Di mata tetangga apartemennya di Los Angeles, Faelynn Yosephine (26) hanyalah "perawan tua" pengangguran.
Namun, di balik pintu kamar, ia adalah penulis novel romantis papan atas yang memikat jutaan pembaca.
Dunia tenangnya terusik saat Kingsley Emerson (29 tahun), seorang agen elit CIA yang menyamar sebagai diplomat, mulai mengirim pesan misterius dengan nama akun Son_Roger.
Kingsley, yang baru saja kembali dari misi berdarah di luar negeri, terobsesi dengan detail taktik dalam tulisan Faelynn yang terlalu akurat.
Berawal dari debat teknis hingga gombalan tak terduga, Kingsley mulai memasuki hidup Faelynn, membawa bahaya nyata yang selama ini hanya Faelynn tulis di Novelnya.
.
.
Happy reading dear 🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Matahari Los Angeles menyelinap masuk melalui celah gorden abu-abu di apartemen lantai empat itu, membentuk garis-garis emas di atas meja kayu yang dipenuhi buku referensi dan sebuah laptop yang masih menyala. Faelynn Yosephine, wanita berusia 26 tahun dengan rambut yang diikat asal-asalan, menghela napas panjang. Jemarinya yang ramping baru saja menyelesaikan satu paragraf emosional dalam draf novel terbarunya.
Bagi dunia luar, Faelynn adalah sebuah misteri yang dianggap gagal. Namun, di dalam kotak persegi bercahaya di depannya, ia adalah seorang ratu.
Ia meraih ponselnya yang tergeletak di samping cangkir kopi yang sudah dingin. Layar itu menyala, menampilkan ratusan notifikasi yang berdesakan. Baru tiga jam ia meninggalkan media sosialnya untuk fokus menulis, dan "keluarga digitalnya" sudah memenuhi kolom komentar dan pesan pribadi.
“Fae, tolong update! Aku menangis membaca bab 15!”
“Penulis kesayanganku, terima kasih sudah menulis cerita ini. Ini sangat membantuku melewati masa sulit.”
“Kapan novel fisiknya keluar di toko buku? Aku ingin memeluk buku ini!”
Faelynn tersenyum, jenis senyum tulus yang jarang ia perlihatkan di lobi apartemen. Ia mulai mengetik balasan satu per satu. Ia tidak menggunakan asisten; baginya, membalas komentar adalah ritual suci.
"Terima kasih, Sarah! Jangan menangis terlalu lama, bab depan akan ada sedikit pelangi untukmu," ketiknya dengan cepat.
"Halo, Mark! Terima kasih sudah bertahan. Aku senang tulisanku bisa menemanimu," balasnya pada pesan lain.
Menulis bukan sekadar pelarian bagi Faelynn; itu adalah takdirnya. Ia lulusan Bahasa dan Sastra dengan predikat memuaskan. Sejak remaja, dunianya adalah kata-kata. Namun, keputusannya untuk menjadi full-time writer tiga tahun lalu, setelah meninggalkan posisi nyaman di sebuah perusahaan besar, dianggap sebagai langkah menuju kehancuran oleh orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak tahu bahwa royalti dari satu novel romantisnya yang populer bisa membayar sewa apartemen ini untuk dua tahun ke depan.
"Fae, ayo bantu Ibu ke pasar swalayan sebentar. Stok susu dan sereal sudah habis," suara Melinda, ibunya, terdengar dari balik pintu.
Faelynn menutup laptopnya dengan berat hati. "Iya, Bu. Sebentar."
Melinda adalah sosok yang lembut namun rapuh. Sejak perceraian yang pahit saat Faelynn berusia 19 tahun, Melinda harus berjuang membesarkan Faelynn dan adiknya, Anna. Status Melinda sebagai janda di lingkungan apartemen kelas menengah ini seringkali menjadi sasaran empuk gosip, namun status Faelynn jauh lebih parah.
Saat mereka turun ke lantai dasar dan melewati taman kecil di depan kompleks, "parlemen jalanan" sudah berkumpul. Mrs. Higgins dan kawan-kawannya, para wanita paruh baya yang seolah tidak memiliki pekerjaan selain memantau hidup orang lain.
"Wah, Faelynn. Masih betah di rumah saja ya?" celetuk Mrs. Higgins dengan nada yang dibuat semanis mungkin, namun matanya memancarkan penilaian tajam. "Anak saya, si George, jam segini sudah di kantor. Capek sih, tapi kan jelas masa depannya."
Faelynn hanya tersenyum tipis, langkahnya tetap tenang di samping ibunya yang mulai terlihat tidak nyaman.
"Eh, omong-omong soal masa depan," timpal Mrs. Miller dari bangku sebelah. "Saya dengar Anna, adikmu itu, baru saja merayakan ulang tahun anaknya yang Pertama ya? Luar biasa. Masih muda sudah jadi ibu yang hebat. Suaminya juga mapan sekali."
Faelynn merasakan remasan pelan di lengannya dari tangan ibunya. Anna memang berbeda. Di usia 23 tahun, adiknya itu sudah memiliki segalanya yang dianggap "normal" oleh masyarakat: suami, anak yang menggemaskan, dan rumah dengan halaman luas di pinggiran kota.
"Iya, Anna memang cekatan," jawab Melinda pendek, mencoba menghindari konfrontasi.
"Tapi kasihan ya Faelynn," Mrs. Higgins melanjutkan, suaranya naik satu oktav agar terdengar oleh tetangga lain yang sedang menjemur pakaian.
"Sudah 26 tahun, anak tertua lagi. Harusnya kan memberi contoh. Teman sebaya Faelynn di blok C itu anaknya sudah ada yang masuk SD, lho. Kalau tidak segera menikah, apa tidak takut jadi perawan tua? Apalagi sekarang pengangguran... pria mana yang mau?"
Kalimat itu menggantung di udara seperti asap polusi. Perawan tua. Pengangguran.
Dua label itu sudah melekat pada Faelynn selama tiga tahun terakhir. Di mata mereka, ia adalah beban bagi ibunya yang janda. Mereka tidak melihat jam-jam yang ia habiskan untuk riset, mereka tidak melihat kontrak internasional di laci mejanya, dan mereka tidak tahu bahwa dialah yang diam-diam melunasi cicilan apartemen ini agar ibunya tidak perlu cemas.
Faelynn tetap diam. Ia terus berjalan menuju toko swalayan, membiarkan kebisingan itu tertinggal di belakang. Baginya, jawaban terbaik bukan lewat kata-kata di taman itu, melainkan lewat bab-bab baru yang ia susun setiap malam.
Di dalam toko swalayan, suasana sedikit lebih tenang. Faelynn mendorong troli sementara Melinda memilih sayuran.
"Fae, jangan masukkan ke hati apa yang mereka katakan tadi," bisik Melinda pelan.
"Aku tidak mendengarkan mereka, Bu," jawab Faelynn sambil mengambil sekotak sereal. "Aku hanya sedang memikirkan plot untuk bab besok. Para pembacaku sudah menagih update."
Melinda menatap putrinya dengan tatapan campur aduk—antara bangga dan sedikit khawatir. "Ibu tahu kamu sukses dengan caramu sendiri. Tapi terkadang Ibu sedih melihatmu selalu sendirian di kamar. Apa kamu tidak merasa kesepian?"
"Aku punya jutaan teman di internet, Bu. Mereka menghargai karyaku lebih dari para tetangga itu menghargai hidup mereka sendiri," Faelynn tersenyum, kali ini lebih lembut untuk menenangkan ibunya.
Setelah selesai berbelanja, mereka berjalan pulang. Saat melewati taman yang sama, kelompok tadi masih ada di sana, kini ditambah dengan seorang wanita lain yang memamerkan foto cucunya yang baru masuk SMP.
"Lihat ini, seumuran dengan Faelynn tapi cucu saya sudah besar-besar!" seru wanita itu tanpa malu.
Faelynn melewati mereka seperti bayangan. Ia tidak marah, ia hanya merasa mereka hidup di dimensi yang berbeda. Baginya, kesuksesan bukan tentang siapa yang lebih cepat menikah atau siapa yang punya anak paling banyak. Kesuksesan adalah ketika ia bisa menyentuh hati seseorang melalui sebuah paragraf, dan ketika ia bisa memastikan ibunya tidur dengan nyenyak tanpa beban finansial.
Sesampainya di rumah, Faelynn segera kembali ke kamarnya. Ia membuka laptopnya lagi. Ada pesan baru di kolom komentarnya yang masuk beberapa menit lalu:
“Penulis, terima kasih sudah menulis tentang wanita kuat yang tidak peduli pada omongan orang. Karakter Faelynn di novelmu benar-benar menginspirasiku untuk tetap menjadi diriku sendiri.”
Faelynn tertegun sejenak. Ia sering memberikan nama-nama yang mirip atau sifat yang mirip dengan dirinya pada karakter sampingan sebagai lelucon kecil. Ia mengetik balasan dengan jemari yang bergetar karena haru.
"Tetaplah bersinar dengan caramu sendiri. Dunia mungkin berisik, tapi hatimu tahu mana yang nyata."
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Di luar sana, Los Angeles mulai menyalakan lampu-lampunya. Ia tahu, besok pagi Mrs. Higgins akan kembali dengan sindiran baru, dan Anna mungkin akan menelepon untuk memamerkan pencapaian baru anaknya. Namun di sini, di ruang kerja kecilnya, Faelynn Yosephine adalah pahlawan bagi ceritanya sendiri.
Dia mungkin "perawan tua pengangguran" di mata dunia, tapi dia adalah pemilik semesta bagi para pembacanya. Dan bagi Faelynn, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya merasa hidup.
Ia menarik napas dalam, meletakkan jemarinya kembali di atas keyboard, dan mulai mengetik kata pertama untuk bab selanjutnya. Malam masih panjang, dan ada banyak hati yang menunggu untuk ia hibur.