NovelToon NovelToon
Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Checkmate,Papa! : Strategi Sikembar Penguasa Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Papa, posisi kakimu salah. Satu inci lagi, dan sensor laser akan membelah jas mahalmu."
Damian Xavier, sang Raja Mafia 'Vipera' yang tak kenal ampun, tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan dikendalikan oleh sepasang kembar berusia 8 tahun. Ia mengira telah menemukan anak rahasianya, namun kenyataannya, ia menemukan dua penguasa bayangan yang sedang mencari 'pion' untuk melindungi ibu mereka.
Leo adalah reinkarnasi sang Marsekal Perang Legendaris yang tewas dikhianati, sementara Lea adalah mantan Profiler Kriminal FBI yang ahli dalam bedah jiwa manusia. Bagi mereka, Damian hanyalah aset strategis yang perlu dijinakkan, dan Qinanti—ibu mereka yang lembut—adalah satu-satunya harta yang harus dilindungi.
Selamat datang di papan catur keluarga Xavier, di mana sang Raja Mafia hanyalah salah satu pion dalam strategi besar anak-anaknya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: SIMFONI INTEROGASI

​POV: DAMIAN XAVIER

​Ruang bawah tanah mansion Vipera bukanlah tempat bagi mereka yang berhati lemah. Bau besi dari darah lama, aroma lembap dari beton yang dingin, dan pencahayaan temaram yang sengaja dirancang untuk meruntuhkan kewarasan siapapun yang terikat di kursi besi itu.

​Di sana, di tengah ruangan, seorang pria bernama Rico—salah satu penyusup Baron yang berhasil ditangkap hidup-hidup—tampak gemetar. Wajahnya babak belur, namun matanya masih memancarkan pembangkangan khas tentara bayaran yang sudah mati rasa.

​"Aku tidak akan bicara," desis Rico, meludah ke lantai. "Klan Baron akan menguliti kalian semua hidup-hidup."

​Aku melangkah maju, membenarkan letak jam tanganku. Aku sudah siap memberikan instruksi pada Marco untuk memulai 'prosedur standar' kami—prosedur yang biasanya melibatkan tang dan kejutan listrik. Namun, sebelum Marco sempat melangkah, suara gesekan pintu baja yang berat terdengar bergema.

​Dua sosok mungil melangkah masuk.

​Leo mengenakan hoodie hitam yang menutupi separuh wajahnya, tangannya terselip di saku dengan santai. Di sampingnya, Lea masih memegang boneka kelincinya, namun ekspresinya telah berubah total. Tidak ada lagi senyum imut. Yang ada hanyalah tatapan kosong yang seolah-olah bisa menembus tulang rusuk.

​"Papa, biarkan kami yang menangani ini," ucap Leo datar.

​"Leo, ini bukan tempat untuk anak kecil," tegasku. "Ini urusan orang dewasa."

​Leo berhenti tepat di depanku, mendongak dengan tatapan yang membuatku merasa dialah sang ayah di sini. "Papa menggunakan metode abad pertengahan yang tidak efisien. Menyakiti fisik hanya akan membuat otak target memproduksi adrenalin yang memicu mekanisme pertahanan diri. Sangat primitif. Papa hanya akan mendapatkan informasi palsu dari orang yang putus asa."

​"Dan Papa," Lea menimpali, suaranya sangat lembut namun terasa seperti es yang merambat di kulit. "Papa butuh kebenaran, bukan sekadar jeritan. Aku bisa merobek pikirannya tanpa perlu mencabut satu kuku pun darinya."

​Aku tertegun. Marco menatapku, meminta instruksi. Aku menghela napas, lalu melangkah mundur ke kegelapan sudut ruangan. "Tunjukkan padaku apa yang kalian maksud dengan 'efisien'."

​POV: LEA (Jiwa Sang Profiler)

​Aku melangkah mendekati Rico. Pria ini sedang berbohong pada dirinya sendiri bahwa dia berani. Aku bisa melihatnya—denyut nadi di lehernya berdetak 115 kali per menit. Pupil matanya melebar setiap kali pintu tertutup, tanda claustrophobia ringan yang ia sembunyikan dengan kemarahan.

​"Halo, Paman Rico," ucapku, suaraku sengaja kubuat seperti bisikan malaikat maut.

​Rico tertawa sinis. "Apa ini? Damian mengirim bayi untuk menginterogasiku? Apa kau mau menawarkan susu padaku, Bocah?"

​Aku tidak tersinggung. Aku justru tersenyum manis—senyum yang sering kugunakan di ruang interogasi FBI dulu sebelum para psikopat mengakui dosa mereka. "Paman, kau memiliki istri bernama Sarah dan seorang putri berusia enam tahun bernama Mia yang sedang menunggu di sebuah apartemen kecil di pinggiran Bekasi, bukan?"

​Rico membeku. Tawanya hilang seketika. "Bagaimana... bagaimana kau—"

​"Aku tidak butuh meretas data untuk tahu itu," aku memiringkan kepalaku, menatap lurus ke matanya. "Cincin di jari manismu sudah tidak ada, tapi ada bekas tan di kulitmu. Kau baru saja melepasnya untuk melindungi mereka. Dan tato bunga melati di lenganmu... itu bukan tato biasa. Itu adalah jenis bunga kesukaan anak-anak. Paman adalah tipe pria yang sangat mencintai keluarga, tapi terjepit hutang judi pada Baron."

​Analisis: Target mulai mengalami disosiasi emosional. Pertahanan mentalnya retak sebesar 30%.

​"Kau... kau iblis!" Rico menggeram, mencoba melepaskan diri dari ikatannya.

​"Tidak, Paman. Iblis itu adalah orang yang akan membunuh Sarah dan Mia karena kau gagal melakukan tugasmu," Leo menyambung dari belakangku. Dia melemparkan sebuah tablet ke pangkuan Rico. "Lihat itu. Itu adalah rekaman langsung dari drone-ku yang sedang melayang di depan jendela apartemenmu. Dua orang Baron sudah berdiri di sana, menunggu perintah untuk 'membersihkan' sisa-sisa kegagalanmu."

​Wajah Rico berubah menjadi seputih kertas. Keringat dingin mengucur deras di keningnya.

​“Kak, dia sudah di ambang kehancuran. Tekan dia di bagian logistiknya,” ucapku lewat Shadow Talk.

​“Dimengerti, Lea. Aku akan memberikan pilihan yang tidak bisa dia tolak,” balas Leo.

​"Begini, Rico," Leo melangkah maju, tangannya bertumpu pada kursi besi itu. "Aku punya dua skenario. Skenario pertama: Papa akan melakukan prosedur standarnya padamu selama enam jam ke depan, kau akan mati sebagai pengkhianat, dan keluargamu akan menyusulmu besok pagi. Skenario kedua: Kau katakan padaku koordinat dermaga tempat Baron menyimpan kiriman senjatanya malam ini, dan aku akan meretas sistem keamanan apartemenmu untuk mengirimkan tim pengaman klan Vipera guna menyelamatkan Sarah dan Mia dalam waktu lima menit."

​"Kenapa... kenapa kau mau membantuku?" Rico bertanya dengan suara parau.

​"Aku tidak membantumu," Leo menjawab dingin. "Aku sedang melakukan akuisisi aset informasi. Bagiku, kau hanyalah variabel yang bisa ditukar. Jadi, apa pilihanmu? Waktumu tinggal tiga puluh detik sebelum pria berbaju hitam di depan pintumu itu menarik pelatuk."

​Rico menunduk. Bahunya berguncang. Dia menangis—tangisan seorang pria yang baru saja menyadari bahwa mahkotanya sebagai pria tangguh telah dihancurkan oleh dua anak berusia delapan tahun.

​"Dermaga 09... Gudang B," bisik Rico lirih. "Mereka punya empat senapan mesin berat dan... dan sistem peledak jarak jauh. Tolong... selamatkan Mia."

​Leo menatapku. Aku mengangguk. Dia benar.

​"Marco," Leo memanggil tangan kanan Papa tanpa menoleh. "Kirim tim Bravo ke koordinat apartemen Rico. Lumpuhkan penyusup Baron, tapi jangan biarkan Sarah dan Mia melihat darah. Gunakan gas tidur jika perlu. Kita butuh mereka sebagai saksi kunci nanti."

​Marco menoleh padaku dengan tatapan tak percaya. Aku mengangguk pelan. Aku sendiri masih berusaha memproses apa yang baru saja kusaksikan.

​POV: LEO (Jiwa Sang Marsekal)

​Interogasi telah selesai. Data telah didapatkan. Sekarang, saatnya masuk ke fase taktis.

​Aku berjalan keluar dari ruang bawah tanah, diikuti oleh Damian yang tampak sangat pendiam. Aku tahu apa yang dia pikirkan. Dia sedang melihat versinya yang lebih efisien, lebih taktis, dan mungkin... lebih menakutkan.

​"Leo," Damian memanggil saat kami sampai di aula utama yang megah. "Dari mana kau belajar taktik tekanan psikologis seperti itu?"

​Aku berhenti, menatap lukisan leluhur klan Xavier yang tergantung di dinding. "Dunia ini adalah medan perang, Papa. Di medan perang, informasi adalah komoditas yang lebih berharga daripada emas. Menyakiti fisik lawan hanya akan membuang waktu. Menghancurkan apa yang mereka cintai... itu adalah cara tercepat untuk mendapatkan kunci gudang senjata mereka."

​Damian menyipitkan mata. "Kau bicara seperti orang yang sudah memimpin pasukan selama puluhan tahun."

​"Mungkin aku memang sudah melakukannya," jawabku misterius, lalu kembali fokus pada tabletku. "Papa, aku butuh dua belas pengawal elit untuk menyerang Dermaga 09 malam ini. Tapi aku tidak ingin Papa ikut."

​"Apa?" Damian tertawa pendek, nada otoritasnya kembali. "Aku adalah pemimpin klan ini, Leo. Tidak ada serangan yang dilakukan tanpa komandoku."

​"Papa adalah target utama," balasku tegas. "Jika Papa muncul, Baron akan langsung memicu peledak jarak jauh. Tapi jika aku dan Lea yang masuk sebagai 'anak-anak yang tersesat', mereka tidak akan curiga. Dalam waktu sepuluh menit, aku akan melumpuhkan sistem peledak mereka dari dalam."

​"Itu terlalu berbahaya! Aku tidak akan membiarkan anak-anakku masuk ke sarang serigala!" Damian membentak, suaranya menggelegar.

​Lea melangkah maju, menggandeng tangan Damian dengan lembut. Aku bisa melihat kemarahan di mata Damian perlahan luluh—kekuatan manipulasi emosional Lea memang tidak ada tandingannya.

​"Papa," ucap Lea dengan nada imut yang paling manipulatif. "Papa ingin Mama aman selamanya, kan? Baron adalah duri yang harus dicabut sampai ke akarnya. Biarkan Leo melakukan tugasnya sebagai ahli strategi, dan biarkan aku melakukan tugas sebagai 'umpan'. Papa hanya perlu bersiap dengan pasukan besar di luar perimeter untuk melakukan pembersihan akhir. Itu adalah strategi paling efisien untuk meminimalisir korban di pihak kita."

​Damian menatap kami bergantian. Dia tampak seperti seorang raksasa yang baru saja menyadari bahwa kekuatannya tidak berguna melawan logika yang begitu murni.

​"Kalian benar-benar monster kecil," gumam Damian, mengusap wajahnya yang kasar. "Baiklah. Tapi jika terjadi satu saja lecet pada kalian, aku akan membakar seluruh pelabuhan itu beserta isinya."

​"Deal," jawabku singkat.

​Malam itu, persiapan dilakukan dengan sangat rapi. Aku merombak ulang rencana serangan Marco. Aku mengganti senjata berat mereka dengan peredam suara dan granat gas saraf. Aku ingin penangkapan yang bersih, tanpa ada satu peluru pun yang merusak kargo senjata Baron—karena senjata itu akan menjadi modal awal bagi klan Vipera yang baru.

​POV: QINANTI

​Aku berdiri di balkon mansion, menatap kegelapan hutan di sekitar kami. Perasaanku tidak enak. Sejak kami pindah ke sini, suasana di mansion ini berubah. Para penjaga yang tadinya terlihat urakan kini bergerak dengan disiplin militer yang kaku. Dan anak-anakku... mereka menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerja Damian.

​"Mama..." suara Lea membuatku tersentak.

​Aku berbalik dan melihat Lea berdiri di sana dengan gaun tidurnya. "Sayang, kenapa belum tidur?"

​Lea mendekat dan memeluk kakiku. "Mama sedang memikirkan Papa, ya?"

​Aku menghela napas, mengusap rambut Lea yang halus. "Mama hanya takut, Lea. Duniamu sekarang sangat berbeda. Mama takut kalian kehilangan masa kecil kalian di sini."

​Lea mendongak, matanya yang genius menatapku dengan kehangatan yang membuat hatiku sedikit tenang. "Mama, masa kecil bukan tentang bermain di taman atau belajar di sekolah normal. Masa kecil adalah tentang merasa dicintai dan memiliki kekuatan untuk melindungi orang yang kita cintai. Kami senang di sini, karena di sini... Mama tidak perlu lari lagi."

​"Tapi Lea, apa yang Leo lakukan di bawah sana bersama Damian? Tadi Mama dengar ada suara pintu baja..."

​"Hanya audit rutin, Ma," Lea tersenyum manis, senyum yang sangat meyakinkan sampai-sampai aku hampir percaya. "Papa hanya butuh bantuan Leo untuk mengatur jadwal kerja para pengawal agar tidak kelelahan. Papa ingin menjadi pemimpin yang lebih baik untuk kita."

​Aku ingin percaya pada kata-kata polos itu. Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu bahwa Leo dan Lea sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih besar. Mereka bukan hanya anak genius; mereka adalah arsitek dari sebuah dinasti baru.

​Malam itu, saat aku akhirnya tertidur, aku tidak tahu bahwa di Dermaga 09 yang gelap, dua anakku sedang berdiri di atas tumpukan senjata musuh, sementara Damian Xavier menatap mereka dengan tatapan seorang pengikut yang baru saja menemukan Tuhannya.

​Skakmat bukan lagi sekadar istilah. Malam itu, klan Vipera secara resmi berhenti menjadi organisasi mafia biasa, dan mulai bertransformasi menjadi kekaisaran bayangan yang akan menggetarkan seluruh benua.

1
Xenovia_Putri
.ceritanya bagus tpi sayang.q pov char bukan pov author... sorry skipp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!