NovelToon NovelToon
Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Malam Jadi Istri Siang Jadi Pacar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikahmuda / Balas Dendam
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Duluan Aja

Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.

Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?

Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.

Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalur Angkot

Tak terasa satu minggu telah berlalu.

Sementara pagi itu masih terasa biasa saja. Sama seperti di hari-hari normal ketika Dena masih bisa menghirup udara. Alias, masih hidup di dunia yang fana.

Di langit, matahari masih naik setengah niat pas paginya, walau kadang suka mendung, tapi masih lebih sering teriknya.

Udara di sekitar juga masih tergolong nyaman, walau kadang panas, tapi belum yang panas-panas amat. Hingga membuat orang-orang berlomba beli es teh manis di kantin Mister Kumis.

Sementara halaman sekolah, ya gitu. Pas paginya masih terlihat sama.

Anak-anak pada datang ke sekolah dengan muka setengah sadar, seperti setengah nyawa mereka masih ketinggalan di bantal.

Dan pas siangnya mereka terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing. Ya normal aja kayak suasana di sekolah pada umumnya. Ada yang lagi jajan, duduk-duduk di taman, gigit gorengan, ghibahin pacar teman, arisan...normal kan?

Nah, sementara itu di antara mereka, Dena juga menjalani aktivitasnya sendiri seperti biasa. Sebagai murid tahun ketiga yang diam-diam menyimpan rahasia pernikahannya dengan seorang CEO menyebalkan.

Dan seorang ratu bully sekolah yang dirumorkan sudah bertaubat. Ya, setidaknya gosip itu sudah mulai beredar, sejak Dena tak lagi mengusik ketenangan para murid lain di sekolah itu.

Walaupun, Rola dan Micin masih aja suka maksain Dena buat ngajak-ngajak lagi.

Seperti hari ini.

"Bully yuk?" Micin dengan bandana ijo di atas kepalanya itu, udah napsu banget buat ngajakin Dena merundung siswi lain.

Sedangkan Dena. "Nggak ah!" tolaknya mentah-mentah.

Alasannya satu, ia takut kena masalah lagi. Ya walaupun itu sih cuma kilahnya aja, dan alasan sesungguhnya, kalian pasti tau sendiri.

"Lo nggak asik ah! Masa gara-gara pernah sekali dilaporin. Lo jadi nggak mau bully lagi," gerundel Micin manyun-manyun.

Rola pun tak kalah manyun, cuma si pemilik anting panjang itu nggak ngomong aja.

"Gue udah kapok, Mi!"

"Ajak Eca aja sana!" suruh Dena.

"Nggak ah kalau ngajak dia mah!"

"Kenapa?"

"Lo belum tau?" Kali ini Rola ngomong.

"Apa?"

"Dia sekarang juga aneh, Den!"

"Aneh gimana?"

"Ya aneh..."

"Lo liat aja sendiri. Tuh!" tunjuk Rola.

Elsa? Gadis itu kelihatan lagi latihan bela diri di lapangan belakang sekolah sambil panas-panasan, dan teman-temannya ya jelas ogah nemenin dia.

Takut kulit mereka jadi mendadak eksotis. Ya walaupun yang hitam terkadang emang lebih manis. Tapi kalau hitamnya tragis!

Apa iya masih manis?

...***...

"Eh Den, lo masih nyariin Dyo nggak sih?" tanya Micin sambil ngaca di depan cermin. Di toilet mereka sengaja mampir buat cuci tangan.

"Dyo?"

Dena langsung ngangguk-ngangguk. Sebab, sampai hari ini Dena memang masih kepikiran Dyo—pacarnya yang hingga sekarang bahkan belum ada kabarnya.

Yang entah sudah sembuh apa belum, Dena masih nggak tau juga. Padahal udah seminggu ini Dena bolak-balik nanyain keadaan Dyo pada Renal, tapi laki-laki itu cuma ngejawab begini setiap hari.

"Sabar dulu ya, anak-anak masih nyariin." Itu jawaban Renal.

"Jadi Dyo belum ketemu sama kalian?"

"Ya belum."

Dan jawaban itu selalu Dena anggukin. Soalnya, mau ikut-ikutan nyari juga nggak dibolehin sama anak-anak Eagle Sanca.

Dan kalaupun akhirnya dibolehin, Dena juga bingung gimana ngomongnya ke Alvaro.

Masa iya izin mau nyariin pacar di depan suami sendiri. Kan gimana ya?

Di toilet, Rola menyadarkan Dena dari lamunannya, dengan mencipratkan air di mukanya.

"Udah lupain aja kenapa sih? Cowok yang suka ilang-ilangan gitu biasanya nggak setia," katanya sambil cuci muka sekalian.

"Iya, bener kata Rola. Lupain aja Dyo. Lo kan cantik, bisa nyari cowok lain yang lebih baik," timpal Micin.

"Nggak kayak Dyo. Iya ganteng, tapi nggak jelas!" bengisnya.

"Gue nggak bisa—"

"Nggak bisa apa, lupain Dyo?" tukas Rola.

Dena ngangguk-ngangguk. "Iya, kan lo berdua tau sendiri, gue udah cinta mati sama dia."

"Alah tai!" dengus Rola.

"Cinta mati tapi lo nya dimanfaatin mulu. Itu namanya lo bego!" sembur Micin.

Dena langsung membesengut. "Lo berdua diem deh, kalau nggak suka ya udah! Pergi aja sana!" usirnya.

"Yaudah terserah!"

...***...

Ketika matahari mulai tergelincir ke barat, lalu sore pun datang.

Dena melupakan pikirannya tentang Dyo yang menggenang sejak tadi, dan malah kembali teringat pada satu keanehan yang seminggu ini sudah terjadi.

Di sana, di halte depan sekolah, setelah para sahabatnya pulang. Dena bengong sendirian nungguin angkot.

Dan itu aja udah aneh.

Biasanya, di jam segini, nyari angkot di jalur itu sama aja kayak nyari jarum di tumpukan jerami—langkanya jelas dan nggak jelas pula bakal ada atau tidaknya.

Kebanyakan nih ya.

Kalau pas jam pulang sore, jangankan ada angkot di jalur itu yang berhenti di halte. Yang lewat aja belum tentu ada. Dan kalaupun ada, itu juga udah penuh bahkan ketika baru kelihatan dari jauh.

Tapi, seminggu terakhir. Semuanya jadi beda. Kayak sulap, karena di jalan mulai banyak terlihat angkot yang sebelumnya nyaris sirna kini kembali beroperasi.

Dan kebanyakan bahkan masih kosong.

Dena lalu melirik, pas ada satu angkot di jalur itu berhenti di halte, lengannya refleks menyenggol gadis di sebelah.

"Nah kan ada lagi," ujar Dena heran sekali.

Gadis di sebelahnya itu Dena sebenarnya nggak kenal, tapi terlihat dari seragamnya. Gadis itu masih murid kelas sepuluh.

Kebetulan juga lagi nungguin angkot di jalur yang sama dengan Dena.

Gadis itu mengangguk, sama-sama keheranan.

"Aneh ya Kak, akhir-akhir ini angkot ke daerah barat jadi banyak banget yang mulai narik lagi," ujarnya.

"Padahal biasanya sepi," imbuhnya sambil kemudian berdiri.

Guna melirik ke dalam angkot, apa masih banyak kursi yang tersedia di sana.

Ternyata masih.

"Kita naik yang ini aja, Kak!" ajaknya.

"Iya."

Dena mengangguk, lalu keduanya naik ke dalam angkot yang sama. Angkot yang akan membawa mereka pulang ke daerah barat.

Dan setelah angkot itu pergi.

Di balik kepulauan asap soto di panci, kedua bola mata Douglas yang tersembunyi di balik kaca mata, memperhatikan berlalunya angkot yang membawa Dena menjauh dari halte Harina.

Tak lama, sambil laki-laki itu menggigit sate ampela, Douglas kemudian mengambil foto angkot tersebut.

Lalu, tertulis di bawahnya sebuah kalimat, tepat sebelum Douglas mengirim laporan itu.

Douglas bilang ke Alvaro. Dena sore ini udah balik naik angkotnya Ramdan.

Selang beberapa menit kemudian.

Alvaro menelfon.

"Ya?"

"Sudah berapa hari sejak mereka kembali beroperasi?" tanya Alvaro begitu panggilannya dengan Douglas terhubung lancar.

"Sekarang sudah hari Jumat. Berarti mereka sudah kembali beroperasi selama satu minggu," ujarnya.

Sambil memperhatikan monitor cctv di area halte Harina. Alvaro mengangguki perkataan Douglas.

"Tugas lo memastikan Dena selalu pulang dengan aman!" ucap Alvaro sebelum memutus panggilan.

Douglas langsung mengangguk, "Siap!"

Dan panggilan lalu berakhir.

...***...

Di dalam angkot, Dena kebetulan mendapat tempat duduk tepat di belakang pak supir. Tau dong? Angkot itu tempat duduknya nggak kayak di bis. Bangkunya cuma ada dua, dan itu pun memanjang di samping. Nah, Dena duduk di bangku samping kanan, di yang paling ujung depan.

Ya walaupun di sana, Dena sebenarnya agak kesel juga. Gara-gara Pak supir itu ngapain pula harus merokok pas lagi kerja. Kan jadinya penumpang di belakang terpapar asap. Bikin agak sesak napas, tapi yaudah.

Dena langsung menyentuh pundak Pak supir, tapi bukan untuk marah-marah. Cuma mau nanya sepatah dua patah.

Pak supir melirik di kaca spion tengah. Ada handuk kecil setengah basah, tersampir di tengkuknya yang agak gerah.

"Mau turun, Neng?" tanya Pak supir.

"Enggak, Pak." Dena menggeleng.

"Saya cuma mau nanya."

"Oh, mau nanya apa?"

"...nama saya?"

Dena mendelik, "Bukan!"

"Lagian siapa juga sih yang mau tau nama bapak! Ge-er aja ah!" dengusnya lirih.

Pak supir tertawa renyah.

"Ya siapa tau Neng butuh tau. Nama saya Ramdan," ujarnya.

Dena melengos, agaknya sih dia sebenarnya nggak butuh tau, tapi akhirnya ngangguk-ngangguk. Eh, malah keterusan ngobrol sampai lupa tujuan awal.

Mulai dari ngomongin suara mesin angkotnya yang kayak udah sering kehabisan napas, sama sedikit bau kampas.

Pak Ramdan malah ngomongin keluarganya yang cemara.

"Anak saya dua, yang kecil masih TK, yang besar seumuran Eneng," katanya.

Dena terbawa arus tanpa sadar. "Seumuran saya?"

"Iya, tapi cowok. Neng mau saya kenalin?" Pak Ramdan senyum-senyum. Mau cari menantu agaknya.

Dena langsung tersadar, kayaknya obrolan itu nggak perlu sampai sedalam ini. Lagian pun buat apa?

Dena mendelik lagi.

"Enggak deh!" tolaknya kali ini.

"Tapi saya mau nanya aja!" sambung Dena.

"Loh, dari tadi kan udah nanya," sahut Pak Ramdan.

"Iya!" Dena mecucu. "Tapi bukan soal keluarga bapak, atau keadaan angkot bapak. Tapi soal kenapa akhir-akhir ini bapak narik lagi di jalur ini!" tegas Dena, mulai serius.

"Oh..."

"Karena disuruh, Neng," jawab Pak Ramdan.

"Disuruh siapa?"

Pak Ramdan mengoper gigi, angkotnya jadi agak keder.

"Ada lah... Itu orang-orang yang di terminal, yang punya kuasa di sana."

Dena mengerinyit, "Pengelolanya?"

Pak Ramdan menggeleng. "Bukan, Neng."

"Terus?"

"Ada lah..."

Dena menghela napas jengah. Ah bapak ini, tinggal jawab doang kayak susah amat.

"Iya ada, tapi siapa yang ada?!" Dena mulai kesal.

Pak Ramdan menoleh pelan, melirik Dena tak lagi melalui kaca spion tengah. Lalu dia berbisik, seperti takut ada yang mendengar.

"Preman, Neng!" jawabnya.

Dena mendelik lagi. "Preman?"

"Iya."

"Di terminal ada preman?"

"Ada, Neng... banyak."

"Mereka, yang maksa bapak buat narik lagi?" Dena terkejut lumayan.

Pak Ramdan mengangguk-angguk. "Iya, makanya saya nurut."

"Mereka itu bukan pengelola terminal kan? Kenapa bapak nurut?"

"Karena saya takut, Neng."

"Takut kenapa, Pak?"

"Ya takut."

"Takut dihajar?"

"Bukan, tapi takut angkot saya dibakar, Neng," ujarnya.

Dena spontan mendelik, "Hah! Dibakar?!"

"Iya, padahal ini angkot warisan mertua saya, Neng..."

Pak Ramdan menoleh ke belakang.

"Kan sayang kalau angkot ini jadi gosong," katanya lalu cekikikan.

Dena langsung bengong.

1
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak sampe eps 45 😁
dan semangat buatnya 💪
Ppinkykhaenafk_
lanjut dong kak, kalo bisa segera ya udah ga sabar nih 🤭
Ppinkykhaenafk_
keren plotnya tuh dar der dor banget
Ppinkykhaenafk_
aku kasih gift nih 🌹
Ppinkykhaenafk_
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!