NovelToon NovelToon
Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Noda Di Pangkuan Mas Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Marlyn_2309 Lyna

"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.

"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.

Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.

Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang Terukir di Punggung

Mentari pagi menyelinap malu-malu di sela kisi-kisi jendela kayu, membawa aroma tanah basah dan melati yang mekar di halaman pesantren.

Cahaya itu jatuh tepat di wajah Shanum yang pucat, menyapu butiran keringat yang masih setia menghiasi keningnya. Ia sudah sadar, namun tubuhnya terasa seperti rongsokan yang dihantam badai; berat, panas, dan nyeri di setiap persendian.

Rasyid masuk membawa baskom kecil berisi air hangat dan selembar handuk halus. Langkah kakinya yang tenang biasanya membawa kedamaian, namun bagi Shanum, setiap kehadiran pria itu adalah pengingat akan sangkar yang kini mengurungnya.

“Duduklah. Suhumu masih tinggi, aku harus menurunkan panasnya sebelum infeksi di kakimu menjalar,” ucap Rasyid dengan nada datar, namun tangannya cekatan memeras handuk.

Shanum mendengus, mencoba bangkit meski kepalanya berputar hebat. “Kenapa? Takut kalau aku mati, kamu tidak bisa menceraikanku dengan terhormat?”

Rasyid mengabaikan duri dalam kalimat itu. Ia mendekat, hendak menempelkan handuk ke dahi Shanum, namun wanita itu membuang muka. “Jangan sentuh. Tanganmu itu terlalu suci untuk kulit pendosa, ingat?”

“Ini pengobatan, Shanum. Bukan keinginan pribadi.”

“Alasan,” cibir Shanum dengan suara serak. Saat Rasyid mulai mengusap tengkuknya yang panas, Shanum menyentak kecil.

“Kyai Mesum. Bilang saja kamu sedang mencari kesempatan di balik jubah agamamu itu, kan? Mengompres dahi saja cukup, kenapa harus sampai ke punggung?”

Rasyid menghentikan gerakannya. Wajahnya yang biasanya teduh kini memerah, bukan karena marah, melainkan karena canggung yang luar biasa.

Ia berdeham, mencoba mengalihkan pandangan dari helai rambut Shanum yang berantakan. “Punggung adalah pusat saraf. Menurunkan suhu di sana lebih efektif. Jika kamu pikir aku menikmati ini, kamu salah besar. Menghadapi keras kepalamu jauh lebih melelahkan daripada mengurus ratusan santri.”

Shanum terdiam, sedikit terkejut dengan jawaban jujur Rasyid yang tidak kaku seperti biasanya. Ada semburat manusiawi di balik topeng kepemimpinannya.

Dengan gerakan ogah-ogahan, Shanum berbalik membelakangi Rasyid, membiarkan pakaian tidurnya sedikit melonggar agar handuk hangat itu bisa menyentuh kulit punggungnya.

Namun, saat kain basah itu menyentuh kulit Shanum, gerakan tangan Rasyid tiba-tiba membeku.

Di balik pundak kiri Shanum yang halus namun lebam, terukir sebuah tato permanen. Warnanya hitam pekat dengan garis-garis emas tipis yang tampak sangat rumit.

Itu bukan gambar sembarangan. Itu adalah simbol matahari yang dikelilingi oleh dua bilah pedang melengkung dan aksara kuno yang membentuk lingkaran sempurna. Simbol kekaisaran Ottoman yang sangat spesifik.

Napas Rasyid tertahan. Ia meletakkan handuknya, jemarinya bergetar saat ia merogoh saku jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah liontin perunggu tua yang ia dapatkan dari seorang penjaga perpustakaan rahasia di Istanbul setahun lalu.

Liontin itu adalah cendramata langka yang dikatakan hanya dimiliki oleh garis keturunan pelayan inti istana atau kerabat jauh yang terbuang.

“Shanum... dari mana kamu mendapatkan tato ini?” suara Rasyid berubah berat, penuh selidik.

Shanum menoleh sedikit, menyadari ketegangan di suara suaminya. “Kenapa? Kamu mau menceramahiku tentang haramnya tato sekarang? Silakan, tambahkan ke daftar dosaku.”

“Bukan itu,” Rasyid menyodorkan liontin di tangannya ke depan wajah Shanum. “Lihat ini. Simbol ini... sama persis dengan yang ada di punggungmu. Tidak ada satu garis pun yang meleset.”

Shanum terpaku melihat benda di tangan Rasyid. Matanya yang sayu mengerjap. “Aku tidak tahu. Banyak orang di tempat... tempat lamaku, bilang aku punya darah Turki. Tapi aku tidak percaya. Untuk apa keturunan bangsawan berakhir di tempat bordil?”

Ia tertawa getir, sebuah tawa yang lebih mirip isakan yang mati di tenggorokan.

“Mungkin ini hanya simbol perpelayanan. Mungkin orang tuaku dulu adalah budak di sana, lalu mereka menandai punggungku agar aku tahu tempatku di dunia ini adalah untuk melayani orang lain.”

“Aku dibuang saat umurku sepuluh tahun, Rasyid. Dilempar ke pintu belakang rumah bordil seperti sampah yang sudah membusuk.”

Shanum menatap mata Rasyid dengan sorot yang menghujam. “Kamu merasa aku kotor karena aku ada di klub malam itu? Kamu pikir semua wanita di sana memilih untuk menyerahkan tubuh mereka sambil tertawa?”

“Kami adalah orang-orang yang tidak memiliki pilihan, sementara orang-orang suci seperti kalian sibuk membasuh tangan agar tidak terkena debu dari jalanan tempat kami merangkak.”

Rasyid terbungkam. Kata-kata Shanum bukan lagi sekadar hinaan, melainkan cermin retak yang menunjukkan betapa sempitnya sudut pandang yang selama ini ia miliki.

Rasa malu kembali membakar dadanya. Ia ingin bicara, ingin menyanggah bahwa ia tidak bermaksud seperti itu, namun lidahnya kelu.

Tiba-tiba, pintu kamar terbanting terbuka. Kebisingan itu menghancurkan momen rentan di antara mereka.

Nyai Salamah masuk dengan langkah yang menghentak lantai kayu, diikuti oleh dua orang abdi dalem yang tampak gelisah. Wajahnya masam, matanya langsung tertuju pada Rasyid yang sedang duduk terlalu dekat dengan Shanum.

“Masya Allah, Rasyid! Sampai kapan kamu mau berlama-lama di kamar ini?” Nyai Salamah bersedekap, suaranya melengking sarkas.

“Urusan umat terbengkalai hanya karena kamu sibuk mengurusi wanita yang bahkan tidak tahu caranya bersuci!”

Rasyid berdiri, mencoba menenangkan ibunya. “Ummi, Shanum sedang sakit. Saya hanya—“

“Hanya apa? Menikmati pemandangan punggung wanita bertato?” potong Nyai Salamah dengan tatapan jijik ke arah Shanum yang kini sudah merapatkan kembali pakaiannya.

“Dengar, Rasyid. Jangan pikir karena kamu Kyai, kamu bisa bebas bermain api. Keluarga besar sudah berkumpul di ruang utama. Pamanmu, Kyai Mansur, juga sudah datang. Mereka menuntut kejelasan. Namamu dipertaruhkan, dan kamu masih membela benalu ini?”

Nyai Salamah melangkah mendekati Shanum, memberikan senyum paling sinis yang pernah Shanum lihat.

“Awas saja. Kita lihat seberapa kuat suamimu yang suci ini bisa mempertahankanmu saat seluruh dewan pesantren memintamu diusir. Kamu itu Cuma sampah yang tersangkut di kaki Rasyid, dan sebentar lagi, kaki itu akan menendangmu kembali ke selokan tempatmu berasal.”

Nyai Salamah berbalik, menatap Rasyid dengan tajam. “Segera keluar, atau Ummi sendiri yang akan menyeret wanita ini keluar dari gerbang pesantren!”

Pintu kembali terbanting. Ruangan itu kembali sunyi, namun sisa-sisa amarah Nyai Salamah masih terasa bergetar di udara.

Shanum menatap langit-langit kamar dengan mata kosong. “Pergilah, Rasyid. Selamatkan martabatmu. Aku sudah biasa dibuang, satu kali lagi tidak akan membuatku mati.”

Rasyid tidak bergerak. Ia menggenggam erat liontin di tangannya, merasakan sudut-sudut tajam simbol itu menusuk telapak tangannya.

Pikirannya tidak lagi di ruang utama, melainkan pada misteri yang terukir di punggung istrinya. Ia tahu, jika ia keluar sekarang, ia mungkin akan kehilangan Shanum selamanya. Tapi jika ia tetap tinggal, ia akan melawan seluruh dunianya sendiri.

“Aku akan kembali,” bisik Rasyid pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Dan saat aku kembali, tidak akan ada yang bisa menyentuhmu, Shanum. Sekalipun itu keluargaku sendiri.”

1
Arni Anggraeni
kereeeeenn
Lyynn: waahh terima kasih kaakk😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!