Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia yang Mulai Menekan
Langit hari itu cerah.
Tidak ada hujan.
Tidak ada alasan untuk kembali.
Tapi tetap saja—
Arsenia Valen berdiri di depan jendela kantornya, menatap ke luar tanpa benar-benar melihat.
Pikirannya… bukan di sini.
—
“Meeting dengan direksi dimulai 10 menit lagi, Nona.”
Suara asistennya terdengar hati-hati.
Arsenia tidak langsung merespons.
Ia masih diam.
Masih memikirkan sesuatu yang… tidak seharusnya ia pikirkan.
—
Trotoar.
Warung kecil.
Dan seorang pria yang mengatakan, “Saya enggak lari ke mana-mana.”
—
“Apa saya harus mengulang, Nona?”
Arsenia berkedip.
Kembali ke realitas.
“Tidak perlu.”
Ia berbalik.
Wajahnya kembali seperti biasa.
Dingin.
Tegas.
Tak tersentuh.
—
Atau setidaknya… terlihat seperti itu.
—
Ruang rapat dipenuhi orang-orang penting.
Direktur.
Investor.
Orang-orang dengan jabatan tinggi dan ego yang lebih tinggi lagi.
Biasanya, Arsenia menguasai ruangan itu tanpa usaha.
Tapi hari ini—
ada sesuatu yang… sedikit bergeser.
—
“Seperti yang kita bahas, ekspansi ke wilayah barat akan memberikan keuntungan signifikan—”
“Tidak.”
Satu kata dari Arsenia langsung menghentikan presentasi.
Semua mata tertuju padanya.
—
“Wilayah itu tidak stabil. Terlalu banyak risiko sosial.”
Nada suaranya tajam.
Logis.
Tapi—
tidak seperti biasanya.
—
“Bukankah kita selalu mengambil risiko untuk keuntungan besar?” tanya salah satu direksi.
—
Arsenia terdiam.
Sepersekian detik.
—
Biasanya, ia akan langsung menjawab.
Dengan data.
Dengan strategi.
Dengan keyakinan.
—
Tapi sekarang—
ada satu kalimat lain yang muncul di kepalanya.
“Kalau semua orang kejar ‘besar’… siapa yang nikmatin yang ‘cukup’?”
—
Ia mengerutkan kening sedikit.
Kesal.
—
“Ada pendekatan lain,” katanya akhirnya.
Lebih hati-hati dari biasanya.
—
Dan itu—
tidak luput dari perhatian.
—
Di ujung meja, seorang pria memperhatikannya dengan tajam.
Namanya Daniel Prasetyo.
Senior manager.
Ambisius.
Dan sangat mengenal Arsenia.
—
Terlalu mengenal.
—
“Sejak kapan Anda menghindari risiko, Nona Arsenia?”
Pertanyaan itu terdengar biasa.
Tapi nadanya… tidak.
—
Arsenia menatapnya.
Dingin.
“Tanyakan itu lagi kalau kamu sudah di posisiku.”
—
Ruangan langsung hening.
—
Daniel tersenyum tipis.
Tapi matanya tidak ikut tersenyum.
—
Ada sesuatu yang berubah.
Dan dia menyadarinya.
—
—
Sore hari.
Mobil hitam itu kembali berhenti.
Di tempat yang sama.
—
Tanpa jadwal.
Tanpa alasan resmi.
—
Arsenia keluar.
Langkahnya cepat.
Seolah ia tidak ingin memberi waktu pada dirinya sendiri untuk berpikir.
—
Dan seperti biasa—
Raka ada di sana.
—
Duduk santai.
Mengobrol dengan orang-orang sekitar.
Tertawa.
Hidup.
—
Hal yang… tidak pernah ada di dunia Arsenia.
—
“Kamu selalu ada di sini.”
Suara Arsenia membuat Raka menoleh.
—
Ia tersenyum kecil.
“Anda juga.”
—
Balasan sederhana.
Tapi cukup untuk membuat Arsenia sedikit terdiam.
—
Ia tidak membantah.
Karena memang… benar.
—
“Aku hanya lewat.”
Kata-kata itu keluar otomatis.
Refleks.
—
Raka mengangguk.
“Iya.”
—
Tidak percaya.
Tidak juga membantah.
—
Dan itu—
entah kenapa—
membuat Arsenia merasa seperti… ketahuan.
—
“Kerja kamu apa sebenarnya?” tanya Arsenia, sedikit lebih tajam.
—
Raka mengangkat bahu.
“Hari ini bantu angkut. Besok bisa beda.”
—
“Tidak stabil.”
“Iya.”
—
“Tidak aman.”
“Iya.”
—
“Tidak jelas masa depannya.”
—
Raka menatapnya.
Kali ini lebih lama.
—
“Iya.”
—
Hening.
—
“Terus kamu tetap jalanin?”
—
Raka tersenyum.
“Karena saya masih bisa hidup.”
—
Jawaban itu—
lagi-lagi—
terasa… cukup.
—
Dan Arsenia membencinya.
Karena bagian dari dirinya—
mulai setuju.
—
—
Dari kejauhan—
Daniel berdiri di seberang jalan.
Memperhatikan.
—
Matanya menyipit.
Fokus.
—
“Jadi ini…”
gumamnya pelan.
—
Ia melihat bagaimana Arsenia berdiri.
Bagaimana ia berbicara.
Bagaimana… ia tidak pergi.
—
Dan itu cukup untuk membuat satu kesimpulan.
—
Pria itu masalah.
—
—
“Kalau orang kantor Anda lihat…” kata Raka tiba-tiba.
—
Arsenia menoleh.
“Kenapa?”
—
“Mereka pasti heran.”
—
Arsenia tersenyum tipis.
Dingin.
“Biar saja.”
—
Tapi di dalam—
ia tahu.
Ini tidak sesederhana itu.
—
Dunianya tidak akan diam.
—
Dan benar saja—
—
Malamnya.
Di kantor.
—
“Nona Arsenia.”
Suara Daniel terdengar di balik pintu.
—
“Masuk.”
—
Ia masuk dengan tenang.
Tapi tatapannya… tajam.
—
“Saya ingin memastikan sesuatu.”
—
Arsenia tidak menoleh.
“Cepat.”
—
“Pria di pinggir jalan itu…”
—
Hening.
—
Untuk pertama kalinya—
Arsenia benar-benar berhenti.
—
“…siapa dia?”
—
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Berat.
—
Arsenia perlahan menoleh.
Tatapannya dingin seperti biasa.
—
“Bukan urusanmu.”
—
Daniel tersenyum tipis.
Tapi kali ini—
lebih tajam.
—
“Kalau itu mulai mempengaruhi keputusan Anda…”
ia melangkah sedikit lebih dekat,
“…itu jadi urusan saya.”
—
Ruangan terasa lebih sempit.
Lebih tegang.
—
Dan untuk pertama kalinya—
dunia Arsenia dan dunia Raka
tidak hanya bertabrakan.
—
Mereka mulai saling menyeret.
—
—
Sementara itu—
Raka berjalan pulang seperti biasa.
Santai.
Tanpa beban.
—
Tidak tahu—
bahwa namanya baru saja disebut
di tempat yang bahkan tidak pernah ia bayangkan.
—
Dan bahwa hidupnya—
akan segera berubah.
—
Bukan karena pilihannya.
—
Tapi karena—
seseorang mulai tidak bisa melepaskannya.
—
Dan seseorang yang lain—
tidak akan membiarkannya begitu saja.
—
—
Di dalam mobilnya—
Arsenia menatap lurus ke depan.
Tangannya mencengkeram setir.
Lebih kuat dari biasanya.
—
Untuk pertama kalinya—
ia merasa sesuatu yang asing.
—
Bukan marah.
Bukan takut.
—
Tapi—
tidak ingin berhenti.
—
Dan itu—
lebih berbahaya dari apa pun