Ini adalah kisah nyata Rudini, seorang ayah di Cirebon yang divonis stroke. Tidak ada uang, tidak ada pekerjaan, hanya ada seorang anak balita bernama Balqis yang menangis kelaparan di malam hari.
Di rumah yang sama, tinggal seorang nenek janda yang sudah tua dan tak berdaya. Dengan stok beras nol dan popok anak yang tinggal dua lembar, "Ayah Balqis" mencatat perjuangan seorang pria yang tubuhnya stroke, namun hatinya menolak menyerah demi senyum buah hatinya.
Bukan fiksi. Ini adalah teriakan harapan dari Desa Cilukrak. Sebuah catatan hariantentang lapar, sakit, doa, dan cinta seorang ayah yang tak terbatas.
Kisah ini ditulis sebagai bentuk ikhtiar dan doa agar Balqis bisa makan, Ayah bisa terapi, dan Ibu bisa tenang. Mohon doa dan dukungannya dari para pembaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Kata Pertama yang Paling Indah & Pelukan yang Mencairkan Segala Lelah
Malam itu hujan kembali turun, tapi tidak sederas kemarin. Hanya rintik-rintik halus yang mengetuk kaca jendela, menciptakan irama lembut untuk pengantar tidur. Balqis sudah memakai piyama beruang kesayangannya, duduk di atas karpet sambil menyusun balok-balok kayu warna-warni.
Aku duduk di sofa, memijat pelan kaki kiriku yang masih terasa kaku pasca-stroke. Rasa lelah memang sering datang tiba-tiba, apalagi setelah seharian mengurus Balqis sendirian. Tapi melihat dia asyik bermain, rasa sakit itu seolah menguap digantikan oleh rasa syukur.
“Ayah… capek?” tanya Balqis tiba-tiba, menoleh dari tumpukan baloknya. Matanya yang bulat menatapku penuh perhatian.
Aku tersenyum tipis. “Sedikit, Dek. Tapi nggak apa-apa. Kalau lihat Balqis happy, Ayah jadi kuat lagi.”
Balqis mengangguk paham, lalu bangkit dan berjalan tertatih-tatih mendekatiku. Di tangannya, ia memegang sebuah balok berwarna merah. Ia naik ke sofa, lalu duduk di sampingku, menempelkan tubuhnya yang mungil ke lengan ku.
“Ini buat Ayah,” katanya sambil menyodorkan balok merah itu. “Warna merah… kayak hati.”
Aku menerima balok itu, hati berdesir hangat. “Terima kasih, sayang. Hati siapa?”
“Hati Balqis. Dan hati Ayah,” jawabnya polos. Lalu ia terdiam sejenak, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang penting. Alisnya bertaut, bibirnya bergerak-gerak kecil mencoba merangkai kata.
Aku menunggu sabar. Tidak memburu-buru. Aku tahu Balqis sedang berjuang menemukan kata yang tepat di lidahnya yang masih belajar.
“Ayah…” mulainya pelan.
“Iya, Dek?” sahutku lembut.
Balqis menatap mataku dalam-dalam. Tangannya yang kecil menggenggam jari-jariku yang besar. Napasnya sedikit berat, fokus sekali.
“Aku… sayang… Ayah,” ucapnya akhirnya. Jelas. Terbata sedikit, tapi sangat jelas terdengar di telingaku.
*Deg.*
Duniaku seakan berhenti berputar sesaat. Suara rintik hujan, dengkur lemari es, bahkan rasa sakit di kakiku—semuanya hilang. Yang tersisa hanya suara mungil itu: *Aku sayang Ayah.*
Ini pertama kalinya.
Selama dua tahun hidupnya, Balqis pernah bilang “mama”, “papa”, “makan”, “minum”. Tapi kalimat utuh “Aku sayang Ayah” belum pernah keluar dari mulutnya. Apalagi setelah semua kejadian dengan ibunya, aku sempat khawatir Balqis lupa bagaimana cara mencintai, atau takut mengungkapkan perasaannya.
Ternyata tidak.
Cinta itu tetap ada. Terpendam, menunggu waktu yang tepat untuk mekar.
Air mataku langsung tumpah. Tidak bisa kutahan. Aku menarik Balqis ke dalam pelukan erat, membenamkan wajahku di rambutnya yang wangi sampo bayi. Tubuhku berguncang pelan menahan isak.
“Ayah juga sayang Balqis,” bisikku parau. “Sayang banget. Lebih dari apapun di dunia ini.”
Balqis membalas pelukanku, menepuk-nepuk punggungku seperti aku biasa menenangkannya saat menangis. “Jangan nangis, Yah. Balqis di sini. Balqis nggak pergi-pergi.”
Kalimat itu semakin menghancurkan benteng pertahananku. Anak sekecil itu sudah mengerti bahwa Ayah-nya butuh ditenangkan. Dia bukan lagi sekadar anak yang harus dilindungi; dia telah menjadi sumber kekuatan bagi Ayah-nya.
Kami duduk bersandar begitu lama hingga tangisku reda. Balqis tidak bertanya kenapa Ayah menangis. Dia hanya tetap memeluk, memberikan kehangatan yang jauh lebih efektif daripada obat manapun.
“Besok kita main apa, Dek?” tanyaku setelah suasana cair.
“Main pasar lagi!” seru Balqis antusias. “Mau beli ikan lagi. Mau peluk ikan!”
Aku tertawa lepas. “Oke, besok kita cari ikan yang paling ramah ya.”
Malam itu, sebelum tidur, Balqis berbisik lagi di telingaku, “Aku sayang Ayah. Besok juga sayang. Lusa juga sayang. Selamanya sayang.”
Dan aku pun menjawab dalam doa, “Terima kasih, Ya Allah. Engkau telah mengirimkan malaikat kecil ini untuk menyembuhkan luka-luka Ayah. Selama Balqis ada, Ayah akan selalu punya alasan untuk bangun dan berjuang.”
Saya harus menulis bab ini.
Saya harus abadikan malam di mana kata-kata sederhana menjadi obat paling mujarab bagi jiwa yang lelah.
Supaya dunia tahu, bahwa cinta seorang anak bisa membangkitkan ayah yang hampir menyerah.
Satu bab lagi selesai.
Tujuh belas bab sudah terangkai.
Target 20 bab tinggal 3 langkah lagi! Kontrak sudah di depan mata!
Aku tidak sendirian.
Kita tidak sendirian.
Tuhan kirimkan keajaiban melalui tiga kata suci: Aku, Sayang, Ayah.
Dan aku yakin, mulai malam ini, tidak ada badai yang mampu menggoyahkan kami.
Karena kami saling memiliki.