NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: SISA ABU DAN PELUKAN YANG HANGAT

Jakarta di jam lima pagi itu seperti raksasa yang baru bangun tidur, masih malas-malas dan berkabut. Tapi di depan gerbang Panti Asuhan Kasih Bunda, suasananya terasa seperti sisa medan perang. Bau bensin masih menyengat, bercampur dengan aroma aspal basah.

Arka berjalan santai. Langkah kakinya yang dibalut sepatu kets murahan—yang sekarang sudah kotor kena debu reruntuhan gedung Sanjaya—terdengar ritmis di atas trotoar. Dia nggak butuh kendaraan mewah buat sampai ke sini. Dengan sedikit manipulasi energi pada saraf kakinya, dia bisa berpindah beberapa blok hanya dalam satu tarikan napas.

Di depan gerbang, dia melihat sisa-sisa kekacauan tadi malam. Kursi-kursi plastik yang patah, beberapa jerigen bensin yang tergeletak terbuka, dan garis hitam di tanah bekas ban mobil yang kabur terburu-buru.

"Kak Arka?"

Suara kecil yang gemetar itu memecah sunyi.

Arka berhenti. Di balik pintu kayu panti yang catnya sudah mengelupas, muncul sosok mungil bernama Nanda. Bocah tujuh tahun itu memegang erat sebuah boneka beruang yang telinganya sudah hilang satu. Matanya sembab, merah, dan penuh ketakutan.

Arka berjongkok. Matanya yang tadi di gedung Sanjaya bisa membuat seorang triliuner kencing di celana, sekarang melembut. Aura membunuh yang menyelimutinya luruh seketika, digantikan kehangatan yang cuma dia simpan buat orang-orang di bangunan tua ini.

"Nanda, kenapa belum tidur?" suara Arka serak, tapi tenang.

Nanda nggak menjawab. Dia langsung lari dan menubruk dada Arka, menangis sejadi-jadinya. "Tadi ada orang jahat, Kak... Mereka bawa api... Mereka bilang mau bakar rumah kita... Aku takut..."

Arka mengelus rambut bocah itu pelan. Tangannya yang baru saja menghancurkan mental Abraham Sanjaya kini terasa begitu protektif. "Nggak apa-apa. Orang-orang jahat itu sudah pergi. Mereka nggak akan berani balik lagi. Kakak janji."

Dari dalam panti, Ibu Siska—pengurus panti yang sudah seperti ibu kandung bagi Arka—keluar dengan wajah pucat. Begitu melihat Arka, air matanya jatuh. Dia tahu Arka pergi semalam untuk "menyelesaikan masalah", tapi dia nggak pernah menyangka anak asuhnya itu akan kembali dengan tatapan mata yang begitu berbeda.

"Arka... kamu luka?" Ibu Siska memeriksa bahu dan wajah Arka dengan tangan gemetar.

"Aku nggak apa-apa, Bu," jawab Arka sambil tersenyum tipis. "Masalahnya sudah selesai. Sanjaya Group nggak akan ganggu panti ini lagi. Malah, mulai besok, panti ini akan punya gedung baru yang lebih layak."

Ibu Siska tertegun. Dia melihat ke arah jalan raya, di mana beberapa mobil hitam mewah tiba-tiba berhenti di depan gerbang. Bukan orang-orang bertato kali ini, tapi pria-pria bersetelan jas rapi yang langsung turun dan membungkuk hormat ke arah Arka.

"Tuan Arka," ucap salah satu dari mereka, "Sesuai instruksi dari Pak Abraham, kami sudah membawa tim logistik, makanan, dan tenaga medis untuk mengecek kondisi anak-anak. Dana renovasi awal sudah cair."

Ibu Siska menutup mulutnya, tak percaya. Sementara Arka hanya mengangguk dingin. Dia tahu, ini cuma awal dari "penebusan dosa" yang harus dilakukan Abraham sebagai budak mentalnya.

Siangnya, Jakarta meledak.

Semua stasiun televisi, portal berita online, sampai akun gosip di media sosial cuma bahas satu hal: Konferensi Pers Mendadak Sanjaya Group.

Arka duduk di ruang tamu panti yang kecil, menonton televisi tabung 21 inci yang gambarnya agak bersemut. Di layar, terlihat Abraham Sanjaya berdiri di podium dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Matanya kosong, meski bicaranya lancar seperti sudah dihapal di luar kepala.

"Saya... Abraham Sanjaya... dengan ini menyatakan pengunduran diri sebagai Chairman. Seluruh aset operasional akan dialihkan di bawah pengawasan Yayasan Wijaya... Dan mengenai putra saya, Surya Sanjaya... saya memohon maaf karena selama ini menutupi kondisi mentalnya yang tidak stabil sehingga menyebabkan banyak pihak dirugikan..."

"Gila..." gumam salah satu anak panti yang lebih tua. "Itu Abraham Sanjaya, kan? Orang paling sombong di kota ini? Kok bisa kayak gitu?"

Arka cuma diam, menyesap teh hangatnya. Dia melihat di layar televisi itu, di barisan belakang para wartawan, Clarissa Wijaya berdiri dengan tatapan bingung. Dia berkali-kali mencoba menelepon seseorang—Arka tahu itu dia—tapi ponsel Arka sudah dia matikan.

Tiba-tiba, suara di kepala Arka berdengung lagi.

‘Peringatan: Energi Mata Sakti mencapai batas penggunaan harian. Sinkronisasi Memori 90% selesai. Efek samping akan segera muncul.’

Arka meringis. Kepalanya tiba-tiba terasa seperti dihantam palu godam. Pandangannya kabur, dan warna-warna di sekitarnya berubah menjadi negatif. Dia segera berdiri dan berjalan menuju kamar kecilnya di pojok panti.

"Arka? Kamu oke?" tanya Ibu Siska khawatir.

"Ngantuk dikit, Bu. Mau tidur bentar," sahut Arka sambil menahan rasa sakit yang luar biasa di matanya.

Begitu pintu kamar terkunci, Arka ambruk ke lantai. Air mata darah menetes dari mata kanannya. Ternyata benar, memanipulasi pikiran orang sekelas Abraham butuh bayaran yang nggak murah. Tubuh manusianya belum sepenuhnya siap menampung kekuatan dewa itu.

Di tengah rasa sakitnya, Arka tertawa kecil. Tertawa yang terdengar dingin dan sedikit gila.

"Cuma segini harganya buat menghancurkan satu dinasti bisnis?" bisiknya pada kegelapan kamar. "Murah banget."

Dia memejamkan mata, membiarkan kegelapan membawanya pergi. Tapi dia tahu, saat dia bangun nanti, dia bukan lagi Arka si pecundang yang kehujanan di pinggir jalan.

Dia adalah pemilik kota ini.

Sore hari, Kantor Pusat Wijaya Group.

Hendra Wijaya membanting map laporan ke atas meja. Di depannya, Clarissa tampak gelisah, mondar-mandir seperti macan betina dalam kandang.

"Papa lihat tadi? Mata Abraham?" Clarissa bertanya dengan suara meninggi. "Itu bukan Abraham yang kita kenal. Dia kayak boneka, Pa! Arka... Arka ngelakuin sesuatu yang nggak masuk akal ke dia."

Hendra menghela napas panjang, menyalakan cerutu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Clarissa, dengar Papa. Di dunia ini, ada orang-orang yang diberkati dengan kekuatan yang nggak bisa dijelaskan secara logika. Kita sebut mereka 'Variabel Tak Terduga'. Arka bukan cuma variabel lagi... dia adalah badai."

"Tapi dia bahaya, Pa!"

"Bahaya buat musuhnya, Clarissa. Tapi buat kita? Dia adalah tiket menuju puncak tertinggi," Hendra menatap putrinya tajam. "Kamu punya kedekatan dengannya. Gunakan itu. Bukan buat manfaatin dia, tapi buat mastiin kalau dia selalu ada di pihak kita. Karena kalau sampai Arka berbalik melawan kita... nggak ada brankas baja atau tentara bayaran mana pun yang bisa lindungin kita."

Clarissa terdiam. Dia teringat saat Arka membisikkan sesuatu di telinganya tadi subuh. 'Dunia ini nggak bakal pernah sama lagi buat kita.'

Sekarang dia paham maksudnya. Arka nggak cuma menghancurkan Sanjaya Group, tapi dia baru saja merobek tatanan sosial Jakarta. Dan Clarissa tahu, dia harus memilih: ikut terbang bersama Arka ke langit, atau hancur tertabrak badai yang dibawa pemuda itu.

Sementara itu, di sebuah hotel mewah di sudut lain Jakarta, seorang pria berambut putih dengan pakaian tradisional China sedang menatap layar ponselnya. Dia melihat foto Arka yang tertangkap kamera amatir wartawan saat kejadian di aula.

Pria itu tersenyum tipis, matanya menyipit penuh minat.

"Mata yang menarik... Sudah lama sekali sejak terakhir kali 'Mata Dewa' muncul di tanah ini. Sepertinya dunia kultivasi modern nggak akan membosankan lagi."

Dia mematikan ponselnya, lalu menghilang dari ruangan itu seperti debu yang tertiup angin, menyisakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Arka belum tahu, bahwa dengan jatuhnya Abraham Sanjaya, dia baru saja menyalakan lampu suar yang mengundang hiu-hiu yang jauh lebih besar dari sekadar pengusaha kota.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
asik juga nih
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!