NovelToon NovelToon
The Queen With 4 Servents

The Queen With 4 Servents

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Fantasi Isekai
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Di dunia nyata, Aira adalah gadis pemalu yang sangat menyukai film kultus berjudul "The Velvet Manor". Film tersebut terkenal karena adegan-adegannya yang sensual dan karakter Nyonya Isabella von Raven yang kejam namun memikat, yang dikelilingi oleh empat pelayan pribadi yang setia sekaligus berbahaya.
Suatu malam, sebuah insiden di tangga membuat Aira kehilangan kesadaran. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di dalam kamar mewah yang persis seperti lokasi syuting "The Velvet Manor". Ia kini menempati tubuh Isabella von Raven, sang nyonya rumah yang dikenal kejam. Di hadapannya, berdiri empat pelayan pribadi yang memiliki reputasi berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12. Dibalik Pengawasan

Gema langkah kaki Dante dan Julian yang menjauh di lorong mansion terdengar seperti pintu penjara yang tertutup rapat bagi Aira.

Ia berdiri di tengah kamarnya yang luas, dikelilingi oleh kemewahan yang kini terasa mencekam. Di belakangnya, pintu kamar dikunci dari dalam dengan suara klik yang berat.

Zane berdiri menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang tertutup. Ia tidak melepaskan jas hitamnya, dan tangannya tetap berada di dekat gagang pedang yang melingkar di pinggangnya.

Matanya yang tajam dan dingin menatap Aira seolah ia sedang memeriksa sebuah barang sitaan yang sangat berharga namun berbahaya.

"Malam ini, saya adalah bayangan Anda, Nyonya," suara Zane rendah, hampir menyerupai geraman yang tertahan di tenggorokan.

"Dante memberikan perintah yang sangat jelas: tidak ada rahasia yang boleh tersisa di kamar ini."

Aira mencengkeram ujung gaun sutranya, mencoba menstabilkan napasnya yang mulai memburu.

"Apa yang kau inginkan, Zane? Aku ingin istirahat."

Zane melangkah maju. Setiap langkahnya tidak bersuara di atas karpet tebal, namun auranya yang maskulin dan mengancam memenuhi setiap inci ruangan.

Ia berhenti tepat di depan Aira, memangkas jarak hingga Aira bisa mencium aroma hutan, kulit, dan sedikit aroma besi dari senjatanya.

"Istirahat?" Zane terkekeh pelan—sebuah suara yang sangat jarang keluar dari mulutnya yang kaku.

"Setelah semua 'kekacauan' yang Anda buat di Istana dan di dalam kereta bersama Julian? Saya rasa, saya perlu melakukan pemeriksaan keamanan terlebih dahulu."

Zane mengulurkan tangannya yang kasar, dengan perlahan namun pasti, ia menarik syal sutra yang melilit leher Aira.

Ia menatap leher porselen Aira yang kini penuh dengan tanda kemerahan—jejak dari Pangeran, Julian, dan yang paling dalam dari Dante semalam.

Mata Zane berkilat dengan kecemburuan yang gila yang berusaha ia tekan di balik profesionalismenya.

"Tanda-tanda ini..." Zane menyentuh salah satu bekas gigitan Dante dengan ibu jarinya yang kasar.

"Sangat mencolok. Mereka semua menandai Anda seolah-olah Anda adalah mangsa yang akan segera dibantai. Tapi mereka lupa... saya adalah orang yang bertugas menjaga raga Anda tetap utuh."

Zane menarik pinggang Aira dengan satu tangan, menariknya hingga menempel pada tubuhnya yang keras dan atletis seperti batu karang. Ia merendahkan wajahnya, bibirnya menyentuh telinga Aira yang panas.

"Lepaskan gaun ini, Isabella. Saya harus memastikan Anda tidak menyembunyikan senjata... atau luka lain yang bisa membahayakan posisi keluarga von Raven."

"Zane, jangan—"

"Ini perintah dari Dante, Nyonya," potong Zane dengan nada yang tidak menerima bantahan. Ia mulai membuka ritsleting di punggung gaun Aira dengan gerakan yang sangat lambat, membiarkan kain sutra hitam itu melorot hingga bahu porselen Aira terekspos sepenuhnya di bawah cahaya lilin yang temaram.

Aira merintih kecil, tangannya secara tidak sadar mencengkeram lengan kokoh Zane. Ia merasa sangat kewalahan.

Zane tidak menggunakan kata-kata manis seperti Julian, namun setiap sentuhannya di punggung Aira terasa sangat posesif dan sensual.

Tiba-tiba, di cermin besar di samping tempat tidur, Aira melihat Isabella asli. Sosok itu sedang berdiri di belakang Zane, menatap Aira dengan pandangan yang penuh nafsu.

"Nikmati perlindungannya, Aira... karena Zane adalah satu-satunya yang tidak akan ragu untuk membunuhmu jika dia tahu kau adalah seorang penipu," bisik suara itu di kepala Aira.

Zane memutar tubuh Aira agar menghadap cermin, memaksanya menatap tanda-tanda kepemilikan yang kini menghiasi tubuhnya.

"Lihat diri Anda, Nyonya. Anda adalah mahakarya yang sedang diperebutkan oleh serigala. Dan malam ini... saya akan memastikan bahwa hanya perlindungan saya yang paling Anda rasakan."

Zane menunduk dan mencium leher Aira dengan ciuman yang sangat dalam dan menuntut, tepat di samping tanda Dante.

Suasana di kamar itu menjadi sangat panas oleh hasrat yang tertahan, di mana seorang pengawal pendiam mulai kehilangan kewarasannya demi satu jiwa yang ia anggap miliknya.

Zane tidak melepaskan tatapannya meskipun suasana di kamar itu terasa semakin menyesakkan. Ia berdiri tegak di hadapan Aira, bayangannya menutupi sebagian besar cahaya dari lampu dinding yang temaram.

Jemari Zane yang kasar menelusuri ukiran di sandaran tempat tidur dengan perlahan, seolah ia sedang menimbang-nimbang langkah berikutnya dalam permainan catur yang mematikan.

"Kau tampak gelisah, Isabella," bisik Zane, suaranya rendah dan penuh selidik.

"Biasanya kau begitu tenang dan penuh kendali. Kenapa sekarang kau justru terlihat seperti seseorang yang tertangkap basah menyembunyikan sesuatu yang besar?"

Aira tidak bisa langsung menjawab.

Di dalam cermin besar di sudut ruangan, ia melihat pantulannya sendiri yang tampak rapuh. Namun, bayangan Isabella asli seolah membisikkan peringatan di dalam kepalanya, mendesaknya untuk tetap tenang meski jantungnya berpacu cepat.

Zane tiba-tiba melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka. Ia adalah pria yang selalu berada di bayang-bayang, pengamat yang paling teliti di rumah ini.

"Dante mungkin menganggap dirinya penguasa rumah ini. Julian mengira dia memahami perasaanmu," Zane menatap mata Aira dengan intensitas yang tajam.

"Tapi aku adalah bayang-bayangmu. Aku tahu kapan detak jantungmu berubah ritme karena ketakutan."

Tangan Zane tiba-tiba bergerak cepat menuju bantal di belakang Aira. Sebelum Aira sempat bereaksi, Zane sudah menarik sebuah buku harian kecil bersampul kulit hitam—buku yang berisi catatan pribadi yang seharusnya tidak pernah ditemukan oleh siapapun di dunia ini.

"Apa ini?" suara Zane seketika berubah menjadi sedingin es. Ia membuka buku itu, matanya memindai tulisan tangan yang berbeda dari tulisan Isabella yang biasanya tajam dan berantakan.

Zane menemukan satu halaman di mana nama "Aira" tertulis berkali-kali.

Zane mencengkeram buku itu dengan kuat, matanya mencari jawaban di wajah Aira.

"Siapa Aira? Kenapa kau menulis nama ini dengan begitu hati-hati? Apakah ini sekutu rahasiamu, atau justru musuh yang kau takuti?"

Ketegangan di kamar itu mencapai puncaknya. Zane kini mulai mencurigai bahwa wanita di depannya ini memiliki identitas yang jauh lebih kompleks daripada yang ia bayangkan sebelumnya. Rahasia tentang siapa sebenarnya "Aira" kini terancam terungkap, dan posisi Aira di istana ini menjadi semakin berbahaya.

Zane memegang buku harian itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mengunci pinggang Aira, memastikan wanita itu tidak bisa lari dari interogasinya.

Ia membuka halaman demi halaman dengan kecepatan yang menyiksa, matanya yang tajam memindai tulisan tangan yang terlihat lebih lembut dan rapi—sangat berbeda dengan coretan Isabella yang biasanya penuh dengan amarah dan perintah kasar.

"Tulisan ini..." Zane berbisik, suaranya kini lebih dingin dari es di musim dingin. "Ini bukan tulisan tanganmu, Isabella. Siapa yang mengajarimu menulis seperti ini? Atau... siapa yang sebenarnya menulis ini di dalam kamarmu?"

Zane berhenti pada satu halaman yang penuh dengan coretan nama "Aira". Ia menatap nama itu seolah nama itu adalah teka-teki yang paling berbahaya di mansion ini.

Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Aira, membiarkan dadanya yang keras menekan napas Aira hingga tertahan.

"Aira..." Zane menyebut nama itu dengan nada yang sangat rendah, hampir menyerupai doa yang terlarang.

"Nama ini terasa asing, namun entah kenapa... nama ini sangat cocok dengan ketakutan yang kulihat di matamu pagi ini. Apakah ini namamu yang lain? Nama yang kau gunakan saat kau sedang berakting menjadi mangsa yang rapuh di depan kami?"

Aira merasa seolah-olah seluruh rahasianya sedang dipreteli satu per satu oleh tatapan Zane.

Ia tidak bisa berbohong dengan mudah di bawah tekanan fisik sebesar ini. Zane adalah orang yang paling tahu bagaimana cara membaca gerak tubuh manusia.

"Itu hanya... karakter dalam sebuah cerita yang kubaca, Zane," dusta Aira, suaranya hampir tidak terdengar karena getaran ketakutan.

Zane terdiam, namun ia justru merendahkan wajahnya, mencium leher Aira tepat di atas nadinya yang berdenyut kacau. Ia bisa merasakan kebohongan itu dari cara tubuh Aira menegang.

"Kau adalah pembohong yang buruk, Isabella. Atau siapa pun kau yang berada di dalam sana."

Zane menarik diri sedikit, menatap Aira dengan hasrat yang tertahan namun mematikan. Ia tidak akan memberitahu Dante atau yang lain tentang buku ini—belum. Ia ingin menyimpan rahasia ini sebagai rantai yang mengikat Aira hanya kepadanya.

"Aku akan menyimpan buku ini," ujar Zane sambil memasukkannya ke dalam saku jasnya.

"Dan sebagai imbalannya karena aku tidak memberitahu Dante... kau harus melakukan apa pun yang kuperintahkan malam ini. Tanpa suara. Tanpa perlawanan."

Di sudut ruangan, pantulan Isabella asli di cermin tampak tersenyum puas. Permainan kekuasaan ini baru saja menjadi jauh lebih gelap dan intim.

1
Airin
Suka banget update babnya banyak👍
Senja_Puan: Semangat dong kak💪
total 1 replies
Syifa234
semuanya ada, kecuali Kael. Jangan diskriminasi Kael Thor. mentang-mentang dia yang paling petantang, petenteng
Senja_Puan: Kael aman kak🤭
total 1 replies
Syifa234
Plot twist banget et dah/Scowl//Sob/
Senja_Puan: Banget kak???
total 1 replies
Senja_Puan
makasih kakak-kakak sayang😍
Anisa675
min jadi double ngasih cermin nya
Senja_Puan: lah iya yah kak😄 makasih kak Anisa
total 1 replies
Anisa675
Typo thor😄

btw udah lama Kael tidak menampakkan diri Thor...
Senja_Puan: Makasih kakak sayang🤭 Suka kalau ada yang jeli dan kasih masukan😍
total 1 replies
Irsyad layla
si kael dimana thor?
Anisa675: wkwkw nah loh ditagih Mulu thor🤭
total 2 replies
Irsyad layla
kael mana?
Anisa675: wah ada yang sama sadar juga atas ketiadaan Kael
total 2 replies
Airin
makasih thooor. semangat
Anisa675
Widiiiih badas
Anisa675
gilaaaa, jadi Isabella udah meninggal??
Senja_Puan: nah kaget kaaaaan
total 1 replies
Anisa675
mantap Aira
Anisa675
wah mantap Thor. kebayang badan luka-luka, mandi air garam
Senja_Puan: Jangan dibayangin kak. cukup mereka aja yang rasain😄
total 1 replies
.
Kaya cerita Anime ya,
Lanjuutt
Anisa675: Iya bener, kayanya bakal lebih seru tambah visualnya thor
total 1 replies
Eka Putri Handayani
lebih bnyk lg up nya kak
Airin: selalu Thor. semangat
total 4 replies
Yasa
semangat updatenya thor
Senja_Puan: Makasih kakak😍 semangat juga bacanya
total 1 replies
Anisa675
nah kan bener
Anisa675
jadi curiga sama Isabella asli
Anisa675
Bahaya ini, dari awal Zane yang paling punya insting kuat, dan cara dia eksekusi Aira itu udah bener-bener bikin deg-degan
Senja_Puan: Nah, adakan perkembangannya😄
total 1 replies
Anisa675
suka, karakternya jadi kuat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!