NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kegalauan Rania

Tidak terasa, kini usia twins sudah enam bulan, badannya sehat dan gemuk, kalau melihat dari badannya, sekolah orang tidak akan percaya kalau mereka bayi enam bulan, baru akan MPASI. Keduanya sangat aktif, terutama Zidan. Babysitter nya sampai kewalahan kalau sedang menjaganya.

Sedangkan Naila, terlihat sangat manis dan menggemaskan, walaupun aktif namun tidak terlalu merepotkan babysitter nya.

Dan hati ini keduanya sudah mulai MPASI, Rania ingin agar kedua anaknya makan makanan yang sehat, sehingga Rania turun tangan sendiri untuk membuat makanan untuk kedua bayinya.

Di sela sela kesibukan nya mengurus toko roti nya yang semakin berkembang pesat berkat bantuan dari tuan Aditama yang tidak berhenti memberikan support baik materi maupun peluang usaha. Banyak rekan bisnisnya yang di ajukan tuan Aditama untuk melirik bisnis Rania.

Saat ini bu Arini tidak ikut membantu Rania karena lebih fokus merawat kedua cucunya, walaupun ada yang menjaga namun bu Arini tidak ingin lepas tangan dalam tumbuh kembang kedua cucunya.

"Ran, sudah sampai tahap mana kerja sama toko roti kamu dengan perusahaan BINA'S CORP.? "

"Sudah hampir tujuh puluh lima persen bu, dan mereka juga minta agar Ran bisa mengisi semua kantin perusahaan mereka. "

"Alhamdulillah, sekarang kerja keras kamu sudah terlihat menghasilkan. "

"Iya bu, semua tidak terlepas dari campur tangan papah Aditama. "

"Iya, tuan Aditama tidak lepas tangan begitu saja untuk kemajuan toko roti kita. " bu Arini menyeruput teh nya yang masih panas.

"Oh iya bu, kemarin papah datang ke toko, papah minta agar Ran bisa membuka toko roti di ibukota, papah bilang agar Ran bisa menggapai cakupan yang lebih luas lagi dan juga papah bilang bisa lebih leluasa melihat cucu kembarnya. "

"Kalau menurut kamu itu lebih baik dan akan lebih memajukan toko roti milik kita, kenapa tidak kita ambil saja. Karena ini adalah peluang yang cukup besar. " ujar bu Arini bersemangat.

"Kalau menurut ibu itu lebih baik, Ran akan mempertimbangkan nya, baik buruknya untuk perkembangan twins,"

Bu Arini mengangguk mengerti dengan apa yang di kata kan Rania, bagaimanapun juga jika toko roti pindah ke Jakarta dan berpusat di sana, maka seluruh keluarga nya harus pindah ke sana juga.

Jika mereka pindah semua, di khawatir kan Leon akan tahu tentang keberadaan twins yang selama ini di simpan rapat rapat dari Leon.

"Lebih baik di bicarakan lagi dengan tuan Aditama, dan kekhawatiran kamu tentang twins. "

"Iya bu, nanti kalau papah telpon Ran akan bicarakan lagi tentang masalah ini, karena jika Ran saja yang pindah ke Jakarta rasanya Ran tidak tega harus meninggalkan ibu dan twins. "

"Sudah sekarang jangan terlalu dipikir kan dulu, nanti kamu malah sakit. Berdoa saja semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk kita semua. "

"Aamiin..... " Jawab Rania yang mengaminkan ucapan ibunya.

"Sudah siang, Ran pergi dulu ke toko, makanan buat twins sudah Ran buatkan.. "

'Iya nanti ibu beritahu susternya. "

"Makasih ya bu, Ran pergi dulu, jangan terlalu cape Biarkan saja twins kan sudah ada yang mengasuh. Ibu jangan banyak menggendong mereka, nanti sakit lagi. "

"Iya sayang , ibu akan hari hati akan gendong mereka yang sudah sangat aktif. "

Rania pamit pergi ke toko roti karena hari ini akan ada event untuk promosi variant baru. Rania berangkat mengendarai mobil sendiri, mobil yang di pakai adalah pemberian tuan Aditama untuk memudahkan Rania bepergian.

Sebenarnya sudah ada mobil namun kalau untuk pergi ke toko roti, Rania menggunakan mobil yang lebih kecil.Jika bepergian bersama semuanya, Rania akan menggunakan mobil yang dulu pernah di belinya.

Sampai di toko rotinya, Rania masuk ke dalam, sudah banyak pelanggan yang ingin membeli roti yang terkenal enak namun harganya ramah di kantong. Baik kalangan atas maupun kalangan bawah bisa membeli roti di toko milik Rania.

Tidak hanya melayani beli atau makan fi tempat saja, tapi melayani penjualan online juga. Baik dalam skala besar maupun skala kecil.

Toko toko roti Rania bernama RAZNA BAKERI. Yang di ambil dari nama Rania Zidan dan Naila. Toko roti Razna di mulai dari toko kecil dengan modal dari penjualan rumahnya yang ada di Jakarta sebelum Rania dan ibunya pindah ke Kalimantan.

"Pagi bu... " sapa beberapa orang karyawan yang berpapasan dengan Rania.

Rania selalu tersenyum dan menjawab sapaan dari karyawan nya, karena menurut Rania sendiri jika kita tidak menjawab sapaan dari karyawan khawatir akan membuat kinerja para karyawan tidak semangat, selain bos ramah, Rania akan memberikan bonus jika penjualan roti meningkat

"Bagaimana penjualan hari ini? " Tanya Rania pada karyawan yang bertanggung jawab pada toko nya.

"Penjualan sangat bagus, ada beberapa variant rasa yang best seller. "

"Bagaimana dengan event yang akan kita selenggarakan hari ini, apakah semua persediaan roti mencukupi untuk event kita dan penjualan di outlet? "

"Ibu tidak dak usah khawatir, barang tersedia banyak, di outlet maupun di tempat event. "

"Syukur lah kalau semua aman terkendali. "

"Maaf bu, kalau begitu saya kembali ke depan untuk melayani pembeli, karena karyawan lain tampaknya ketereran. "

"Silakan lanjutkan pekerjaan nya. "

Karyawan tersebut pergi dari hadapan Rania untuk kembali ke outlet membantu beberapa karyawan untuk melayani pembeli.

Sementara di ruangan nya Rania sedang menjawab telpon dari tuan Aditama membahas rencana pemindahan toko roti ke Jakarta, baik buruknya untuk kehidupan twins jika nanti sudah berada di Jakarta.

Rania mengatakan alasan yaitu Leon, karena untuk saat ini Rania belum siap jika harus bertemu dengan Leon. Dan untuk kedua anaknya Rania ingin agar Leon bertemu jika alam menghendaki nya.

"Dulu saat kamu bertemu dengan Leon, apakah Leon mengenali kamu? "

"Saat itu Ran memakai masker pah, karena fi toko roti untuk semua karyawan di wajibkan memakai masker jika sedang melayani pembeli. "

""Mungkin nanti juga jika di Jakarta ada toko roti kamu, masih tatap kan para karyawannya memakai masker? "

"Iya pah, Ran tetap akan meminta para karyawan toko roti Ran untuk memakai masker. "

"Ya sudah kalau begitu tidak usah khawatir kamu akan bertemu dengan Leon. "

"Mungkin jika Ran, tapi kalau twins bagaimana pah, tanda tes DNA pun Leon akan tahu kalau mereka itu anak nya Leon. "

"Tapi mereka kan tidak akan keluar tiap hari. "

"Ran akan memikirkan ulang untuk pindah ke Jakarta pah. "

"Papah kasih waktu satu bulan lagi ya Ran, papah mohon pikirkan kembali usulan papah ini. "

"Baik pah, Ran akan memikirkannya kembali. "

Rania menutup telpon datu tuan Aditama, pikiran nya saat ini buntu, entah apa yang akan terjadi jika mereka semua pindah ke Jakarta tempat Leon berada. Tapi jika mereka semua tidak pindah, toko roti nya juga tidak akan berkembang lagi dan hanya stuck di Pontianak saja

"Ya Tuhan mengapa sangat sulit sekali memutuskan hal ini. " Rania merasa sangat putus asa.

"Lebih baik nanti Ran bicara kan lagi dengan ibu, mungkin saja ibu punya solusi terbaik untuk masalah yang sedang Ran hadapi saat ini. "

Hari sudah menjelang sore, Rania bersiap siap untuk pulang, rasa rindunya pada twins sudah tidak bisa di bendung lagi. Padahal tadi siang mereka sudah melakukan video call, tapi masih saja rindu berat, bagaimana jika Rania ke Jakarta sedangkan twins di Kalimantan. Waaaahhhhh bisa bisa nangis terus tiap hari.

Rania baru saja sampai di depan rumahnya, twins yang di sedang duduk di ruang tengah di atas karpet bulu yang tebal tampak sedang ngemil makanannya.

"Assalamualaikum sayangnya mamah... "

Keduanya melihat Rania tertawa ingin memeluk Rania, tangan dan kakinya bergerak gerak bibir nya tertawa menampilkan gusinya yang belum ada giginya.

"Sebentar sayang ya, mamah bersih bersih dulu, nanti mamah gendong kalian berdua. "

Seakan mengerti apa yang di katakan mamahnya, keduanya cemberut, tawa yang tadi di perlihatkan tiba tiba saja hilang, tampaknya twins kompak marah pada mamahnya.

Rania tertawa melihat twins kompak marah dengan mamahnya karena harus bersih bersih badan nya dulu. Kemudian Rania bangkit dari duduknya berjalan ke kamarnya dan segera membersihkan dirinya agar cepat bisa menggendong kedua anak kembar nya yang sedang marah.

Tidak lama kemudian Rania keluar dari kamarnya sudah terlihat sehar, twins yang sedang duduk membuka tangannya ingin di peluk mamahnya.

"Anak anak mamah sudah mandi? "

"Sudah bu, tadi jam empat. " Jawab babby siiternya.

"Pantesan wangi banget, ibu mana kok ga kelihatan biasanya ada dekat twin. "

"Tadi sebelum ibu pulang, ibu sepuh masuk kamar katanya pusing. "

"Sudah dari tadi ya.? "

"Iya bu. "

"Titip anak anak dulu, saya mau lihat ibu ke kamar. "

Rania bangkit dari duduk nya berjalan ke kamar bi Arini, hatinya merasa khawatir dengan kesehatan ibunya. Rania mengetuk pintu kamar bu Arini, tapi ternyata tidak BFI kunci. Setelahnya Rania masuk ke dalam kamar.

Terlihat bu Arini sedang terbaring di atas tempat tidurnya, nafasnya terlihat tenang dan teratur. Rania duduk di pinggir tempat tidur kemudain memegang tangan bu Arini yang ada di atas perutnya.

Merasa ada yang memegang tangannya, bu Arini membuka matanya perlahan kemudain tersenyum pada Rania.

"Sudah pulang, maaf ya ibu malah tiduran. "

"Ga apa apa, ibu sakit apa? "

"Entahlah, hanya saja kepala ibu tiba tiba saja merasa pusing, pandangan sedikit kabur, tadinya ibu ingin menggendong Naila tapi cepat cepat ibu berikan kembali pada susternya. " Bu Arini menjelaskan.

"Sekarang masih pusing? "

"Sudah tidak seperti tadi. "

"Mungkin darah ibu naik lagi, sudah minim obat yang dokter kasih? "

"Sudah, makanya sekarang sudah tidak terlalu pusing. "

"Ibu sudah makan? "

"Tadi siang ibu sudah makan sebelum kepala ibu pusing. "

"Kiya ke dokter yuk, Ran sangat khawatir dengan keadaan ibu, wajah ibu masih terlihat pucat walaupun kata ibu sudah ga apa apa tapi Ran sangat khawatir, jangan tolak ya bi, biar hati Ran bisa tenang. "

Bu Arini tidak ingin anaknya tambah khawatir jika menolak ke dokter, akhirnya bu Arini mau menerima ajakan Rania ke dokter, walaupun bu Arini merasakan drinya sudah merasa lebih baik tidak seperti saat tadi siang.

"Baiklah kita ke dokter, kamu keluar dulu ya, ibu mau ganti baju dulu."

Tanpa menolak lagi, Rania keluar dari kamar ibunya sambil menunggu ibunya keluar kamar, Rania bermain dengan kedua anaknya yang semakin hari semakin menggemaskan.

Pintu kamar ibu sudah terbuka, ibu sudah rapi memakai pakaian yang selalu saja membuat ibu tampak cantik walaupun riasan nya sederhana.

"Saya mau antar ibu ke dokter, saya titip anak anak dulu ya."

"Baik bu... " jawab keduanya.

Rania keluar dari rumah kemudain masuk ke dalam mobil yang masih ada di depan rumah, di susul bi Arini masuk ke dalam mobil. Rania tancap gas mobil melaju ke jalan raya yang tidak jauh dari rumah Rania, lalu lintas tidak terlalu ramai mungkin karena sudah dire dan juga hari ini hari senin sehingga orang orang belum banyak yang jalan jalan keluar.

Setengah jam kemudian, Rania dan ibunya sudah sampai di sebuah klinik, parkir mobil kemudian masuk ke dalam klinik. Rania mendaftarkan ibunya setelah itu duduk di kursi tunggu.

Beberapa saat menunggu akhirnya giliran vi Arini di panggil perawat untuk masuk ke dalam ruangan dokter . Di dalam ada seorang dokter wanita paruh baya tersenyum pada keduanya.

"Hai bu Arini, ada keluhan apa hari ini? " Dokter bertanya.

"Biasa dokter mungkin usia saya sudah tidak muda lagi, sering sekali pusing, tadi siang kalau tidak ada suster yang menjadi cucu saya mungkin saja saya jatuh. "

"Coba berbaring dulu bu, akan saya periksa. "

Bu Arini berbaring di atas brangkar untuk di periksa oleh dokter. Setelah di lakukan pengecekan, dokter meminta bu Arini duduk kembali.

"Ibu saya sakit apa dokter? "

"Bu Arini hanya kelelahan, tidak ada yang harus dikhawatirkan. Saya resepkan vitamin dan juga penambah imu agar ibu tidak mudah kelelahan, jangan terlalu banyak bekerja ya bu. "

"Saya di rumah hanya makan dan tidur saja, paling juga masak air itupun hanya sedikit." Bu Arini terkekeh pelan.

"Tidak apa apa bergerak sedikit. Biar ga jenuh ya bu. " Ucai dokternya.

Selesai menuliskan resep, Rania dan ibunya keluar dari ruangan dokter kemudian membeli obat di apotek yang ada di klinik.

"Ran, ibu ga banyak pekerjaan kok hanya masak saja, itu pun hanya masak air untuk minum teh ibu saja. " bu Arini tidak ingini salahkan.

"Ran sudah sediakan dispenser yang untuk air panas, kenapa ibu ga pake air itu saja, lan sama panasnya. "

"Ibu ga suka panasnya, lebih baik ibu masak air saja, panas nya pool banget. "

"Ya sudah terserah ibu saja, tapi nanti lain kali minta suster masakin air panas buat ibu, nanti aku bilang sana mereka, jadi ibu ga usah masuk ke dapur apapun alasannya. "

Rania dengan tegas.

"Ran, ibu ga bisa cuma diam saja, masa kalai cuma buat masak air saja suster yang masakin. "

"Ya kalau ibu ga mau di masakin air, pakai dong dispenser nya, panas sama dengan yang ibu masak."

...****************...

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!