Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Tangan yang Terlepas
Satu minggu berlalu sejak insiden di kelas Pak Anton, dan hawa dingin yang mengelilingi meja kelompok lima sama sekali belum mencair. Anandara Arunika terus mengukuhkan posisinya sebagai Nyonya Es yang tak tersentuh. Ia membangun tembok pembatas yang tak kasat mata namun terasa begitu solid, memisahkan dirinya dari Angga Raditya sejauh mungkin. Pemuda itu pun, yang egonya telah dikoyak di depan umum, memilih untuk mundur dan kembali menjadi sosok pendiam yang dingin, hanya berkomunikasi seperlunya mengenai tugas, itu pun selalu melalui perantara Sinta.
Pagi itu, suasana di koridor Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) sangat riuh. Kerumunan mahasiswa semester satu berdesak-desakan di depan papan informasi utama kelas yang terletak di dekat ruang tata usaha.
Sinta, yang selalu memiliki radar paling tajam mengenai acara-acara kampus, menarik tangan Anandara menerobos kerumunan itu. Di belakang mereka, Rehan dan Reza mengekor sambil terus menggerutu karena harus berdesakan dengan mahasiswa dari jurusan lain.
"Permisi! Permisi! Minggir dong, bidadari mau lewat!" seru Sinta tak tahu malu, membelah lautan manusia hingga mereka berempat tiba di barisan paling depan.
Di balik kaca papan pengumuman, tertempel sebuah poster besar berwarna hijau dengan tulisan font kapital yang mencolok: KARYAWISATA KEAKRABAN MAHASISWA BARU (MAKRAB) AKUNTANSI 2026 – MENEMBUS BATAS DI ALAM BEBAS. Di bawahnya terdapat rincian acara berupa kegiatan trekking, outbound, dan camping selama dua hari satu malam di kawasan pegunungan dan hutan pinus Lembang. Kehadiran seluruh mahasiswa baru bersifat wajib sebagai syarat kelulusan nilai orientasi tahap akhir.
"Ya ampun, camping di gunung?!" pekik Sinta kegirangan, matanya berbinar menatap poster itu. Ia langsung menoleh ke arah Anandara dan mengguncang lengan sahabatnya itu dengan heboh. "Nan! Lo lihat?! Ini kesempatan emas! Momen makrab di alam bebas itu tempat paling strategis buat cinlok (cinta lokasi)! Hawa dingin pegunungan, api unggun, outbound bareng... astaga, ini semesta lagi ngasih gue karpet merah buat pedekate sama Angga!"
Mendengar nama pemuda itu disebut, dada Anandara langsung berdesir ngilu, seperti luka lama yang kembali disiram perasan jeruk nipis. Nyonya Es itu menelan ludah dengan susah payah, memaksakan sebuah senyum yang tak pernah mencapai dasar matanya.
"Iya, Sin," jawab Anandara pelan, suaranya diatur sedatar mungkin agar getarannya tak terdengar. "Ini kesempatan bagus buat lo. Lo harus siapin jaket yang tebal, di sana pasti dingin."
"Wah, gawat nih," keluh Reza sambil mengusap tengkuknya. "Gue alergi dingin, cuy. Mana disuruh trekking masuk hutan lagi. Kalau gue diculik kuntilanak pohon pinus gimana?"
"Bagus dong, seenggaknya ada yang mau sama lo walau beda alam," ledek Rehan cepat yang langsung disambut pukulan keras dari Reza di lengannya.
Anandara menatap poster itu dengan tatapan kosong. Karyawisata. Alam bebas. Tiga kata itu terdengar seperti lonceng eksekusi bagi hatinya. Terjebak di hutan selama dua hari satu malam bersama Sinta yang sedang gencar mendekati Angga, dan harus menyaksikan pemandangan itu tanpa bisa melarikan diri ke mana pun, adalah bentuk penyiksaan mental paling brutal yang tak pernah ia bayangkan. Namun, ia tidak punya pilihan. Status 'wajib' di poster itu mengunci nasibnya.
Hari keberangkatan tiba. Rombongan bus mahasiswa FEB meliuk-liuk membelah jalanan menanjak menuju kawasan pegunungan Lembang. Udara yang awalnya panas perlahan berubah menjadi sejuk, lalu mendingin saat bus mematikan mesinnya di area perkemahan yang dikelilingi oleh deretan pohon pinus yang menjulang tinggi menembus kabut tipis.
Setelah mendirikan tenda dan mengikuti serangkaian apel pembukaan yang membosankan dari panitia senior, acara inti pun dimulai: Trekking menyusuri rute perbukitan yang cukup menantang.
Panitia membagi mahasiswa ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari sepuluh orang. Dan seperti sebuah lelucon takdir yang sangat kejam, kelompok Anandara kembali diisi oleh orang-orang yang sama: Sinta, Kiera, Ami, Rehan, Reza, Dimas, dan tentu saja... Angga Raditya, ditambah dua mahasiswi lain yang tidak terlalu mereka kenal.
Rute trekking itu bukanlah jalur wisata biasa. Mereka harus menyusuri jalan setapak di pinggir tebing yang curam, menembus semak belukar, dan melewati tanah merah yang licin akibat sisa hujan semalam. Di sebelah kiri mereka menjulang dinding tanah dan pepohonan, sementara di sebelah kanan adalah jurang curam yang dipenuhi oleh batu-batu kali raksasa dan tanaman rambat berduri.
Formasi barisan terbentuk secara alamiah. Panitia senior memimpin di depan. Di belakangnya, Sinta berjalan dengan penuh semangat, terus-menerus mencari celah untuk bisa berjalan bersisian dengan Angga yang melangkah dengan tenang dan fokus pada jalan. Rehan, Reza, Kiera, dan Ami berjalan di tengah sambil sesekali bernyanyi sumbang untuk mengusir lelah.
Sementara itu, Anandara memilih memisahkan diri. Ia sengaja memperlambat langkahnya, membiarkan dirinya berada di urutan paling belakang, berjalan dalam kebisuan bersama Dimas yang juga tak banyak bicara.
Anandara menundukkan kepalanya, menatap ujung sepatu ketsnya yang mulai kotor oleh lumpur. Namun sesekali, matanya tak bisa menahan diri untuk tidak mendongak, menatap ke arah depan.
Di sana, Sinta beberapa kali terpeleset kecil, dan Angga dengan refleks yang sopan mengulurkan tangannya untuk membantu Sinta menjaga keseimbangan. Sinta akan tertawa renyah, mengucapkan terima kasih dengan wajah merona, sementara Angga membalasnya dengan anggukan kecil.
Setiap kali pemandangan itu tertangkap oleh mata hitam legam Anandara, sebilah belati tak kasat mata menyayat ulu hatinya tanpa ampun. Dadanya terasa sangat sesak, seolah udara dingin pegunungan ini tidak memiliki cukup oksigen untuk paru-parunya.
Lihatlah mereka, Nanda, batin Anandara merintih pedih, menyiksa dirinya sendiri dengan monolog internal yang menghancurkan kewarasannya. Mereka sangat serasi. Dia menjaganya. Ini adalah bayaran dari pengorbananmu. Sakit? Tentu saja sakit. Kau menelan pecahan kaca setiap kali kau bernapas. Tapi inilah takdirmu. Kau adalah anak seorang pengkhianat, kau tidak pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Sinta pantas mendapatkannya. Biarkan hatimu berdarah hingga mati di tengah hutan ini.
Langkah Anandara semakin lama semakin gontai. Beban psikologis yang luar biasa berat itu tanpa sadar mulai memengaruhi kesadaran dan stamina fisiknya. Pandangannya mulai mengabur oleh genangan air mata yang mati-matian ia tahan agar tidak jatuh. Pikirannya melayang jauh, tenggelam dalam pusaran keputusasaan yang kelam, meratapi cinta pertamanya yang harus ia bunuh dengan tangannya sendiri.
"Hati-hati, Nanda. Jalurnya makin licin," suara Dimas dari jarak beberapa langkah di depannya mencoba memperingatkan, menyadari bahwa gadis itu sedang melamun dengan tatapan kosong.
Namun peringatan itu datang terlambat.
Jalur setapak itu menyempit di sebuah tikungan yang menukik turun. Tanah merah di bawah pijakan mereka sangat basah dan dilapisi oleh lumut hijau yang licin. Di sebelah kanan, bibir jurang menganga lebar, memamerkan kemiringan ekstrem yang dipenuhi semak berduri tajam dan batu-batu karang yang mencuat kejam.
Anandara yang sedang larut dalam lamunan yang menyayat hati, salah mengambil pijakan. Sepatu ketsnya menginjak akar pohon besar yang tertutup lumpur licin.
Seketika, ia kehilangan keseimbangannya.
"AHH!!"
Sebuah pekikan tertahan lolos dari bibir Anandara saat tubuhnya terhuyung kuat ke sisi kanan. Gravitasi menariknya dengan sangat cepat menuju bibir jurang. Tanah di bawah kakinya longsor. Ia membuang tasnya secara refleks, tangannya menggapai-gapai udara kosong mencari pegangan.
Waktu seolah melambat ke dalam slow motion yang mengerikan.
Angga, yang sejak awal perjalanan diam-diam selalu memfokuskan sebagian sensor pendengarannya ke arah barisan belakang—menjaga Nyonya Es itu dari kejauhan—mendengar pekikan tersebut. Insting pemuda itu bekerja dengan kecepatan kilat yang nyaris tak manusiawi.
Angga memutar tubuhnya, mengabaikan Sinta yang sedang berbicara padanya, dan melesat menerjang lumpur menuju bibir jurang tempat Anandara tergelincir.
Tepat sebelum tubuh Anandara sepenuhnya meluncur jatuh ke bawah tebing, Angga menjatuhkan dirinya ke tanah berlumpur, mencondongkan separuh tubuhnya ke arah jurang, dan mengulurkan tangan kanannya sejauh mungkin.
Grep!
Tangan besar Angga berhasil menangkap pergelangan tangan kiri Anandara dengan cengkeraman maut yang sangat kuat.
Sentakan dari berat tubuh Anandara yang menggantung membuat bahu Angga berderak menyakitkan, namun pemuda itu tidak melepaskannya. Ia menahan napasnya, mengunci otot lengannya sekuat tenaga untuk menahan tubuh gadis itu agar tidak jatuh ke dasar jurang yang dipenuhi batu.
Seketika, seluruh rombongan berhenti. Suasana yang tadinya penuh canda tawa berubah menjadi kepanikan masal yang memekakkan telinga.
"NANDA!!!" jeritan histeris Sinta pecah, menggelegar membelah keheningan hutan. Wajah gadis itu seputih kertas saat melihat tubuh sahabatnya menggantung di tepi maut.
Di bawah sana, kaki Anandara menjuntai di udara, menggesek tanah tebing yang terus berguguran. Tubuhnya berayun mengerikan.
Anandara mendongak dengan napas memburu, jantungnya berdetak brutal akibat lonjakan adrenalin. Matanya yang hitam legam bertabrakan langsung dengan mata elang milik Angga yang sedang menatapnya dari atas bibir tebing. Wajah pemuda itu menegang keras menahan berat tubuhnya, urat-urat di leher dan lengannya menonjol, sementara matanya memancarkan kepanikan dan ketakutan yang luar biasa tulus.
"Pegang tanganku erat-erat, Nanda! Jangan dilepas!" geram Angga dengan suara baritonnya yang bergetar. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia berusaha menarik tubuh gadis itu naik, namun pijakannya di tanah yang berlumpur terus melorot. "Bertahan! Gue bakal tarik lo naik!"
Tangan Angga terasa begitu hangat, begitu kokoh, dan begitu melindunginya. Sebuah genggaman yang selama ini didambakan oleh hati terdalam Anandara. Di detik itu, di antara batas hidup dan mati, rasa cinta yang selama berminggu-minggu ia kubur hidup-hidup meledak keluar dari peti matinya, meronta-ronta memohon untuk membalas genggaman pemuda itu.
Namun, dari atas tebing, suara tangisan Sinta yang meronta-ronta memanggil namanya kembali menarik kesadaran Anandara pada realita yang kejam.
Anandara menatap tangan Angga yang mencengkeramnya, lalu kembali menatap mata pemuda itu.
Logika Anandara, yang sudah cacat oleh rasa bersalah dan pengorbanan, melakukan perhitungan bunuh diri. Jika aku membiarkan dia menolongku, batin Anandara menjerit dalam isak tangis yang tak bersuara, jika aku membiarkan dia menarikku ke dalam pelukannya hari ini... aku tidak akan pernah bisa melepaskannya lagi. Aku akan jatuh seutuhnya. Hatiku akan menang, dan Sinta akan melihat itu. Aku akan mengkhianati sahabat yang rela mati untukku.
Di tengah tebing yang curam itu, Nyonya Es itu mengambil keputusan paling gila dan paling menyayat hati dalam hidupnya. Ia harus membuat Angga membencinya hingga ke akar-akarnya. Ia harus memutus tali harapan ini, meskipun ia harus menghancurkan tubuhnya sendiri.
Mata hitam legam Anandara tiba-tiba mengeras, membeku, memancarkan kebencian absolut yang ia paksakan keluar dari jiwanya yang berdarah.
"Lepaskan," desis Anandara dengan suara pelan namun menembus hingga ke ulu hati.
Angga terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Lo gila?! Pegang tangan gue yang kuat! Lo bisa mati di bawah sana!"
"Gue bilang lepaskan!" teriak Anandara dengan suara yang pecah dan parau, air mata akhirnya lolos membasahi pipinya yang kotor oleh tanah. Ia menatap Angga dengan tatapan paling menyakitkan yang pernah ia berikan. "Gue nggak butuh bantuan lo! Gue nggak sudi ditolong sama lo!"
Mendengar kalimat yang luar biasa kejam di saat nyawa sedang dipertaruhkan itu, hati Angga seolah ditusuk oleh ribuan belati berkarat. Ia membeku sesaat, tak mengerti mengapa ada manusia yang lebih memilih mati daripada menerima bantuannya.
Namun Anandara tidak menunggu jawaban. Dengan sisa tenaganya, Nyonya Es itu menggunakan tangan kanannya untuk menepis dan mengoyak cengkeraman tangan Angga di pergelangan kirinya secara paksa. Ia meronta dengan brutal.
"Nanda! JANGAN!" teriak Angga panik, berusaha mempertahankan cengkeramannya.
Namun lumpur yang licin dan rontaan kuat dari Anandara membuat tangan pemuda itu tergelincir. Tangan yang hangat itu terlepas.
Dan tubuh Anandara meluncur jatuh ke bawah tebing curam.
Gadis itu memejamkan matanya, membiarkan gravitasi mengambil alih. Ia membiarkan ranting-ranting pohon memukul tubuhnya, membiarkan tanah kasar menggores kulitnya. Rasa sakit fisik ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya. Ia rela terluka, ia rela mati, asalkan ia tidak pernah mengkhianati Sinta.
"NANDAAA!!!"
Jeritan Sinta dari atas tebing menyobek langit Lembang. Bidadari ceria itu kehilangan akal sehatnya melihat tubuh sahabatnya jatuh ke dasar jurang. Tangisannya meledak histeris, melolong dipenuhi penderitaan yang luar biasa.
Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Sinta berlari menerjang lumpur, bersiap untuk melompat turun menyusul Anandara ke dalam jurang yang dipenuhi semak berduri itu. "Nanda! Gue ikut, Nan! Jangan tinggalin gue!"
Namun, sebelum tubuh Sinta melewati bibir tebing, dua lengan yang sangat kokoh melingkari pinggangnya dari belakang dan menariknya mundur dengan kekuatan yang brutal hingga mereka berdua jatuh terduduk di atas tanah berlumpur.
Itu Dimas. Pemuda berkacamata itu menahan tubuh Sinta yang meronta-ronta kesetanan dengan seluruh kekuatannya.
"Lepasin gue, Dimas! Lepasin! Sahabat gue jatuh! Gue harus tolongin dia!" jerit Sinta sambil menangis tersedu-sedu, memukuli lengan Dimas dengan beringas.
"Lo mau mati, Sin?!" bentak Dimas dengan suara yang menggelegar, suara yang belum pernah Sinta dengar dari pemuda pendiam itu. Cengkeraman Dimas semakin mengerat, menolak melepaskan gadis yang ia cintai itu menuju maut. Napas Dimas memburu, matanya memancarkan ketegasan yang mutlak. "Lo turun ke sana cuma bakal nambahin korban jiwa! Jurang itu terlalu curam buat cewek! Biarin cowok yang nyelamatin Nanda!"
Sinta tak lagi bisa melawan tenaga Dimas. Ia ambruk di dalam kukungan pemuda itu, menangis meraung-raung meratapi ketidakberdayaannya. Ia mendongak, menatap ke arah kerumunan teman-temannya dengan mata yang bengkak dan dipenuhi air mata permohonan yang luar biasa memilukan.
"Tolong..." isak Sinta, suaranya parau dan pecah, menatap Rehan, Reza, dan terakhir menatap Angga yang masih tengkurap di bibir tebing dengan wajah syok. "Tolongin Nanda! Tolong bawa sahabat gue balik! Gue mohon sama kalian! Angga, tolong selamatkan dia!"
Permohonan Sinta yang menyayat hati itu menjadi pelatuk bagi Angga Raditya.
Tanpa berpikir dua kali, tanpa memedulikan nyawanya sendiri, dan didorong oleh rasa amarah, ketakutan, dan cinta yang menolak untuk menyerah pada keegoisan gadis itu, Angga bangkit berdiri. Pemuda itu melompati bibir tebing dan menerjunkan dirinya sendiri ke bawah lereng curam yang sangat berbahaya.
"Angga! Jangan nekat!" teriak Rehan panik dari atas, sementara Reza segera berlari mencari tali bantuan dari panitia.
Namun Angga menulikan telinganya. Ia meluncur turun dengan kecepatan yang mengerikan, menggunakan sepatu boots-nya untuk menahan laju di tanah yang labil. Ia mengabaikan semak-semak berduri yang menyambar dan merobek kemeja flanelnya. Duri-duri tajam itu mengoyak kulit di kedua lengan bawahnya, menghasilkan luka-luka gores yang dalam dan mengucurkan darah segar, namun Angga tak merasakan sakit sedikit pun.
Mata elangnya hanya terpaku pada satu titik di bawah sana: tubuh Anandara yang terus berguling tak terkendali di antara bebatuan dan dahan patah.
Di ujung lintasan longsor itu, terdapat sebuah batu kali berukuran raksasa yang mencuat tajam. Jika tubuh Anandara membentur batu itu dengan kecepatan seperti ini, tulang rusuknya akan hancur dan nyawanya tak akan selamat.
"Nanda!" raung Angga, memaksa tubuhnya meluncur lebih cepat, menantang gravitasi dan maut sekaligus.
Sesaat sebelum tubuh Anandara menghantam batu raksasa itu, Angga berhasil memangkas jarak. Dengan sebuah lompatan nekat yang mempertaruhkan tulang punggungnya sendiri, Angga menerjang tubuh Anandara.
Pemuda itu merengkuh tubuh rapuh gadis itu ke dalam pelukannya yang kokoh, memutar tubuh mereka di udara, dan menjadikan punggung serta bahunya sendiri sebagai tameng pelindung.
BRAAAK!
Bahu kanan Angga menghantam batu raksasa itu dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Bunyi benturan tulang terdengar mengerikan. Pemuda itu mengerang tertahan, menahan rasa sakit yang nyaris membuat pandangannya gelap gulita. Namun, pelukannya pada tubuh Anandara tidak melonggar satu milimeter pun. Ia melindungi kepala gadis itu dari benturan, memastikan tidak ada satu batu pun yang melukai Nyonya Es yang keras kepala ini.
Setelah benturan itu, laju mereka terhenti. Keduanya tergeletak di atas semak belukar di dasar jurang kecil yang tersembunyi dari pandangan atas tebing.
Napas Angga terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Rasa sakit berdenyut hebat di bahu kanan dan kedua lengannya yang bersimbah darah. Perlahan, ia menggeser tubuhnya dan menatap gadis yang berada di dalam pelukannya.
Anandara tak sadarkan diri.
Gadis itu pingsan. Wajah pualamnya kotor oleh tanah dan tergores ranting di bagian pelipis. Mata hitam legam yang selalu memancarkan kebencian palsu itu kini terpejam rapat. Tubuhnya yang kurus terasa begitu rapuh dan tak berdaya dalam dekapan Angga.
Melihat wajah pucat itu, amarah Angga menguap seketika, digantikan oleh rasa nyeri yang tak terlukiskan di dalam dadanya. Tangan Angga yang gemetar dan berdarah terangkat, menyentuh pipi dingin Anandara dengan sangat lembut, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya.
Sebenarnya rahasia apa yang sedang kau simpan, Nanda? batin Angga merintih pedih, sebuah pertanyaan yang menyayat hatinya. Seberapa besar penderitaan yang kau tanggung sendirian sampai kau lebih memilih mati daripada menerima bantuanku? Kenapa kau harus menyiksa dirimu sendiri seperti ini?
Mata elang Angga berkaca-kaca. Ia tidak peduli pada luka-lukanya. Ia tidak peduli pada rasa sakit di bahunya. Yang ia tahu hanyalah ia tidak akan pernah membiarkan gadis ini menghancurkan dirinya sendiri lagi.
Dengan sisa tenaga yang dipicu oleh adrenalin dan cinta yang mendalam, Angga menyelipkan kedua tangannya di bawah punggung dan lutut Anandara. Ia menggeram menahan sakit saat otot bahunya dipaksa bekerja ekstra keras. Pemuda itu bangkit berdiri dengan perlahan, mengangkat tubuh Anandara yang pingsan ke dalam gendongan bridal style-nya.
Darah segar menetes dari lengan Angga, jatuh membasahi dedaunan kering di bawah kakinya, namun ia memeluk erat tubuh gadis itu di dadanya seolah ia adalah harta karun paling berharga di dunia.
"Gue nggak akan pernah melepaskan lo, Nanda. Sekalipun lo membenci gue sampai ke tulang sumsum lo," bisik Angga parau pada udara kosong, sebuah sumpah yang ia ikrarkan di dasar jurang itu.
Dengan langkah yang berat namun mantap, Angga mulai berjalan tertatih mendaki jalan memutar yang sedikit landai menuju kembali ke atas tebing, membawa serta gadis yang telah merobek harga dirinya, namun pada saat yang sama, gadis yang menguasai seluruh ruang di hatinya. Di atas sana, kepanikan dan tangis masih menanti, namun bagi Angga saat ini, hanya ada dia dan detak jantung gadis di pelukannya yang harus ia pastikan tetap berdetak.
pengamat Senja_