NovelToon NovelToon
Immortal Legacy

Immortal Legacy

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di Era Keruntuhan Surga, langit terbelah dan hujan darah mengubah dunia fana menjadi neraka. Para dewa telah kehilangan keseimbangan, melepaskan Bencana yang meruntuhkan sekte-sekte agung dan melahirkan Yao Aberasi pembawa maut.

Zeng Niu adalah seorang bocah desa dengan akar spiritual sampah. Ia tidak memiliki guru yang bijaksana, tidak ada klan besar yang melindunginya, dan takdir tidak memberinya keajaiban. Ketika hujan darah membasahi desanya dan mengubah segalanya menjadi monster buas, Zeng Niu harus menyaksikan seluruh penduduk desa, termasuk orang tuanya, dikoyak hingga tak bersisa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Taruhan Nyawa (Bagian 2)

Waktu seakan membeku. Di tengah rahang mengerikan yang menancap di bahunya, Zeng Niu menahan napas. Rasa sakit dari taring yang mengoyak daging dan tulang selangkanya mengancam untuk merenggut kesadarannya, namun matanya tetap jernih dan sedingin es.

Dengan tenaga terakhir dari Penempatan Tubuh Tahap 2, digabungkan dengan amukan Qi liar dari pil yang ia telan, Zeng Niu menghujamkan belati besi di tangan kanannya lurus ke bawah.

CRAAASH!

Belati berburu yang berkarat itu menembus mata dari wajah manusia cacat di dada sang monster.

Kelelawar raksasa itu membelalak. Mulut wajah manusia di dadanya terbuka lebar, mencoba menjerit, tetapi hanya darah hitam yang menyembur keluar. Zeng Niu tidak berhenti sampai di situ. Ia tahu monster Tingkat Brutal memiliki vitalitas setara kecoa neraka. Jika belati itu tidak menghancurkan Inti Energi, monster ini akan pulih dan membunuhnya.

"Mati kau!" raung Zeng Niu serak.

Ia menggunakan sisa kekuatan kakinya untuk menendang perut monster itu, memanfaatkan tolakan balik untuk mencabut paksa bahunya dari gigitan taring sang kelelawar, sambil memutar dan menekan belatinya lebih dalam hingga pangkal gagangnya masuk ke dalam dada makhluk itu.

KRAAAK!

Terdengar suara sesuatu yang retak layaknya kaca pecah. Itu adalah Inti Qi Kacau di dalam tubuh sang monster.

Kelelawar Wajah Manusia itu melepaskan jeritan sonik terakhir yang putus asa dan tak terarah. Sayap besarnya mengepak liar, meronta dalam penderitaan sakaratul maut. Tubuh monster itu terhempas ke tanah, berguling-guling menghancurkan pepohonan mati di sekitarnya.

Zeng Niu yang kehilangan pijakan ikut terlempar keras ke udara. Tubuhnya yang hancur menghantam genangan lumpur berdarah sejauh empat tombak. Ia berguling beberapa kali sebelum akhirnya terdiam, tak bergerak. Darah segar menggenang di bawah tubuh kurusnya, menyatu dengan warna merah dari lumpur Hutan Kematian.

Di ujung lain arena, Monster Kelelawar itu kejang-kejang untuk terakhir kalinya, menendang udara sebelum wujudnya kaku, benar-benar mati.

Keheningan yang mencekam kembali turun menyelimuti hutan.

Dari balik tumpukan tanah yang hancur, sebuah kepala bulat yang dipenuhi debu menyembul perlahan. Bao Tuo mengedipkan matanya yang kelilipan. Ia menatap bangkai raksasa kelelawar itu, lalu pandangannya beralih pada sosok Zeng Niu yang terkapar bersimbah darah.

"S-Saudara Niu...?" panggil Bao Tuo dengan suara bergetar.

Tidak ada jawaban. Tidak ada pergerakan.

Kaki gemuk Bao Tuo terasa seperti jeli, tapi ia memaksakan diri untuk berdiri. Ia berlari tertatih-tatih melintasi medan pertempuran yang hancur, menjatuhkan dirinya di samping tubuh Zeng Niu. Pemandangan di depannya membuat perut si gendut mual. Bahu kiri Zeng Niu berlubang besar, menampakkan tulang selangka yang retak parah. Napas pemuda dingin itu nyaris tidak terasa.

"Hei... hei, orang gila, bangun." Bao Tuo mengguncang bahu kanan Zeng Niu yang tidak terluka. Air mata perlahan menggenang di mata pemuda gemuk itu. "Kau tidak boleh mati! Kau belum membayar hutang nyawa padaku! Aku yang menggunakan Dinding Bumi tadi!"

Bao Tuo terisak, ingus dan air mata bercampur dengan debu di wajahnya. Di dunia yang kejam ini, klannya telah lama hancur, teman-teman seperguruannya telah meninggalkannya, dan semua orang yang ia temui hanya ingin memanfaatkannya. Zeng Niu mungkin dingin, kejam, dan menakutkan, tapi pemuda ini adalah satu-satunya orang yang melangkah maju menghalangi maut agar Bao Tuo tidak mati.

"Jangan tinggalkan aku sendiri di neraka ini, Saudara Niu..." Bao Tuo menangis sejadi-jadinya, melolong menatap langit merah. Ia memeluk tubuhnya sendiri, meratapi nasib. "Tuan Muda ini belum pernah menyentuh tangan gadis! Aku belum meminum Anggur Seribu Tahun! Mengapa nasibku begitu tragis?!"

Di tengah tangisan dramatisnya, Bao Tuo merasakan perih di lengan bawahnya. Ia menunduk dan melihat ada goresan kecil di lengannya, mungkin terkena serpihan batu saat Dinding Bumi-nya hancur.

Mata si gendut membelalak panik. "Darah! Aku berdarah! Goresan ini... oh, Dewa! Pasti ada racun kelelawar dari angin serangannya! Aku merasa pusing! Dadaku sesak! Aku... aku juga akan mati!"

Bao Tuo menjatuhkan dirinya telentang di lumpur, bersebelahan dengan Zeng Niu. Ia memegang dadanya dengan wajah pucat pasi, napasnya dibuat-buat menjadi putus-putus. "Ibu... Ayah... anakmu yang tidak berbakti ini akan segera menyusul kalian. Setidaknya aku tidak mati sendirian. Saudara Niu, mari kita bereinkarnasi menjadi burung saja, agar kita bisa terbang lari jika ada bahaya..."

Di tengah ratapan kematian si gendut yang sangat emosional dan tragis itu, sebuah suara pelan, kering, dan sangat terganggu terdengar dari samping telinganya.

"...Itu hanya goresan ranting bambu."

Bao Tuo menghentikan isakannya. Ia menoleh perlahan ke samping.

Zeng Niu sedang menatapnya dengan mata setengah terbuka. Meskipun wajahnya sepucat mayat dan bibirnya berlumur darah, tatapan dingin itu masih setajam pedang. Zeng Niu terbatuk pelan, memuntahkan segumpal darah beku.

"Dadamu sesak... karena jubahmu... terlalu ketat di perut," desis Zeng Niu, menahan rasa sakit luar biasa di bahunya. "Berisik. Menjauhlah. Kau menghalangi udaraku."

Bao Tuo terdiam selama tiga detik penuh. Ia melihat lengannya, lalu meraba perut buncitnya yang memang menekan ikat pinggangnya dengan kencang. Ia mengusap air matanya.

"Kau masih hidup?!" jerit Bao Tuo. Seketika, ketakutannya menguap, digantikan oleh kegembiraan yang canggung. Ia buru-buru duduk kembali. "T-Tentu saja! Aku tahu kau belum mati! Aku hanya... uh, aku sedang mempraktikkan Teknik Tangisan Pemanggil Jiwa! Ya, itu teknik rahasia klanku untuk menstabilkan jiwamu yang hampir lepas!"

Zeng Niu tidak punya tenaga untuk memutar bola matanya. Ia menutup matanya kembali, mengatur napas menggunakan teknik cacatnya untuk menekan pendarahan. "Bantu aku duduk," perintahnya serak.

Bao Tuo segera memapahnya dengan hati-hati, memastikan tidak menyentuh bahu kirinya yang hancur. Ia merogoh kantong bajunya yang dalam dan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil. "Ini! Ini Bubuk Penutup Luka dari klanku. Aku tidak berbohong kali ini, ini obat kelas menengah!"

Bao Tuo menaburkan bubuk itu ke luka bahu Zeng Niu. Rasa perih luar biasa menyerang, namun seketika pendarahan yang menderas itu berhenti, dan lapisan darah mengering membentuk keropeng sementara.

Zeng Niu bernapas sedikit lebih lega. Ia melirik Bao Tuo. Pemuda gemuk itu penakut, cerewet, dan sangat memalukan sebagai seorang kultivator, namun ia tidak melarikan diri saat melihat Zeng Niu terkapar, dan ia tidak ragu menggunakan obat berharganya. Di Era Keruntuhan Surga, kebaikan sekecil itu lebih berharga daripada pusaka surga.

"Terima kasih," ucap Zeng Niu pelan.

Bao Tuo tertegun sejenak, wajah bundarnya sedikit merona canggung. "B-bukan masalah. Kita kan rekan seperjalanan. Kau bertarung di depan, aku... mendukung dari belakang yang sangat jauh."

Zeng Niu tidak membalas. Ia memaksa dirinya berdiri, meski tubuhnya terhuyung. Tatapannya kembali dingin saat ia menatap bangkai Kelelawar Wajah Manusia. Parit Surgawi itu telah ia lewati dengan mengorbankan separuh nyawanya. Kini, saatnya memanen hasil dari perjudian mautnya.

Ia berjalan tertatih mendekati bangkai tersebut, sementara Bao Tuo mengekor di belakang dengan penasaran. Zeng Niu mencabut belatinya dari dada sang monster, merogoh luka menganga itu, dan menarik keluar sebuah gumpalan seukuran telur puyuh yang memancarkan cahaya ungu gelap. Itu adalah Inti Tingkat Brutal.

Aura murni yang bercampur dengan distorsi liar berputar di sekitar inti itu. Hati Bao Tuo menciut merasakannya.

"S-Saudara Niu, apa yang mau kau lakukan dengan itu?" tanya Bao Tuo waspada. "Inti monster tingkat Brutal mengandung Qi kacau yang sangat padat. Jika dijual di kota pengungsian, harganya bisa menebus pusaka. Tapi jika manusia berani menyerapnya, Dantiannya akan meledak!"

Zeng Niu menatap inti itu. Bahunya patah, rusuknya retak, meridian di tubuhnya nyaris hancur setelah memaksa Qi dari pil sebelumnya. Jika ia tidak menyerap energi besar untuk memperbaiki fondasi tubuhnya, ia akan mati karena luka dalam atau berakhir cacat permanen.

Ia tidak punya pilihan. Bertahan hidup selalu menuntut pengorbanan gila.

"Menjauhlah sepuluh langkah," ucap Zeng Niu.

"Hah? Kenapa?"

Tanpa menjawab, Zeng Niu membuka mulutnya, memasukkan Inti Tingkat Brutal itu ke dalam mulutnya, dan menelannya bulat-bulat di depan mata Bao Tuo yang terbelalak ngeri.

"KAU BENAR-BENAR ORANG GILA!" jerit si gendut, berbalik dan lari tunggang langgang menjauh sebelum energi dari tubuh Zeng Niu meledak tak terkendali.

1
saniscara patriawuha.
cepat ambil pedang yang kabur dari mang zhao xuan,,,
.
absen Thor
Sang_Imajinasi: siap lanjutkan
total 1 replies
eka suci
si gendut SDN gadis ilusi di ajak ngga🤔
eka suci
paling brutal woy🤭
Xiao Bar
lnjut
Xiao Bar
ada kaitan nya kah ini? pedang Zhao xuan
Xiao Bar
ngeri 💪
eka suci
ini perpaduan Shen yu yg merangkak dari nol juga Zhao xuan yg di yg di hinggapi jiwa licik dan arogan 👍
eka suci
Lei Ling kau itu nasibnya ngga lebih baik dari kakek gu yg dulu bersemayam di Zhao xuan😄
saniscara patriawuha.
lanjutttt keunnnnn....
i
jangan kendor
i
gas niu
k
gasss
k
lanjut thor😍
p
lanjut thor👍
1
lanjut kan thor👍
eka suci
MC mu semuanya di luar nurul😄 lanjutkan 💪
p: kwkwk
total 1 replies
eka suci
pedang nya masuk cincin kah🤔
saniscara patriawuha.
gasssds keunnnnn...
eka suci
pedang yg angkuh 😄 takut Zhao xuan tapi nyari pewaris 😥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!