamu dari tadi belum minum.”
“Aku bisa ambil sendiri.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Aku duluan aja.”
Ia mengatakannya datar, tanpa gaya berlebihan. Justru perhatian sederhana seperti itu yang paling berbahaya karena terasa alami.
Airel meneguk air hanya agar punya alasan menunduk.
“Kenapa kamu aneh beberapa hari ini?” tanya Zev.
Airel menoleh cepat.
“Kamu yang aneh.”
“Enggak. Aku biasa.”
“Kamu lebih sering ganggu aku.”
“Hm.”
“Ngaku aja.”
Zev menyandarkan punggung ke kursi.
“Kamu lebih gampang diganggu sekarang.”
Airel terdiam. Ternyata pria itu sadar bahwa reaksinya berubah. Lebih buruk lagi, ia tampak menikmati hal tersebut.
Sore hari setelah kelas tambahan selesai, Airel sengaja pergi ke perpustakaan. Ia memilih meja paling pojok dekat rak jurnal lama, berharap tempat sepi bisa menyelamatkan harga dirinya. Ia baru membuka laptop dan menulis judul tugas ketika kursi di depannya ditarik.
Tentu saja.
“Enggak ada tempat lain?” tanya Airel.
“Ada.”
“Terus?”
“Aku pilih ini.”
“Kamu enggak bosan?”
“Belum.”
Zev meletakkan buku di meja, tetapi bukunya hampir tidak dibuka. Ia lebih banyak memperhatikan Airel menulis daripada membaca.
Beberapa menit kemudian, ia berkata pelan.
“Huruf kamu jelek kalau gugup.”
Airel berhenti menulis.
“Aku enggak gugup.”
“Kamu nulis tiga kali huruf yang sama.”
Ia melihat catatannya sendiri. Benar, ia menulis angka tujuh berulang di pinggir halaman tanpa sadar.
“Kamu ngelihatin aku terus?” tanyanya.
“Iya.”
Jawaban itu keluar mudah sekali. Tidak ada rasa malu, tidak ada usaha menyangkal.
Airel kehilangan kata-kata lagi.
Zev menyandarkan dagu pada tangan.
“Kamu lucu akhir-akhir ini.”
“Kata lucu kamu kebanyakan.”
“Karena kamu emang lucu.”
Airel menutup bukunya.
“Aku pulang.”
“Kamu baru datang dua puluh menit.”
“Aku mendadak pintar di rumah.”
Zev tertawa pelan. Suara tawanya rendah dan singkat, tetapi selalu cukup membuat ruangan terasa lebih hangat.
Ia bangkit bersamaan.
“Aku antar.”
“Enggak usah.”
“Aku udah berdiri.”
“Itu bukan alasan.”
“Sekarang jadi alasan.”
Mereka keluar dari perpustakaan bersama. Matahari hampir turun, meninggalkan cahaya oranye pucat di antara gedung kampus. Angin sore berembus membawa aroma tanah basah, pertanda hujan mungkin datang lagi malam nanti.
Langkah mereka otomatis melambat saat memasuki trotoar menuju halte. Tidak ada yang mengatakan ingin memperpanjang waktu bersama, tetapi keduanya berjalan seolah tidak terburu-buru.
Airel menatap jalan di depan.
“Aku serius nanya.”
“Tanya apa?”
“Kenapa kamu makin suka ganggu aku?”
Zev memasukkan tangan ke saku jaket.
“Karena seru.”
“Aku mainan?”
“Enggak.”
“Terus?”
Ia menoleh singkat padanya.
“Karena kamu makin kelihatan.”
Airel mengernyit.
“Apa maksudnya?”
“Dulu kamu banyak nutupin sesuatu.”
“Sekarang?”
“Sekarang lebih jujur.”
Kalimat itu membuat langkah Airel melambat. Ia tidak tahu Zev memperhatikan sebanyak itu. Mungkin selama ini pria itu memang melihat lebih teliti daripada yang ia tunjukkan.
Saat sampai di halte, bus belum datang. Mereka berdiri berdekatan di bawah papan jadwal tua yang catnya mulai pudar. Beberapa orang lain menunggu agak jauh di sisi kiri.
Angin bertiup lebih kencang. Rambut Airel berantakan dan beberapa helai menutupi mata. Sebelum ia sempat merapikannya sendiri, Zev mengangkat tangan dan menahan rambut itu dengan ujung jari.
Lalu ia menyelipkannya perlahan ke belakang telinga Airel.
Gerakannya sederhana, cepat, dan nyaris biasa saja. Namun tubuh Airel membeku seketika.
Jari Zev sempat menyentuh sisi wajahnya sebentar sebelum turun kembali.
“Kamu enggak lihat jalan nanti,” katanya tenang.
Airel lupa cara bernapas beberapa detik.
“Kamu...” suaranya hilang sendiri.
“Hm?”
“Enggak apa-apa.”
Zev menatapnya lalu tersenyum tipis. Senyum kecil yang jarang muncul itu selalu lebih berbahaya daripada godaan mana pun.
“Kamu kikuk lagi.”
“Aku enggak kikuk.”
“Kamu kalau bohong, telinga kamu merah.”
Airel spontan menutup kedua telinganya. Zev tertawa pelan melihat reaksinya.
Bus datang beberapa menit kemudian. Saat pintu terbuka, Airel naik satu langkah lalu menoleh ke belakang.
Zev masih berdiri di bawah langit senja, satu tangan di saku, menatap ke arahnya seperti itu hal paling biasa di dunia.
“Airel.”
“Iya?”
“Hati-hati.”
Ia mengangguk cepat lalu masuk sebelum dirinya makin kacau. Setelah duduk dekat jendela, ia menempelkan punggung ke kursi dan menutup wajah dengan kedua tangan.
Hubungan mereka memang belum punya nama. Tidak ada pengakuan, tidak ada janji, tidak ada kepastian yang diucapkan jelas. Namun hari-hari kecil seperti ini terlalu hangat untuk disebut biasa.
Bus mulai bergerak meninggalkan halte. Sosok Zev perlahan mengecil di kejauhan bersama cahaya senja yang memudar.
Di dalam dada Airel, sesuatu tumbuh makin dalam tanpa bisa dihentikan. Dan justru ketika semuanya terasa manis seperti sekarang, hidup diam-diam sedang menyiapkan badai yang datang setelah tenang terlama.