Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan di Ruang Sidang
...Chapter 29...
Kota Yonglan, demikian nama kota udara kedua yang mereka datangi, berbeda drastis dari Tianzhu yang gemerlap—di sini, awan-awan yang menopang fondasi kota tampak lebih tipis, lebih rapuh, seperti selimut tua yang sudah terlalu sering dicuci hingga hampir tembus cahaya, dan bangunan-bangunan dari batu hitam yang menjulang di sepanjang jalan utama tidak dihiasi lentera atau ukiran mewah, melainkan oleh spanduk-spanduk usang yang memuat slogan-slogan politik tentang "penghematan pangan" dan "stabilitas kultivasi".
Ling Xu dan Huan Zheng—yang kini menyamar dengan nama baru, Liu Xin dan Zhao Wei, setelah pengalaman pahit di Tianzhu di mana identitas palsu mereka hampir terbongkar oleh mata-mata sekte—berdiri di sudut lorong belakang balai kota, mendengarkan bisik-bisik para pedagang yang sedang mengantre untuk mendapatkan jatah beras roh harian.
"Dengar, Nonaku," ucap seorang pedagang tua pada rekannya, suaranya serak seperti orang yang sudah terlalu lama tidak minum air bersih.
“Konon siapa pun yang bisa memecahkan masalah pangan kota ini akan mendapat hadiah puluhan juta keping Lintang. Puluhan juta! Bisa naik tingkat dua atau tiga kali lipat!"
Ling Xu yang menyamar sebagai pelayan rendahan dengan jubah abu-abu lusuh dan tudung menutupi hampir seluruh wajahnya, menoleh ke arah Huan Zheng yang berdiri di sampingnya dengan pose malas yang khas—kini dengan tambahan kumis palsu yang membuatnya terlihat seperti kakek-kakek tua yang hampir pensiun—dan berbisik.
"Aku tidak tertarik dengan politik, Zhao Wei. Tapi puluhan juta keping... itu jumlah yang tidak bisa kuabaikan."
Huan Zheng—yang sekarang bernama Zhao Wei—menguap lebar, lalu menggaruk perutnya yang tidak gatal dengan gerakan malas yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Aku juga tidak tertarik, Liu Xin. Tapi perutku keroncongan, dan hadiah itu bisa membeli sepuluh ribu mangkok Mie Esensi Unggas Roh."
Masalah politik yang dihadapi kota Yonglan ternyata lebih rumit dari sekadar kekurangan makanan—topik utamanya adalah bagaimana cara memanen lebih banyak bahan pangan berkualitas tinggi yang dapat dikonsumsi oleh para kultivator Pondasi Lintang—dari Lintang Bawah hingga Supranatural Lintang—tanpa membebani anggaran kota yang sudah menipis seperti dompet setelah Purnama Panen Raya.
Selama tiga hari berturut-turut, Ling Xu dan Huan Zheng menyusup ke dalam ruang sidang sebagai pelayan yang mengisi teko teh dan membersihkan lantai—pekerjaan rendahan yang membuat mereka tidak dicurigai, tetapi memberi mereka akses penuh ke setiap diskusi, setiap perdebatan, setiap pertengkaran sengit antara dua faksi politik yang saling bantai dengan kata-kata tajam seperti pisau.
"Kita harus mengimpor dari kota darat!" seru seorang politisi berjubah hijau dengan suara lantang, tangannya memukul meja kayu jati hingga cangkir-cangkir teh di atasnya bergetar seperti orang yang kedinginan.
"Biayanya lebih murah, dan kualitasnya—"
"Tidak bisa!" potong lawannya, seorang wanita tua dengan rambut putih yang disanggul rapi dan mata menyipit seperti elang.”
“Kota darat sudah tidak bisa diandalkan setelah wabah Kanker menyebar dari kota laut! Kita harus mandiri, harus menanam sendiri di lahan-lahan yang kita miliki!"
Ling Xu, yang sedang menuang teh untuk seorang anggota sidang yang tidak memperhatikannya sama sekali, membisikkan sesuatu pada telinga politisi berjubah hijau itu.
Bukan dengan suara, melainkan dengan getaran Qi yang sangat halus, sangat pelan, sangat licik, seperti angin yang berbisik di sela-sela dedaunan kering.
"Katakan pada mereka," bisik Ling Xu, "bahwa alih-alih mengimpor dari kota darat, kalian bisa memanfaatkan lahan tidur di bawah kota—lahan yang selama ini tidak terpakai karena dianggap tidak subur, padahal hanya perlu perawatan sederhana dengan ramuan herbal yang harganya murah meriah."
Politisi itu mengerjap, lalu mengangguk-angguk seolah-olah idenya sendiri, dan langsung mengangkat topik itu di tengah sidang dengan penuh semangat, sementara di sudut ruangan, Huan Zheng yang sedang menyapu lantai tersenyum tipis—karena ia tahu bahwa Ling Xu baru saja menanam benih pertama dari rencana licik mereka.
Hari berganti hari, dan setiap sesi sidang baru membawa tantangan baru—para politisi Yonglan memang pandai berdebat, tetapi mereka semua memiliki satu kelemahan yang sama: keserakahan.
Setiap kali seseorang mengusulkan ide yang menguntungkan kantung pribadi mereka, mereka akan mendukungnya tanpa pikir panjang, bahkan jika ide itu sebenarnya berbahaya bagi kota dalam jangka panjang.
Huan Zheng, dengan pengalamannya sebagai mantan Roda Kultivasi yang telah melihat ribuan intrik politik di berbagai kerajaan dan semesta, memanfaatkan kelemahan itu dengan sempurna—ia membisikkan ide-ide yang tampaknya menguntungkan setiap faksi secara individu, tetapi sebenarnya mengarahkan mereka semua menuju satu solusi yang sama: sistem pertanian vertikal di bawah kota, dengan memanfaatkan energi panas dari inti bumi yang selama ini terbuang sia-sia.
"Katakan pada faksi kiri," bisik Huan Zheng pada seorang pelayan lain yang telah ia sogok dengan beberapa keping Lintang, "bahwa sistem pertanian vertikal akan menciptakan ribuan lapangan kerja untuk rakyat kecil."
Lalu, di sela-sela sidang berikutnya, ia membisikkan pada seorang politisi faksi kanan.
"Katakan pada mereka bahwa sistem ini akan mengurangi ketergantungan pada impor, sehingga anggaran kota bisa dialokasikan untuk proyek-proyek yang lebih menguntungkan kalian."
Di balik tirai belakang ruang sidang yang lembap dan gelap, Ling Xu dan Huan Zheng berdiri berdesakan di antara tumpukan dokumen usang dan kendi-kendi teh kosong, mata mereka mengintip melalui celah sempit ke arah panggung utama di mana para politisi dari tiga sekte terbesar Yonglan—Sekte Naga Hening Mendalam, Sekte Pedang Zamrud, dan Sekte Fajar Bersinar—mulai menunjukkan warna asli mereka setelah berhari-hari berpura-pura netral.
"Mereka ingin menjadikan masalah pangan ini sebagai ladang bisnis," bisik Huan Zheng, suaranya nyaris tidak terdengar di antara suara gesekan kain dan debu yang beterbangan, matanya yang malas tiba-tiba menyipit tajam ke arah seorang tetua berjubah emas yang sedang berpidato dengan semangat tentang "pentingnya keselarasan antara sekte dan tatanan dunia fana.”
Namun bagi mereka yang benar-benar memahami bahasa tersembunyi dunia kultivasi, makna di balik kata-kata itu begitu gamblang.
Bukan tentang keselarasan, melainkan dominasi—bahwa merekalah yang akan mengendalikan aliran sumber daya, menentukan naik turunnya harga seperti mengatur aliran qi, dan meraup keuntungan terbesar.
Sementara para penguasa fana, dalam pandangan mereka, tak lebih dari boneka rapuh yang duduk di singgasana kayu, bergerak sesuai tarikan benang yang tak kasatmata.
Ling Xu mengangguk pelan, jari-jarinya yang tersembunyi di balik lengan jubah abu-abu mulai meremas kantong kecil berisi ramuan racun tidur.
Bukan untuk membunuh, melainkan untuk 'membantu' beberapa politisi yang tampaknya ragu-ragu agar lebih mudah menerima bisikan-bisikan yang akan ia tanamkan di sela-sela sidang berikutnya.
"Maka kita tidak akan melawan mereka secara langsung," ucapnya, matanya yang redup bersinar dengan kilat kecerdikan yang dingin, "kita hanya akan memastikan bahwa meskipun mereka menjadi pelaksana, mereka tidak bisa bergerak tanpa pengawasan yang akan membuat mereka lumpuh."
Sidang terakhir dimulai dengan tegang.
Udara di ruangan itu terasa seperti besi panas yang ditempa berulang kali, dan setiap kata yang keluar dari mulut para politisi terasa seperti pukulan palu yang meninggalkan bekas di meja kayu jati yang sudah penuh dengan goresan dan lekukan karena terlalu sering dihantam oleh amarah dan frustrasi.
Tiga sekte tersebut dengan lantang mengusulkan bahwa mereka harus diberi kendali penuh atas distribusi makanan bagi para kultivator Pondasi Lintang, dengan alasan bahwa "kami yang paling memahami kebutuhan para kultivator", padahal sebenarnya mereka hanya ingin mengatur harga jual beli di antara sekte satu dan lainnya, menaikkan margin keuntungan, dan mengeruk keuntungan sebesar-besarnya dari rakyat kecil yang sudah kelaparan.
Namun Ling Xu dan Huan Zheng telah mempersiapkan langkah mereka dengan cermat.
Bukan dengan melawan secara frontal, karena itu akan menarik terlalu banyak perhatian, melainkan dengan memecah suara para politisi yang tidak berasal dari tiga sekte tersebut, membisikkan pada mereka satu per satu, mengingatkan mereka bahwa jika tiga sekte diberi kendali penuh, maka tidak akan ada yang tersisa untuk rakyat kecuali remah-remah yang jatuh dari meja para bangsawan.
Bersambung….