Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Malam Sebelum Badai dan Perjamuan Bayangan
Malam di Kota Giok biasanya adalah waktu untuk perayaan, namun malam ini, kota itu terasa seperti sebuah kuali yang mendidih di atas api yang tenang. Kabar tentang seorang "pengembara nomor 999" yang menghancurkan Jin Shan, jenius kebanggaan Klan Jin, telah menyebar lebih cepat daripada api yang tertiup angin sakal. Di setiap kedai teh, di setiap sudut pasar gelap, hingga ke dalam aula-aula emas klan kuno, hanya satu nama yang digemakan dengan nada antara benci dan kagum: Wang Tian.
Wang Tian sendiri tidak berada di tempat keramaian. Setelah kemenangannya yang mengguncang arena, ia menghilang ke dalam labirin gang-gang sempit di pinggiran kota. Ia kini berada di sebuah kuil tua yang terbengkalai, tempat di mana lumut menutupi patung-patung dewa yang sudah pecah dan aroma dupa yang basi bercampur dengan dinginnya udara malam.
Ia duduk bersila di atas lantai batu yang retak. Di depannya, Fragmen Primordial yang kini tinggal separuh ukurannya terapung perlahan, memancarkan cahaya abu-abu yang redup namun stabil. Pusaran Primordial di dalam Dantiannya berputar dengan ritme yang dalam, melahap sisa-sisa energi logam yang ia curi dari Jin Shan saat pertempuran tadi.
"Menghisap energi lawan... itu adalah teknik yang berbahaya, Wang Tian," sebuah suara merdu namun dingin bergema dari balik pilar kuil yang gelap.
Wang Tian tidak membuka matanya. Ia sudah mengenali aura itu sejak seratus meter jauhnya. "Dunia menyebutnya mencuri. Sutra Kaisar menyebutnya pengembalian. Segala energi berasal dari kekacauan, dan aku hanyalah mengembalikannya ke tempat asalnya."
Lin Xia melangkah keluar dari kegelapan. Malam ini ia mengenakan jubah sutra berwarna ungu tua yang tampak menyatu dengan bayang-bayang. Ia menatap Wang Tian dengan pandangan yang sulit diartikan—ada rasa bangga, namun juga ada kewaspadaan yang tidak biasa.
"Besok bukan sekadar turnamen, Wang Tian," ucap Lin Xia sambil menyandarkan tubuhnya pada pilar yang rapuh. "12 Klan Kuno telah mengadakan pertemuan rahasia. Mereka tidak akan membiarkanmu menang. Sembilan Jenius Langit telah diperintahkan untuk membunuhmu di tempat, bukan hanya mengalahkanmu. Mereka bahkan telah menyiapkan Formasi Penyegel Sembilan Penjuru untuk menekan energi primordialmu."
Wang Tian perlahan membuka matanya. Pupilnya berkilat dengan cahaya perak dan hitam yang berputar. "Biarkan mereka datang. Formasi apa pun yang dibuat oleh manusia tidak akan bisa menahan aliran alam semesta."
"Kesombongan adalah langkah pertama menuju kuburan," sela sebuah suara baru, lebih tajam dan penuh dengan haus darah.
Sesosok bayangan melesat masuk ke dalam kuil, bergerak secepat kilat hitam. Mora, sang Putri Perang dari Klan Bayangan, mendarat hanya tiga meter dari tempat Wang Tian duduk. Sabit raksasanya, Nightfall, tersampir di bahunya, memancarkan aura ungu yang membuat udara di sekitarnya terasa berat seperti timah.
Mora menatap Wang Tian dengan senyum menyeringai, matanya yang berwarna merah delima berkilat penuh tantangan. "Aku datang bukan untuk memperingatimu seperti wanita tua ini. Aku datang untuk melihat apakah kau layak untuk kunikahi atau kubunuh besok."
Wang Tian berdiri perlahan. Tekanan udara di dalam kuil mendadak naik drastis saat auranya beradu dengan aura kematian milik Mora. "Menikah? Aku bahkan tidak mengenalmu, Putri Bayangan."
Mora tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti dentingan logam yang beradu. "Klan Bayangan adalah klan yang terbuang, sama sepertimu. Kami tidak peduli pada aturan klan-klan sombong itu. Ramalan kuno klan kami mengatakan bahwa seorang pria dengan mata galaksi akan menjadi raja bagi mereka yang tak memiliki rumah. Dan besok, jika kau bisa bertahan dari sabitku, aku akan mengikutimu ke ujung dunia. Tapi jika kau kalah... aku sendiri yang akan memenggal kepalamu agar kekuatanmu tidak jatuh ke tangan klan lain."
Lin Xia mendengus pelan, menatap Mora dengan pandangan meremehkan. "Klan Bayangan selalu terlalu dramatis dengan ramalan mereka. Wang Tian memiliki jalan yang lebih besar daripada sekadar menjadi raja dari para pembunuh."
Wang Tian melihat ke arah kedua wanita itu. Yang satu adalah mentor misterius yang seolah tahu segalanya, dan yang satu lagi adalah prajurit gila yang didorong oleh takdir dan insting. Namun, ia tahu bahwa di luar sana, masih ada dua wanita lain yang juga terhubung dengan jalannya: Lin Xuelan yang tulus dan Sui Ren yang angkuh namun jujur.
"Malam ini terlalu berisik," ucap Wang Tian dingin. Ia melambaikan tangannya, dan sebuah kubah energi abu-abu menyelimuti area tengah kuil, mengisolasi suara dan kehadiran mereka dari dunia luar. "Mora, jika kau ingin bertarung, simpan energimu untuk besok. Karena besok, aku tidak akan menahan diri sedikit pun."
Mora mendekat, wajahnya kini hanya berjarak beberapa inci dari wajah Wang Tian. Ia bisa mencium aroma maskulin yang bercampur dengan energi primordial yang murni. "Aku akan menunggumu di pusat arena, Wang Tian. Jangan mengecewakanku."
Dengan kepulan asap ungu, Mora menghilang kembali ke dalam kegelapan malam.
Lin Xia mendekati Wang Tian setelah Mora pergi. "Gadis itu berbahaya, tapi dia jujur dengan keinginannya. Namun, ada hal yang lebih mendesak. Ambillah ini."
Lin Xia memberikan sebuah botol giok kecil berisi cairan berwarna biru tua yang pekat. "Itu adalah Esensi Jiwa Langit. Jika kau terdesak oleh formasi sembilan penjuru besok, minumlah. Itu akan memicu ledakan energi sementara yang bisa menghancurkan segel apa pun. Tapi harganya adalah kau akan kehilangan kesadaran selama tiga hari setelahnya."
Wang Tian menerima botol itu, namun ia tidak menyimpannya di sakunya. Ia justru memasukkannya ke dalam Pusaran Primordial-nya melalui telapak tangan, menyimpannya di ruang hampa Dantiannya. "Aku tidak berencana untuk pingsan, Lin Xia. Aku berencana untuk berdiri tegak saat matahari terbenam besok."
Reuni Tersembunyi
Setelah Lin Xia pergi untuk memantau pergerakan klan kuno, Wang Tian memutuskan untuk keluar sejenak. Ia menyelinap ke arah penginapan elit tempat para murid Sekte Penguasa Arah Angin tinggal. Menggunakan Langkah Bayangan Kematian yang kini sudah mencapai tingkat sempurna, ia mendarat di balkon salah satu kamar tingkat atas tanpa memicu alarm perlindungan apa pun.
Di dalam kamar itu, seorang gadis sedang duduk di depan jendela, menatap bulan sabit dengan pandangan kosong. Lin Xuelan. Ia memegang sebuah kristal hitam kecil—kristal pengikat yang diberikan Wang Tian melalui instruksi Lin Xia di Lembah Hijau.
"Apakah itu kau, Wang Tian?" gumam Lin Xuelan pelan, seolah berbicara pada angin. "Mengapa aura yang kurasakan dari 'Nomor 999' tadi siang terasa begitu mirip denganmu, namun ribuan kali lebih mengerikan?"
"Karena dunia ini menuntut perubahan, Xuelan," suara rendah Wang Tian terdengar dari kegelapan balkon.
Xuelan tersentak dan segera berdiri, tangannya secara insting meraih pedangnya, namun ia segera berhenti saat melihat sosok tinggi berjubah hitam itu melangkah masuk. Meskipun wajahnya tertutup sebagian oleh tudung, Xuelan mengenali mata itu. Mata yang menyelamatkannya dari kematian di Lembah Hijau.
"Wang Tian! Kau benar-benar..." Xuelan berlari mendekat, namun ia berhenti satu meter di depan Wang Tian, merasa terintimidasi oleh aura yang memancar darinya. "Kau gila! Besok mereka akan membunuhmu! Ayahku dan para penatua sekte... mereka semua takut padamu. Dan ketakutan mereka akan berubah menjadi kekejaman."
Wang Tian menatap Xuelan dengan tatapan yang sedikit lebih lembut. "Ketakutan adalah reaksi alami saat mereka menyadari bahwa takhta mereka dibangun di atas pasir. Xuelan, jangan mencampuri urusan besok. Apa pun yang terjadi di arena, tetaplah di tribun. Jangan mencoba menyelamatkanku, atau kau akan terseret dalam kehancuran klanmu sendiri."
Xuelan menggelengkan kepalanya, air mata mulai menggenang. "Aku tidak peduli pada klan jika klan itu tidak adil! Kau menyelamatkan nyawaku! Tanpamu, aku hanya akan menjadi mayat di hutan itu."
Wang Tian mengulurkan tangan, menyentuh rambut Xuelan sebentar. Tindakan yang sangat jarang ia lakukan. "Maka hiduplah dengan baik untuk menyaksikan dunia baru yang akan kubangun. Simpan kristal itu. Jika besok terjadi sesuatu yang tidak terduga, kristal itu akan menuntunmu ke tempat yang aman."
Sebelum Xuelan sempat menjawab, bayangan Wang Tian memudar dan menghilang, hanya menyisakan aroma dingin yang segar di kamar itu.
Pertemuan Tak Terduga di Jembatan Giok
Dalam perjalanan kembali ke kuil, Wang Tian melewati Jembatan Giok yang melintasi sungai besar di tengah kota. Di tengah jembatan itu, berdiri seorang wanita dengan jubah biru muda yang berkibar ditiup angin malam. Sui Ren.
Gadis dari Sekte Angin Barat itu tampak sedang menunggunya. Ia tidak memegang senjata, namun auranya yang tajam seperti bilah pedang tetap terasa.
"Aku tahu kau akan lewat sini," ucap Sui Ren tanpa berbalik. "Insting anginku tidak pernah salah."
Wang Tian berhenti. "Kau sangat gigih, Putri Sui Ren. Apakah kau juga ingin memperingatiku tentang kematianku besok?"
Sui Ren berbalik, menatap Wang Tian dengan wajah yang tetap sedingin es, namun ada sedikit keraguan di matanya. "Aku datang untuk memberikan ini." Ia melemparkan sebuah lencana kecil berwarna perak. "Itu adalah Lencana Pelindung Angin Barat. Jika kau merasa tidak sanggup menghadapi mereka semua besok, hancurkan lencana itu. Ayahku akan terpaksa campur tangan untuk menyelamatkan 'pemegang lencana'. Kau akan aman, tapi kau harus meninggalkan turnamen dan mengabdi pada sekteku selamanya."
Wang Tian menangkap lencana itu, menatapnya sejenak, lalu melemparnya kembali ke arah Sui Ren.
Sui Ren menangkapnya dengan kaget. "Apa maksudmu? Kau menolak perlindungan satu-satunya yang bisa menyelamatkan nyawamu?"
"Aku tidak butuh perlindungan yang menjadikanku seorang budak lagi," jawab Wang Tian dengan suara yang berat dan penuh wibawa. "Sepuluh tahun aku menjadi pelayan, Sui Ren. Aku lebih memilih mati di arena besok sebagai seorang kaisar daripada hidup seribu tahun sebagai anjing penjaga sektemu."
Sui Ren tertegun. Kata-kata itu menghantam egonya yang selama ini dibangun di atas kemuliaan silsilah. Ia melihat kebanggaan yang lebih murni pada diri Wang Tian daripada seluruh bangsawan di Kota Giok digabungkan.
"Kau benar-benar sombong, Wang Tian," bisik Sui Ren, namun nada suaranya tidak lagi mengandung kebencian. "Tapi kesombonganmu... membuatku merasa bahwa selama ini aku hidup di dalam sangkar emas yang sempit."
Wang Tian mulai berjalan melewatinya. "Sui Ren, besok di arena, jangan menahan diri. Jika kau tidak menyerangku dengan seluruh kekuatanmu, kau tidak akan pernah tahu seberapa jauh anginmu bisa terbang."
Sui Ren menatap punggung Wang Tian yang menjauh. Di bawah sinar bulan, sosok itu tampak begitu kesepian namun begitu perkasa. "Aku akan menyerangmu dengan seluruh nyawaku, Wang Tian. Dan jika kau bertahan... mungkin aku akan mempertimbangkan untuk melihat dunia dari sudut pandangmu."
Malam Terakhir: Penggabungan Elemen Ruang
Wang Tian kembali ke kuil tua. Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Ia hanya memiliki waktu tiga jam sebelum genderang turnamen ditabuh.
Ia duduk kembali di tengah ruangan. Ia memegang sisa Fragmen Primordial. "Besok, sembilan lawan satu bukan masalah kekuatan fisik, tapi masalah koordinasi serangan. Aku butuh sesuatu yang bisa membuatku berada di banyak tempat sekaligus."
Ia mulai memanggil elemen Ruang yang samar-samar ia pelajari dari Lin Xia dan intisari fragmen. Di dalam Pusaran Primordialnya, elemen Angin dan Petir mulai bergesekan dengan kecepatan tinggi, menciptakan distorsi kecil di udara.
Krak!
Retakan kecil muncul di ruang hampa di depan Wang Tian. Rasa sakit yang luar biasa menghantam otaknya; mencoba memanipulasi ruang di Ranah Pemurnian Qi adalah tindakan gila yang bisa membuat tubuh seseorang tercabik-cabik. Namun, Wang Tian menggunakan energi Tanah untuk memperkuat struktur selnya dan energi Air untuk mendinginkan sarafnya yang terbakar.
Perlahan, distorsi itu mulai stabil. Ia berhasil menciptakan teknik barunya sendiri: "Langkah Sembilan Bayangan Primordial". Berbeda dengan Langkah Bayangan Kematian yang hanya tentang kecepatan, teknik ini memungkinkan dia meninggalkan "bayangan energi" yang memiliki massa dan bisa menyerang secara mandiri selama beberapa detik.
"Dengan ini... sembilan jenius itu hanya akan mengejar bayangan," bisik Wang Tian.
Ia menutup matanya, memasuki kondisi meditasi yang paling dalam—Emptiness State. Ia membiarkan setiap inci tubuhnya menyatu dengan energi alam di sekitarnya. Ia bisa merasakan detak jantung kota, ketakutan para tetua klan, dan harapan dari mereka yang tertindas.
Matahari mulai mengintip dari ufuk timur, memancarkan sinar pertama yang menyentuh atap kuil tua itu. Wang Tian bangkit berdiri. Tidak ada lagi kelelahan di wajahnya. Yang ada hanyalah ketenangan mutlak.
Ia mencuci wajahnya dengan air dingin dari sumur kuil, merapikan jubah hitamnya, dan mengikat rambut perak-hitamnya dengan tali kain sederhana. Ia tidak membawa pedang, karena tubuhnya adalah senjata terbaik.
Di kejauhan, suara genderang raksasa mulai berbunyi. BUM! BUM! BUM!
Itu adalah panggilan untuk pertempuran terakhir. Pertempuran yang akan menentukan apakah dunia akan tetap dalam kegelapan klan kuno, atau apakah cahaya primordial akan menyapu segalanya.
Wang Tian melangkah keluar dari kuil, berjalan dengan tenang menuju Arena Agung. Di jalanan, orang-orang mulai menyingkir saat melihatnya lewat. Aura yang ia pancarkan pagi ini berbeda dengan kemarin; ia tidak lagi menekan, namun ia terasa seperti sebuah jurang yang tak berdasar. Siapa pun yang menatap matanya merasa seolah-olah sedang menatap kehampaan alam semesta.
"Mari kita selesaikan ini," ucap Wang Tian pada dirinya sendiri.
Takdir empat wanita, nasib dua belas klan, dan masa depan seluruh benua kini berada di pundak pemuda yang dulu pernah dibuang karena dianggap sampah lima elemen. Panggung telah siap, para aktor telah bersiap, dan penonton telah memadati setiap inci tempat duduk.
Turnamen Sembilan Langit: Babak Final. Wang Tian melawan dunia.
Statistik Bab 13:
Karakter: Wang Tian, Lin Xia (Mentor), Mora (Tunangan Takdir), Lin Xuelan (Cinta Tulus), Sui Ren (Rivalitas Hormat).
Lokasi: Kuil Terbengkalai, Kamar Xuelan, Jembatan Giok.
Pencapaian: Menciptakan teknik "Langkah Sembilan Bayangan Primordial", Menyatukan elemen Ruang secara dasar.
Status Kultivasi: Ranah Pemurnian Qi Tingkat 9 Sempurna (Kesiapan Tempur 120%).
Persiapan: Memiliki Esensi Jiwa Langit (Kartu AS).
"AUTHOR NUMPANG GAYA" gimana kita lanjut..?
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah