Nala hanya ingin memulai hidup baru, bukan malah terjebak satu atap dengan Saga—arsitek dingin yang memperlakukan apartemennya seperti museum suci. Akibat ditipu agen properti, keduanya terpaksa berbagi unit 402 dengan satu garis imajiner sebagai batas perang.
Nala yang berantakan adalah "polusi" bagi hidup Saga yang simetris. Mereka saling benci, saling mengusir, namun dipaksa bernapas di ruang yang sama setiap hari. Tapi, saat jarak hanya sebatas dinding tipis dan rahasia mulai bocor, garis pembatas itu tak lagi cukup untuk menahan debaran yang salah alamat.
Di Unit 402, aturan nomor satu sangat jelas: Jangan sampai jatuh cinta. Tapi di antara mereka, siapa yang akan melanggar kontrak itu lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. Pre-Wedding
H-15. Angka itu terpampang nyata di kalender ponsel Nala, seolah-olah sedang menghitung mundur ledakan yang akan menghancurkan hidupnya.
Namun, alih-alih panik, Nala justru sibuk membongkar lemari pakaiannya pagi ini. Sesuai janjinya pada Saga semalam, hari ini adalah jadwal foto pre-wedding—benteng pertahanan terakhir yang harus mereka sabotase habis-habisan.
Saga sudah menunggu di depan gedung
apartemen dengan mobil SUV hitamnya. Saat Nala masuk ke dalam mobil sambil membawa sebuah tas plastik besar yang isinya tampak sangat penuh dan berat, Saga hanya menaikkan sebelah alisnya.
"Nala, saya sudah bilang jangan membawa bahan peledak," ujar Saga datar sambil mulai melajukan kendaraan menuju studio foto di kawasan Kemang.
Nala menyeringai penuh kemenangan. "Ini bukan bahan peledak, Mas. Ini adalah 'Kematian Estetika'. Aku sudah menyiapkan kostum yang bakal bikin fotografer pilihan Mamamu itu trauma memegang kamera."
Saga melirik tas plastik itu dengan tatapan ngeri.
"Kostum apa lagi? Kalau kamu berniat memakai daster beruang kutub itu, saya lebih baik menabrakkan mobil ini sekarang juga."
"Lebih dari itu, Mas! Ini adalah puncak dari segala siasat kita. Pokoknya, Mas tinggal ikutin permainan aku aja," balas Nala semangat.
Studio foto milik fotografer ternama, Rio, tampak sangat modern dan minimalis. Mama sudah menunggu di sana bersama dua asisten fotografer yang sibuk mengatur pencahayaan.
Tema yang diinginkan Mama adalah High Fashion Elegant Wedding, di mana pengantin harus terlihat seperti bangsawan modern.
"Nah, ini dia!" seru Mama saat melihat mereka datang. "Ayo cepat, waktunya sempit. Rio sudah menyiapkan latar belakang classic gold. Nala, kamu ganti baju duluan ya, asistennya sudah bawa gaunnya ke ruang ganti."
Nala melirik Saga, memberikan kedipan rahasia. "Maaf Tante, tapi aku sudah bawa baju sendiri. Aku rasa gaunnya kurang cocok sama... visi artistik kami."
Saga segera menimpali dengan suara berat dan meyakinkan. "Benar, Ma. Aku dan Nala merasa tema bangsawan itu terlalu kaku. Kami ingin sesuatu yang lebih... mewakili hobi dan kepribadian kami yang sederhana."
Mama mulai merasa firasat buruk.
"Kepribadian sederhana? Maksud kamu?"
Sepuluh menit kemudian, pintu ruang ganti terbuka. Seluruh kru studio mendadak berhenti bernapas. Rio, sang fotografer, hampir menjatuhkan lensa kameranya seharga puluhan juta rupiah.
Nala keluar dengan percaya diri menggunakan baju senam aerobik tahun 80-an berwarna pink neon, lengkap dengan leg warmer warna hijau stabilo dan ikat kepala handuk.
Di sampingnya, Saga yang dipaksa Nala saat di ruang ganti tadi, keluar dengan celana pendek lari yang sangat pendek dan kaos kutang berwarna kuning menyala, lengkap dengan kacamata renang yang bertengger di dahinya.
"Nala! Saga! Apa-apaan ini?!" teriak Mama, wajahnya sudah merah padam antara malu dan marah.
"Ini tema 'Atlet Kehidupan', Tante," jawab Nala tanpa dosa sambil melakukan gerakan pemanasan di depan lampu studio. "Kami ingin menunjukkan bahwa pernikahan itu seperti maraton yang melelahkan. Makanya bajunya harus baju olahraga. Biar filosofis!"
Saga, yang sebenarnya merasa martabatnya sudah hancur berkeping-keping, tetap menjaga wajahnya sedatar papan tulis.
"Aku rasa ini sangat orisinal, Ma. Aku ingin dunia tahu bahwa hubungan kami dibangun di atas keringat dan... oksigen."
Rio sang fotografer berdehem canggung.
"Ehem... jadi, kita tetap foto dengan... baju ini?"
"Tentu saja!" seru Nala. "Ayo Mas Saga, kita pose yang paling romantis!"
Nala kemudian menarik Saga untuk berpose. Bukannya pose pelukan yang anggun, Nala justru meminta Saga melakukan gerakan squat sementara Nala duduk di pundaknya sambil memegang sebotol minuman energi.
"Ayo Mas, tahan! Tunjukkan kekuatan cinta kita!" bisik Nala di telinga Saga, berusaha keras menahan tawa.
Saga mengertakkan gigi, otot lehernya menegang.
"Saya akan membunuh kamu setelah ini, Nala," gumamnya pelan di sela-sela napas yang berat.
"Jangan galak-galak gitu dong, Mas. Senyum! Ingat, H-15!"
Rio mulai memotret dengan ragu. Setiap jepretan kamera terasa seperti hantaman palu pada reputasi profesionalnya. Namun, kegilaan belum berakhir. Nala kemudian mengeluarkan properti tambahan dari tasnya: dua buah raket nyamuk elektrik yang menyala merah.
"Kita pose fencing ya, Mas! Anggap saja kita sedang berjuang melawan nyamuk-nyamuk pengganggu dalam hubungan kita!" Nala mulai mengayunkan raket nyamuk itu di udara.
Saga, yang entah kenapa mulai tertular kegilaan Nala, akhirnya pasrah. Ia mengambil satu raket nyamuk dan berpose seperti pendekar pedang dari film laga murah.
"Kalau begitu, bersiaplah untuk kalah, Nala!"
Mama Saga hanya bisa terduduk di pojok studio, menutup wajahnya dengan tas tangan mahal.
"Ya Tuhan... kenapa anakku jadi seperti ini? Apakah dia stres karena terlalu banyak mendesain gedung?"
Namun, di tengah-tengah kekacauan pose raket nyamuk dan baju neon itu, Rio tiba-tiba menghentikan jepretannya. Ia menatap layar monitor dengan dahi berkerut.
"Tunggu dulu..." ujar Rio pelan.
"Kenapa, Mas Rio? Jelek banget ya?" tanya Nala penuh harap, berharap Rio akan menyerah dan bilang fotonya tidak layak cetak.
"Bukan... justru ini... ini art banget!" Rio tiba-tiba berubah semangat.
"Ekspresi Saga yang kaku itu sangat kontras dengan warna neon Nala. Ini seperti kritik sosial terhadap konsumerisme pernikahan! Pose kalian saat rebutan raket nyamuk itu... emosinya dapet banget! Sangat raw, sangat jujur!"
Nala melongo. "Hah? Jujur apanya? Ini kan konyol!"
"Tidak, ini jenius!" Rio mulai memotret dengan membabi buta. "Ayo, Saga! Tatap mata Nala seolah-olah dia adalah satu-satunya nyamuk yang ingin kamu tangkap!"
Saga terpaksa menatap mata Nala. Jarak mereka sangat dekat karena pose pedang-pedangan tadi. Untuk sesaat, Nala tertegun.
Di balik kacamata renang yang konyol di dahinya, mata Saga menatapnya dengan intensitas yang tidak biasa. Ada kilat geli, kesal, tapi juga sesuatu yang hangat di sana.
Jantung Nala berdegup kencang—kali ini bukan karena gerakan aerobik, tapi karena cara Saga menatapnya.
"Mas... jangan liatin gitu, nanti fotonya jadi bagus," bisik Nala gugup.
"Kamu yang mulai drama ini, Nala. Saya hanya menyelesaikan apa yang kamu buat," jawab Saga rendah, suaranya terdengar sangat maskulin meski ia sedang memakai kaos kutang kuning.
Setelah tiga jam disiksa di studio, mereka akhirnya berjalan menuju parkiran. Nala sudah berganti pakaian menjadi kaos biasanya, tapi wajahnya masih sedikit memerah.
"Gila ya fotografernya, masa baju kayak gitu dibilang seni? Gagal total dong sabotase kita!" keluh Nala sambil membanting pintu mobil.
Saga menyalakan mesin, ia sudah kembali dengan kemeja rapinya, namun sisa-sisa bedak studio masih terlihat sedikit di wajahnya.
"Saya sudah bilang, kadang orang-orang di industri kreatif itu punya selera yang aneh. Semakin konyol kita, mereka akan menganggapnya semakin 'berani'."
"Tapi Mas lihat nggak muka Mamamu tadi? Aku rasa beliau beneran mau pingsan waktu liat Mas pakai kacamata renang," Nala mulai tertawa lagi mengenang kejadian tadi.
Saga tidak langsung menjawab. Ia menjalankan mobil keluar dari area Kemang. Saat di lampu merah, ia menoleh ke arah Nala.
"Nala," panggilnya serius.
"Ya, Mas?"
"Besok adalah H-14. Kita sudah mencoba sabotase baju, katering, dan foto. Tapi orang tua kita tetap keras kepala," Saga menghela napas. "Kita butuh serangan yang lebih personal. Sesuatu yang menyerang langsung ke inti keraguan mereka."
Nala terdiam, menelan ludah. "Maksud Mas?"
"Kita harus menunjukkan kalau kita tidak punya kecocokan dalam hal... visi masa depan. Saya akan mengajak kamu ke acara pertemuan arsitek besok malam. Di sana, kamu harus jadi sosok yang paling memalukan bagi saya di depan kolega-kolega saya."
Nala menatap Saga. Ada rasa sedikit tidak nyaman di hatinya. "Mas yakin? Itu kan karier Mas. Kalau aku bikin malu Mas di sana, reputasi Mas gimana?"
Saga menatap lurus ke depan, jemarinya mengetuk kemudi.
"Saya lebih rela kehilangan sedikit reputasi daripada kehilangan kebebasan saya seumur hidup dengan menikah tanpa cinta."
Nala tertegun mendengar kata "menikah tanpa cinta" keluar dari mulut Saga. Seharusnya itu adalah tujuan mereka, tapi entah kenapa, mendengar itu diucapkan dengan begitu tegas membuat hati Nala sedikit mencos.
"Oke, Mas. Aku bakal jadi orang paling menyebalkan sedunia besok malam. Janji," bisik Nala pelan.
Saga hanya mengangguk, namun di dalam kepalanya, bayangan wajah Nala saat tertawa memakai baju aerobik neon tadi terus berputar.
Ia mulai menyadari bahwa "kekalahan bersama" yang ia bicarakan di Solo tempo hari, mungkin akan terasa jauh lebih rumit daripada yang ia bayangkan.
kok kalimatnya seolah2 baru ketemu sih, apalagi sampai bandingin dengan di foto.