Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nasib
Uhuukk...
Uhuuukk...
Pak Rahman terbatuk-batuk hingga teh hangat yang baru saja masuk kedalam kerongkongannya keluar kembali.
Wajahnya pias.
Dia berdiri kaku di tempat memandang lurus kearah halaman rumahnya.
Naluri seorang ayah bergerak aktif.
Dia mengenali wajah manis itu.
"Maharani.." cicitnya.
"Kamu pulang ndok??" langkah pak Rahman pelan dan tertatih.
Airmata jatuh membasahi pipi.
"Pak... Rani rindu... Bapak sehat-sehat saja kan?" ucap Rani mendekat.
"Bapak sehat kalau kamu sudah kembali ndok... Ibu dan adikmu pasti bahagia melihat mu... Jangan pergi lagi ndok..." isak pak Rahman.
"Nggak bisa pak.. Dunia kita udah beda... Ada batasan yang tak bisa Rani lewati... Rani hanya jenguk bapak.. Tolong sehat-sehat pak, titip ibu dan Bagas..." pinta Rani yang kemudian menghilang di gelapnya malam.
"Raniii...."
"Pak, ada apa? Bapak ngimpi?" tutur bu Sukma yang terbangun kala mendapati suaminya berteriak saat tidur.
Pak Rahman mengusap kasar wajahnya.
"Minum dulu pak" pinta bu Sukma menyerahkan segelas air putih pada suaminya.
"Apa bapak mimpi Rani? Dia bilang apa?" tanya bu Sukma tak sabaran.
Pak Rahman membuang nafas kasar.
"Rani bilang kalau dia tidak bisa pulang... Dunia kita dan dia berbeda...." jelas pak Rahman menceritakan mimpinya.
Bu Sukma terisak.
"Apa jangan-jangan dia kecelakaan dan yang menabrak nggak mau tanggungjawab... Ya Tuhan, kasihan putri kita pak... Rani putri ibu yang malang...." tangis bu Sukma tergugu.
"Dia pasti baik-baik saja buk... Kita jangan putus asa dan terus cari keberadaannya.... Jika pun itu benar, kita akan cari keadilan untuknya..." imbuh pak Rahman.
"Ini sudah berbulan-bulan pak... Rasa pesimis itu hinggap dihati ibu... Tak jejak, tak ada pesan apapun yang tertinggal... Mau sampai kapan kita mencari sesuatu yang tidak jelas hasilnya..." tangis bu Sukma terisak merem*s daster lusuhnya.
Pak Rahman berusaha menguatkan istrinya.
Disatu sisi, bu Sukma benar, tapi disisi lain, dia juga masih belum ikhlas melepaskan putrinya tanpa tahu kondisi Rani yang sebenarnya.
Jika memang Rani telah meninggal, bisa jadi hati kedua orangtua itu bisa menerima tapi ini berbeda. Rani hilang tak ada kabar dan jejak.
Orangtua mana yang bisa tidur nyenyak jika putri mereka berada ditempat yang tak diketahui rimbanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andre baru saja pergi meninggalkan desa Lestari. Tujuannya adalah sebuah klub malam di kawasan jantung ibukota.
Ada pesta ulangtahun salah satu rekannya disana.
Tanpa dia sadari, ada mobil yang mengikutinya dari belakang.
Andre sempat curiga, namun gelagat mobil tersebut cukup tenang untuk seseorang yang sedang menguntit.
"Mungkin juga mau kekota" pikir Andre karena mobil van hitam itu mendahuluinya.
Hari sudah petang ketika Andre tiba di sebuah klub malam yang baru saja buka.
Seperti biasa karena sudah jadi langgangan VIP, Andre diservis bak raja.
Dia diberikan perempuan untuk melay*ninya.
Tepat pukul 10 malam, Andre bersama teman-temannya melakukan party.
Musik memekakkan telinga terdengar diseluruh ruangan.
"Kau memang jadi magnet di pesta ini Ndre..." ujar rekan Andre menepuk-nepuk pundak laki-laki itu.
"Ya kau benar Melki, Andre selain duda, dia kaya raya dan juga memiliki wajah yang tampan... Perempuan mana yang tidak tertarik padanya... Termasuk perempuan yang sejak tadi melirik kemari..." timpal rekan yang lainnya bernama Mike.
Andre tersenyum bangga.
Dia mengangkat gelasnya sebagai tanda bersulang pada perempuan yang sejak tadi terpesona padanya.
Merasa ditanggapi, Siska nama perempuan itu berjalan menghampiri meja Andre dan kawan-kawan.
Pakaiannya sungguh minim sekali.
Kulitnya putih dengan rambut sebahu. Cantik dan menarik dimata Andre.
"Hai,.. boleh gabung?" tanyanya.
Andre menggeser pant*tnya untuk memberi ruang agar Siska duduk disebelahnya.
"Terima kasih.. namaku Siska..." ucap Siska disisi telinga Andre agar laki-laki itu mendengarnya.
"Aku Andre" balas Andre berbisik tepat di telinga Siska.
Bukan hanya sekedar bisikan, namun diiringi jilatan pada daun telinga Siska hingga membuatnya menekan paha Andre dengan jari-jari yang berhias nail art.
Dua rekan Andre hanya menggeleng kepala. Mereka sudah terbiasa melihat hal itu.
"Ayo kita pesta ditempat lain... " ajak Siska tanpa malu-malu.
"Sorry, aku harus pulang malam ini... Lainkali saja " tolak Andre halus.
Nampak raut kecewa diwajah Siska karena ajakannya ditolak.
"Minta nomor ponsel kamu kalau gitu" ujar Siska tak hilang akal.
Andre menyebutkan nomornya dan setelahnya dia bergegas meninggalkan klub tersebut.
Meski dia sedikit mab*k, namun Andre tetap mengendarai mobilnya.
Suasana jalanan terasa begitu sepi.
Hutan pinus yang terkenal angker begitu terasa kengeriannya.
Ciiiiitttttt.......
Decit ban mobil Andre begitu nyaring karena dipaksa berhenti mendadak.
Keningnya membentur stir mobil.
Andre meringis sakit. Dia menoleh kesana kemari memastikan apa yang barusan dirinya tabrak.
Lampu mobil masih menyala.
"Si*l!! Apa itu tadi manusia atau hewan?" gumamnya.
Andre keluar dengan sempoyongan.
Melihat kebawah kolong mobilnya dan disekitar area.
Kosong.
Tak ada siapapun atau apapun.
Padahal dirinya yakin telah menabrak sesuatu.
Tak...
Tak....
Tak...
Sreeeekkkk.....
Langkah seseorang berjalan dengan menyeret sesuatu ditangannya.
Andre menahan nafasnya. Dia perlahan menoleh.
Mata Andre berkedip seakan tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang.
Seorang perempuan berpenampilan acak-acakan berjalan kearahnya.
Rambutnya berantakan.
Dia berjalan menenteng sebuah kapak ditangannya yang diseret diaspal.
Andre mundur dan tersandung kakinya sendiri hingga terduduk.
Wajahnya pias.
"Mas Andre...." panggil perempuan itu mendayu.
"Siapa kau....? M~au apa?" tanya Andre ketakutan.
Bukannya menjawab, perempuan itu tersenyum dan tertawa setelahnya.
"Aku... aku adalah istrimu, Meri.... Apa kau sudah melupakanku?" tanyanya dengan kepala dimiringkan kekanan.
"Pergi....!!! Jangan ganggu aku... Meri sudah mat*.. Kau bukan Meri... pergi!!"
Andre terus beringsut mundur.
"Aku akan pergi, tapi mas Andre juga harus ikut aku... Kita sama-sama besarin bayi kita yang lucu itu... Ayo mas...." perempuan itu semakin mendekat.
"Ja~ngan mendekat... Pergi...."
Andre berusaha bangkit dan berlari dengan sisa kekuatan yang ia miliki.
Dia ketakutan untuk pertama kali dalam hidupnya karena melihat makhluk yang tak biasa.
Sebuah mobil melaju tepat dihadapannya hingga hampir saja menabrak dirinya.
"Tolong... tolong...." Andre melambai-lambai.
"Juragan... Itu bukannya menantu anda?" ucap Tejo, anak buah juragan Kardi.
"Sedang apa dia disini?" gumam Tejo.
"Tabrak dia!" perintah juragan Kardi.
"Haahh...???" semua anak buahnya terkejut.
"Aku bilang tabrak dia!!" lagi suara lantang juragan Kardi memerintah.
Dengan sigap, supir menginjak padel gas hingga mobil melaju.
Braakkkkkk....
Tubuh Andre terpental.
Ban mobil berdecit karena rem mendadak.
Tejo menahan nafas.
"Turun dan pastikan dia mat*!" titah juragan Kardi.
Tejo turun untuk mengecek keadaan.
Dia kebingungan sendiri karena tak mendapat apapun.
"Aku yakin dia tadi ditabrak" gumamnya.
"Mana dia?" tanya juragan Kardi ikut turun mengecek.
"Hilang juragan... Tak ada dimana-mana" ujar si Tejo.
"Cari lagi! Jangan sampai orang lain melihatnya!"
"Kalian juga cari sampai ketemy!"
"Baik juragan"
Tiga anak buah juragan Kardi mencari tubuh Andre yang mereka yakini telah ditabraknya.
Nihil.
Tak ada apapun disana.
"Kosong juragan..." lapor mereka.
Juragan Kardi murka.
Petir menyambar seketika diiringi awan dan kabut gelap.
Semua orang yang ada disana menjadi waspada.
"Sebaiknya kita segera kembali juragan... Hawanya sudah tidak enak" ujar Tejo.
"Kau benar. Tapi jika sudah terang, cari may*t laki-laki itu...!" perintah juragan Kardi lagi.
Belum juga mesin mobil dihidupkan, mereka melihat sesuatu yang tak biasa.
"Juuu..... juragan.... Li~~hat....!!"
bersambung....