NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Rahasia Di Balik Pernikahan Palsu Kita

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Penyelamat / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Candra Arista

Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 – Pertemuan yang Tidak Diinginkan

Sejak mendengar kalimat itu, pikiran Alya tidak bisa tenang.

*Ayah saya ingin bertemu dengan Anda.*

Kalimat sederhana.

Namun dari cara Raka mengatakannya—

Alya tahu ini bukan sekadar undangan makan malam biasa.

Malam itu suasana rumah besar terasa lebih sunyi dari biasanya.

Raka duduk di ruang kerjanya cukup lama setelah menerima telepon, sementara Alya mencoba membaca buku di kamar namun benar-benar tidak bisa fokus.

Setiap beberapa menit sekali, pikirannya kembali pada satu hal—

Ayah Raka.

Pria dengan tatapan tajam dan aura dingin yang bahkan hanya dari satu kali pertemuan sudah cukup membuat Alya merasa tidak berarti.

Dan sekarang pria itu ingin bicara empat mata dengannya.

“Aku benar-benar tidak siap…”

Alya menutup wajah dengan bantal sambil mengeluh pelan.

Namun beberapa menit kemudian, suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.

“Alya.”

Jantungnya langsung berdebar lebih cepat.

Raka.

“Masuk.”

Pintu terbuka perlahan.

Raka masuk dengan wajah lebih tenang daripada sebelumnya, meski Alya masih bisa melihat sisa ketegangan di matanya.

“Kamu belum tidur?” tanya Alya pelan.

Pria itu menggeleng kecil.

“Saya membuat Anda khawatir.”

Bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.

Dan Alya merasa jengkel karena pria ini selalu bisa memahami dirinya dengan mudah sekarang.

“Sedikit.”

Raka berjalan mendekat lalu duduk di tepi kasur.

Jarak mereka dekat.

Namun malam ini suasananya berbeda.

Lebih serius.

“Alya.” Tatapan pria itu lurus padanya. “Kalau Anda tidak ingin datang, saya bisa menolaknya.”

Alya sedikit terkejut.

“Kamu bisa?”

“Saya bisa melakukan apa pun kalau menyangkut Anda.”

Jantung Alya langsung berdebar tak beraturan lagi.

Astaga.

Pria ini bahkan bisa membuat kalimat protektif terdengar romantis.

Namun kali ini, Alya tidak ingin terus bersembunyi di balik Raka.

“Aku akan datang.”

Tatapan Raka langsung berubah.

“Anda yakin?”

“Aku tidak mau terus terlihat seperti orang yang harus disembunyikan.”

Hening sesaat.

Lalu Alya melanjutkan pelan—

“Dan aku juga tidak mau kamu terus menghadapi semuanya sendirian.”

Kalimat itu membuat tatapan Raka melembut perlahan.

Sangat pelan.

Namun cukup membuat dada Alya menjadi hangat.

Pria itu mengangkat tangan lalu menyentuh sisi wajah Alya lembut.

Sentuhan kecil yang sekarang terasa begitu alami di antara mereka.

“Kamu terlalu baik untuk dunia saya,” gumamnya rendah.

Alya tersenyum kecil.

“Sayangnya aku sudah terlanjur masuk.”

Tatapan mereka bertemu beberapa detik.

Dan lagi-lagi—

Suasana mulai berubah terlalu dekat.

Terlalu hangat.

Namun kali ini, Raka tidak langsung mencoba mencium Alya.

Pria itu hanya menatapnya lama sekali seolah sedang memastikan sesuatu dalam benaknya.

“Apa?” tanya Alya pelan.

“Saya sedang berpikir.”

“Tentang?”

“Bagaimana caranya melindungi Anda tanpa membuat Anda merasa dikurung.”

Jantung Alya langsung terasa sedikit sesak.

Karena nada suara Raka terdengar begitu serius.

Begitu tulus.

Dan untuk pertama kalinya—

Alya benar-benar sadar bahwa pria ini mungkin akan melakukan apa saja demi dirinya.

“Kamu tidak perlu melindungiku terus-menerus,” bisiknya pelan.

“Saya mau.”

Jawaban cepat itu membuat Alya kehilangan kata-kata sesaat.

Dan sebelum suasana menjadi terlalu emosional—

Raka tiba-tiba berkata santai,

“Tapi besok Anda tetap tidak boleh terlalu dekat dengan Dimas.”

Alya langsung menatapnya tidak percaya.

“Kamu serius masih cemburu sekarang?”

“Sangat.”

Alya spontan tertawa kecil.

Dan akhirnya—

Ketegangan malam itu perlahan mereda.

---

Keesokan harinya, Alya berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya.

Bukan karena ingin terlihat sempurna.

Justru karena terlalu gugup.

Ia memilih gaun sederhana berwarna krem yang elegan namun tidak berlebihan.

Namun tetap saja—

Tangannya dingin sejak tadi.

“Kamu cantik.”

Suara Raka dari belakang membuat Alya refleks menoleh.

Pria itu sudah siap dengan setelan jas hitam rapi yang seperti biasa membuatnya terlihat terlalu sempurna untuk ukuran manusia biasa.

“Kamu jangan tiba-tiba muncul begitu.”

“Kalau begitu Anda jangan terlalu lama menatap cermin.”

Alya langsung mendengus kecil.

“Ini salahmu.”

“Kenapa jadi salah saya?”

“Aku gugup karena keluargamu.”

Tatapan Raka langsung sedikit berubah.

Lebih lembut.

Pria itu berjalan mendekat lalu berhenti tepat di depan Alya.

“Saya sudah bilang,” katanya rendah, “kalau Anda berubah pikiran, kita tidak perlu datang.”

Alya perlahan menggeleng.

“Tidak.”

Ia menarik napas pelan lalu menatap mata pria itu lurus.

“Aku mau mencoba.”

Tatapan Raka langsung tertahan beberapa detik.

Dan tanpa peringatan—

Pria itu tiba-tiba mencium kening Alya pelan.

Lembut.

Menenangkan.

Jantung Alya langsung terasa sangat luluh.

“Itu untuk keberanian,” gumam Raka rendah.

Alya benar-benar tidak sanggup menghadapi pria ini kalau terus bersikap manis seperti ini.

---

Rumah keluarga Han terlihat megah seperti biasa.

Namun kali ini suasananya terasa jauh lebih menekan.

Begitu mobil berhenti di depan rumah besar itu, napas Alya langsung tertahan.

Tangan dinginnya langsung disadari Raka.

Pria itu menggenggam tangan Alya pelan.

Hangat.

“Mereka tidak bisa menyakiti Anda selama saya ada.”

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun cukup membuat Alya sedikit lebih tenang.

Mereka masuk bersama.

Dan begitu langkah mereka memasuki ruang utama—

Tatapan beberapa anggota keluarga langsung tertuju pada Alya, menilai, mengamati.

Membuatnya kembali merasa seperti orang asing di dunia ini.

Ayah Raka sudah duduk di ruang tengah.

Wajah pria paruh baya itu tetap dingin dan sulit dibaca seperti terakhir kali.

“Akhirnya kalian datang.”

Nada suaranya tenang.

Namun jelas tidak hangat.

Raka berdiri sedikit lebih depan tanpa sadar.

Posisi protektif yang langsung disadari Alya.

“Kami datang sesuai permintaan Ayah.”

Tatapan pria tua itu beralih pada Alya.

Lama.

Terlalu lama.

Lalu akhirnya—

“Duduk.”

Alya duduk perlahan di sofa sambil mencoba tetap tenang.

Namun suasana ruangan itu benar-benar membuat napasnya terasa tidak nyaman.

“Alya,” panggil ayah Raka tiba-tiba.

“Ya, Pak.”

“Apa tujuanmu menikahi anak saya?”

Pertanyaan itu datang begitu lugas hingga Alya terdiam sejenak.

Dan sebelum ia sempat menjawab—

“Ayah,” suara Raka langsung dingin, “cukup.”

Namun pria tua itu tidak menghiraukannya.

“Saya ingin mendengar jawabannya langsung.”

Tatapan tajam itu kembali tertuju pada Alya.

Dan untuk beberapa detik—

Ruangan itu terasa sangat sunyi.

Alya perlahan menggenggam jemarinya di pangkuan.

Gugup.

Namun kali ini—

Ia tidak ingin lari.

“Aku menikah dengannya bukan karena uang.”

Tatapan ayah Raka tidak berubah.

“Lalu karena apa?”

Alya menoleh sebentar pada Raka.

Dan saat melihat pria itu—

Entah kenapa keberaniannya perlahan muncul.

Ia kembali menatap ayah Raka lurus.

“Awalnya mungkin karena keadaan.”

Hening.

“Tapi sekarang…” napas Alya tertahan sejenak, “…aku tetap tinggal karena aku benar-benar peduli padanya.”

Ruangan langsung hening total.

Dan di sampingnya—

Raka perlahan menatap Alya dengan ekspresi yang bahkan sulit disembunyikannya sendiri.

1
Mtch🍃
Tiba tibaaa bngt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!