NovelToon NovelToon
CEO Terjebak Cinta Perjodohan

CEO Terjebak Cinta Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Janda
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ica Marliani

Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Pagi Yang Manis

"Masih marah sama abang?"

Kulihat wajah Laras uring-uringan menatap layar ponsel. Ia tak menoleh sama sekali padaku.

Kupeluk pinggangnya dari belakang, ia berusaha mengelak tapi tenagaku jauh lebih besar.

"Ningsih di rekrut staf HRD, ia pun mengancam abang jika memindahkan jabatannya. Abang hanya ingin hubungan kita tidak ada yang mengganggu,"

Laras membalikkan badannya. Sekarang antara mukaku dan mukanya hampir tak ada jarak.

"Justru dengan begini abang memberi kesempatan Ningsih untuk ikut campur dengan urusan kita!"

ia mendengus, tidak puas dengan penjelasanku.

"Sayang dengar abang, abang hanya menahannya sampai bukti tes DNA itu keluar. Biar dia malu sama perbuatannya. Setelah itu abang akan mengusirnya dari kantor."

Laras menyeringai, bibirnya terangkat.

"Tapi Laras tidak yakin, kalau Ningsih akan semudah itu abang singkirkan. Dia wanita ular bang."

Laras melepaskan genggaman tanganku. Berjalan mendekati kaca hias. Ia sudah nampak rapi sekali pagi ini.

"Oh iya bang, Laras mau ke kantor Lion Air pagi ini." Tenggorokanku tercekat, secepat itu dia ingin kembali kerja.

"Mau abang antar?" tawarku mendekatinya.

"Nggak usah bang, Laras udah janjian sama Kania."

"Ya udah, Laras hati-hati nanti ya."

"Iya, baik bang."

"Tapi ada yang janji sama abang kemarin mau antar makan siang setiap hari," aku mencolek pinggangnya. Ia merespon, lalu melirik kearahku dengan senyuman nakal.

"Maaf bang Laras nggak sempat, tapi kalau mau nanti kita makan siang di luar bersama Kania."

"Boleh, kalau sayang yang minta. Abang ikut aja," aku mencium lembut ubun-ubunnya. Wangi khas dari rambutnya buat aku betah lama-lama menempelkan hidung di sana.

"Kira-kira Laras lama di sana?"

"Nggak kok bang, hanya menyerahkan berkas sekalian wawancara sebentar. Kalau nggak ada kendala minggu depan mungkin Laras sudah mulai terbang," aku menelan ludah. Minggu depan Laras sudah mulai aktif jadi pramugari, yang artinya kesempatan bersama akan semakin jarang. Kalau saja mama dan mertuaku tahu pasti mereka akan melarang. Tapi demi kebahagiaan Laras aku mengalah.

"Tapi Laras harus ingat satu hal, hanya boleh abang di hati Laras. Laras milik abang seorang," bisikku di kupingnya. Laras memukul lembut pinggangku.

"Apaan sih bang, udah pandai gombal sekarang."

matanya mengerling genit ke arahku.

"Hmpz, romantisnya sudah belum!"

Terdengar suara ketukan dari luar kamar, suara dehaman Kania juga ikut mengagetkan kami. Bisa-bisanya bocah tengil itu mengganggu kemesraan suami istri.

"Sebentar, kamu tunggu di bawah dulu,"

Laras memelukku manja.

"Laras sudah menyerahkan semuanya untuk abang, tolong jaga hati abang juga untuk Laras."

Aku mengacak rambutnya. Sama-sama tertawa riuh. Biarkan Kania kesal menunggu kami di bawah.

Kami berjalan ke lantai bawah, aku menggenggam erat tangan Laras. Kalau menurutkan ego hati berat rasnya untuk melepas Laras bekerja lagi. Tapi aku juga mengerti ia suntuk hanya berdiam diri di rumah.

"Ya elah, pasangan pengantin baru lagi bucin akut!" celoteh Kania membuat aku terpingkal. Urat-urat pelipisku kendor seketika.

"Hati-hati aja kak Laras, buaya darat mah punya seribu cara buat merayu,"

Plak! bantal kursi melayang ke kepalanya. Ia tak tinggal diam, mengambil bantal lain lalu balas melemparku.

"Nak Raka, Dimas sudah menunggu di luar," suara Bik Iyem menghentikan guyonan kami.

"Abang berangkat dulu," aku mencium kening Laras seperti kebiasaanku sebelum berangkat kerja.

"Hati-hati ya bang,"

"Ye, Kania bang. Masa nggak dianggap sih,"

Aku menghampiri adik bungsuku itu, menoel sedikit kepalanya. Ia mencium punggung tanganku setelah Laras juga menciumnya.

Laras dan Kania mengantarkanku sampai pintu rumah, kulihat Dimas sudah standby di sana.

"Hati-hati bang, ingat jangan bikin drama lagi. Kania yang repot bujukin kk Laras."

Aku tertawa geli, kulihat dari jauh Laras mencubit pinggang Kania.

"Langsung ke kantor pak?"

ucapan Dimas membuat perhatianku pada Laras dan Kania teralihkan.

"Iya langsung ke kantor saja,"

Setelah mode pecicilanku dengan Kania dan mode bucin dengan Laras. Sekarang kembali ke mode CEO dingin di hadapan Dimas, agar harga diriku tak hilang.

Seperempat jam perjalan akhirnya kami sampai di kantor. Dimas seperti biasa memarkirkan mobil, aku langsung bergegas ke tangga lift menuju ruang kantorku. Banyak dokumen yang harus aku tandatangani hari ini.

Baru saja keluar dari lift, aku terkejut Ningsih menghadangku. Ia merekahkan senyuman, menatapku tak berkedip.

"Ada apa kamu di sini?" aku menggempalkan tinju.

"Manunggu Pak Raka datang," ia hendak meraih lenganku. Aku menghindar.

"Kamu jangan macam-macam Ningsih. Ini kantor bukan hotel,"

Ningsih tertawa.

"Jadi Bapak masih ingat, kenangan kita di hotel?" ia mengitariku.

"Aku cuma menemani karena kamu mabuk, bukan menidurimu!" suaraku mulai bergetar. Rahangku mengeras, pelipisku terasa panas.

"Aku bisa saja membuangmu sekarang Ningsih! tapi aku masih punya rasa kemanusiaan!"

Ia tiba-tiba berhenti tepat dihadapanku. Menatapku seakan dia biji matanya menghipnotis.

"Aku pasti akan jadi pemenang di hatimu, Raka."

"Di hatiku hanya ada Laras dan hanya untuk Laras!"

Aku melangkah meninggalkannya begitu saja. Aku rasa kalimat singkat itu cukup membuat ia paham. Bahwa sekarang aku adalah suami Laras.

"Aku akan bikin perhitungan denganmu Raka!"

suara itu menggema di telingaku, tapi aku tak peduli. Aku mempercepat langkahku tak lagi menolehnya ke belakang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!