NovelToon NovelToon
Charming The Beast

Charming The Beast

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Romansa Fantasi
Popularitas:288
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tahta di Tanah Jawa

Kemenangan semalam atas Surya Pratama mengirimkan gelombang kejut yang merambat cepat melalui kabel-kabel serat optik dan bisikan di lorong-lorong gelap kekuasaan Jakarta. Pagi itu, Puri Pratama tidak lagi terasa seperti rumah pelarian, melainkan sebuah pusat gravitasi baru. Namun, bagi Kenzo dan Aara, mereka tahu betul bahwa memotong kepala ular tidak akan langsung mematikan seluruh tubuhnya.

Di aula utama, Baskara berdiri dengan tablet di tangan, wajahnya menunjukkan campuran antara kekaguman dan kecemasan yang mendalam.

"Tuan Kenzo, Nyonya Aara," Baskara membungkuk. "Langkah kalian semalam sangat... efisien. Namun, Nusantara bukan hanya soal aset Surya. Ada 'Dewan Delapan' para pemegang saham bayangan yang mengendalikan infrastruktur kritis di negeri ini. Mereka sudah meminta audiensi dengan Adrian pagi ini."

Aara, yang sedang menyesap kopi luwak sambil mengamati Adrian bermain di taman melalui jendela besar, meletakkan cangkirnya dengan denting halus. "Audiensi? Adrian baru empat tahun, Baskara. Mereka ingin berbicara dengan seorang balita tentang kebijakan ekspor-impor dan keamanan maritim?"

"Mereka ingin melihat apakah darah Kusuma Pratama benar-benar mengalir dengan kuat di tubuhnya, atau apakah dia hanya boneka yang kalian gerakkan," jawab Baskara serius.

Kenzo, yang sedang memeriksa sistem keamanan perimeter melalui layar hologram di sudut ruangan, menoleh. "Biarkan mereka datang. Tapi beri tahu mereka, mereka tidak datang untuk menguji Adrian. Mereka datang untuk bersumpah setia."

Pukul sepuluh pagi, delapan mobil mewah anti-peluru memasuki halaman Puri Pratama. Dari dalamnya keluar sosok-sosok yang wajahnya jarang muncul di majalah bisnis, namun keputusan mereka bisa menjatuhkan nilai mata uang dalam semalam. Mereka adalah para tetua, taipan, dan mantan jenderal yang membentuk tulang punggung organisasi Nusantara.

Pertemuan diadakan di ruang perpustakaan yang megah. Adrian duduk di kursi jati besar yang dulunya milik kakeknya. Kakinya yang mungil bahkan tidak menyentuh lantai, namun tatapan matanya dingin, stabil, dan tajam membuat suasana ruangan menjadi sangat berat.

Kenzo berdiri di sisi kanan Adrian, tangannya bersedekap, tampak seperti patung iblis yang siap mencabik siapa pun yang berani melangkah terlalu dekat. Aara berdiri di sisi kiri, mengenakan kebaya sutra modern yang elegan namun taktis, dengan tangan yang selalu berada dekat dengan kipas cendana yang sebenarnya adalah perangkat pelumpuh saraf.

"Jadi, inilah sang Alpha yang dibicarakan dunia?" ucap Jenderal (Purn.) Wiryo, pria tertua di dewan tersebut. "Dia terlihat seperti anak kecil biasa."

Adrian tidak bergeming. Ia mengambil sebuah bidak catur Queen dari meja di depannya dan meletakkannya di depan sang Jenderal. "Biasa adalah kata yang digunakan orang untuk menenangkan diri dari sesuatu yang tidak mereka pahami, Kek," suara Adrian tenang, namun berwibawa.

Keheningan seketika melanda ruangan. Para tetua saling pandang.

"Bicaramu lancar, Nak," sahut taipan media, Ibu Ratna. "Tapi apa yang bisa kau berikan pada Nusantara yang tidak bisa diberikan oleh pamanmu, Surya?"

Adrian menoleh ke arah Aara, seolah meminta izin. Aara hanya mengangguk tipis dengan senyum bangga.

"Keamanan dari luar," jawab Adrian singkat. "Kalian takut pada FBA. Kalian takut pada *The Hive*. Ayahku sudah membakar mereka. Ibuku sudah membongkar rahasia mereka. Bersamaku, Nusantara tidak akan lagi menjadi mangsa. Nusantara akan menjadi pemburu."

Saat pertemuan tampak berjalan menuju kesepakatan, sensor keamanan di pergelangan tangan Kenzo bergetar dua kali. Kode biru. Ada penyusup di dalam perimeter, dan mereka bukan orang luar.

Kenzo segera menarik Adrian dari kursi, sementara Aara melemparkan kipas cendananya ke arah pintu masuk.

*ZAP!*

Seorang pelayan yang mencoba masuk dengan baki berisi minuman tersengat listrik dan jatuh pingsan. Dari balik nampan yang jatuh, terlihat sebuah perangkat peledak kecil yang sudah aktif.

"Keluar! Sekarang!" teriak Kenzo.

Ledakan itu tidak besar, namun cukup untuk menghancurkan pintu dan menciptakan kepulan asap tebal. Dalam hitungan detik, ruang perpustakaan menjadi medan tempur. Dari langit-langit yang runtuh, turun lima pembunuh bayaran dengan seragam hitam legam.

Ini bukan orang-orang Surya. Mereka bergerak dengan sinkronisasi yang sangat akrab di mata Aara.

"Unit bayangan FBA... mereka masih punya sisa-sisa di Asia Tenggara," desis Aara sambil mencabut pistol dari balik kebayanya.

Pertarungan jarak dekat terjadi di depan mata para Dewan Delapan yang ketakutan. Kenzo bertarung seperti badai, menggunakan kursi dan meja perpustakaan untuk menghancurkan tulang para penyerang. Aara bergerak di sela-sela rak buku, melepaskan tembakan presisi yang membuat para pembunuh itu tidak punya ruang untuk membidik Adrian.

Seorang pembunuh berhasil lolos dari jangkauan Kenzo dan menerjang ke arah Adrian dengan pisau. Kenzo berteriak, namun ia tertahan oleh dua penyerang lainnya.

Adrian tidak lari. Ia berdiri tegak, matanya berkilat dengan pendaran perak samar seperti saat Aara berada di The Abyss. Saat sang pembunuh hanya berjarak satu meter, pria itu tiba-tiba berhenti. Tangannya gemetar, pisaunya jatuh ke lantai, dan ia mulai mencengkeram kepalanya sendiri seolah-olah sedang mengalami migrain yang mematikan.

"Pergi," perintah Adrian pelan.

Pembunuh itu berteriak histeris, berbalik, dan lari menabrak dinding kaca hingga pecah, lalu melompat ke jurang di luar mansion tanpa ragu sedikit pun.

Dewan Delapan menyaksikan kejadian itu dengan kengerian yang bercampur dengan pemujaan. Mereka baru saja melihat bukti nyata dari kekuatan yang selama ini hanya dianggap mitos.

Setelah semua ancaman dinetralkan, Kenzo segera menghampiri Adrian dan memeluknya. "Kau tidak apa-apa, Nak?"

Adrian mendongak, pendaran di matanya menghilang. "Aku hanya ingin mereka berhenti mengganggu rumah kita, Papa."

Jenderal Wiryo berdiri dari balik meja yang terbalik. Ia merapikan jasnya, berjalan mendekat, dan berlutut di depan Adrian. Tindakan itu diikuti oleh tujuh anggota dewan lainnya.

"Nusantara mengakui darahmu, Adrian Pratama Arkana," ucap sang Jenderal dengan nada sakral. "Mulai hari ini, aset, intelijen, dan kekuatan kami adalah milikmu. Kami bersumpah setia pada sang Alpha."

Kenzo dan Aara saling berpandangan. Mereka tahu, kemenangan ini permanen. Mereka tidak lagi hanya memiliki harta keluarga Pratama, mereka memiliki sebuah negara bayangan di telapak tangan putra mereka.

Malam harinya, di balkon yang sama yang menghadap ke arah kawah Gunung Tangkuban Perahu, Aara bersandar di dada Kenzo.

"Kita benar-benar telah menciptakan sejarah, Kenzo," bisik Aara. "Bukan sejarah mafia, bukan sejarah agen. Tapi sejarah baru untuk dunia."

Kenzo mencium puncak kepala Aara. "Dan ini baru bab pertama bagi Adrian. Kita akan menjaganya sampai dia siap memimpin segalanya."

Di dalam kamar, Adrian sedang tertidur pulas dengan liontin King di tangannya. Di bawah sinar bulan Jawa, ia tampak seperti anak biasa. Namun, di dalam darahnya, sebuah kekuatan baru telah bangun sepenuhnya sebuah warisan yang akan memastikan bahwa keluarga Arkana tidak akan pernah lagi menjadi hantu, melainkan legenda yang hidup selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!